Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Tim Edukasi YIARI Ajak Anak-Anak Berkreasi Mendaur Ulang Sampah Di Hari Peduli Sampah Nasional
Dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), tim edukasi YIARI di Lampung dan Kalimantan Barat lagi kompakan nih bikin kegiatan sama adik-adik mengenai sampah. Kegiatan yang punya tajuk “Daur Ulang Sebelum Dibuang” ini juga merupakan ajang kreativitas buat adik-adik berkreasi dengan sampah.
Kebetulan banget, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada HPSN 2024 ini mengangkat tema utama yaitu “Atasi Sampah Plastik Dengan Cara Produktif”. Tema ini dipilih sebagai bentuk dukungan dan dorongan terhadap partisipasi masyarakat dalam upaya pengolahan sampah melalui usaha produktif.
Meski lokasi kegiatannya beda-beda, tentunya tim edukasi punya misi khusus untuk menyisipkan pesan lingkungan selama berkegiatan. Setidaknya dari pesan yang tipis-tipis tersebut, adik-adik bakal lebih aware sama isu sampah. Kelak, kepedulian mereka semakin menyala sama lingkungan.
Aksi Bersih Sampah di Sekolah
Di tanggal 22-23 Februari, tim edukasi Ketapang YIARI berkolaborasi dengan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Dinas Perkim-LH) menginisiasi kegiatan di SDN 23 Matan Hilir Selatan. Kegiatan kolaborasi ini juga melibatkan kakak-kakak mahasiswa Politap Negeri Ketapang sebagai kakak pendamping.
Edukasi daur ulang sampah kepada siswa sekolah di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kalimantan Barat dibimbing oleh kakak-kakak dari Dinas Perkim-LH (Edukasi/Media | YIARI)
Menurut Kak Vio nih, selaku koordinator edukasi di Pematang Gadung. Adik-adik di sekolah masih terbiasa jajan dan membuang sampahnya sembarangan. Oleh karena itu, saat kegiatan berlangsung kak Vio menerapkan aturan khusus kepada siswa-siswa.
“Kita imbau adik-adik nih buat bawa bekal makan dan minum sendiri dari rumah, supaya mereka terbiasa mengurangi produksi sampah,” kata kak Vio menjelaskan aturan selama kegiatan berlangsung.
Di hari pertama, Dinas Perkim-LH memaparkan materi mengenai kreasi-kreasi daur ulang dari sampah plastik. Baru setelah itu, siswa diberi waktu untuk membuat kreasinya sendiri.
“Kita dorong siswa-siswa ini belajar mengolah sampahnya dengan kreativitas,” ucap Bang Yusuphan dari Dinas Perkim-LH selepas memberikan materi.
Bang Yusuphan berharap agar sampah plastik yang masih memiliki nilai guna tidak langsung dibuang begitu saja, tapi diolah kembali menjadi produk yang kreatif.
“Ga usah malu menggunakan barang daur ulang. Malu itu kalau buang sampah sembarangan,” kata kak Vio menimpali.
Pada hari kedua setelahnya, kegiatan dilanjutkan kembali dengan aksi bersih sampah di lingkungan sekitar sekolah. Tak disangka, ternyata sampah yang berhasil mereka kumpulkan mencapai 196 kg nih. Sebagai penutup kegiatan, adik-adik siswa SDN 23 Matan Hilir Selatan diajak melakukan penanaman pohon di halaman sekolahnya.
Bercerita tentang Miko si Mikroplastik
Lain halnya dengan tim edukasi Batutegi, Lampung yang melakukan kegiatan di 23 Februari 2024. Berkolaborasi dengan Taman Baca Jalosi Sanak Negeri, kegiatan HPSN diisi terlebih dulu dengan mendengarkan cerita tentang perjalanan Miko si Mikroplastik.
“Kisah Miko ini merupakan buku karya dari kak Elif,” tutur Hinggrit yang merupakan tim edukasi Batutegi. Kak Elif yang dimaksud adalah relawan YIARI yang juga aktif di komunitas lingkungan ASA Konservasi.
Pada cerita si Miko, adik-adik dikenalkan dengan sampah plastik yang berasal dari pecahan-pecahan plastik yang hancur. Pecahan plastik ini berukuran sangat kecil sekali hingga tak lagi nampak dilihat oleh mata.
Plastik yang tak dapat terurai, hanya berubah wujud menjadi serpihan mikro. Serpihan plastik ini ternyata tetap menjadi masalah baru bagi lingkungan sekitar. Tanpa kita sadari, mikroplastik bisa masuk ke dalam tubuh manusia. Hal ini bisa terjadi jika lingkungan yang tercemar mikroplastik termakan oleh hewan yang kemudian dikonsumsi oleh manusia.
Lambat laun, keberadaan mikroplastik dalam tubuh manusia dapat menyebabkan sakit dan penyakit. Ini lah pentingnya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tidak hanya merusak lingkungan, tapi juga bisa membahayakan ekosistem alami.
“Melalui buku ini, adik-adik kita ajak mengenal jauh tentang sampah plastik yang tak kasat mata. Setidaknya mereka jadi tahu bahwa akibat membuang sampah sembarangan itu tidak hanya berakibat banjir saja. Ada hal lain yang justru tidak kita lihat dampak buruknya,” ucap kak Hinggrit menjelaskan.
Di akhir kegiatan, adik-adik kemudian diajak berkreasi mendaur ulang sisa sampah yang biasa ditemui sehari-hari. Baik itu sampah kering dari tumbuhan, juga sampah plastik bekas minuman.
Di Batutegi, adik-adik dari Taman Baca Jalosi Sanak Negeri membuat kerajinan gantungan kunci dari limbah organik (Edukasi/Media | YIARI)
Alumni Kahiu Academy Inisiatif Bersih Sampah di Desa
Tidak mau kalah, beberapa alumni Kahiu Academy batch 2 juga memiliki inisiatif serupa yang dilakukan di lingkungannya masing-masing. Sepulang dari Kahiu Academy, Ucil, Andika dan William yang berasal dari Desa Mawang Mentatai mengajak adik-adik SDN 26 Mentatai Beloyang kegiatan aksi bersih sampah di lingkungan sekolah.
“Saya senang bisa berbagi ke sekolah tempat saya belajar dulu,” kata Ucil yang dulu sempat menjadi siswa di SDN 26 Mentatai Beloyang.
Ucil dan kawan-kawan senang bisa berbagi hal positif yang selama ini mereka dapatkan selama mengikuti Kahiu Academy. Selain mengajak kegiatan aksi bersih sampah, mereka bertiga juga mengajarkan materi tentang melindungi hutan dan satwa-satwa dari kerusakan.
Bergeser di desa sebelah, kegiatan serupa juga dilakukan oleh Aldi bersama tim edukasi Melawi di Desa Nusa Poring. Aldi mengajak adik-adik di dusunnya untuk melakukan aksi bersih sampah di lingkungan tempat tinggal mereka. Dari sampah yang terkumpul, mereka mengubahnya menjadi kreasi barang bekas.
