Yayasan Inisiasi Alam dan Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan SMK Kehutanan Bakti Rimba bersinergi dalam kolaborasi edukatif dengan fokus pada implementasi aplikasi SMART Patrol. Kegiatan ini dilaksanakan pada 14 November 2025 di Hutan Penelitian Dramaga, Kota Bogor dengan tujuan untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai konservasi satwa liar dan pentingnya pemantauan kawasan hutan.
Sebelum melakukan praktik lapangan, siswa mengikuti sesi pengenalan materi di sekolah. Dalam sesi tersebut, tim YIARI memperkenalkan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) Patrol, yaitu aplikasi sistem patroli berbasis data dan teknologi yang digunakan untuk mencatat, memantau, dan menganalisis aktivitas patroli konservasi. Melalui pendampingan langsung, siswa belajar memahami alur pengumpulan data di lapangan, cara pencatatan temuan, hingga pelaporan menggunakan perangkat SMART.
Pemberian arahan oleh Tim YIARI pada siswa-siswi sebelum melakukan kegiatan lapangan (Elvyra|YIARI)
Kegiatan praktik di Hutan Penelitian Dramaga berjalan lancar dan mendapat sambutan antusias dari para siswa. Para siswa didampingi tim YIARI yang membantu menjelaskan tata cara penggunaan SMART Patrol di lapangan. Mereka berkesempatan mencoba langsung penggunaan aplikasi SMART dalam simulasi patroli, sehingga memperoleh gambaran nyata tentang bagaimana teknologi digunakan untuk menjaga kawasan hutan dan satwa liar.
Kepala SMK Kehutanan Bakti Rimba, Ribai, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi ini. “Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berlangsung tiga kali pertemuan atau satu bulan saja, tetapi dapat diperpanjang minimal satu semester,” ujarnya saat ditemui pada Kamis, 13 November 2025. Menurutnya, program edukasi dari YIARI sangat melengkapi kompetensi siswa, sejalan dengan fokus sekolah pada rehabilitasi, pemetaan, dan inventarisasi hutan. “Dengan adanya program konservasi satwa liar ini, pengetahuan dan keterampilan anak-anak Bakti Rimba menjadi jauh lebih lengkap,” imbuhnya.
Siswa-siswi sedang mengambil data pengamatan menggunakan aplikasi SMART (Hulwia|YIARI)
Kolaborasi ini merupakan bagian dari program KOAKSI (Kolaborasi Edukasi Konservasi) yang telah berjalan sejak awal Oktober. Program ini menghadirkan berbagai materi dasar konservasi untuk menumbuhkan kesadaran keanekaragaman hayati sejak dini. Hingga saat ini, edukasi di SMK Kehutanan Bakti Rimba sudah berlangsung empat kali pertemuan.
Pendamping lapangan YIARI, Riki, sedang menjelaskan hasil pengamatan SMART (Hulwia|YIARI)
Melalui penerapan aplikasi SMART Patrol, siswa diharapkan dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan dunia kehutanan dan konservasi. Dukungan dan kesadaran yang tumbuh dari kegiatan ini menjadi pondasi penting dalam membentuk generasi muda yang peduli serta siap terlibat aktif dalam pelestarian hutan dan satwa liar.
Saat ini, SMART Patrol juga tengah dikembangkan menjadi standar yang digunakan di berbagai Taman Nasional di Indonesia, sehingga kemampuan mengoperasikannya menjadi nilai tambah bagi para siswa. Dengan membekali mereka keterampilan yang selaras dengan kebutuhan lapangan dan perkembangan teknologi konservasi, YIARI dan SMK Bakti Rimba berharap para lulusan semakin siap dan kompeten dalam dunia kerja modern serta mampu memberi dampak jangka panjang bagi masa depan konservasi Indonesia.
Eunike Hana Grasia
Voluntrip by KitaBisa Belajar Mengenal Kukang dan Macaca bersama YIARI
Konservasi satwa liar bukan cuma urusan para ahli biologi atau aktivis lingkungan. Di tengah ancaman perdagangan ilegal, rusaknya habitat, dan menurunnya populasi satwa liar, penting bagi siapa pun untuk belajar dan memahami bagaimana cara hidup berdampingan dengan alam.
Itulah yang coba kami lakukan lewat kegiatan “Edukasi Konservasi Kukang dan Monitoring Macaca”, hasil kolaborasi antara YIARI, Voluntrip by Kitabisa, dan IDX (Bursa Efek Indonesia). Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 11 Oktober 2025 ini mengajak para relawan dan karyawan dari berbagai latar belakang untuk turun langsung ke lapangan.
Di Pusat Rehabilitasi dan Curug Nangka, kita belajar tentang kukang dan macaca, dua primata yang punya peran penting bagi keseimbangan ekosistem, sekaligus menghadapi ancaman serius di alam. Seperti apa ya kegiatannya? Yuk, simak!
