Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Menanamkan Cinta Satwa Sejak Dini: Perayaan Hari Anak Nasional Bersama YIARI
Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelenggarakan serangkaian kegiatan edukatif dan menyenangkan yang berlangsung di tiga lokasi berbeda, yaitu Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Bogor, Jawa Barat; Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Ketapang, Kalimantan Barat; serta SDN 23 Matan Hilir Selatan di wilayah Sungai Besar, Ketapang, Kalimantan Barat.
Kegiatan ini menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan hidup sejak usia dini. Anak-anak sebagai generasi penerus perlu dibekali dengan pemahaman akan pentingnya menjaga alam dan makhluk hidup di dalamnya, salah satunya melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitat alaminya.
Membaca nyaring dan membuat poster
Kegiatan “Kenali Satwa, Sayangi Alam” yang diselenggarakan di TBM Lentera Pustaka, menjadi sarana untuk menumbuhkan literasi dan meningkatkan minat baca di bidang lingkungan. Selain difasilitasi oleh YIARI, kegiatan ini juga dibantu oleh 7 relawan TBM Lentera Pustaka dan 8 mahasiswa KKN IPB.
Kegiatan dikemas secara edukatif dan interaktif, dimulai dari sesi membaca nyaring buku cerita petualangan “Karmila & Gito bersama Owa Kelempiau” yang mengangkat kisah tentang melindungi satwa. Menariknya, setiap karakter yang ada dalam buku diperankan dan dibacakan oleh kakak-kakak YIARI. Keseruan membaca ini berhasil menarik perhatian anak-anak terhadap alur cerita dan pesan-pesan yang dibawakan.
Usai membaca nyaring, kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas prakarya. Mulai dari membuat poster habitat satwa, dan mewarnai untuk anak-anak prasekolah dan tingkat bawah. Dari aktivitas ini, anak-anak belajar mengenai perbedaan ruang habitat yang digunakan oleh satwa liar.
Kakak-kakak YIARI membaca nyaring dengan memerankan karakter pada buku cerita Petualangan Karmila dan Gito bersama Owa Kelempiau di TBM Lentera Pustaka, Bogor. (YIARI)
Kegiatan ini memberikan pengalaman berkesan bagi anak-anak. Mereka tampak antusias mengikuti setiap sesi dan banyak yang baru mengenal satwa seperti kukang dan owa jawa. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian satwa dan habitatnya.
“Kegiatan-kegiatannya seru banget, asik,” kata Ade Amirah (15), salah satu peserta kegiatan.
“Dan juga nambahin pengetahuan aku, bagaimana bentuk rupa owa jawa, yang ternyata harus dilindungi dan tidak boleh diburu,” ungkapnya menambahkan.
Hak anak dan kesejahteraan satwa
Sementara itu, di Ketapang, Kalimantan Barat, perayaan Hari Anak Nasional juga berlangsung meriah di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. Anak-anak dari komunitas sekitar, seperti Zwageri Generation, berpartisipasi dalam berbagai aktivitas kreatif seperti mewarnai sketsa satwa, membuat bando berbentuk hewan, dan membuat video ucapan bertema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap pemenuhan hak anak. Sekaligus juga, dikaitkan dengan tanggung jawab anak terhadap kesejahteraan satwa.
Peserta mewarnai di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. (YIARI)
Kegiatan serupa juga diselenggarakan di SDN 23 Matan Hilir Selatan. Dalam kolaborasi ini, anak-anak mengikuti lomba mewarnai dengan tema kesejahteraan satwa, mendengarkan materi edukatif, serta menonton film edukasi “Monpai Exploit” bersama. Dari hasil kegiatan ini, anak-anak mulai memahami bahwa kesejahteraan bukan hanya hak manusia saja, tetapi juga hak satwa, baik peliharaan maupun satwa liar di hutan. Pemahaman ini tergambarkan dari karya mereka yang menunjukkan interaksi positif antara anak dan satwa, serta ucapan refleksi dalam video yang mereka buat.
Foto bersama dengan peserta di SDN 23 MHS Sungai Besar. (YIARI)
Kegiatan Hari Anak Nasional yang dilakukan YIARI menjadi bukti bahwa edukasi konservasi bisa dikenalkan sejak dini, dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitatnya, anak-anak tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tetapi juga nilai-nilai empati, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Nasya Karina Nur’aziza
Empat Bulan yang Mengubah Hidup: Catatan Perjalanan Kahiu Academy Batch 3
Setelah empat bulan penuh proses belajar dan bertumbuh, para peserta Kahiu Academy Batch 3 akhirnya menuntaskan perjalanan mereka.
Momen kelulusan yang dirayakan dalam acara Farewell Kahiu menjadi simbol penting dari sebuah transformasi—dari remaja putus sekolah menjadi individu yang lebih percaya diri, terampil, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Program ini bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang aman untuk menggali potensi, membangun karakter, dan menemukan harapan baru.
Yuk, simak perjalanan mereka selama di Kahiu Academy dan bagaimana program ini telah membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah!
Kahiu Academy: Cahaya Harapan bagi Remaja Putus Sekolah
Sejak pertama kali didirikan pada tahun 2022, Kahiu Academy menjadi cahaya harapan bagi remaja putus sekolah di Kalimantan Barat.
Program ini dirancang untuk memberikan pendidikan dan pelatihan yang komprehensif, dengan tujuan membekali para peserta dengan keterampilan teknis dan non-teknis agar mereka dapat menjadi individu yang lebih mandiri dan berdaya.
Kahiu Academy mengusung pendekatan yang menyeluruh. Tidak hanya fokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan praktis, program ini juga menanamkan nilai-nilai penting seperti kepedulian terhadap lingkungan dan pengembangan karakter.
Dengan demikian, setiap peserta tidak hanya mendapatkan bekal untuk dunia kerja atau usaha mandiri, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab terhadap komunitas serta alam sekitarnya.
Perjalanan Belajar di Kahiu Academy: Lebih dari Sekadar Pelatihan
Selama empat bulan terakhir, sebanyak 14 peserta dari empat kecamatan di Kalimantan Barat mengikuti program pelatihan intensif yang diselenggarakan di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren YIARI Ketapang.
Mereka menjalani proses belajar yang padat, mencakup lebih dari 40 materi yang terbagi dalam dua kategori utama: keterampilan teknis (hard skill) dan pengembangan diri (soft skill).
Peserta Kahiu Academy Batch 3 (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Seluruh materi yang diberikan tidak hanya ditujukan untuk membentuk kompetensi individu, tetapi juga untuk menumbuhkan semangat berkontribusi terhadap masyarakat dan lingkungan.
Melalui pendekatan ini, peserta diajak untuk belajar demi masa depan mereka sendiri, sekaligus didorong untuk menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas di komunitas masing-masing.
Materi Pelatihan yang Beragam dan Komprehensif
Selama mengikuti program, peserta Kahiu Academy Batch 3 mendapatkan berbagai pelatihan yang dirancang untuk membekali mereka dengan keterampilan praktis sebagai bekal menghadapi masa depan. Materi yang disampaikan mencakup:
Keterampilan teknis, yang relevan dengan berbagai bidang pekerjaan. Materi ini memungkinkan peserta untuk langsung terjun ke dunia kerja atau bahkan memulai usaha mandiri sesuai minat dan potensi masing-masing.
Pengembangan karakter dan kepemimpinan, yang bertujuan membentuk kepercayaan diri serta ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Pendidikan lingkungan, yang meningkatkan kesadaran peserta akan pentingnya pelestarian alam serta bagaimana menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar teori di dalam kelas, para peserta juga mendapat kesempatan untuk menerapkan ilmu mereka secara langsung melalui praktik. Pendekatan berbasis praktik ini membantu peserta memahami konteks nyata dari keterampilan yang dipelajari, sekaligus memperkuat pemahaman mereka dalam situasi dunia nyata.
Farewell Kahiu: Merayakan Kelulusan dengan Penuh Makna
Setelah melalui perjalanan panjang yang penuh tantangan dan proses pembelajaran, peserta Kahiu Academy Batch 3 akhirnya berhasil menyelesaikan program mereka.
Momen kelulusan ini dirayakan dalam acara Farewell Kahiu, sebuah perayaan yang sarat makna dan emosi. Bukan hanya menjadi ajang perpisahan, acara ini juga menjadi simbol keberhasilan dan pencapaian luar biasa, baik bagi para peserta, mentor, pembimbing, maupun seluruh pihak yang terlibat dalam program ini.
Peserta melakukan presentasi (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Dalam acara yang diselenggarakan, setiap peserta diberikan kesempatan untuk berbagi cerita dan refleksi tentang perjalanan mereka selama mengikuti pelatihan.
Mereka menceritakan perubahan yang mereka alami, bagaimana program ini telah mengubah cara pandang mereka terhadap masa depan, serta bagaimana keterampilan yang mereka peroleh telah menumbuhkan kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh.