Adik-adik dari Desa Nusa Poring di Kabupaten Melawi memamerkan hasil karya daur ulang mereka (Edukasi/Media | YIARI)
Jauh di seberang pulau, Sandi menginisiasi gerakan bersih pantai di Pulau Cempedak tempat ia tinggal. Komitmen ini sempat diutarakannya saat penutupan Kahiu Academy. Aksi bersih pantai ini menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap minggu bersama anak-anak sekitar.
“Sampah plastik bukan hanya bikin tak elok pemandangan, tapi juga merusak ekosistem,” kata Sandi.
Menurut Sandi, potensi alam Pulau Cempedak ini bisa rusak akibat sampah. Apalagi, Pulau Cempedak merupakan salah satu tempat konservasi mangrove dan Dugong. Sandi berharap, aksi kecilnya ini akan diikuti oleh masyarakat lainnya untuk bersama-sama merawat Pulau Cempedak.
Perilaku Langka, Orangutan Kalimantan Makan Kukang
Halo Sobat #KonservasYIARI!
Orangutan merupakan satu-satunya kera besar yang berada di Asia lho! salah satunya di Indonesia.
Namun orangutan banyak dikenal sebagai primata yang berasal dari Pulau Kalimantan atau Borneo saja. Padahal habitat orangutan di Indonesia berada di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan.
Terdapat 3 spesies orangutan di Indonesia, yaitu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), orangutan sumatera (Pongo abelii), dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis).
Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) (Rudiansyah | YIARI)
Orangutan sumatera (Pongo abelii) (andraescholz | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) (Farhan Adyn | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Ohiya Sobat! orangutan mempunyai aktivitas sehari-hari sama seperti kita. Menurut artikel yang dituliskan oleh Haddad et al. 2017 , aktivitas harian orangutan yang utama dipenuhi oleh kegiatan makan.
Lantas apa saja sih pakan alami orangutan sebagai primata? Apakah orangutan juga pemakan daging seperti kita?
Menilik Perilaku Memakan Daging pada Orangutan Kalimantan
Orangutan dikelompokkan sebagai primata pemakan segala (omnivora), yang berarti mereka mengonsumsi baik tumbuhan maupun hewan. Meskipun orangutan termasuk hewan omnivora, 90% dari makanannya berupa buah-buahan (frugivorous) selain itu makanannya antara lain kulit pohon, dedaunan, bunga, beberapa jenis serangga, madu, dan jamur.
Orangutan memerlukan buah-buahan untuk memenuhi kadar air tubuhnya, seperti buah-buahan yang berdaging lembek, berbiji, termasuk buah berbiji tunggal dan buah beri seperti jenis Ficus sp (Rifanjani et al. 2022). Menurut Samudera et al. 2020, orangutan memenuhi kebutuhan nutrisi pelengkap lainnya dari makanan alternatif berupa biji dan daun muda yang kaya akan kandungan protein dan lemak.
Kukang kalimantan (Nycticebus borneanus) adalah salah satu satwa endemik Indonesia yang akhir-akhir ini mendapat perhatian karena teramati dimakan orangutan kalimantan (Tim Media | YIARI)
Namun Sobat ada yang berbeda dengan orangutan kalimantan dewasa jantan yang bernama Molong!
Untuk pertama kalinya orangutan kalimantan terdokumentasikan memakan kukang. Perilaku memakan daging merupakan kejadian yang sangat langka dalam aktivitas orangutan liar.
Perilaku langka tersebut dituliskan oleh Makur et al. (2021) dalam jurnal Primates yang berjudul “Slow Loris (Nycticebus bornenus) consumption by a wild Bornean orangutan (Pongo pygmaeus wrumbii)”.
Menurut Makur et al. (2021), pemangsaan dan konsumsi kukang oleh orangutan kalimantan liar belum pernah terjadi. Namun berbeda dengan orangutan sumatera yang tercatat mengonsumsi kukang.
Penelitian ini mengamati penangkapan dan konsumsi kukang (Nycticebus borneanus) oleh orangutan kalimantan, Molong di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan, yang terletak di wilayah Kapuas, Kalimantan Tengah.
Ini merupakan kasus pertama yang didokumentasikan tentang predasi dan konsumsi kukang oleh orangutan kalimantan dan dengan demikian memberikan titik data penting untuk memahami predasi primata pada spesies primata lainnya.
Jika kita bandingkan dengan kera besar lainnya yaitu simpanse, simpanse berburu primata lainya, orangutan cenderung hanya bila bertemu. Dalam artikel yang dipublikasi oleh Kumparan, simpanse membutuhkan daging untuk memberikan nutrisi yang tidak bisa mereka dapatkan dari tumbuhan, seperti vitamin A dan B12, zinc, tembaga, dan zat besi.
Memang Sobat belum ada tulisan mengenai alasan mengapa orangutan memiliki perilaku memakan daging atau primata. Namun hal ini dapat menjadi pembaharuan dalam ilmu pengetahuan khususnya perilaku orangutan kalimantan.
Yang jelas kita harus sama-sama mendukung upaya pelestarian orangutan si kera besar Asia ini ya!
Samudera V, Prayogo H, Widhanarto OG. 2020. Analisis kandungan air sumber pakan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) di stasiun riset cabang panti Taman Nasional Gunung Palung Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari. 8(4):705-013.
Haddad AA, Prayogo H, Anwari MS. 2017. Perilaku makan dan jenis pakan orangutan (Pongo pygmaeus) di Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari. 5(2):300-306.
Rifanjani S, Saputra MM, Siahaan S. 2022. Preferensi pakan orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) di stasiun penelitian cabang panti Taman Nasional Gunung Palung Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari. 10(1):14-22.
Bantuan Handtractor Dukung Pertanian Organik Berkelanjutan di Melawi
Tau nggak sih rasanya mencangkul tanah seluas empat hektar? Beuh, ngebayanginnya aja udah keringat dingin kan, Sob. Nah, buat meringankan pekerjaan mengolah lahan tersebut, Yayasan IAR Indonesia (YIARI) baru-baru ini ngasih bantuan satu unit handtracktor buat empat kelompok tani di Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Karena alat ini baru dikenal masyarakat di sana, so waktu kami menyerahkan sumbangan pada Mei 2022, kami juga ngasih pelatihan perakitan, penggunaan, dan perawatan kepada empat kelompok tani. Kami juga bikinin jadwal penggunaan handtracktor supaya bisa dipakai bergantian di antara keempatnya, yaitu Kelompok Lacok Kerojo, Mamal Kerojo, Semangat Kerojo Samo, dan Belantong Beroto.
Bantuan ini baru awal aja nih Sob. Kami saat ini sedang melakukan pendampingan pertanian berkelanjutan sejak Februari tahun ini, tapi baru di satu dusun aja, yaitu di Dusun Sekujang di Desa Nusa Poring tadi. Nah, empat kelompok tani ini adanya di Dusun Sekujang ini. Masing-masing kelompok punya lahan satu hektar. Oya, kelompok-kelompok ini dibentuk dari inisiasi warga desa lho, tentu saja kami dampingi pembentukannya. Uniknya lagi, keempat kelompok ini diinisiasi oleh para ibu-ibu, yang kemudian menjabat sebagai ketua dan para pengurus di masing-masing kelompok. Nah kemudian barulah bapak-bapak di dusun itu pada ikutan. Keren kan! Rencananya nih, kami nggak cuma akan mengembangkannya di satu dusun. Ada total lima dusun di Nusa Poring, dan kami berharap bisa melakukan pendampingan ini ke semua dusun.