Belajar Konservasi, Langsung dari Ahlinya
Salah satu materi yang disampaikan tentang rehabilitasi satwa primata YIARI (Rendi Afandi|YIARI)
Pagi itu, 21 peserta dan panitia Voluntrip by Kitabisa berkumpul di Alun-Alun Kota Bogor sebelum berangkat bareng tim YIARI ke kantor YIARI di sekitar Curug Nangka. Begitu tiba, peserta disambut hangat oleh tim YIARI dan cuaca sejuk di daerah Tamansari, Bogor.
Acara dibuka oleh Pratiwi Nur Aizah sebagai MC, dilanjutkan safety briefing dari Rikardus selaku Asisten Manajer K3L, lalu sesi pengenalan YIARI oleh Yayuk Rahmawati selaku Supervisor Media dan Komunikasi yang menjelaskan berbagai program konservasi yang YIARI lakukan. Kemudian, drh. Cici Sri Ningsih membagikan cerita dan pengalaman dalam proses penyelamatan dan rehabilitasi kukang dan macaca, mulai dari penanganan medis hingga pelepasliaran ke habitat alami mereka.
Lewat sesi ini, peserta belajar bahwa kukang bukanlah hewan peliharaan lucu, melainkan satwa nokturnal berbisa yang memiliki peran penting dalam penyerbukan hutan. Sementara Macaca fascicularis atau monyet ekor panjang kini mulai hidup berdampingan dengan manusia karena habitatnya yang bersinggungan dengan kita. Dari sini, muncul kesadaran baru: konservasi bukan cuma soal menyelamatkan satwa, tapi juga menjaga keseimbangan hidup di alam.
Dari Kelas ke Aksi Lapangan
Salah satu kelompok saat berkegiatan membuat enrichment hammock macaca (Rendi Afandi|YIARI)
Setelah teori, waktunya praktik! Para relawan diajak bikin enrichment, yaitu serangkaian aktivitas atau alat yang dirancang untuk menumbuhkan kembali naluri alami dan kemampuan bertahan hidup mereka. Dipandu beberapa perawat satwa yaitu Jakaria, Ruli, Yudi, dan tim YIARI lainnya yaitu Itang dan Julitasari peserta dibagi menjadi tiga kelompok.
Enrichment yang dibuat ialah box tidur untuk kukang serta hammock untuk macaca. Selain seru, kegiatan ini bikin peserta lebih paham bahwa kesejahteraan satwa bukan cuma soal makan dan tempat tinggal, tapi juga tentang kebutuhan mental dan perilaku alaminya.
Peserta kegiatan ini, Dio dan Ayi menyatakan pengalaman menyenangkannya ketika membuat enrichment. “Ini pengalaman pertama kami bikin hammock. Seneng banget! Jadi tahu ternyata bikin alat enrichment itu perlu tenaga dan kerja sama. Kami juga terinspirasi untuk buat alat yang sama untuk peliharaan di rumah,” ujar mereka.
Setelah makan siang bareng dengan konsepless plastic dan edukasi pemilahan sampah, mereka bersiap menuju Curug Nangka, kawasan di bawah pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Sebelumnya, mereka sudah diberikan briefing singkat tentang cara melakukan pengamatan mep di alam dan etika bijak berwisata oleh Itang selaku koordinator konservasi macaca memberikan.
Memantau Monyet Ekor Panjang di Habitatnya
Peserta melakukan pengamatan monyet ekor panjang di wilayah Curug Nangka (Rendi Afandi|YIARI)
Setibanya di Curug Nangka, secara berkelompok, para peserta melakukan pengamatan monyet ekor panjang di habitat aslinya. Dengan membawa handbook pengamatan, mereka menelusuri area hutan dan mengamati langsung perilaku macaca di habitat alaminya.
Dari aktivitas ini, peserta belajar mengamati perilaku sosial, interaksi kelompok, mencari makan, juga sifat alami monyet ekor panjang lainnya. Mereka juga belajar bijak berwisata, bagaimana berinteraksi di alam tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem. Hal ini diterapkan dengan cara menjaga jarak dan tidak memberi makan satwa liar.
Aisyah dan Rahma membagikan pengalaman barunya ketika belajar pengamatan perilaku satwa di habitat alami. “Seru banget! Ternyata perilaku kita sangat memengaruhi reaksi macaca. Kalau kita bawa sesuatu, mereka langsung memperhatikan. Jadi sekarang tahu, satwa liar nggak boleh dikasih makan,” ujar Aisyah.
Para peserta voluntrip membagikan pengalamannya saat melakukan pengamatan monyet ekor panjang (Rendi Afandi|YIARI)
Setelah melakukan pengamatan, setiap kelompok membagikan hasil pengamatannya dan berdiskusi dengan Elisabet dan Itang. Elisabet, Asisten Manajer Konservasi Macaca YIARI menjelaskan alasan mengapa pemberian makanan pada satwa liar dilarang. “Monyet ekor panjang di alam sebenarnya sudah bisa mencari makan sendiri. Tapi kalau terus diberi makan oleh manusia, mereka jadi tergantung dan bisa berubah perilakunya menjadi agresif,” terangnya.