Peserta melakukan presentasi(Muffidz Ma’sum | YIARI)
Tak hanya itu, para peserta juga mempresentasikan rencana mereka setelah kelulusan. Ada yang ingin mengejar cita-cita profesionalnya, ada yang berencana untuk mengadakan kegiatan pemberdayaan di kampung halaman, dan ada pula yang bercita-cita mengembangkan pertanian berkelanjutan.
Ragam ide dan inisiatif yang mereka sampaikan menunjukkan bahwa program ini telah membuka wawasan dan membekali mereka dengan kemampuan nyata untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Menatap Masa Depan dengan Optimisme
Antusiasme dan semangat para peserta dalam menyongsong kehidupan setelah lulus sangat terasa sepanjang acara perpisahan. Dengan bekal yang telah mereka peroleh selama mengikuti program di Kahiu Academy, para lulusan kini lebih percaya diri untuk menghadapi berbagai tantangan, serta menciptakan peluang baru bagi diri mereka sendiri dan komunitas tempat mereka tinggal.
Kelulusan dari Kahiu Academy bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah-langkah baru yang penuh harapan. Para peserta kini memiliki keterampilan dan wawasan yang lebih luas—baik untuk bekerja di berbagai sektor maupun membangun usaha mandiri. Lebih dari itu, mereka juga dibekali semangat untuk berkontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Kami berharap, program ini terus berkembang dan menjangkau lebih banyak remaja di Kalimantan Barat. Keberhasilan para lulusan Kahiu Academy menjadi bukti nyata bahwa pendidikan dan pelatihan yang tepat dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung perjalanan ini—para mentor, fasilitator, mitra, dan seluruh pendukung program. Semoga para lulusan Kahiu Academy terus melangkah maju, meraih mimpi mereka, dan membawa perubahan positif bagi komunitasnya.
Tebar Bibit Ikan Nila di Pematang Gadung: Langkah Nyata Mewujudkan Ekonomi Berkelanjutan
Di tengah upaya membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan, sebuah langkah penting diambil oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Koperasi Mandiri Pematang Gadung Sejahtera (KMPGS).
Pada 17 Maret 2025, mereka secara resmi meluncurkan program budidaya ikan nila berbasis koperasi melalui kegiatan Tebar Bibit Ikan di Desa Pematang Gadung, Kabupaten Ketapang. Program ini menjadi simbol kolaborasi lintas sektor, sekaligus sebagai titik awal terbentuknya ekosistem ekonomi lokal yang tangguh dan berbasis komunitas.
Simak kisahnya berikut ini, bagaimana benih ikan yang ditebar membawa harapan baru bagi kemandirian ekonomi masyarakat!
Koperasi sebagai Fondasi Kemandirian Ekonomi Desa
Koperasi Mandiri Pematang Gadung Sejahtera (KMPGS) lahir dari semangat membangun sistem ekonomi desa yang lebih mandiri dan inklusif. Inisiatif ini mulai dirancang sejak tahun 2024 oleh YIARI bersama masyarakat Desa Pematang Gadung, sebagai respons atas kebutuhan akan wadah ekonomi berbasis komunitas.
Setelah melalui berbagai tahap persiapan, koperasi ini akhirnya diresmikan secara hukum melalui pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan Nomor AHU-0003874.AH.01.29 Tahun 2024.
Peluncuran perdana koperasi ditandai secara simbolis dengan kegiatan Tebar Bibit Ikan, yang melibatkan para anggota koperasi dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan berfokus pada sektor perikanan, koperasi ini kini memiliki 23 anggota aktif yang akan terlibat langsung dalam pengelolaan dan pengembangan usaha.
Kegiatan Tebar Bibit Ikan di Pematang Gadung bersama para anggota KMPGS (Heribertus Suciadi | YIARI)
“Melalui koperasi, kami berharap dapat menciptakan kemandirian ekonomi kepada kelompok dampingan kita secara khusus dan masyarakat desa secara umum. Dengan model usaha yang berkelanjutan, anggota koperasi tidak hanya memperoleh penghasilan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang kuat dan berdampak jangka panjang,” ujar Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum YIARI.
Dengan hadirnya KMPGS, diharapkan masyarakat Pematang Gadung memiliki pondasi ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada bantuan eksternal, tetapi dibangun melalui kekuatan kolektif dan pengelolaan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Budidaya Ikan Nila dengan Sistem Keramba Jaring Apung (KJA)
Melihat potensi sumber daya perairan yang melimpah di Batang Sungai Pesaguan, KMPGS mengembangkan budidaya ikan nila menggunakan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) sebagai model usaha utamanya.
Sistem ini dipilih karena mampu meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem air. Dibandingkan metode tradisional, KJA memungkinkan pemantauan kualitas air dan pertumbuhan ikan secara lebih terkontrol.
Pada tahap awal, program ini melibatkan dua unit KJA dengan kapasitas 4.000 ekor ikan nila. Setiap unit dikelola oleh dua anggota koperasi, sehingga total ada empat orang yang terlibat langsung dalam proses budidaya. Unit-unit ini dirancang untuk memaksimalkan pertumbuhan ikan dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
Ketua Koperasi KMPGS, Ilyas, menyampaikan rasa optimisme para anggota dengan adanya dukungan dari berbagai pihak. “Dengan adanya KMPGS, kami merasa lebih percaya diri mengembangkan usaha ini. Kami tidak hanya mendapat bantuan modal, tapi juga pelatihan dan pendampingan untuk mengelola usaha dengan lebih baik,” ujarnya.
Menariknya, usaha ini dijalankan dengan skema permodalan bergulir. Artinya, modal awal yang berasal dari donatur akan dikelola dan dikembangkan oleh koperasi secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan ini, anggota koperasi dapat terus mengembangkan usahanya tanpa ketergantungan pada bantuan eksternal dalam jangka panjang. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kemandirian ekonomi, tetapi juga menciptakan siklus usaha yang inklusif dan adaptif.
Dukungan Penuh dari Berbagai Pihak
Peluncuran usaha perikanan berbasis koperasi di Desa Pematang Gadung tidak berjalan sendiri.
Berbagai pihak hadir memberikan dukungan nyata, mulai dari instansi pemerintah hingga perwakilan komunitas lokal. Kehadiran mereka menjadi bukti kuat kolaborasi adalah kunci utama dalam membangun ekonomi desa yang berkelanjutan.
Kegiatan Tebar Bibit Ikan dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Ketapang melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian; Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan; serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa.
Selain itu, hadir pula Camat Matan Hilir Selatan, KPH Ketapang Selatan, Bhabinkamtibmas, anggota komunitas The Power of Mama, LPHD Pematang Gadung, dan perwakilan dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Perwakilan pemerintah menebar bibit ikan di Pematang Gadung(Heribertus Suciadi | YIARI)
Kepala Desa Pematang Gadung, Sahdimin, menyampaikan rasa terima kasihnya atas sinergi yang terbangun.
“Kami sangat mengapresiasi dukungan dari YIARI dan seluruh mitra yang telah membantu mewujudkan program ini. Ini bukan hanya tentang menebar benih ikan nila, tetapi juga menanam harapan bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat Pematang Gadung,” ujarnya.
Kehadiran para pemangku kepentingan dalam kegiatan tebar bibit ikan di Pematang Gadung (Heribertus Suciadi | YIARI)
Lebih lanjut, Sahdimin berharap kolaborasi ini terus berlanjut dalam bentuk pendampingan teknis dan perluasan akses pasar. Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan mitra pembangunan, koperasi KMPGS diyakini akan mampu tumbuh menjadi penggerak utama perekonomian desa yang mandiri dan berbasis komunitas.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan dari Budidaya Ikan Nila
Budidaya ikan nila dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) tidak hanya menggerakkan roda ekonomi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Dengan menggunakan sistem KJA di sungai, pemanfaatan lahan darat dapat diminimalkan, sehingga tidak perlu membuka lahan baru yang berisiko merusak ekosistem hutan dan lahan basah di sekitar desa.
Dari sisi lingkungan, ikan nila termasuk spesies yang mampu tumbuh dengan baik dalam kondisi perairan yang bersih dan relatif stabil, tanpa perlu penggunaan bahan kimia berbahaya. Dengan begitu, praktik budidaya ini tetap menjaga kualitas air dan keseimbangan ekosistem perairan secara alami.
Secara ekonomi, sistem ini memungkinkan panen yang lebih terukur dan konsisten, sehingga pendapatan anggota koperasi menjadi lebih stabil. Keuntungan yang diperoleh dari hasil panen dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga, memperluas skala usaha, hingga membuka peluang ekonomi baru seperti pengolahan hasil perikanan.
Model usaha ini juga memberi ruang belajar bagi masyarakat untuk mengelola bisnis secara kolektif dan berkelanjutan. Bukan hanya soal keuntungan jangka pendek, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan sambil mengelola sumber daya secara produktif.
Menuju Ekonomi Berbasis Komunitas yang Berkelanjutan
Langkah awal yang diambil YIARI dan KMPGS melalui program budidaya ikan nila ini bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan upaya membangun fondasi jangka panjang menuju desa yang berdaya dan berkelanjutan.
Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan potensi lokalnya melalui pendekatan koperasi dan pengelolaan sumber daya alam secara bijak.
Kegiatan tebar bibit ikan di Pematang Gadung(Heribertus Suciadi | YIARI)
Ke depan, koperasi KMPGS memiliki peluang besar untuk terus berkembang. Tidak hanya dalam skala produksi, tetapi juga melalui diversifikasi usaha seperti pengolahan hasil panen, pengemasan produk lokal, sampai penguatan akses ke pasar yang lebih luas. Semua ini akan membuka lebih banyak peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
Dengan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan mitra pembangunan, Desa Pematang Gadung telah menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi bukan sekadar wacana, melainkan dapat benar-benar diwujudkan melalui kerja sama dan komitmen bersama.
Melalui kegiatan Tebar Bibit Ikan, yang tampak sederhana di permukaan, telah ditanam benih harapan untuk masa depan desa yang lebih hijau, mandiri, dan sejahtera. Karena pada akhirnya, membangun desa bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi juga soal menumbuhkan rasa percaya diri bahwa masyarakat mampu mengelola kehidupannya sendiri—dari desa, oleh desa, dan untuk desa.
Panen Ikan Nila: YIARI Dukung Budidaya Swakelola
Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi komunitas lokal yang sangat bergantung pada sumber daya alam di sekitarnya.
Dalam menghadapi berbagai tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah, pengembangan sistem pangan swakelola menjadi solusi yang efektif sekaligus berkelanjutan.
Sebagai bentuk komitmen terhadap penguatan ketahanan pangan lokal, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) aktif mendorong praktik budidaya ikan nila yang ramah lingkungan. Melalui program panen ikan nila, YIARI mendukung peningkatan produksi ikan secara berkelanjutan, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai teknik budidaya yang efisien, hemat sumber daya, dan selaras dengan prinsip-prinsip konservasi.
Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai program panen ikan nila yang dilaksanakan oleh YIARI. Check it out!
Kapan Program Ini Dilaksanakan?
Kegiatan panen ikan nila YIARI di Desa Ulak Medang, Ketapang, Kalimantan Barat (Tim Comdev | YIARI)
Pada Jumat, 28 Februari 2025, YIARI bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Alam Lestari melaksanakan panen ikan nila di Desa Ulak Medang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari program budidaya perikanan berkelanjutan yang dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan lokal melalui pendekatan berbasis komunitas.
Desa Ulak Medang dipilih sebagai lokasi program karena memiliki potensi sumber daya air yang mendukung, serta semangat masyarakat yang tinggi untuk mengembangkan usaha budidaya secara mandiri. Keterlibatan aktif warga menjadi kunci dalam setiap tahap kegiatan—mulai dari pengelolaan kolam, pemberian pakan, hingga proses panen.
Melalui kegiatan ini, YIARI tidak hanya menyalurkan pengetahuan teknis dan pendampingan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai konservasi dalam praktik budidaya agar tetap sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan.
Hasil Panen dan Praktik Budidaya Ramah Lingkungan
Panen ikan nila yang dilakukan di Desa Ulak Medang membuahkan hasil yang menggembirakan. Dalam satu kali panen, masyarakat berhasil memanen 409 kilogram ikan nila. Capaian ini bukan hanya menunjukkan keberhasilan dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas pengelolaan budidaya.
Selama proses budidaya, tingkat kematian ikan (mortalitas) tercatat sebesar 20%, sementara nilai food conversion ratio (FCR) mencapai 1,25. Angka FCR ini menandakan efisiensi yang baik dalam penggunaan pakan—semakin rendah nilai FCR, semakin efisien ikan dalam mengubah pakan menjadi massa tubuh.
Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari penerapan praktik budidaya yang ramah lingkungan. Sejak awal, program ini dirancang dengan pendekatan konservatif untuk menjaga kesehatan ikan dan kualitas ekosistem perairan. Beberapa prinsip utama yang diterapkan meliputi:
Pemantauan kualitas air secara berkala untuk menjaga kondisi optimal bagi pertumbuhan ikan.
Pengaturan kepadatan tebar agar ikan tidak stres dan ruang hidup tetap memadai.
Pemilihan pakan berkualitas tinggi dan efisien, sehingga mendukung pertumbuhan tanpa mencemari lingkungan.
Pengelolaan limbah budidaya secara bertanggung jawab agar tidak merusak ekosistem sekitar kolam.
Tantangan Panen Ikan Nila
Di balik keberhasilan budidaya ikan nila, terdapat sejumlah tantangan signifikan yang dihadapi oleh para pembudidaya di lapangan. Beberapa kendala utama berikut menjadi perhatian serius dalam pengelolaan budidaya yang berkelanjutan.
Berikut tantangan-tantangan beserta solusi yang telah diupayakan oleh YIARI bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Alam Lestari:
YIARI dan KUB Alam Lestari bekerjasama untuk panen ikan nila (Tim Comdev | YIARI)
1. Fluktuasi harga jual ikan
Harga jual ikan nila di pasaran cenderung tidak stabil karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti fluktuasi permintaan konsumen, musim panen, serta kondisi ekonomi secara umum.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, harga ikan air tawar—termasuk ikan nila—bisa mengalami perubahan antara 10% hingga 20% dalam hitungan bulan, tergantung pada dinamika stok dan permintaan pasar.
Ketidakstabilan harga ini berdampak langsung pada pendapatan pembudidaya, yang kerap kali harus menjual hasil panen dengan harga di bawah biaya produksi. Untuk mengatasi tantangan ini, kami bersama KUB Alam Lestari berinisiatif membangun jaringan pemasaran yang lebih luas dan stabil.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menjalin kemitraan langsung dengan pembeli tetap, seperti pasar tradisional dan koperasi. Melalui pendekatan ini, pembudidaya dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar terbuka dan memastikan aliran pendapatan yang lebih terjamin.
2. Tingginya harga pakan
Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya ikan nila, yang menurut laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dapat mencapai 60–70% dari total biaya operasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, harga pakan komersial terus meningkat, didorong oleh mahalnya bahan baku seperti tepung ikan dan kedelai yang sebagian besar masih diimpor.
Kenaikan ini sangat membebani pelaku budidaya, khususnya skala kecil dan menengah. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial, kami mulai mengembangkan solusi berbasis lokal melalui produksi pakan alternatif.
Bahan-bahan seperti daun lamtoro, dedak padi, serta maggot (larva lalat BSF) yang kaya protein menjadi pilihan utama. Pendekatan ini tidak hanya membantu menekan biaya operasional, tetapi juga mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang mudah diakses.
3. Komunikasi Antaranggota Kelompok
Budidaya dalam skema kelompok memerlukan koordinasi dan komunikasi yang solid antaranggota. Setiap individu harus menerapkan standar budidaya yang sama, mulai dari pengelolaan kualitas air, pemberian pakan, hingga penjadwalan panen.
Namun dalam praktiknya, perbedaan pengalaman, pemahaman teknis, dan cara kerja sering kali menjadi sumber ketidakseimbangan.
Untuk memperkuat sinergi dalam kelompok, kami secara aktif mendorong keterbukaan informasi dan menyelenggarakan pelatihan bersama secara berkala. Selain itu, forum diskusi rutin juga difasilitasi guna memberikan ruang bagi anggota untuk berbagi pengalaman, membahas tantangan teknis, dan mencari solusi bersama.
Komunikasi yang efektif terbukti meningkatkan efisiensi produksi serta membantu mengurangi potensi konflik dalam pengelolaan usaha secara kolektif.
Manfaat Panen Ikan Nila
Hasil panen ikan nila YIARI bersama KUB Alam Lestari (Tim Comdev | YIARI)
Bagi masyarakat Desa Ulak Medang, panen ikan nila bukan sekadar kegiatan ekonomi, melainkan cerminan dari perubahan cara hidup yang lebih berkelanjutan. Program ini memberikan dampak nyata, baik dari sisi pendapatan keluarga maupun kesadaran lingkungan.
Salah satu anggota KUB Alam Lestari, Kusmaheru, membagikan pengalamannya:
“Di panen ikan nila kali ini, keramba saya menghasilkan 100 kg ikan yang langsung terjual habis. Sebelum mengikuti program ini saya kerja tebang kayu. Ya, niat saya sih sebenernya ingin berubah dari kerja kayu, dan saya jalani usaha dengan KUB ini pun, saya melihat dulu keadaan dan bagaimana hasilnya. Kalau memang menghasilkan, langkah baik selanjutnya saya akan berhenti kerja kayu.”
Cerita Kusmaheru menjadi bukti budidaya ikan nila dapat menjadi jalan keluar dari ketergantungan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak hutan. Selain menghasilkan keuntungan ekonomi, kegiatan ini juga mendorong transformasi sosial yang lebih ramah lingkungan.
Tidak hanya itu, keberhasilan panen turut membuka peluang baru bagi anggota keluarga lain untuk terlibat, mulai dari pengolahan hasil panen hingga distribusi ke pasar lokal. Dalam jangka panjang, ini memperkuat ketahanan keluarga dan memperluas manfaat program ke lapisan masyarakat yang lebih luas.