Para ibu sedang meyiapkan media tanam untuk pembibitan. Bersama-sama, mereka menginisiasi proyek pertanian berkelanjutan di Dusun Sekujang, Desa Nusa Poring (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
Lantas, apa sih yang kami ajarin ke mereka? Buat yang kepo, kami kenalkan nih kegiatan pertanian berkelanjutan yang menerapkan pola pertanian menetap. Sebelumnya, masyarakat masih mengandalkan sistem ladang berpindah yang berjarak cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Sering kali, karena jarak yang jauh, tanaman pertanian yang sudah ditanam tidak sempat dirawat dengan baik sehingga hasil panennya tidak maksimal. Sementara itu, lahan di sekitar pemukiman belum dimanfaatkan secara optimal untuk pertanian masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan di bidang pertanian mulai dari cara menanam, perawatan, sampai penanganan organisme pengganggu tanaman.
Kami juga mengenalkan teknologi pertanian seperti teknik membuat pupuk kompos, pupuk cair organik sampai pengenalan alsintan (alat dan mesin pertanian). Nggak lupa juga, kami memberikan alat-alat penunjang pertanian, seperti cangkul, pupuk, paranet, terpal, selang, dan lain-lain.
Para petani Desa Nusa Poring bergotong-royong membuat pupuk kompos. Pupuk kompos ini nantinya akan digunakan di lahan pertanian berkelanjutan mereka (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
Nggak muluk-muluk, kami berharap dengan bertani menetap ini, masyarakat setempat bisa menerapkan pertanian yang berkelanjutan dengan memanfaatkan lahan non-produktif di desa untuk budidaya tanaman sayur hutan atau tanaman sayur yang biasa mereka jual di pasar. Selain memaksimalkan lahan, kegiatan pertanian menetap ini diharapkan bisa mengurangi aktivitas pembukaan ladang untak ladang berpindah. Kegiatan ini juga dilakukan dengan melibatkan para pekerja kayu dan istri mereka untuk menjadi petani sayur.
Respon para kelompok tani ini seneng banget, Sob. Salah satunya Pak Andreas, salah satu anggota Mamal Kerojo. “Ya memang kami sudah jauh tertinggal. Kami punya lahannya, tetapi kami tidak paham mengolahnya. Kami bersyukur masih ada lembaga yang mau mengajarkan kami. Saya sendiri tertarik untuk berladang dan berkebun dengan menggunakan traktor ini untuk mengolah lahan. Karena kami bisa lebih cepat dan ringan kerjanya. Coba kalau pakai cangkul, lahan sebesar ini berbulan-bulan kita kerjakan.”
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Akhirnya, Mereka Bisa Belajar Komputer
Kalau sekarang kalian lagi baca ini di gawai kalian sembari menikmati listrik dan internet, apalagi sambil rebahan pula, bersyukurlah! Masih banyak kawan-kawan kita yang bahkan sampai saat ini belum mempunyai listrik di daerah mereka tinggal. Salah satunya kawan-kawan di Desa Baras Nabun dan Desa Teluk Harapan di Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Desa Baras Nabun ini lumayan terpencil, jarak dari kota terdekat, Nanga Pinoh, mencapai 9 jam perjalanan sungai dengan menggunakan speedboat.
Nah, untuk membantu siswa-siswi yang bersekolah di sana supaya tidak jauh tertinggal dengan mereka yang ada di kota, Yayasan IAR Indonesia memberikan bantuan berupa sejumlah laptop di tiga sekolah di Desa Baras Nabun dan Desa Teluk Harapan di Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang. Ketiga sekolah itu adalah SDN 8 Baras Nabun dan SMP Negeri 2 Serawai di Desa Baras Nabun, serta SDN 21 Teluk Payang di Desa Teluk Harapan.
Siswa-siswi di SDN 8 Baras Nabun (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Dalam kegiatan yang didukung oleh Dinas Pendidikan Sintang ini, total ada 20 laptop yang kami serahkan ke pihak sekolah. SDN 08 Baras Nabun mendapatkan lima laptop, SDN 21 Teluk Payang mendapatkan lima komputer, dan SMPN 8 Baras Nabun mendapatkan sepuluh laptop. Masing-masing sekolah juga mendapatkan printer, stabilizer dan Unintrruptible Power Suply (UPS).
Bantuan ini diserahkan langsung oleh Direktur Program kami, Karmele Llano Sanchez dan Kepala Program kami, Argitoe Ranting pada 14 Februari 2022, tepat sewaktu kami ulang tahun ke-14, Sob. Laptop diterima oleh Kepala SDN 08 Baras Nabun, Antonius Al Iding, S.Pd, Kepala SMP Negeri 2 Serawai, Yosafat Unu, dan Kepala SDN 21 Teluk Payang, Herlinawati.
Pemberian bantuan laptop ini berawal dari adanya kegiatan Pendidikan Lingkungan Hidup pada Oktober 2021 oleh tim edukasi kami di SDN 08 Baras Nabun, SMPN 2 Serawai, dan rumah Kepala Sekolah SDN 21 Teluk Payang. Kegiatan ini disambut baik oleh siswa dan guru di sana karena memberikan warna tersendiri dan membantu peserta didik memahami perlindungan orangutan dan satwa lainnya. Bahkan pihak sekolah juiga meminta agar kegiatan pendidikan lingkungan hidup ini berjalan secara rutin dan bersinambungan. Sekolah juga mengajukan permohonan bantuan laptop guna menunjang proses pembelajaran dan mendukung administrasi kegiatan di sekolah.
Sesaat sebelum penyerahan laptop secara simbolis untuk SDN 8 Baras Nabun (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Perangkat komputer atau laptop bagi siswa sekolah dasar dan SMP saat ini sangat dibutuhkan mengingat sejak tahun lalu Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) dilakukan secara daring. So, pelajar sekolah saat ini dituntut untuk bisa mengerjakan soal secara daring dan berdurasi menggunakan laptop untuk mengisi pertanyaan pilihan ganda, mencocokan, dan esai. Nah, kebayang kan sulitnya teman-teman kita di Baras Nabun ini untuk keep up dengan aturan baru ini?
Mengingat kedua desa ini tidak dialiri listrik, warga desa dan sekolah memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya yang mengandalkan ketersediaan cahaya matahari untuk bisa menggunakan peralatan elektronik. Dari hasil penilaian yang kami lakukan, sekolah-sekolah yang menerima bantuan laptop ini sudah mempunyai solar panel dengan daya 1000-2000 watt dan genset dengan daya 3000 watt. Artinya, tanpa listrik PLN, sekolah ini sudah bisa menggunakan perangkat elektronik termasuk laptop. Masing-masing sekolah juga sudah punya ruangan yang memadai untuk dijadikan tempat pelatihan komputer dan sebagian besar gurunya sudah memiliki kemampuan dasar menggunakan komputer.