Zaky dari Voluntrip by KitaBisa mengungkapkan pesan yang ia pelajari tentang pentingnya berwisata secara bijak. “Bijak berwisata itu penting banget. Kita tahu Indonesia punya potensi wisata luar biasa, tapi harus diimbangi dengan rasa empati dan tanggung jawab terhadap alam dan satwa liar,” ujarnya.
Menyebar Semangat Konservasi
Lewat kegiatan ini, kami menunjukkan bahwa belajar konservasi bisa dilakukan siapa saja, dari mana saja. Kolaborasi antara YIARI, Voluntrip by Kitabisa, dan IDX ini membuktikan bahwa seluruh masyarakat bisa terlibat dengan konservasi.
Dari mengenal satwa liar seperti kukang dan macaca, membuat enrichment, hingga mengamati perilaku mereka langsung di habitatnya, semua peserta pulang dengan semangat baru untuk menjaga alam. Karena pada akhirnya, menyelamatkan satwa liar berarti menyelamatkan masa depan kita juga.
Salam konservasi!
Featured image: Rendi Afandi YIARI
Kisah Barda, Kukang Jawa Korban Tembakan Senapan Angin
Barda, seekor kukang jawa (Nycticebus javanicus), ditemukan dalam kondisi yang bikin hati miris.
Matanya ditembus peluru, membuat ia kehilangan penglihatan dan tak bisa lagi menikmati hutan tempatnya hidup.
Kejadian ini terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Sukabumi, Jawa Barat, sebuah bukti betapa perburuan masih jadi ancaman nyata bagi satwa liar.
Namun, cerita Barda tidak berhenti di sana. Di balik luka yang ia bawa, ada orang-orang yang berusaha memberinya kesempatan kedua untuk bertahan.
Barda, kukang jawa jantan yang akan menjadi saksi nyata kekejaman perburuan liar. (Rendi Afandi|YIARI)
Artikel ini akan mengajak kita mengenal lebih dekat perjalanan Barda, perawatan yang ia jalani di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), sekaligus membahas bagaimana kukang jawa (salah satu satwa endemik Jawa) terus berjuang melawan ancaman kepunahan.
Barda Harus Menjalani Operasi Pengangkatan Mata
Hasil pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan, peluru yang merenggut penglihatan Barda bersarang di dekat pelipis matanya. Kondisi ini membuat kedua matanya tak lagi memiliki refleks normal.
Menurut penjelasan drh. Indri Saptorini, dokter hewan YIARI, kerusakan paling parah terjadi pada bola mata kanan yang mengalami luka serius dan meradang.
“Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata kedua matanya tidak memiliki refleks, dan ada kelukaan di bola mata kanan,” jelas drh. Indri.
“Karena itu tim memutuskan untuk melakukan prosedur pengangkatan bola mata atau enukleasi.”
Dokter sedang melakukan prosedur operasi pengangkatan mata Barda. (Rendi Afandi|YIARI)
Prosedur enukleasi ini terpaksa dilakukan demi menyelamatkan nyawa Barda.
Luka pada mata kanannya dikhawatirkan bisa menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh, yang berpotensi memperburuk kondisinya. Operasi ini dilakukan dengan cara mengangkat seluruh organ mata yang rusak, termasuk saraf dan pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi normal.
“Proses enukleasi pada kukang sama seperti pada hewan lain, yaitu mengangkat semua organ mata termasuk saraf dan pembuluh darah yang mengalami kerusakan,” tambah drh. Indri.
Selama operasi berlangsung, tim medis harus bekerja dengan sangat hati-hati. Area bola mata memiliki banyak pembuluh darah, sehingga sedikit kesalahan saja bisa menyebabkan pendarahan.
Setelah menjalani operasi enukleasi, tim medis YIARI terus melakukan observasi terhadap kondisi Barda.
Dua minggu pertama menjadi masa kritis, karena perkembangan kesehatannya harus dipantau dari hari ke hari.
Kabar baiknya, kondisi Barda kini berangsur membaik. Ia ditempatkan di sebuah kandang kecil yang disebut kandang perawatan.
Di sinilah Barda mulai beradaptasi dengan hidup barunya. Meski tidak lagi bisa melihat, kukang jawa jantan ini sudah berani melakukan aktivitas ringan seperti makan dan minum sendiri, walau sesekali masih terlihat kesulitan.
Barda sedang terbaring lemas di ruang tindakan. (Rendi Afandi|YIARI)
Kandang perawatan dibuat khusus untuk satwa dengan kebutuhan berbeda. Lingkungannya lebih sederhana, sehingga Barda lebih mudah menemukan makanan dan beraktivitas tanpa harus bersaing dengan kukang lain.
Menurut drh. Indri Saptorini, hal ini penting agar Barda tetap bisa bertahan hidup.
“Kalau ditempatkan di kandang biasa, dikhawatirkan ia kalah saing dengan kukang lain yang masih normal, terutama dalam mencari makan,” jelas drh. Indri.