Menatap Masa Depan Budidaya Berkelanjutan
Budidaya ikan nila yang dikembangkan di Desa Ulak Medang menunjukkan ketahanan pangan dan konservasi lingkungan bisa berjalan beriringan. Melalui pendekatan berbasis komunitas, program ini bukan hanya menghasilkan panen yang sukses, tetapi juga menumbuhkan kesadaran baru tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan sistem pangan mandiri. Budidaya ikan nila bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan dapur, tapi juga tentang menjaga hutan tetap lestari, mengurangi tekanan terhadap alam, dan memperkuat kemandirian masyarakat.
Karena pada akhirnya, menanam harapan berarti menuai masa depan.
Dukung Anak Sehat dan Berprestasi, YIARI Adakan Kegiatan Makan Bergizi
Kesehatan dan gizi yang optimal merupakan fondasi penting dalam mendukung tumbuh kembang anak, khususnya pada usia sekolah yang merupakan masa krusial dalam pembentukan fisik dan kecerdasan.
Sayangnya, masih banyak anak di Indonesia yang mengalami masalah gizi, termasuk gizi buruk, yang berpotensi menghambat perkembangan mereka di masa depan, baik secara fisik maupun kognitif.
Sebagai respons terhadap kondisi ini, berbagai pihak—termasuk pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal—secara aktif berupaya memperluas akses anak-anak terhadap makanan bergizi. Salah satu inisiatif yang dilakukan YIARI adalah kegiatan Makan Sehat Bersama.
Kegiatan ini terinspirasi dari konsep makan gratis yang dicanangkan pemerintah, namun dikembangkan secara lebih spesifik untuk menjangkau anak-anak di site kerja YIARI.
Melalui kegiatan ini, YIARI berkomitmen menyediakan asupan gizi seimbang bagi anak-anak, khususnya di daerah-daerah terpencil.
Lebih dari sekadar membagikan makanan, kegiatan Makan Sehat Bersama juga menekankan aspek edukasi. Anak-anak dan masyarakat sekitar diajak untuk memahami pentingnya pola makan sehat dan gaya hidup yang mendukung kesehatan jangka panjang. Dengan pendekatan yang holistik ini, kegiatan diharapkan mampu menciptakan perubahan berkelanjutan dalam pola konsumsi dan kesadaran gizi masyarakat.
Seperti apa detail acaranya? Check it out!
Kapan Kegiatan Ini Diadakan?
Pelajar SDN 02 Muara Pawan Antre Mengambil Makanan (Heribertus Suciadi | YIARI)
Kegiatan Makan Sehat Bersama kali ini dilaksanakan di SDN 02 Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, dan diikuti oleh lebih dari 200 pelajar. Sekolah ini dipilih karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan serta termasuk dalam wilayah dampingan YIARI.
Kegiatan berlangsung selama satu pekan, dimulai pada 20 Februari sampai 27 Februari 2025. Pada hari pertama pelaksanaan, kegiatan turut dihadiri oleh Kapolsek Muara Pawan, IPDA Lukman Hakim, S.H., beserta aparat Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan. Kehadiran para tokoh ini menunjukkan dukungan penuh dari pihak kepolisian dan pemerintah desa terhadap upaya peningkatan gizi anak-anak di wilayah tersebut.
Tujuan Makan Sehat Bersama
Kegiatan Makan Sehat Bersama di dalam Kelas Bersama Para Pelajar (Heribertus Suciadi | YIARI)
Adapun tujuan dari kegiatan Makan Sehat Bersama ini:
1. Meningkatkan Gizi Anak
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memastikan anak-anak mendapatkan asupan nutrisi seimbang yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023, sekitar 21,6% anak balita di Indonesia mengalami stunting, dan 7,7% lainnya menderita gizi buruk. Kondisi ini dapat berdampak serius pada pertumbuhan fisik dan kemampuan kognitif anak.
Melalui penyediaan makanan bergizi yang kaya protein, vitamin, dan mineral esensial, YIARI berupaya menekan angka kasus kekurangan gizi, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi harian anak, terutama di wilayah yang rentan terhadap ketimpangan gizi.
2. Mengedukasi Pola Makan Sehat
Selain memberikan makanan bergizi, YIARI juga menekankan pentingnya edukasi gizi kepada anak-anak dan orang tua. Kegiatan ini dirancang untuk membangun pemahaman tentang pentingnya pola makan sehat, cara mengolah makanan yang benar, serta kebiasaan konsumsi buah dan sayur secara rutin.
Menurut Global Nutrition Report tahun 2022, sekitar 40% kematian akibat penyakit tidak menular, seperti diabetes dan penyakit jantung, berkaitan dengan pola makan yang buruk. Dengan meningkatkan kesadaran gizi sejak dini, kegiatan ini bertujuan mendorong perubahan perilaku jangka panjang menuju gaya hidup yang lebih sehat.
3. Mendukung Masa Depan Cerah
Anak-anak yang mendapatkan nutrisi cukup cenderung memiliki energi, konsentrasi, dan daya tahan tubuh yang lebih baik. Hal ini berpengaruh langsung pada kemampuan belajar dan prestasi mereka di sekolah.
Studi dari UNICEF tahun 2024 menunjukkan, anak dengan status gizi baik memiliki tingkat konsentrasi hingga 25% lebih tinggi dibandingkan anak yang mengalami kekurangan gizi.
Dengan mendukung perkembangan fisik dan mental yang optimal, kegiatan ini berkontribusi dalam menciptakan generasi muda yang cerdas, produktif, dan memiliki daya saing tinggi di masa depan. Itulah alasan Makan Sehat Bersama bukan hanya intervensi jangka pendek dalam pemenuhan gizi, melainkan investasi strategis untuk pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan.
Sinergi YIARI untuk Masa Depan
Komunitas Lokal bersinergi bersama YIARI dalam kegiatan Makan Sehat Bersama (Heribertus Suciadi | YIARI)
Melalui pelaksanaan kegiatan Makan Sehat Bersama, YIARI menegaskan bahwa kesehatan dan pendidikan anak merupakan aspek yang tidak terpisahkan dari upaya pelestarian lingkungan. Inisiatif ini mencerminkan pandangan holistik YIARI dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.
“Dengan memastikan anak-anak di lanskap kami menerima gizi yang layak, kami berinvestasi pada masa depan yang lebih cerah dan sehat. Ini tidak hanya untuk satwa liar yang kami lindungi, tetapi juga untuk generasi konservasi mendatang,” ungkap Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum YIARI.
Menariknya, seluruh bahan makanan yang digunakan dalam kegiatan ini diperoleh langsung dari masyarakat sekitar, menciptakan dukungan ekonomi lokal sekaligus memperkuat keterlibatan komunitas. Hal ini menunjukkan kegiatan juga membangun sinergi antara sektor pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Kegiatan ini pun mendapat apresiasi dari Kepala Sekolah SDN 02 Muara Pawan, Nurlita, S.Pd., yang menyampaikan harapan besar terhadap keberlanjutan kegiatan. “Dengan adanya asupan gizi yang lebih baik, kami berharap anak-anak dapat fokus dalam belajar dan tumbuh dengan sehat. Semoga kegiatan ini dapat berlanjut dan memberi manfaat jangka panjang bagi anak-anak di sekolah kami,” ujarnya.
Makan Sehat Bersama Untuk Generasi Prima
Dengan menyediakan makanan bergizi seimbang, YIARI berkomitmen mendukung tumbuh kembang anak Indonesia agar menjadi generasi prima—sehat, cerdas, dan berdaya saing. Inisiatif ini menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan nutrisi harian, sekaligus mengedukasi keluarga mengenai pola makan sehat sebagai fondasi bagi masa depan yang lebih cerah.
Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari komunitas lokal sampai lembaga pemerintahan, YIARI berharap dapat menjangkau lebih banyak anak di berbagai wilayah. Dengan dukungan bersama, kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan dampak nyata dan berkelanjutan bagi kesehatan serta kesejahteraan generasi mendatang.
Featured image: Makan Sehat Bersama YIARI di SDN 02 Muara Pawan (Heribertus Suciadi | YIARI)
Kolaborasi YIARI dan JPK: Menguatkan Jurnalisme Lingkungan Berbasis Gender dan Komunitas
Isu lingkungan dan keberlanjutan kini makin banyak mendapat perhatian, apalagi di tengah maraknya eksploitasi sumber daya alam (SDA) yang berdampak langsung pada ekosistem dan kehidupan masyarakat. Untuk ikut mendorong peran media dalam mengangkat isu-isu penting ini, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) mengadakan lokakarya penulisan di Hotel Neo, Pontianak, menjelang akhir tahun 2024.
Lokakarya ini dirancang untuk memperkuat kemampuan jurnalis dalam meliput topik lingkungan secara lebih mendalam dan bermakna. Peserta juga dibekali pemahaman soal pengelolaan serta konservasi SDA, ditambah pelatihan menulis agar hasil liputan mereka lebih tajam, informatif, dan punya dampak yang nyata bagi masyarakat.