Saat ini SDN 08 Baras Nabun dan SDN 21 Teluk Payang menggunakan laptop ini untuk ekstrakurikuler komputer untuk siswa kelas 1-3, sedangkan kelas 4-6 menggunakan laptop ini untuk persiapan ujian ANBK secara online yang diselengarakan oleh Dinas Pendidikan setiap tahun. Sedangkan di SMPN 2 Serawai, laptop ini digunakan untuk mata pelajaran wajib bagi kelas 7 dan muatan lokal bagi kelas 8 dan 9. Lega ya dengernya, semoga makin banyak bantuan-bantuan seperti ini untuk teman-teman di pelosok ya.
Welcome to the Planetary Health
Wuih ada temuan planet baru nih?
Bukan pake banget. Planetary health ini bukan nama planet, tapi suatu istilah yang sebenarnya refer to kesehatan publik atau masyarakat, gaes.
Oh gitu? Explain please…
Jadi kalau kamu baca-baca atau googling tentang planetary health, ini sebenarnya suatu konsep yang meyakini – dan emang beneran gaes – bahwa kesehatan manusia dan kesehatan keseluruhan isi planet tempat manusia hidup itu, berkaitan dan terhubung banget. Jadi nih kalau lingkungan kita hidup itu ga sehat, itu juga ngaruh ke kesehatan manusia. Nah soal lingkungan yang sehat ini termasuk juga dengan hewan peliharaan kita.
Setuju banget ini. Terus kenapa tiba-tiba ngomongin planetary apa tadi?
Planetary health! Gini, kami mau cerita soal program kami yang berkaitan dengan upaya merealisasikan konsep planetary health ini. Yaitu dengan vaksin.
Wah vaksin untuk covid?
Nggak, ini vaksin untuk hewan peliharaan. Jadi kami baru aja ngasih vaksin ke anjing-anjing peliharaan warga di desa-desa penyangga Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Ada dua desa yang termasuk dalam desa penyangga Taman Nasional ini yaitu Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Dokter hewan kami sedang memberikan vaksin bagi anjing milik masyarakat (Tim Medis| IAR Indonesia)
Ooh gitu, kenapa bikin program vaksin untuk anjing-anjing ini?
Jadi gini, hampir seluruh penduduk di dua desa penyangga tadi adalah suku Dayak dan mayoritas punya anjing sebagai hewan peliharaan yang dimanfaatkan untuk menunggu rumah, ladang, atau teman berburu di hutan. Sayangnya, di sana masih banyak anjing yang menderita penyakit kulit dan cacingan. Penyakit ini bersifat zoonosis yang artinya dapat menular dari manusia ke hewan dan sebaliknya. Nah anjing-anjing yang terkena penyakit ini berkeliaran bebas di sekitar rumah dan kontak langsung dengan manusia. Jadi potensi penularan penyakit antara manusia dan hewan cukup tinggi. Nah terus, kebetulan di Kalimantan Barat khususnya Kabupaten Melawi itu zona merah virus rabies yang sebagian besar penyebab penularannya ke manusia melalui gigitan anjing.
Eh jadi rabies ini bisa menular gitu?
Iya. Rabies tuh merupakan penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia yang disebabkan oleh virus. Rabies dapat menular dari hewan ke manusia melalui air liur hewan yang terinfeksi virus rabies yang masuk ke tubuh manusia melalui paparan mukosa yang terbuka, yang paling umum adalah luka yang disebabkan gigitan hewan yang terinfeksi virus tersebut. Virus ini menyerang sistem saraf dan gejala umumnya meliputi demam, sakit kepala, kelebihan air liur, kejang otot, kelumpuhan, dan kebingungan mental.
Ya ampun ngeri banget
Iya banget. Bahkan penyakit rabies ini dapat menyebabkan kematian pada manusia maupun hewan yang terpapar virus ini kalau gak cepetan dapet pengananan khusus berupa penyuntikan Vaksin Anti Rabies (VAR) maupun dengan Serum Anti Rabies (SAR). Berita baiknya, penyakit rabies bisa dicegah kok. Caranya dengan cara memberikan vaksinasi rabies untuk hewan peliharaan yang berisiko terpapar. Karena itulah, selain ngasi obat cacing dan obat scabies, kita juga ngadain vaksinasi untuk anjing peliharaan yang ada di Desa Penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
Anjing-anjing yang telah disuntik diharapkan akan bebas dari penyakit rabies (Tim Medis| IAR Indonesia)
Ih bagus banget misinya, jadi penasaran kayak gimana kegiatannya
Jadi nih, kita adakan dulu sosialisasi zoonosis untuk warga desa. Kegiatan ini dilakukan di seluruh dusun yang ada di desa penyangga TNBBBR dari Juni sampai Oktober 2021. Kegiatan ini dilakukan secara door to door dengan sasaran masyarakat yang memiliki hewan peliharaan terutama anjing dan sosialisasi ke masyarakat yang masih melakukan aktivitas berburu dan mengkonsumsi hewan buruan yang rentan menularkan penyakit zoonosis. Sosialisasi yang diberikan bertujuan untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat seputar pengertian zoonosis, bahaya zoonosis, ancaman zoonosis dari hewan liar hasil buruan, pencegahan zoonosis, dan mematahkan mitos yang beredar di masyarakat seputar vaksinasi rabies pada anjing.
Lho ada mitos segala?
Iya, ternyata ada lho. Jadi, ada mitos yang berdar di kalangan warga desa kalau anjing udah divaksin, dia jadi pemalas, termasuk malas ke ladang ikut majikannya. Mereka juga ada yang percaya kalau anjing tidak akan mau menggonggong lagi kalau sudah divaksin. Dan memang masih ada masyarakat yang gak mau anjingnya divaksi gara-gara itu. Untunglah abis kami sosialisasi dan kasih penjelasan, mereka ngebolehin anjingnya divaksin.
Syukur deh kalau udah tercerahkan. Abis sosialisasi ngapain lagi?
Selesai sosialisasi, terus kita melakukan juga pendataan populasi anjing dan pemberian obat cacing untuk anjing. Pendataan ini bertujuan untuk menghitung populasi anjing di desa penyangga sebagai acuan untuk melakukan vaksinasi rabies bareng Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Melawi. Setelah didata, tim medis kita ngasiin obat cacing dan treatment penyakit kulit. Dari Juni sampai September 2021 lalu, ada 211 ekor anjing yang udah diberi obat cacing dan scabies.
Warga seneng dong anjingnya dapat obat cacing sama obat penyakit kulit?
Senang dong. Selain dapat obat dan perawatan gratis, mereka juga mulai mengerti dengan bahaya zoonosis dan mulai paham dengan tujuan pemberian vaksin. Bahkan mereka tercerahkan atas mitos keliru yang beredar bahwa anjing yang divaksin akan menjadi malas ke ladang.
Mantep deh. Udah berapa anjing yang divaksin?
Tanggal 9-12 November ada 124 ekor anjing yang divaksin. Rencananya kami masih akan lanjutin lagi programnya.
Satu dari ratusan anjing peliharaan masyarakat yang telah kita beri vaksin (Tim Medis| IAR Indonesia)
Banyak juga ya? Ada pihak lain yang membantu?