Selain tempat tinggal yang lebih aman, Barda juga mendapat pengawasan medis setiap hari. Tim YIARI memantau kesembuhan lukanya, perilakunya, hingga pola makannya.
Setelah luka benar-benar pulih, tim akan menilai apakah hilangnya penglihatan membuat perilaku Barda berubah, misalnya menjadi lebih aktif di siang hari atau tidur lebih lama di malam hari.
Barda hanyalah satu dari banyak satwa yang menjadi korban kekejaman perburuan liar di alam bebas. Peluru senapan angin yang bersarang di matanya menjadi bukti betapa bengisnya tangan manusia yang tega melukai satwa dilindungi.
Padahal, kukang bukanlah objek perburuan. Mereka adalah satwa liar yang memiliki peran penting di ekosistem dan seharusnya hidup bebas di habitat alaminya.
Seperti yang disampaikan drh. Indri Saptorini, peluru yang ditemukan di mata Barda jelas menunjukkan adanya pelaku yang sengaja melukai, bukan kejadian alami.
“Harapannya, jangan pernah berburu dengan alasan apa pun, termasuk menggunakan senapan angin. Kukang bukan objek perburuan, mereka adalah satwa liar yang seharusnya hidup di alam,” tegas drh. Indri.
Menanamkan Cinta Satwa Sejak Dini: Perayaan Hari Anak Nasional Bersama YIARI
Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelenggarakan serangkaian kegiatan edukatif dan menyenangkan yang berlangsung di tiga lokasi berbeda, yaitu Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Bogor, Jawa Barat; Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Ketapang, Kalimantan Barat; serta SDN 23 Matan Hilir Selatan di wilayah Sungai Besar, Ketapang, Kalimantan Barat.
Kegiatan ini menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan hidup sejak usia dini. Anak-anak sebagai generasi penerus perlu dibekali dengan pemahaman akan pentingnya menjaga alam dan makhluk hidup di dalamnya, salah satunya melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitat alaminya.
Membaca nyaring dan membuat poster
Kegiatan “Kenali Satwa, Sayangi Alam” yang diselenggarakan di TBM Lentera Pustaka, menjadi sarana untuk menumbuhkan literasi dan meningkatkan minat baca di bidang lingkungan. Selain difasilitasi oleh YIARI, kegiatan ini juga dibantu oleh 7 relawan TBM Lentera Pustaka dan 8 mahasiswa KKN IPB.
Kegiatan dikemas secara edukatif dan interaktif, dimulai dari sesi membaca nyaring buku cerita petualangan “Karmila & Gito bersama Owa Kelempiau” yang mengangkat kisah tentang melindungi satwa. Menariknya, setiap karakter yang ada dalam buku diperankan dan dibacakan oleh kakak-kakak YIARI. Keseruan membaca ini berhasil menarik perhatian anak-anak terhadap alur cerita dan pesan-pesan yang dibawakan.
Usai membaca nyaring, kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas prakarya. Mulai dari membuat poster habitat satwa, dan mewarnai untuk anak-anak prasekolah dan tingkat bawah. Dari aktivitas ini, anak-anak belajar mengenai perbedaan ruang habitat yang digunakan oleh satwa liar.
Kakak-kakak YIARI membaca nyaring dengan memerankan karakter pada buku cerita Petualangan Karmila dan Gito bersama Owa Kelempiau di TBM Lentera Pustaka, Bogor. (YIARI)
Kegiatan ini memberikan pengalaman berkesan bagi anak-anak. Mereka tampak antusias mengikuti setiap sesi dan banyak yang baru mengenal satwa seperti kukang dan owa jawa. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian satwa dan habitatnya.
“Kegiatan-kegiatannya seru banget, asik,” kata Ade Amirah (15), salah satu peserta kegiatan.
“Dan juga nambahin pengetahuan aku, bagaimana bentuk rupa owa jawa, yang ternyata harus dilindungi dan tidak boleh diburu,” ungkapnya menambahkan.
Hak anak dan kesejahteraan satwa
Sementara itu, di Ketapang, Kalimantan Barat, perayaan Hari Anak Nasional juga berlangsung meriah di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. Anak-anak dari komunitas sekitar, seperti Zwageri Generation, berpartisipasi dalam berbagai aktivitas kreatif seperti mewarnai sketsa satwa, membuat bando berbentuk hewan, dan membuat video ucapan bertema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap pemenuhan hak anak. Sekaligus juga, dikaitkan dengan tanggung jawab anak terhadap kesejahteraan satwa.
Peserta mewarnai di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. (YIARI)
Kegiatan serupa juga diselenggarakan di SDN 23 Matan Hilir Selatan. Dalam kolaborasi ini, anak-anak mengikuti lomba mewarnai dengan tema kesejahteraan satwa, mendengarkan materi edukatif, serta menonton film edukasi “Monpai Exploit” bersama. Dari hasil kegiatan ini, anak-anak mulai memahami bahwa kesejahteraan bukan hanya hak manusia saja, tetapi juga hak satwa, baik peliharaan maupun satwa liar di hutan. Pemahaman ini tergambarkan dari karya mereka yang menunjukkan interaksi positif antara anak dan satwa, serta ucapan refleksi dalam video yang mereka buat.