“Mungkin teman-teman pernah lihat video orangutan yang bingung nyari tempat tinggal karena habitatnya sudah rusak—lahan mereka sudah jadi tanah kosong. Ini masih jadi isu penting yang perlu terus diangkat. Selain itu, ada juga topik One Health yang tidak kalah penting. Konsep ini menjelaskan bagaimana kesehatan satwa, alam, dan manusia saling berkaitan. Kalau satwanya nggak sehat, bisa jadi berpengaruh ke manusia juga,” jelas Hasna, Supervisor Media dan Komunikasi YIARI.
Pembukaan acara oleh Ketua JPK Aseanty Pahlevi (Fathia Rosatika | YIARI)
Lokakarya ini resmi dibuka oleh Sekretaris YIARI, Marius Marcellius, bersama Ketua Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK), Aseanty Pahlevi. Dalam sambutannya, keduanya menegaskan pentingnya peran jurnalis dalam menjaga perhatian publik terhadap isu-isu lingkungan. Mereka juga menyoroti bagaimana media bisa menjadi alat advokasi yang kuat untuk mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lebih bijak dan berkelanjutan.
Lokakarya Penulisan Bersama JPK: Meningkatkan Kapasitas Jurnalis dalam Peliputan SDA
Sebanyak 16 jurnalis dari Pontianak, Ketapang, dan Singkawang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Peserta berasal dari berbagai latar belakang media, baik cetak, online, maupun televisi. Menariknya, mayoritas peserta adalah jurnalis perempuan yang memang punya kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan.
Selama lokakarya berlangsung, para peserta mendapat banyak insight dari para pemateri yang berpengalaman di bidangnya, seperti Ganjar Krisdiyan (Assistant Manager Community Development YIARI), Sapariah Saturi (jurnalis Mongabay Indonesia), dan Aries Munandar (Redaktur Jubi sekaligus jurnalis lepas).
Mereka membahas berbagai strategi meliput isu lingkungan, perkembangan terbaru soal pengelolaan SDA, serta tantangan yang sering muncul saat menulis berita konservasi dan keberlanjutan. Selain itu, peserta juga diajak mendalami teknik menulis yang efektif dan cara menyusun narasi yang kuat dan berbasis data.
Di sesi berikutnya, pembahasan berlanjut ke topik etika jurnalisme lingkungan dan pemetaan isu, yang membantu jurnalis memahami prinsip-prinsip peliputan yang etis serta berbagai hambatan yang biasa mereka hadapi di lapangan.
Sesi 1: Mengupas Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Alam
Pemaparan materi oleh Ganjar Krisdiyan(Fathia Rosatika | YIARI)
Sesi pertama dalam lokakarya ini dibuka oleh Ganjar Krisdiyan, Assistant Manager Community Development YIARI. Dalam presentasinya, Ganjar mengajak peserta memahami lebih dalam soal tren pengelolaan sumber daya alam, konservasi, dan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Materi ini menjadi landasan awal untuk memperluas wawasan peserta mengenai isu-isu lingkungan yang semakin mendesak di Indonesia.
Ganjar menjelaskan secara komprehensif tentang apa yang dimaksud dengan hutan dan kawasan hutan, serta mengapa keanekaragaman hayati sangat krusial bagi keseimbangan ekosistem. Ia juga menyoroti tantangan nyata di lapangan, seperti alih fungsi lahan dan meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar—fenomena yang kian sering terjadi akibat perambahan hutan dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.
Tak hanya itu, Ganjar turut membahas berbagai regulasi terkait perlindungan satwa liar, serta menjelaskan tahapan dalam upaya konservasi seperti penyelamatan (rescue), rehabilitasi, hingga pelepasliaran satwa kembali ke habitat alaminya. Diskusi juga menyoroti pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan konservasi, baik lewat pendekatan berbasis komunitas maupun melalui kebijakan yang lebih berpihak pada lingkungan.
Sesi 2: Eksploitasi SDA, Krisis Energi, dan Perspektif Gender dalam Jurnalisme Lingkungan
Usai sesi pertama, pelatihan berlanjut dengan pemaparan dari Sapariah Saturi, jurnalis senior dari Mongabay Indonesia. Dalam sesi ini, Sapariah mengangkat isu penting seputar industri ekstraktif, energi, dan dampaknya terhadap kelompok rentan—terutama perempuan dan komunitas adat.
Pemaparan materi oleh Sapariah Saturi(Fathia Rosatika | YIARI)
Sapariah mengajak peserta melihat lebih dekat dampak nyata industri energi fosil, khususnya batubara, terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Ia juga membahas urgensi transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan, seperti tenaga surya dan angin. Di sisi lain, ia menyoroti kebijakan energi pemerintah yang dinilai masih terlalu bergantung pada biomassa dan kurang berpihak pada energi ramah lingkungan.
Sapariah juga turut menekankan pentingnya sensitivitas gender dalam peliputan isu lingkungan. Menurutnya, perempuan sering kali menjadi kelompok yang paling terdampak oleh krisis lingkungan—mulai dari terbatasnya akses air bersih hingga meningkatnya beban domestik—namun suara mereka masih jarang muncul di media maupun dalam pengambilan kebijakan.
Melalui sesi ini, peserta diajak untuk lebih peka dalam menyoroti kerentanan sosial dalam krisis lingkungan dan bagaimana jurnalisme dapat menjadi alat untuk memperjuangkan keadilan ekologis dan kesetaraan.
Sesi 3: Tantangan dan Peluang Jurnalisme Lingkungan
Sesi selanjutnya dipandu oleh Aries Munandar, Redaktur Jubi sekaligus jurnalis lepas, yang membahas berbagai tantangan sekaligus peluang dalam meliput isu lingkungan, khususnya di wilayah Kalimantan Barat. Menurut Aries, kerusakan ekosistem tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan lingkungan semata, karena dampaknya sangat luas—mencakup aspek sosial, budaya, hingga ekonomi masyarakat setempat.
Dalam pemaparannya, Aries menjelaskan bagaimana deforestasi dan degradasi hutan berkontribusi pada terganggunya siklus karbon global dan meningkatnya risiko bencana seperti banjir. Ia juga menyoroti rumitnya kebijakan pengelolaan hutan yang kerap dipengaruhi oleh kepentingan politik dan ekonomi, menjadikan peliputan isu lingkungan sebagai tantangan yang tidak hanya teknis, tetapi juga struktural.
Isu lainnya yang tak kalah penting adalah hilangnya kosakata dan tradisi lokal seiring dengan kerusakan alam. Aries mengingatkan pelestarian budaya lokal dan konservasi satwa endemik perlu dipandang sebagai satu kesatuan dalam upaya menjaga lingkungan secara holistik.
Diskusi ini membuka wawasan peserta tentang pentingnya menggali isu-isu yang kerap luput dari sorotan media arus utama. Dengan sudut pandang yang lebih kritis dan mendalam, jurnalis bisa menghadirkan liputan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mendorong perubahan nyata di tingkat komunitas maupun kebijakan.
Diskusi dan Eksplorasi: Mengembangkan Liputan Lingkungan yang Berdampak
Sebagai bagian dari proses pembelajaran yang interaktif, para peserta juga mengikuti sesi eksplorasi ide liputan. Dalam sesi ini, mereka mendapat kesempatan untuk berkonsultasi langsung dengan mentor, mengembangkan gagasan liputan yang orisinal, inovatif, dan berpotensi memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Proses diskusi antar peserta dan mentor(Fathia Rosatika | YIARI)
Tak hanya mendengarkan materi, peserta juga terlibat aktif dalam diskusi kelompok kecil. Melalui diskusi ini, mereka memetakan berbagai tantangan dan peluang dalam peliputan isu lingkungan. Beberapa tantangan utama yang muncul di antaranya adalah keterbatasan akses terhadap data, tekanan dari berbagai pihak berkepentingan, hingga rendahnya minat media terhadap isu lingkungan karena dianggap kurang menjual secara komersial.
Meski demikian, sesi ini mendorong peserta untuk tetap mencari celah dan strategi dalam menyuarakan isu lingkungan secara kreatif dan relevan. Kolaborasi antarpeserta dan bimbingan dari para mentor membantu memperkuat ide-ide liputan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menggugah kesadaran publik.
Bersama, mari menulis untuk alam!
Kerja Sama Konservasi Laut Kalimantan Barat: Upaya Bersama Jaga Ekosistem Pesisir
Kerja sama dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut memegang peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan. Wilayah pesisir dan laut menyimpan keanekaragaman hayati, sekaligus menjadi sumber utama penghidupan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Sayangnya, tekanan akibat eksploitasi berlebihan, dampak perubahan iklim, serta berbagai aktivitas manusia lainnya semakin mengancam keberlanjutan sumber daya tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi pengelolaan yang terpadu, berbasis kolaborasi lintas sektor, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Dalam hal ini, sinergi antara lembaga pemerintah, organisasi konservasi, serta komunitas lokal menjadi elemen kunci untuk memastikan kelestarian lingkungan pesisir dapat terjaga secara berkelanjutan.