Ada dong, vaksinasi dilakukan oleh dokter hewan kami dibantu dua orang vaksinator dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Melawi. Vaksinnya disuntikan melalui injeksi di bawah permukaan kulit. Proses handling anjing dilakukan oleh pemilik untuk menjaga keamanan vaksinator. Selain menyuntikkan vaksin ke anjing, tim juga melakukan sosialisasi tentang efek samping yang dapat muncul pada anjing pasca vaksinasi dan meminta pemilik untuk selalu memperhatikan anjingnya dan menghubungi tim jika timbul efek samping pada anjing.
Terus taunya anjing udah vaksin atau belum gimana? Pake aplikasi semacam Peduli Lindungi?
Ya enggak lah. Anjing yang sudah divaksinasi diberikan kalung merah aja sebagai penanda.
Oooh. Hehe. Kirain.. Respon warga terhadap vaksinasi rabies oke ngga?
Oke banget dong. Ternyata mereka mulai sadar akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penyakit rabies melalui sosialisasi yang sudah dilakukan sebelumnya. Masyarakat juga senang dan menyambut kegiatan kesehatan hewan ini dengan antusias karena anjing mereka lebih sehat dan bebas dari penyakit kulit setelah dilakukannya pemberian obat cacing dan anti scabies sebelumnya. Mayoritas masyarakat yang awalnya meragukan vaksinasi rabies juga sudah mempersilahkan tim untuk melakukan vaksinasi terhadap anjingnya.
Ada kendala nggak selama kegiatan ini?
Ada, tapi enggak banyak sih, dan bisa diatasi kok. Kemarin kendanya sih lebih ke faktor alam kayak hujan deras yang bikin sungai banjir, jadi tim vaksinasi hasur menunggu dulu beberapa jam supaya air sungai surut. Ini karena kami harus lewat sungai untuk pergi ke dusun-dusun itu dan kalau debit airnya tinggi, bisa membahayakan tim. Selain itu, banyak juga masyarakat yang masih membawa anjingnya ke ladang di tanggal yang sebelumnya sudah diinformasikan, sehingga beberapa anjing belum tervaksinasi.
Wah terus buat yang belum divaksin ini gimana?
Rencananya vaksinasi susulan akan dilakukan kepada anjing yang belum tervaksinasi dan kami mau bikin program kesehatan hewan peliharaan secara rutin di seluruh dusun di Desa Penyangga TNBBBR.
Heribertus Suciadi
Mau Mengarungi Sungai Sambil Belanja Sayur?
Wuih eksotik banget kelihatannya, mau dong!
Nah kan, kepincut kan. Ini program baru kami, gaes. Kami punya perahu klotok yang mengarungi sungai, untuk mengangkut sayur.
Kok diangkutnya pake perahu?
Soalnya, jalan daratnya masih jelek banget, bisanya dilalui motor atau mobil berpenggerak empat roda gitu. Nah karena kondisi jalan daratnya jelek, better lewat sungai deh. Lebih cepat dan asyik, santai, dan bisa sambil menikmati pemandangan di pinggiran sungai.
Emangnya ini di daerah mana sih?
Di Desa Nusa Poring. Ini tuh desa yang berada di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melwai, Kalimantan Barat. Karena kondisi jalan darat di sana masih jelek banget, kami coba bantu pekerjaan masyarakat di sana yang memang mata pencahariannya bertani dan berladang, untuk bisa mengangkut sayurnya untuk dijual ke Pasar Menukung atau Serawai di Kalimantan Barat. Sebagai gambaran, untuk bisa sampai ke pasar Serawai lewat jalan darat, diperlukan perjalanan selama enam jam untuk bisa sampai ke Pasar Serawai, itu juga harus melalewati jalan tanah dan menyeberang sungai.
Kegiatan muat barang atau loading ke kapal klotok bantuan IAR Indonesia (Tim Comdev | IAR Indonesia)
Banyak emangnya sayur mereka?
Lumayan sih, ada sekitar 13-20 petani sayur lokal dan dapet sayurnya sekali panen itu bisa 1,5 – 2 ton.
Wah, selama ini gimana mereka bawa sayur ke Pasar di Menukung atau Serawai?
Ya naik kapal juga. Tapi kapalnya ini sewa gaes. Dan gak selalu ada. Kalau pas gak ada kapal yang berangkat, mereka jadi nggak bisa jual sayurnya. Kalaupun ada perahu, petani mesti bayar Rp.120.000 sekali jalan.
Tekor dong?
Lumayan juga tuh ongkosnya buat mereka. Belum juga dapat hasil penjualan sayur tapi udah harus keluar ongkos transport duluan. Makanya kita bantu mereka dengan program perahu sayur ini. Sekarang sih baru satu set perahu klotok ya yang kita punya, termasuk mesin dan peralatan safety-nya.
Terus gimana tuh teknis mekanismenya pemakaiannya?
Jadiiii sekarang ini, sistemnya adalah simpan pinjam buat kelompok tani sayur lokal. Kita sebagai penyedia alat trasnportasinya akan bantu juga untuk sediakan driver dan kernet. Untuk saat ini, para petani dikelompokkan dalam Kelompok Petani Sayur Hutan yang dibentuk di tingkat dusun untuk memudahkan pengaturan operasional perahu. Kita juga bantu susun pengaturan jadwal keberangkatan dan pengaturan anggota kelompok yang berangkat pada setiap kelompok.
Nanti perawatan perahunya gimana?
Nah, supaya program ini berkelanjuta, kita juga akan atur supaya tetap ada dana untuk maintenance dan sebagianya. Di tahun pertama ini, kita akan bantu kelola operasional perahunya, dan para petani wajib bayar iuran. Gak banyak kok, Rp.70.000 aja. Iuran ini nantinya bukan masuk ke kami, tapi akan ditabung atas nama Kelompok Tani. Dana tabungan ini yang nantinya akan jadi modal mereka untuk membiayai sendiri kebutuhan biaya perawatan dan biaya operasional pada tahun berikutnya.
Gitu ya… Terus mereka udah paham dengan skema kayak ini?
Jujur aja nih, ini kan skema yang baru buat para petani. Jadi nantinya kami juga akan fasilitasi beberapa kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat terkait pengelolaan program ini biar bisa berjalan secara rutin dan berkelanjutan.
Mantep tuh. By the way, tujuannya ada perahu sayur ini apa sih?
Banyak. Banget. Kalau jangka pendeknya sih kami pengen memberikan fasilitas buat para petani lokal biar bisa jualan secara rutin. Kan udah ada perahu sendiri tuh, jadi gak repot numpang sana sini. Tujuan lainnya ya mengurangi beban biaya transportasi petani.
Warga mengantri sebelum menaiki perahu klotok (Tim Comdev | IAR Indonesia)
Kalau ngomong tujuan jangka panjangnya ya kami pengennya masyarakat atau petani sayur hutan mengoptimalkan lahan non-produktif di dekat pemukiman untuk budidaya sayur hutan, jadi otomatis tercipta juga usaha atau mata pencaharian yang berkelanjutan bagi masyarakat. Harapannya, nanti masyarakat di sana punya mata pencaharian yang berkelanjutan sambil merawat serta memelihara sumber dan hasil alam yang tersedia untuk menopang usaha sayur lokal dan ladang yang sudah mereka kelola secara tradisional. Kalau yang peningkatan kapasitas itu sih kami pengennya nanti kelompok petani sayur lokal ini mampu membeli dan mengelola perahu secara mandiri untuk menopang perekonomian masyarakat di Nusa Poring.