Foto bersama dengan peserta di SDN 23 MHS Sungai Besar. (YIARI)
Kegiatan Hari Anak Nasional yang dilakukan YIARI menjadi bukti bahwa edukasi konservasi bisa dikenalkan sejak dini, dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitatnya, anak-anak tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tetapi juga nilai-nilai empati, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Nasya Karina Nur’aziza
Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang Pada 4 Pulau di Indonesia: Ancaman dan Harapan
Monyet ekor panjang dengan nama ilmiah Macaca fascicularis, termasuk salah satu primata yang tersebar luas di Indonesia. Bahkan, beberapa subspesiesnya hanya ditemukan di pulau-pulau kecil dan kini tengah menghadapi tekanan serius.
Untuk mengungkap kondisi terbaru spesies tersebut, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan bersama YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) menyelenggarakan Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang Pada Empat Pulau di Indonesia pada 18 Maret 2025.
Apa saja hasil penting dari seminar ini terkait konservasi monyet ekor panjang? Berikut rangkumannya.
Hasil dan Dampak Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada 4 Pulau di Indonesia
Latar Belakang dan Pelaksanaan Survei
Bertempat di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, seminar hybrid ini menghadirkan akademisi dan organisasi konservasi untuk membahas hasil survei cepat Monyet Ekor Panjang (MEP) yang dilakukan oleh YIARI bersama Ditjen. KSDAE Kemenhut, BKSDA Aceh, BKSDA Kalimantan Timur, dan BTN Karimunjawa.
Survei dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2023 di empat lokasi, yaitu Pulau Simeulue, Pulau Lasia, Taman Nasional Karimunjawa, dan Pulau Maratua. Keempat pulau tersebut diketahui merupakan habitat bagi subspesies monyet ekor panjang yang memiliki ciri morfologi khas serta sebaran geografis yang sangat terbatas.
Minimnya data ilmiah mengenai populasi dan distribusi mereka menjadikan wilayah-wilayah ini sebagai prioritas dalam konservasi primata di Indonesia. Selain itu, status taksonomi keempat subspesies tersebut belum didukung oleh data molekuler yang memadai. Karena itu, survei ini menjadi langkah penting untuk mendukung upaya konservasi yang lebih terarah dan berbasis bukti ilmiah.
Temuan Survei dan Dampaknya terhadap Strategi Konservasi
Bapak Silverius Oscar Unggul memberikan sambutan di atas mimbar (Hasna Latifatunnisa|YIARI)
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menekankan bahwa survei ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi populasi monyet ekor panjang di wilayah-wilayah yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.
Data yang dihasilkan menjadi referensi penting bagi pemerintah, akademisi, dan organisasi konservasi dalam menyusun strategi pelestarian jangka panjang.
Penelitian lanjutan, terutama dalam bidang studi genetik dan konservasi Macaca, sangat dibutuhkan untuk memperdalam pemahaman ilmiah sekaligus menyempurnakan pendekatan konservasi yang diterapkan.
Salah satu komponen penting dalam menjaga keberlangsungan hidup monyet ekor panjang di alam liar adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat guna menumbuhkan kesadaran kolektif.
Seminar ini diharapkan dapat membentuk komitmen bersama dalam memperkuat perlindungan monyet ekor panjang di habitat alaminya, serta menghasilkan rekomendasi konkret untuk meningkatkan efektivitas konservasi melalui sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan kalangan akademisi.
Hasil diskusi ini diharapkan menjadi landasan kebijakan konservasi yang lebih kokoh, berbasis data ilmiah, dan mampu mendorong upaya pelestarian ke depan.
Namun, strategi yang disusun tidak akan efektif tanpa pemahaman mendalam terhadap berbagai ancaman nyata yang dihadapi spesies ini di lapangan.
Ancaman Serius terhadap Monyet Ekor Panjang
Dalam kesempatan yang sama, Silverius juga menyoroti berbagai ancaman serius yang dihadapi monyet ekor panjang, terutama akibat praktik pemeliharaan ilegal dan meningkatnya konflik dengan manusia.
Permintaan untuk menjadikan monyet sebagai hewan peliharaan eksotis terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Penangkapan dari alam liar tidak hanya membahayakan individu yang diambil tetapi juga induk dari bayi monyet ekor panjang yang dibunuh dengan tragis, selain itu juga merusak struktur sosial kelompoknya di habitat asli.
Penyiksaan terhadap monyet ekor panjang pun sering terjadi, membuat mereka hidup dalam kondisi yang tidak sesuai dengan standar kesejahteraan satwa. Padahal, setiap satwa berhak atas 5 Freedoms atau Lima Kebebasan yang harus dipenuhi untuk memastikan kualitas hidup satwa. Kebebasan tersebut mencakup: bebas dari lapar dan haus, ketidaknyamanan, sakit dan cedera, bebas berperilaku alami, serta bebas dari stres dan ketakutan.