Salah satu contoh dari upaya kolaboratif ini adalah penandatanganan perjanjian kerja sama antara Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, yang bertujuan untuk memperkuat perlindungan serta pengelolaan sumber daya pesisir secara lebih efektif.
Penandatanganan perjanjian kerja sama dilaksanakan pada tanggal 10 Februari 2025 antara YIARI, BPSPL Pontianak, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, serta Yayasan WeBe Konservasi Ketapang.
Kolaborasi ini bertujuan memperkuat upaya konservasi lingkungan, mendorong pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, serta meningkatkan keterlibatan akademisi dan komunitas dalam pelestarian ekosistem pesisir dan perairan di wilayah Kalimantan Barat.
Acara penandatanganan berlangsung dalam format hybrid, yakni menggabungkan kehadiran fisik dan partisipasi daring. Sebagian peserta hadir langsung di kantor BPSPL Pontianak, sementara lainnya mengikuti prosesi melalui platform Zoom Meeting.
Format ini memungkinkan partisipasi yang lebih luas, mendorong transparansi, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor. Melalui kerja sama ini, diharapkan akan lahir berbagai program yang berdampak nyata dalam menjaga keberlanjutan ekosistem serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Tujuan Perjanjian Kerjasama YIARI dengan BPSPL Pontianak
Proses penandatanganan dokumen kerjasama antara YIARI dan BPSPL (BPSPL Pontianak)
Melalui perjanjian ini, keempat lembaga berkomitmen untuk memperkuat upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan di wilayah Kalimantan Barat. Adapun tujuan utama dari kerjasama ini yaitu:
1. Menguatkan Jejaring dan Kolaborasi Efektif
Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan organisasi konservasi menjadi elemen penting dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan laut. Melalui perjanjian ini, komunikasi dan koordinasi lintas sektor diharapkan semakin terjalin kuat, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan sumber daya alam secara lebih efektif dan terpadu.
2. Mendukung Inisiatif Konservasi Berkelanjutan
Dengan luas wilayah laut sekitar 3,25 juta km², Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati laut yang luar biasa. Perjanjian ini bertujuan memperkuat berbagai inisiatif konservasi agar dapat berjalan secara berkelanjutan, menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus menjamin keberlanjutan ekonomi dan sosial masyarakat pesisir dalam jangka panjang.
3. Meningkatkan Pengelolaan Sumber Daya Laut di Kalimantan Barat
Perairan Kalimantan Barat merupakan habitat penting bagi sejumlah spesies langka dan dilindungi, seperti penyu, dugong, serta berbagai jenis ikan karang. Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong penerapan sistem pengelolaan berbasis ilmiah dan adaptif, dengan menekankan praktik yang berorientasi pada kelestarian lingkungan.
4. Menjaga Kekayaan Alam
Komitmen YIARI dan BPSPL untuk menjaga laut Kalimantan Barat (BPSPL Pontianak)
Ancaman terhadap ekosistem laut, seperti pencemaran, perusakan habitat pesisir, dan aktivitas penangkapan ikan yang merusak, semakin meningkat.
Perjanjian ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat upaya pelestarian keanekaragaman hayati laut, sehingga generasi mendatang masih dapat menikmati dan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Rencana Implementasi Kerjasama
Agar perjanjian kerja sama ini dapat terlaksana secara efektif dan memberikan dampak nyata, keempat lembaga yang terlibat telah merancang rencana implementasi yang mencakup sejumlah program strategis.
Rencana ini disusun berdasarkan prinsip kolaboratif, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada keberlanjutan. Adapun langkah-langkah utama yang akan dijalankan meliputi:
1. Pelatihan dan Penyuluhan
Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir dan stakeholder lainnya dalam mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan. Kegiatan yang akan dilakukan mencakup pelatihan konservasi, penerapan teknik budidaya ramah lingkungan, serta pengenalan praktik perikanan berkelanjutan yang mendukung keseimbangan ekosistem.
2. Penelitian dan Pengembangan
Untuk memastikan setiap langkah konservasi berbasis pada data yang akurat, akan dilakukan serangkaian kajian ilmiah mengenai kondisi ekosistem pesisir dan laut di Kalimantan Barat. Penelitian ini mencakup pemantauan populasi spesies yang dilindungi, identifikasi ancaman terhadap habitat laut, serta penyusunan rekomendasi teknis untuk pengelolaan yang lebih baik.
3. Penguatan Kebijakan dan Regulasi
Dalam upaya memperkuat tata kelola lingkungan, kerja sama ini juga mencakup dukungan terhadap perumusan serta penerapan kebijakan yang berbasis data ilmiah. Selain itu, akan dilakukan pemantauan terhadap pelaksanaan regulasi konservasi untuk memastikan kepatuhan di tingkat lokal maupun regional.
4. Peningkatan Kesadaran Publik
Edukasi masyarakat menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan. Melalui berbagai kegiatan kampanye, sosialisasi, dan penyebaran informasi, program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat luas mengenai pentingnya pelestarian ekosistem laut, serta manfaat pengelolaan sumber daya pesisir secara bijak dan berkelanjutan.
Ekosistem Laut, Tanggung Jawab Bersama
Sinergi antara BPSPL Pontianak, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, YIARI, dan Yayasan WeBe Konservasi Ketapang merupakan langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan kekayaan alam pesisir dan laut.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, pemanfaatan sumber daya laut diharapkan dapat dilakukan secara bijak, tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem. Berbagai inisiatif seperti penelitian ilmiah, pendampingan masyarakat, dan penerapan teknologi ramah lingkungan menjadi pilar utama dalam membangun model pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Upaya bersama ini tidak hanya berfokus pada aspek ekologi, tetapi juga menekankan pentingnya keseimbangan antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dengan demikian, ekosistem laut tetap terjaga, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Selain itu, kegiatan edukasi dan peningkatan kapasitas bagi nelayan serta komunitas lokal menjadi elemen penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi berbasis kelautan. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan masyarakat pesisir yang mandiri, tangguh, dan peduli terhadap pelestarian lingkungan laut.
Featured image: Tim penggagas kerjasama YIARI dan BPSPL demi konservasi laut Kalimantan Barat (BPSPL Pontianak)
HPSN 2025: YIARI Ajak Anak-anak di Ketapang Bersih-bersih Sampah
Sampah merupakan persoalan serius yang tidak hanya menjadi tanggung jawab nasional, tetapi juga tantangan global yang hingga kini masih terus diupayakan penyelesaiannya.
Berdasarkan Surat Edaran (SE) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, data dari Global Waste Management Outlook 2024 mencatat bahwa sekitar 38 persen sampah di dunia masih belum terkelola dengan baik. Kondisi ini memberikan kontribusi besar terhadap tiga krisis lingkungan utama yang dikenal sebagai Triple Planetary Crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
Di tingkat nasional, Indonesia mencatat timbunan sampah sebesar 56,63 juta ton pada tahun 2023. Dari total tersebut, hanya 39,01 persen atau sekitar 22,09 juta ton yang berhasil dikelola. Sisanya, yaitu 60,99 persen atau sekitar 34,54 juta ton, belum mendapatkan penanganan yang memadai.
Sebagai bagian dari peringatan HPSN 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menginisiasi kegiatan bersih-bersih lingkungan bersama anak-anak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Aksi ini bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, serta mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah di sekitar mereka.
Penasaran seperti apa kegiatan yang dilakukan? Yuk, simak keseruan aksi YIARI bersama anak-anak di Ketapang berikut ini!
Aksi Bersih Sampah Dilakukan di Tujuh Titik Lokasi
Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama anak-anak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menyelenggarakan aksi bersih sampah di tujuh titik lokasi berbeda. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 21 dan 22 Februari 2025.
Tepat pada tanggal 21 Februari, bertepatan dengan peringatan HPSN, kegiatan diawali dengan aksi bersih sampah bersama siswa-siswi SDN 20 Pangkalan Jihing, yang juga menjadi bagian dari site kerja Gunung Tarak.
Aksi bersih sampah YIARI dan siswa-siswi di SDN 20 Pangkalan Jihing. (Tim Edukasi | YIARI)
Masih di hari yang sama, YIARI mengadakan kegiatan daur ulang sampah di Learning Centre Sir Michael Uren (LC SMU). Pada kegiatan ini, YIARI berkolaborasi dengan Genta (Gerakan Pecinta Alam) dari SMKN 1 Ketapang, menciptakan momen edukatif seputar pengelolaan dan pemanfaatan sampah secara kreatif.
Selain itu, YIARI turut menggelar aksi bersih lingkungan bersama anak-anak di Desa Nusa Poring, yang merupakan bagian dari site project Melawi.
Pada tanggal 22 Februari, aksi bersih sampah dilanjutkan di tiga sekolah dasar dan satu desa, yakni SDN 33 Cali, SDN 14 Pulau Cempedak, SDN 07 Hulu Sungai, serta Desa Batu Lapis.