Wah wah wah, keren banget yaa. Udah jalan nih programnya? Terus gimana tanggapan warga?
Udah dong. Di Desember kemarin kita launching kapal klotok sayur lokal di Desa Nusa Poring, sekaligus menjadi Kick Off Perjalanan Pertama Kapal Klotok menuju ke Pasar Serawai dengan mengangkut tujuh orang petani yang ingin berjualan. Respon masyarakat sangat antusias dan berterima kasih karena dengan adanya kapal klotok sayur ini, maka kesempatan petani sayur menabung menjadi lebih banyak.
Ada tanggapan juga nggak dari pemerintah?
Tentu saja! Program ini mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintahan Desa Nusa Poring, tokoh adat setempat, serta masyarakat. Dukungan ini terwujud dalam Berita Acara Kesepakatan antara IAR Indonesia dengan Pemerintahan Desa Nusa Poring, tokoh adat, serta masyarakat setempat. Selain itu, kami juga membentuk dokumen Perjanjian Kerja Sama antar kami dengan kelompok tani untuk memastikan keberlanjutan program, dalam lingkup pendampingan dan fasilitasi kegiatan operasional perahu sayur.
Mantap! Jadi pengen ikutan naik kapal sayur!
Boleh, tapi ikutan jualan sayurnya di pasar juga ya nanti, hehehe….
Heribertus Suciadi
It’s Time to Learn Computer!
Belajar komputer? Kan udah banyak yang tahu dan bisa?
Ternyata nggak semuanya sudah bisa memakai komputer lho, friend. Ini kondisi yang cukup memprihatinkan apalagi buat para pelajar yang harus belajar pake sistem daring. Bayangin tuh, gimana mau online kalau komputer aja mereka nggak punya, boro-boro punya, kenal pun belum. Nah, inilah kondisi yang terjadi di sebagian besar daerah di pedalaman. So, kami pun kemudian ngadain pelatihan komputer buat masyarakat di sana, terutama buat orang-orang yang bener-bener belum pernah pegang komputer.
Aduh, prihatin dengernya. Terus gimana tuh kalian ngasih pelatihannya?
Jujur, ini tantangan juga buat kami. Apalagi banyak desa yang belum dapat akses listrik. Untunglah kita bisa manfaatin sinar matahari sebagai sumber listrik pakai solar panel. Nah, begitu ada akses listrik, kami jadi mudah tuh ngajarin temen-temen di desa ini untuk belajar komputer pake laptop.
Wah langsung pake laptop ya?
Iya, biar praktis juga ketika kami harus ngasih pelatihan ke banyak desa. Nah, buat pelatihan ini, sementara kami baru ada sembilan laptop dulu, tapi nantinya bakal ditambah sih. Doain aja yak.
Amiiin. Eh tadi katanya pelatihan ini buat yang belum pernah pegang komputer, anak-anak nih maksudnya?
Enggak dong. Gak cuma anak-anak, ini pelatihannya beneran buat warga desa, semua umur, cewek cowok, mulai dari anak SD sampe ke pegawai pemerintah desa kita ajak bareng-bareng belajar komputer. Mereka semua sebelumnya belum pernah dapat pelatihan komputer. Belum ada sekolah yang ada pelajaran komputernya juga di sana. Jangankan komputer, listrik aja belum ada kan.
I see. Ini pelatihannya dari kapan sih? Sama desanya ini di mana aja?
Pelatihannya sih udah mulai dari akhir Mei tahun ini. Masih lanjut terus sampe sekarang dan besok-besok. Pokoknya sampai mereka semua bisa pinter ngejalanin komputer deh. Tempatnya di Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring.
Mana tuh?
Yaelah, googling dong, kalian kan punya telepon pintar, punya akses internet. Tapi ya udah deh, biar cepet, sini kami kasih tahu. Jadi keduanya tuh desa di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Emang ngapain sih repot-repot ngadain pelatihan di sana? Listrik aja gak ada kan, apalagi internet.
Justru karena itu, kita nggak mau saudara-saudara kita yang nggak dapat akses listrik dan sarana pendidikan yang memadai, nggak dapat akses buat belajar komputer. Kita yakin banget kalau hak-hak buat belajar itu harus dipunyai semua orang, makanya kita kasih pelatihannya nggak mandang tua muda atau cewek cowok. Oh iya, malah banyak perempuan yang ikutan lho daripada cowoknya.
Oh iya?
Iya dong, nih, yang cewek 37, yang cowok 22 orang.
Wih mantep.
Iya dong, ini sejalan juga dengan tujuan kami untuk program pemberdayaan masyarakat dan edukasi yang salah satunya adalah ningkatin kemampuan dan peran ekonomi perempuan dalam keluarga. Kalau pada melek teknologi, perempuan tidak akan kalah dari laki-laki dalam mendapatkan pekerjaan yang setara.
Oke deh, but I need some more background soal pelatihan komputer ini. Kok bisa-bisanya out of nowhere ada pelatihan ini sih? YIARI kan bergerak di bidang konservasi ya? Apa hubungannya sama konservasi?
Ok, kita jelasin pelan-pelan. Jadi, dalam upaya kita untuk melindungi orangutan dan habitatnya sekaligus melindungi keanakaragaman hayati di dalamnya, kita perlu juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat orangutan. Nah karena kita melakukan pelepasliaran orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TANAKAYA) yang memang berbatasan langsung dengan Desa Mawang Mentatai dan Nusa Poring, jadi kami ngadain pelatihan komputernya di sini deh.
Terus-terus?
Kita kan tadi ngomongin soal kesejahteraan masyarakat, nah kami yakin kalau masyarakat mau sejahtera, salah satu hal yang harus dibuka adalah akses pendidikan kepada masyarakat ini. Kami juga ada program beasiswa, tapi yang ini kita bahas lain waktu yak. Hehe. Jadi kalau masyarakat mempunyai kemampuan yang bakal kepake di dunia kerja, mereka gak perlu lagi masuk ke dalam hutan dan melakukan hal-hal ilegal buat mencari penghidupan. Kita juga nggak pengen masyarakat yang ada di sini nggak bisa make komputer cuma gara-gara tempatnya jauh, terpencil, transport susah, litrik nggak ada, dan lain-lain
Wuih keren. Udah berapa orang nih yang ikut pelatihan ini?
Yang udah ikutan sampe September kemarin tuh ada 50 anak sekolah, gurunya 2 orang, masyarakat umum yang ikut ada dua, tambah lagi ada delapan perangkat desa yang ikutan pelatihan komputer ini.
Wih, pelatihannya ada juga yang buat pemerintah desa juga ya…
Iya, ini yang minta emang mereka sendiri karena keterbatasan SDM mereka dalam penggunaan teknologi. Saat ini kan semua proses input informasi desa maupun administrasi desa harus dilakukan secara online dengan memanfaatkan komputer, terus masih banyak pegawai kantor desa yang belum bisa pake komputer.
I see… Pelatihannya ini diajarin apa aja?
Masih yang simpel-simpel aja sih. Mulai dari penjelasan soal apa itu perangkat lunak dan perangkat keras, cara nyalain sama matiin laptop yang bener, latihan ngetik di aplikasi pengolah kata dan data. Belajar menu dan fitur-fiturnya gitu, sama sekalian belajar ngeprint.