Tanpa upaya perlindungan yang segera dan terkoordinasi, populasi monyet ekor panjang di pulau-pulau kecil terancam terus menurun dan menghadapi risiko kepunahan.
Menyadari urgensi ancaman tersebut, berbagai pihak kini mendorong penguatan upaya konservasi yang lebih terstruktur dan berbasis data.
Harapan dan Upaya Konservasi Berbasis Data
Narasumber dan MC duduk di atas panggung saat seminar tengah berlangsung (Hasna Latifatunnisa|YIARI)
Dalam konteks itulah, Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada Empat Pulau di Indonesia menjadi momentum penting dalam merumuskan langkah konservasi yang lebih ilmiah dan sistematis.
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Nunu Anugrah S.Hut., M.Sc., menyampaikan bahwa prioritas kegiatan konservasi spesies ke depan akan difokuskan pada pendekatan Red List IUCN (Daftar Merah IUCN), sebuah instrumen penting untuk memantau perubahan status konservasi spesies dari waktu ke waktu.
Pendekatan ini dinilai krusial karena mampu membantu memahami dinamika populasi satwa secara ilmiah, dan menjadi dasar dalam merancang kebijakan konservasi yang lebih tepat sasaran dan berbasis sains.
Slide presentasi IUCN Red List yang ditampilkan pada layar proyektor (Hasna Latifatunnisa|YIARI)
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas nasional, Kementerian Kehutanan bersama BRIN dan ID SSG IUCN tengah merumuskan pembentukan lembaga atau komite nasional yang akan berperan dalam melakukan asesmen mandiri terhadap status keterancaman spesies di Indonesia.
Harapannya, hasil dari Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada 4 Pulau di Indonesia dapat menjadi acuan strategis bagi investasi konservasi yang lebih terstruktur dan sistematis, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
YIARI juga aktif mengembangkan program konservasi monyet ekor panjang, dengan perhatian khusus pada isu zoonosis, kesejahteraan satwa, serta mitigasi konflik antara manusia dan satwa.
Pendataan populasi monyet ekor panjang dan beruk di wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan juga terus dilakukan sebagai dasar penguatan strategi perlindungan.
Langkah-langkah ini menjadi bukti bahwa konservasi monyet ekor panjang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, berbasis ilmu pengetahuan, dan dilandasi komitmen jangka panjang.
Dukung Bersama Kelangsungan Hidup Monyet Ekor Panjang
Para peserta yang hadir langsung pada seminar hybrid hasil survei cepat monyet ekor panjang pada 4 pulau di Indonesia (Hasna Latifatunnisa|YIARI)
Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada 4 Pulau di Indonesia memberikan pemahaman lebih dalam tentang berbagai tantangan yang mengancam keberlangsungan hidup spesies ini.
Perlindungan mereka membutuhkan dukungan nyata dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga organisasi konservasi.
Berikut beberapa langkah yang dapat kita upayakan bersama:
1. Hindari Memelihara Satwa Liar
Monyet ekor panjang adalah satwa liar yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Memelihara mereka sebagai hewan peliharaan justru merusak struktur sosial kelompoknya dan mempercepat penurunan populasi di alam.
2. Meningkatkan Kesadaran Tentang Bahaya Eksploitasi Satwa
Salah satu tantangan utama dalam konservasi adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap dampak perdagangan satwa liar. Edukasi mengenai pentingnya melindungi satwa dapat mengurangi permintaan terhadap monyet ekor panjang sebagai hewan peliharaan.
3. Menyebarkan Informasi Tentang Pentingnya Konservasi
Semakin banyak orang mengetahui pentingnya melindungi spesies yang terancam punah, semakin besar pula dampaknya. Penyebaran informasi yang edukatif dan akurat dapat menumbuhkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam upaya pelestarian.
YIARI terus mengembangkan berbagai program konservasi monyet ekor panjang melalui riset, edukasi, dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Dukungan dari seluruh lapisan masyarakat sangat penting untuk menjaga keberadaan spesies ini di alam liar.
Yuk, ambil bagian dalam upaya pelestarian. Sebarkan informasi ini agar semakin banyak orang yang peduli dan turut menjaga monyet ekor panjang dari eksploitasi dan kepunahan.
Operasi Sistotomi Kukang: Pengangkatan Batu dari Kandung Kemih Shuri
Terbaring lemah di ruang tindakan, seekor kukang jawa jantan bernama Shuri tampak tenang di bawah pengaruh anestesi.
Namun di balik ketenangan itu, tubuhnya tengah berjuang menghadapi kondisi serius—dua batu berukuran cukup besar bersarang di dalam kandung kemihnya. Batu-batu tersebut, jika tidak segera ditangani, bisa memicu komplikasi berbahaya yang mengancam keselamatannya.