Masyarakat Sambut Positif Aksi Bersih Sampah yang Diinisiasi YIARI
Aksi bersih sampah di Desa Nusa Poring. (Tim Edukasi | YIARI)
Aksi bersih sampah yang diinisiasi oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Desa Nusa Poring mendapatkan respons positif dari masyarakat setempat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025.
Menurut Dieka Pertiwi, Manajer Edukasi dan Penyadartahuan YIARI, kegiatan bersih-bersih sampah sebenarnya bukanlah hal baru bagi anak-anak maupun warga di Kabupaten Ketapang. Aksi serupa telah menjadi kegiatan rutin yang dilakukan di berbagai desa.
“Sebenarnya, aksi bersih sampah ini bukan kegiatan baru. Kegiatan seperti ini memang sudah rutin dilakukan. Jadi, HPSN itu sifatnya hanya seremonial saja, karena di luar momen perayaan seperti ini, aktivitas bersih-bersih sudah menjadi agenda reguler di desa-desa,” jelas Dieka.
Lebih lanjut, Dieka menjelaskan dalam rangka HPSN 2025, YIARI menyelenggarakan aksi bersih sampah dengan pendekatan yang lebih seremonial dan melibatkan sejumlah sekolah di wilayah Ketapang.
“Respons dari masyarakat sangat positif, terutama dari anak-anak yang memang terbiasa mengikuti kegiatan ini secara rutin setiap bulan,” tambahnya.
Anak-anak di Ketapang Terbiasa Bermain sambil Membersihkan Sampah
Salah satu fakta menarik dari kegiatan bersih sampah di Kabupaten Ketapang adalah kebiasaan anak-anak yang menjadikan aksi peduli lingkungan sebagai bagian dari aktivitas bermain sehari-hari. Di beberapa wilayah, seperti di Mentatai, anak-anak kerap berenang atau menyelam di sungai sambil memungut sampah yang mereka temui di permukaan maupun dasar sungai.
Seorang anak memungut sampah di Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu Sungai. (Tim Edukasi | YIARI)
“Mereka, kalau melihat sampah di dasar sungai, langsung diambil. Itu sudah menjadi kebiasaan,” ungkap Dieka.
Ia menambahkan, kesadaran ini merupakan hasil dari berbagai kegiatan edukatif dan aksi peduli lingkungan yang dilakukan secara konsisten di wilayah Ketapang.
“Kegiatan-kegiatan yang sudah rutin dilakukan membuat anak-anak lebih sadar. Bahkan, mereka dengan inisiatif sendiri memungut sampah, termasuk yang berada di dasar sungai sekalipun,” jelasnya.
Sampah Plastik Masih Menjadi Tantangan Terbesar
Dari berbagai jenis sampah yang mencemari lingkungan, sampah plastik menjadi tantangan terbesar yang dihadapi saat ini. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di kalangan anak-anak. Di Kabupaten Ketapang, misalnya, anak-anak masih memiliki kebiasaan membeli jajanan yang umumnya dikemas dalam plastik sekali pakai.
Meski demikian, kesadaran anak-anak terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sudah tergolong baik. Meski masih mengonsumsi produk berkemasan plastik, mereka telah terbiasa membuang sampah pada tempatnya, bukan sembarangan.
Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan, YIARI terus mengedukasi anak-anak dan masyarakat di Ketapang, khususnya terkait bahaya dan pengelolaan sampah plastik. Salah satu kebiasaan positif yang mulai dibangun adalah membawa wadah atau tempat minum sendiri saat membeli jajanan, guna mengurangi ketergantungan terhadap kemasan plastik sekali pakai.
Masalah sampah memang tidak akan pernah benar-benar habis. Namun, sebagai individu, kita bisa berkontribusi melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, seperti memilah sampah, membawa wadah sendiri, atau rutin mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan. Tak harus menunggu momen tertentu seperti Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), aksi menjaga kebersihan bisa dilakukan setiap minggu, bahkan setiap hari, di lingkungan tempat tinggal kita.
Seperti yang telah ditunjukkan oleh anak-anak di Ketapang—bermain sambil memungut sampah—aksi sederhana ini memiliki dampak besar jika dilakukan secara kolektif. Sudah saatnya kita menjadikan kepedulian terhadap sampah sebagai bagian dari gaya hidup. Yuk, mulai sekarang biasakan memungut sampah dan membuangnya di tempat yang semestinya!
Featured image: Siswa SDN O7 Hulu Sungai membersihkan sampah. (Tim Edukasi | YIARI)
Ibu Lina Kartasasmita, Menginspirasi Lewat Pendidikan
Siapa bilang pendidikan itu membosankan? Ibu Lina Kartasasmita membuktikan sebaliknya!
Sebagai seorang ibu, guru dan life coach, Ibu Lina telah menjelajahi dunia pendidikan dengan penuh dedikasi. Mulai dari mengajar akuntansi sampai menjadi guru bahasa dan life coach, Ibu Lina selalu berusaha membuat dampak positif bagi murid-muridnya dan masyarakat luas.
Yuk, kenali dan simak perjalanan inspiratif Ibu Lina!
Latar Belakang Kecintaannya pada Pendidikan
Terinspirasi dari keluarganya
Perempuan kelahiran tahun 1966 ini mendapatkan inspirasi pendidikan dari keluarganya sejak dini. Kakeknya adalah seorang guru bahasa Indonesia untuk orang-orang Belanda di zaman penjajahan, dan salah satu kakaknya juga mengikuti jejak tersebut dengan menjadi guru.
Namun, inspirasi terbesarnya adalah dari ayahnya, pendiri sekolah swasta Dhammasavana di Jakarta, yang menekankan pentingnya pendidikan.
Ayah Ibu Lina selalu berpesan, “Yang bisa mengubah hidup kamu adalah belajar. Hanya pendidikan yang bisa membawa kamu lebih maju.” selain menjadi doktrin keluarga, pesan ini juga menumbuhkan semangat belajar dalam diri Ibu Lina yang berkelanjutan hingga saat ini.
Ibu Lina yakin ilmu pengetahuan adalah kunci untuk mengubah hidup seseorang dan berbagi ilmu adalah cara untuk memperkuat komunitas. Pengajaran dari ibunya juga menegaskan hal ini, “Kalau orang sakit kita sembuhkan, hari itu saja ia sembuh dan bisa sakit lagi. Tapi kalau kamu mendidik seseorang, ilmunya akan digunakan seumur hidupnya untuk mencari nafkah dan mengajar anak-anaknya.”
Dalam sebuah wawancara daring, Ibu Lina juga menyampaikan, “Kalau saya kasih orang uang, mungkin habis dalam sekejap. Tapi kalau saya kasih dia ilmu, itu akan berkepanjangan dalam hidupnya. Ilmu yang dibagi tidak akan pernah habis.”
Terbiasa mengajar di sekolah sejak kecil
Ibu Lina telah mengenal dunia pendidikan sejak usia muda, meneladani semangat ayahnya. Semenjak duduk di bangku SMP dan SMA, ia telah aktif mengambil peran dalam dunia pendidikan, tidak hanya sebagai siswa tapi juga sebagai pengajar.
Ibu Lina sering kali dipercaya untuk menggantikan guru akuntansi di sekolah yang didirikan oleh ayahnya, serta menjaga kestabilan kelas saat guru berhalangan hadir.
Selain tugas-tugas resmi, Ibu Lina juga mencari cara untuk menambah uang jajannya dengan mengajarkan pelajaran kepada teman-temannya. Kecintaannya terhadap pengajaran ini ternyata menurun kepada anak-anaknya, yang juga mengikuti jejaknya dengan mengajari teman-teman mereka di sekolah.
Bagi Ibu Lina, mengajar adalah panggilan hati, terutama dalam mendidik generasi muda yang tanpa bimbingan yang tepat. Menurutnya, kunci dari pendidikan efektif terletak pada kecocokan antara guru dan murid; tanpa adanya kesesuaian tersebut, proses belajar mengajar tidak akan berlangsung dengan efektif.
Terinspirasi dari banyak tokoh inspiratif dunia
Inspirasi Ibu Lina juga didapatkan dari berbagai tokoh besar dunia yang memiliki visi perubahan positif.
Margaret Thatcher menginspirasinya dengan ketangguhan sebagai pemimpin perempuan, sementara Mahatma Gandhi mengajarkan pentingnya kesederhanaan dan keberanian dalam memperjuangkan keadilan.
Di sisi lain, Lee Kuan Yew memengaruhi pandangan Ibu Lina mengenai pentingnya pendidikan sebagai pilar kemajuan bangsa. Ia juga mengambil hikmah dari ajaran Lao Tzu tentang kedamaian batin dan hidup secara otentik.
Inspirasi dari tokoh-tokoh tersebut membentuk cara Ibu Lina dalam mengajar, melatih, dan berinteraksi dengan orang lain. Dengan mengikuti pemikiran dan tindakan mereka, ia berusaha menjadi pendidik dan pembimbing yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, baik di Indonesia maupun di komunitas internasional.