Hasilnya?
Bagus kok, masyarakat yang gak pernah pegang laptop sama sekali sekarang udah ngerti gitu gimana cara nyalain-matiin laptop, udah pada bisa ngetik, bikin tabel, bikin format surat, bikin rumus di aplikasi pengolah data, ngeprint, macem-macem lah. Kemajuan banget buat mereka yang sebelumnya gngak pernah pegang komputer sama sekali.
Mantep juga ya. Btw bikin pelatihan gini tantangannya ada gak?
Ada dong. Banyak. Hehehe. Terutama soal transportasi dan listrik sih ya. Akses antar wilayah di dalam desanya itu lho, susah banget, apalagi kalau hujan, jalan tanah itu jadi kayak bubur, mobil jelas nggak bisa lewat, sementara pake motor juga agak repot karena harus nenteng-nenteng laptop. Terus nih ya, nggak semua tempat punya solar panel buat ngecas laptop. Jadi kadang repot juga kalau laptop udah pada lowbat. Belum lagi karena ini kan program yang baru banget ya, jadi banyak yang senang dan mau belajar komputer gitu tapi masih malu-malu buat tanya kalau masih ada yang nggak mereka ngerti. Dan karena ini pertama, jadi di awal-awal masih rada-rada susah buat jelasin materinya. Tapi setelah jalan dua-tiga minggu lancar kok.
Manteplah, semoga makin banyak masyarakat desa yang melek teknologi biar bisa ikut bersaing di dunia digital kayak gini.
Pastinyaaaa.
Yang Berkurang Tapi Bikin Hati Senang
Wuih…ini ngomongin tagihan pinjol?
Nggg, kagak, hahaha… Yang mau kita bahas adalah jumlah orangutan di pusat rehabilitasi kami di Ketapang, Kalimantan Barat.
Emang jumlah orangutan yang direhab di sana berkurang?
Jadiii, jumlah orangutan di pusat rehabilitasi kita itu berkurang lagi lima individu orangutan. Oya, kita nyebutnya individu ya, bukan ekor, karena orangutan termasuk jenis kera besar yang salah satu cirinya adalah tidak mempunyai ekor. Tapi selain itu, kita menyebut orangutan sebagai individu itu untuk menempatkan mereka sebagai karakter yang sama pentingnya dengan manusia dalam peran pentingnya menjaga alam dan bumi kita nih, friend.
I see…btw mereka pada pergi ke mana? Aman gak mereka? Kok berkurang tapi malah senang sih? Siapa yang hilang? Di mana? Kapan? Ke mana? Kok bisa sih?
Eits, satu-satu dong tanyanya, nanti kita jelasin kok. Lima individu ini udah pulang ke rumah barunya gaes, jadi mereka sudah dinyatakan selesai menjalani masa rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan di Ketapang.
Lah? Pulang??? Emang mereka punya rumah gitu? Siapa aja sih yang pulang?
Iya, pulang. Mereka pulang ke rumah barunya di dalam Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, 17-20 Agustus kemarin. Lima individu ini Namanya Frangky, Oso, satu orangutan betina bernama Bonita, sama dua orangutan jantan Noel dan Pedro. Kalau Frangky dan Oso ini induk anak loh. Franky ibunya, Oso ini anaknya yang masih kecil. Oh iya, Oso ini jantan ya gaes.
Eh tanggalnya pas gitu ya sama Peringatan Hari Orangutan Internasional? 19 Agustus kan ya?
Yak bener. Tuh pinter juga. Hehe. Jadi, selain pas dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia dan hari peringatan Orangutan Internasional, ini juga merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan pelepasliaran tumbuhan dan satwa liar (TSL) oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang mengangkat tema “Living in Harmony With Nature: Melestarikan Satwa Liar Milik Negara”.
Terus, mereka pada pulang kok kamu senang sih? Bukannya jadi sepi nanti tempat rehabilitasinya?
Justru itu tujuan kami.
Lho kok gitu?
Iya. Itu tujuan bikin tempat rehabilitasi. Bukan untuk bikin penuh isinya, tapi biar satu per satu penghuninya bisa pergi kembali ke rumahnya.
Duh gak ngerti deh.
Hahaha…ok, ok, kami jelasin ya. Jadi kami memang bikin pusat rehabilitasi buat orangutan-orangutan yang kehilangan induk dan rumahnya. Terus pusat rehabilitasi ini kan ibaratnya panti asuhan dan sekolah buat orangutan, sekolah buat mengasah skill mereka buat bisa jadi orangutan sejati. Nah kalau sekolah, tujuan akhirnya ada lulus dan diwisuda. Gitu pula dengan rehabilitasi ini, tujuannya ya semua orangutan menguasai skill mereka buat bertahan hidup dan bisa pulang ke rumahnya yang sejati. Yakni di dalam hutan. Nah makin banyak orangutan yang lulus rehabilitasi dan pulang, makin senanglah kami. Harapannya sih suatu saat tempat rehabilitasi ini kosong dan semua orangutan bisa hidup bahagia selama-lama-lamanya di rumah aslinya.
Ahhh.. I see…Paham deh. Btw, jadi penasaran nih sama rumah baru mereka. Ceritain dong soal rumah barunya.
Siap! Jadi rumah baru mereka ini ada di dalam Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TANAKAYA). TANAKAYA. ini ada di dua provinsi, di Kalimantan Barat, sama Kalimantan Tengah. Luas banget pokoknya. Lebih dari 111 ribu hektar. Nah, untuk mengantar mereka pulang, kami membantu bapak-bapak dan ibu-ibu dari BKSDA Kalimantan Barat dan Balai TANAKAYA yang ditugaskan oleh negara untuk memastikan mereka aman dan selamat tiba di Resort Mentatai di dalam Kawasan TANAKAYA. Kita milih lokasi ini gak sembarangan loh gaes. Jauh sebelumnya, di tahun 2014/2015 kita barengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat dan Balai TANAKAYA melakukan serangkaian survei dan kajian. Hasilnya, jumlah dan jenis pakan orangutan melimpah sedangkan populasi orangutan yang ada sangat sedikit. Statusnya sebagai kawasan taman nasional juga lebih mendukung keamanan dan kesejahteraaan mereka loh.
Eh, udah lumayan lama juga ya survei-nya. Udah berapa orangutan sih yang dipulangin sampe sekarang?
Sampai saat ini, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya bersama BKSDA Kalimantan Barat dan didukung oleh kami, telah melepaskan 60 orangutan sejak tahun 2016.
Oooh, begitu yaa.. Terus kemarin mereka pulang sendiri apa dianterin?
Dianterin dong, ya kali mereka naik motor sendiri ke sana. Nah kemarin itu yang nganter rame loh, ada dari BKSDA Kalbar, Balai TANAKAYA, bahkan sampai Bupati Melawi juga ikut nganterin loh. Juga ada bapak-bapak polisi dan tentara. Kami juga ada, jangan khawatir gaes. Pokoknya rame deh.
Wiih, seneng banget denger banyak pihak yang peduli sama orangutan.