Shuri bukanlah kukang muda. Ia termasuk individu kukang lansia yang berada dalam perawatan di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Dalam pemeriksaan rutin melalui X-Ray, terdapat dua batu di kandung kemih Shuri. Kondisi ini mengharuskan tindakan medis segera melalui prosedur operasi sistotomi, yaitu pembedahan untuk mengangkat batu dari kandung kemih.
Lalu, dari mana sebenarnya asal batu yang ada di dalam kandung kemih Shuri? Yuk, simak penjelasan lebih lanjutnya berikut ini!
Apa Itu Operasi Sistotomi?
Untuk menangani kondisi Shuri, tim medis YIARI melakukan operasi sistotomi, yaitu tindakan bedah yang dilakukan untuk mengangkat batu dari dalam kandung kemih.
Operasi ini juga umum dilakukan pada satwa lain—bahkan manusia—ketika batu kandung kemih sudah berukuran besar dan tidak dapat dikeluarkan secara alami.
Menurut drh. Imam Arifin, dokter hewan yang menangani langsung Shuri, sistotomi menjadi satu-satunya pilihan terbaik dalam kasus ini.
“Operasi sistotomi itu berarti pembedahan kandung kemih pada kukang. Tujuannya untuk mengambil batu, karena di dalam kandung kemih Shuri sudah terbentuk dua batu berukuran cukup besar,” jelasnya.
drh. Imam Arifin melakukan tindakan operasi sistotomi pada Shuri (Rendi Afandi | YIARI)
Jika tidak segera diangkat, batu-batu tersebut dapat mengganggu proses berkemih, menyebabkan rasa sakit, dan dalam jangka panjang memicu infeksi hingga kerusakan organ.
“Kalau dibiarkan, bisa timbul komplikasi yang lebih serius. Makanya tindakan cepat dan tepat sangat diperlukan,” tambah Imam.
Operasi sistotomi tidak dilakukan secara sembarangan. Prosedur ini membutuhkan persiapan matang karena kukang termasuk satwa yang sangat sensitif terhadap stres. Bahkan sedikit tekanan berlebih bisa memengaruhi kondisi fisiologis mereka secara drastis.
Oleh karena itu, sebelum operasi dilakukan, tim medis harus memastikan bahwa Shuri dalam kondisi stabil dan cukup kuat untuk menjalani anestesi serta pembedahan.
Proses Operasi: Dua Batu Berhasil Diangkat dari Kandung Kemih Shuri
Setelah dipastikan dalam kondisi stabil, Shuri dijadwalkan menjalani operasi pada 16 Januari 2025. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, kukang jantan ini menunjukkan respons tubuh yang cukup baik menjelang prosedur.
Pagi itu, ruang tindakan di fasilitas YIARI dipersiapkan secara khusus. Segala alat steril, obat anestesi, serta dukungan tenaga medis hewan sudah disiapkan. Shuri diposisikan dengan hati-hati, dan proses anestesi total dilakukan agar ia tidak merasakan sakit selama operasi berlangsung.
“Saat operasi, Shuri tampak tertidur dengan tenang. Ini sangat penting untuk menghindari stres berlebih, karena kukang sangat sensitif terhadap rasa sakit dan tekanan,” jelas drh. Imam.
Pembedahan dilakukan langsung oleh drh. Imam Arifin, dibantu oleh beberapa tenaga medis lainnya. Operasi berlangsung lancar, dua batu berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri. Batu-batu tersebut memiliki bentuk pipih dan berwarna putih, persis seperti yang ditunjukkan hasil X-Ray sebelumnya.
Ukuran batu cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuh Shuri. Hal ini semakin menegaskan keberadaan batu tersebut memang berpotensi mengganggu sistem perkemihannya secara serius jika tidak segera ditangani.
“Operasi berjalan baik. Dua batu yang bersemayam di kandung kemih berhasil diangkat seluruhnya tanpa komplikasi. Kami lega melihat hasilnya,” ungkap Imam.
Setelah operasi selesai, Shuri dipindahkan ke ruang pemulihan. Dalam beberapa jam pertama, tim medis terus memantau tanda-tanda vitalnya: detak jantung, suhu tubuh, dan respons pernapasan. Semua berada dalam batas normal.
Meskipun masih dalam kondisi lemah, respons Shuri menunjukkan tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan proses pemulihan pasca operasi.
Apa Penyebab Terbentuknya Batu di Kandung Kemih Kukang?
Munculnya batu di kandung kemih bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba. Ada sejumlah faktor yang secara umum dapat memicu terbentuknya batu tersebut pada satwa, termasuk kukang. Menurut drh. Imam Arifin, faktor-faktor tersebut meliputi:
Jenis makanan atau pola makan yang tidak sesuai
Infeksi saluran kemih
Faktor genetik
pH urin yang terlalu basa atau terlalu asam
Usia lanjut
Kondisi Shuri saat berada di ruang tindakan (Rendi Afandi | YIARI)
Shuri, sebagai kukang jantan berusia tua, kemungkinan mengalami penurunan fungsi organ secara alami. Hal ini dapat memengaruhi sistem ekskresi, termasuk kualitas dan keseimbangan pH urin.