Tantangan yang Dihadapi Ibu Lina
Pelatihan Manajemen Keuangan Ibu Lina kepada siswa penerima beasiswa Kahiu (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Perjalanannya mengenyam pendidikan sampai menjadi pengajar tidak selalu mulus, banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Ibu Lina.
Menjadi kaum minoritas
Menghadapi statusnya sebagai minoritas ganda di Indonesia, Ibu Lina menjalani tantangan besar dalam mengejar pendidikan tinggi.
Pada waktu itu, masuk ke universitas negeri sangat sulit bagi beliau, sehingga beliau memilih untuk melanjutkan studi di jurusan akuntansi di sebuah universitas swasta.
Dalam menghadapi diskriminasi dan kesulitan lainnya, Ibu Lina tidak pernah menyerah. Dengan tekad kuat, ketekunan, dan dukungan tidak tergoyahkan dari keluarganya, beliau berhasil mengatasi tantangan tersebut.
Ibu Lina berbagi filosofinya dalam pendekatan pendidikan,
“While I do it, I do it my best. Saya lakukan yang terbaik dengan apa yang saya punya, yang saya bisa. Ketika bertemu murid baru, saya selalu bilang, ‘I’m not only your teacher, I can also be your friend. Doing something good is good karma. Kalau saya melakukan kebaikan untuk mereka, you don’t owe me, the universe owes me.’ Saya percaya, ketika saya melakukan kebaikan, menolong seseorang, bukan berarti orangnya harus membayar ke saya, tetapi saya menghutangi Tuhan. Tuhan yang akan membayar balik kebaikan itu kepada saya.”
Tinggal di negeri orang
Pada awal tahun 2000-an, ketika suaminya mendapat penugasan selama tiga tahun ke Amerika Serikat, Ibu Lina dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang berharga. Keputusan untuk meninggalkan Indonesia dan menetap di luar negeri tidaklah mudah, terutama mengingat anak-anaknya yang sedang dalam fase penting pertumbuhan.
Tinggal di Amerika membawa tantangan besar dalam adaptasi budaya dan bahasa untuk keluarga Ibu Lina.
Selain menghadapi kesulitan pribadi dan bertanggung jawab mengurus keluarga di negara yang asing, Ibu Lina juga dihadapkan pada tantangan profesional dalam menemukan peran yang sesuai dengan keahliannya. Namun, daripada menyerah, Ibu Lina melihat ini sebagai kesempatan untuk berkembang.
Di tengah tantangan tersebut, Ibu Lina mengambil inisiatif mengajar Bahasa Indonesia untuk ekspatriat. Selanjutnya, ia meningkatkan kualifikasi profesionalnya dengan mendapatkan sertifikat MBA dari sebuah universitas terkemuka dan mengikuti program executive coaching di University of Cambridge.
Melalui upaya dan ketekunan ini, Ibu Lina berhasil menyesuaikan diri dengan kehidupan baru di Amerika, sekaligus menambahkan dimensi baru pada kariernya.
Berhadapan dengan murid berkepala batu
Dalam perjalanan kariernya sebagai pendidik, Ibu Lina sering berhadapan dengan tantangan unik: murid yang memiliki keyakinan yang salah namun kuat.
Namun, dengan kesabaran dan pendekatan yang tepat, Ibu Lina berhasil memperbaiki kesalahpahaman mereka. Misalnya, ada kalanya seorang murid bersikeras bendera Indonesia berbentuk lingkaran, tetapi dengan sabar Ibu Lina mampu menyajikan bukti sejarah yang akurat untuk mengoreksi pandangan tersebut.
Selama bertahun-tahun, Ibu Lina telah mengajar ribuan siswa dari berbagai latar belakang, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Di antara murid-muridnya terdapat ekspatriat dari perusahaan besar seperti Chevron dan Kedutaan Besar Spanyol, serta remaja dan anak-anak dari desa-desa terpencil di Kalimantan yang belajar melalui Kahiu Academy.
Pengalaman ini memperluas wawasan Ibu Lina tentang keberagaman pelajar, serta memperkaya metode pengajarannya yang kini lebih inklusif dan efektif.
Berbagai Kontribusi Sosial Ibu Lina
Mendirikan komunitas membaca
Pada tahun 2018, Ibu Lina bersama dua teman dan kedua anaknya, mendirikan Lit & Coffee, sebuah klub buku yang berkomitmen untuk menggalakkan kegemaran membaca dan berdiskusi di kalangan generasi muda. Komunitas ini menyelenggarakan diskusi rutin mengenai berbagai genre buku, dan tidak lama kemudian, mereka juga memulai diskusi film.
Sejak awal, Lit & Coffee menawarkan suasana yang inklusif dengan tidak menerapkan sistem keanggotaan, sehingga semua diskusi terbuka untuk umum dan mengundang siapa saja yang berminat.
Kegiatan diskusi ini awalnya dilakukan secara tatap muka. Namun, dengan keinginan peserta untuk meningkatkan frekuensi pertemuan, kegiatan mulai beralih ke platform seperti Zoom. Keputusan ini memungkinkan fleksibilitas lokasi dan waktu, yang berdampak pada peningkatan antusiasme dan jumlah partisipan.
Diskusi daring pun telah menarik minat peserta dari berbagai daerah di Indonesia seperti Batam dan Banda Aceh, serta beberapa partisipan dari luar negeri.
Membimbing kemampuan softskill siswa Kahiu Academy
Pelatihan Manajemen Keuangan Ibu Lina kepada siswa Kahiu Academy (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Kontribusi Ibu Lina lainnya adalah keterlibatannya dengan Kahiu Academy, sebuah program beasiswa pendidikan keterampilan gagasan YIARI sejak 2022.
Dalam sesi pelatihannya, Ibu Lina mengajarkan teknik dasar pengelolaan uang dan menekankan pentingnya literasi keuangan bagi pemuda, membantu mereka memahami cara mengelola keuangan dengan bijak.
Kahiu Academy berkomitmen untuk membekali siswanya dengan berbagai keterampilan esensial yang dibutuhkan untuk sukses di masa depan. Program ini mencakup pembelajaran akademis, kepemimpinan, dan keuangan. Sebelum mengajar di Kahiu Academy, Ibu Lina juga telah memberikan pelatihan public speaking dan pengelolaan keuangan kepada staf YIARI.
Perannya sebagai pendidik dan life coach memberikan kepuasan tersendiri ketika melihat murid-muridnya berhasil dan berkembang. Ibu Lina percaya pendidikan holistik yang mencakup pembelajaran akademis, keterampilan hidup, dan literasi keuangan adalah kunci untuk membenahi hidup seseorang.
Ia juga melengkapi diri dengan pengetahuan literasi keuangan. Baginya, membenahi hidup orang itu tidak hanya pada perasaan, pikiran, dan mindset-nya, tapi juga bagaimana mengelola keuangan.
Bertekad untuk Terus Mengemban dan Berbagi ilmu
Ibu Lina punya impian besar: ia ingin terus menjadi sumber inspirasi dan manfaat dengan membagikan ilmunya dan menyediakan pendidikan berkualitas yang mudah diakses oleh semua anak di Indonesia.
Dalam upaya untuk memperluas jangkauannya, Ibu Lina berencana untuk menulis buku tentang parenting dan pendidikan, serta ingin meningkatkan jumlah kelas online yang diselenggarakannya untuk menjangkau lebih banyak murid.
Ibu Lina percaya belajar adalah kunci untuk tetap awet muda dan semangat. “Saya percaya anti penuaan itu bukan krim. Anti penuaan itu belajar. Selama kita belajar, kita tetap awet muda. Karena kita selalu memiliki tujuan baru yang ingin dicapai esok hari. Selalu ada sesuatu yang ingin kita kejar dalam hidup,” ujarnya dengan penuh semangat.
Sebagai seorang pendidik dan life coach, Ibu Lina Kartasasmita telah memberikan dampak yang signifikan dan positif bagi banyak orang. Kisah hidupnya mengajarkan kita tentang pentingnya pendidikan, kesabaran, dan semangat untuk terus belajar serta berbagi.
Melalui dedikasinya, Ibu Lina menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan dapat mengubah hidup seseorang dan bagaimana berbagi ilmu pengetahuan dapat memberdayakan komunitas.
Ingin belajar lebih banyak dari Ibu Lina? Sobat #KonservasYIARI bisa menghubungi beliau melalui Linked in atau Instagram beliau ya! 😄
***
Tentang Kahiu Academy
Kahiu Academymerupakan sebuah program beasiswa gagasan YIARI sejak 2022. Program berupa pendidikan keterampilan bagi remaja putus sekolah hingga lulusan SMA dari desa-desa dampingan YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat. Tujuan utama Kahiu Academy ialah memberikan pendidikan berkualitas anak-anak desa yang berbatasan dengan hutan untuk mendapatkan keterampilan yang bermanfaat, menghindari pekerjaan ilegal, dan meningkatkan kualitas hidup mereka.