Iya dong, kami sebagai mitra Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga ikutan bangga bisa kerja mendukung mereka. Apalagi kata Pak Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekologi nih, kalau orangutan merupakan salah satu flagship species yang terus menjadi prioritas Kementerian LHK melalui berbagai upaya konservasi agar keberadaannya di alam tetap terjaga dan berkembangbiak dengan baik. Beliau juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang mendukung kegiatan pelepasliaran ini. Beliau berpesan bahwa upaya konservasi tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri dan pemerintah daerah, kementerian/ lembaga lain, perguruan tinggi, masyarakat setempat, pelaku bisnis, lembaga-lembaga masyarakat dan media harus selalu bergandengan tangan dan bersinergi dengan baik. Nah, yuk kita dukung terus pekerjaan pemerintah. Semangat!!
Memberi Kesempatan Anak-Anak Meraih Masa Depan
Di masa pandemi seperti ini, anak-anak menjadi kelompok dari masyarakat yang terbilang paling merasakan kesulitan. Di usia mereka, anak-anak seharusnya mengalami momen-momen bermain di luar, bersekolah, berinteraksi dengan kawan-kawan seusianya, bersosialisasi, namun semua itu harus diredam karena dunia tengah dilanda virus Covid-19 yang hingga sekarang belum ditemukan solusi pengobatannya.
Salah satu momen yang paling hilang dari anak-anak ini adalah pendidikan. Sekolah kini harus berevolusi menggunakan sistem daring. Tentu saja untuk Indonesia, sistem ini masih belum bisa dijalankan secara ideal. Banyak daerah yang belum memiliki akses internet. Belum lagi dari sisi piranti, masih tak terhitung banyaknya anak-anak di pedalaman yang belum mengetahui komputer apalagi menggunakannya.
Melihat kenyataan ini, tim edukasi di International Animal Rescue (IAR) Ketapang mengadakan program pelatihan pengetahuan dasar tentang pengoperasian komputer kepada anak-anak di desa-desa penyangga taman nasional, yang dalam hal ini adalah Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), yaitu Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi Kalimantan Barat. Kegiatan yang dimulai sejak 3 Februari 2021 ini difasilitasi IAR Indonesia dengan menyediakan 10 unit laptop dan seperangkat genset, UPS, dan stabilizer. Di tahap awal, pelatihan ini memberikan dasar-dasar pengoperasian komputer dan penggunaan Microsoft Office seperti Word, Excel, dan Power Point.
Anak-anak yang mengikuti kegiatan ini terlihat sangat antusias dalam mempelajari komputer. Sesekali, mereka bertanya pada para pengajar mengenai program yang sedang ia tekuni. Para pengajar pun dengan senang hati memberi mereka arahan kepada mereka. Anak-anak yang berusia 10-17 tahun ini sangat senang untuk mengulik-ulik berbagai macam program di komputer, seperti program mengetik dan menggambar.
Program ini diintegrasikan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah, menyasar siswa-siswi sekolah dasar dan menengah serta anak putus sekolah. Selain untuk menyiapkan anak-anak dan remaja di kedua desa ini untuk bisa menghadapi era digital secara baik dan benar, serta mampu menumbuhkan kapasitas siswa dan remaja putus sekolah di bidang informasi teknologi sehingga mereka mempunyai keterampilan tambahan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, program ini juga diharapkan bisa menjadi aktivitas positif untuk mengalihkan anak muda dari kegiatan yang bersifat merusak alam seperti mencari kayu hutan untuk dijual dan berburu satwa dilindungi.
Hasil survei sosial dan pendidikan yang dilakukan pada akhir tahun 2017 lalu di Desa Mawang Mentatai dan Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, menemukan fakta bahwa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat yang tinggal di dua desa penyangga ini masih sangat bergantung pada hutan.
Dengan kondisi ini, masyarakat pra sejahtera yang secara ekonomi masih sangat tergantung kepada hutan berpotensi merusak hutan bila eksploitasi alam yang tidak berkesinambungan terus berlanjut. Untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera, salah satu faktor yang penting adalah adanya akses pendidikan yang layak dan memadai.
”Banyak anak-anak kita yang tidak dapat bersekolah lagi karena pandemi. Di perkotaan dengan infrastruktur yang sudah maju, sekolah tatap muka dapat digantikan dengan sekolah daring, tetapi tidak demikian dengan anak-anak kami di areal ini. Pandemi yang dibayangi dengan akses yang sangat terbatas terhadap kemajuan teknologi sangat menghambat pendidikan di area ini. Sangat tidak adil kalau kita tidak memberikan kesempatan yang lebih baik bagi mereka,” ujar Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez.
“Dengan program ini, kami berharap anak-anak di dua desa penyangga ini bisa memiliki masa depan yang lebih baik. Anak-anak yang megikuti program ini sangat gembira mendapatkan kesempatan ini dan kami lebih bahagia lagi bisa melihat ana-anak ini belajar komputer untuk pertama kalinya. Kami yakin bahwa pendidikan adalah tumpuan untuk masa depan yang lebih baik dan anak-anak adalah masa depan kita dan masa depan dunia,” jelasnya lagi.
Untuk program yang baru diadakan pertama kali ini, IAR Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Melawi mengadakan program pelatihan komputer di dua desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, yaitu Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Program ini disambut baik oleh mitra pemerintah setempat. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Melawi, Drs. H. Joko Wahyono M.Si menyatakan dukungannya terhadap program ini dengan menerbitkan surat rekomendasi untuk sekolah sekolah yang berada di Desa Nusa Poring dan Mawang Mentatai. “Kami mendukung kegiatan ini dan mengarahkan para guru yang mampu mengoperasikan komputer untuk dapat membantu program ini serta guru yang belum mampu diharapkan turut serta mengikuti program ini,” ujarnya. “Kami juga meminta semua siswa yang masuk kriteria untuk mengikuti program ini dan kami akan memberikan sertifikat kepada siswa yang telah mengikuti pelatihan ini dengan baik sampai selesai,” jelasnya lagi.
Bantuan bagi pendidikan generasi muda, tak hanya IAR Indonesia lakukan dalam bentuk pelatihan komputer. Sejak awal tahun 2020, kami memberikan beasiswa pendidikan kepada anak-anak di desa Mawang Mentatai dan Nusa Poring untuk 18 anak yang terdiri dari 14 anak perempuan dan empat anak lelaki.
Selain bantuan pendidikan formal, kami juga melakukan kegiatan dan pengajaran berbasis kepedulian lingkungan bagi para generasi muda. Salah satunya, untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, IAR Indonesia mengajak anak-anak dari Taman Baca Sir Michael Uren bersama dengan masyarakat dan wisatawan pantai untuk berkolaborasi mengadakan aksi bersih pantai di Pantai Pantai Tanjung Belandang, Kalimantan Barat.
Dengan terlaksananya program-program edukasi ini, IAR Indonesia berharap besar bahwa para generasi muda mendapatkan pendidikan yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan kemampuannya. Diharapkan pula niat baik ini dapat dijadikan titik tolak untuk penumbuhan kepedulian baik bagi masyarakat secara umum maupun generasi muda secara khusus terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup di wilayahnya. Dukungan dari segala pihak sangat dihargai supaya para generasi muda berpotensi ini dapat tumbuh menjadi pelindung lingkungan yang hebat.