Namun demikian, Imam menyatakan belum bisa dipastikan secara spesifik faktor dominan penyebab terbentuknya batu pada Shuri.
“Faktornya banyak. Bisa karena makanan, bisa juga karena pH urin yang berubah. Tapi dalam kasus Shuri, kami belum bisa menentukan penyebab pastinya. Analisis urin lebih lanjut akan kami lakukan,” ujar Imam.
Untuk memastikan akar masalahnya, tim medis YIARI akan melakukan urinalisis guna mengecek komposisi urin Shuri, termasuk kadar mineral, pH, dan potensi infeksi.
Hasil dari pemeriksaan ini akan sangat penting untuk menentukan langkah pencegahan di masa mendatang, tidak hanya untuk Shuri, tetapi juga kukang lain yang berada dalam program rehabilitasi.
Terkait kemungkinan faktor makanan, Imam menjelaskan pakan kukang di YIARI sudah disesuaikan sedekat mungkin dengan makanan alami mereka di alam liar. Pemberian buah-buahan, serangga kecil, dan dedaunan dipastikan dalam porsi dan frekuensi yang tepat.
“Pakan kami sudah diatur mengikuti pola makan mereka di alam. Tapi untuk memastikan, tetap akan kami evaluasi ulang dan sesuaikan jika perlu,” tambahnya.
Tantangan saat Melakukan Operasi Sistotomi
Menangani satwa liar dalam kondisi kritis bukanlah tugas mudah, apalagi ketika prosedur medis melibatkan pembedahan seperti operasi sistotomi.
Meski Shuri bukanlah kasus pertama yang dihadapi, setiap tindakan medis tetap memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tinggi dari tim dokter hewan.
Potret dua batu yang berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri (Rendi Afandi | YIARI)
drh. Imam Arifin mengungkapkan operasi pada Shuri merupakan kasus ketiga sistotomi pada kukang yang pernah ia tangani bersama tim YIARI dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini bukan pengalaman pertama, tapi setiap kasus pasti punya tantangannya sendiri. Apalagi kukang adalah primata yang sangat sensitif terhadap stres. Itu yang membuat penanganannya harus ekstra hati-hati,” jelas Imam.
Ia mengenang saat pertama kali melakukan sistotomi pada kukang beberapa tahun lalu. Saat itu, Imam mengaku sempat ragu karena minimnya referensi dan pengalaman praktik operasi serupa pada satwa dengan karakteristik unik seperti kukang. Namun setelah operasi pertama berjalan sukses, kepercayaan dirinya meningkat, dan pendekatan medis pun terus disempurnakan dari waktu ke waktu.
“Waktu pertama kali, jujur saya sempat tegang. Tapi kami belajar banyak dari pengalaman itu. Sekarang, kami lebih siap, lebih terstruktur. Tapi tetap, harus waspada—karena risikonya tetap besar,” tambahnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam operasi ini adalah menjaga kestabilan fisiologis kukang selama prosedur. Kukang bisa mengalami drop secara tiba-tiba jika stres, bahkan hanya karena suara bising atau perubahan suhu ruang. Maka dari itu, YIARI selalu memastikan ruang operasi tenang, steril, dan tim bekerja dengan koordinasi yang rapi dan minim distraksi.
Imam juga menekankan, meskipun batu yang dikeluarkan dari kandung kemih terlihat kecil, dampaknya bisa sangat besar terhadap kesehatan. Jika tidak segera ditangani, batu tersebut dapat memicu infeksi serius, radang, dan kerusakan organ yang sulit dipulihkan.
Komitmen YIARI dalam Menjaga Kesehatan Satwa Liar
Kisah Shuri menjadi salah satu cerminan nyata dari komitmen tanpa henti YIARI dalam menjaga kesejahteraan satwa liar, terutama yang berada dalam masa rehabilitasi. Setiap individu satwa yang dirawat, termasuk kukang seperti Shuri, mendapatkan perhatian dan penanganan menyeluruh, mulai dari deteksi dini penyakit hingga prosedur medis lanjutan.
Pengalaman Shuri menjadi pengingat bahwa kesehatan satwa perlu terus dipantau secara berkala, terlebih bagi yang telah berusia lanjut. Tak hanya itu, kisah ini juga membuka ruang diskusi lebih luas tentang pentingnya penelitian lanjutan, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas pihak dalam menjaga kelestarian dan kesejahteraan satwa liar Indonesia.
Featured image: Shuri, kukang jawa jantan lansia yang harus menjalani operasi sistotomi (Rendi Afandi | YIARI)
Editor: Hasna Latifatunnisa
Kolaborasi YIARI dan JPK: Menguatkan Jurnalisme Lingkungan Berbasis Gender dan Komunitas
Isu lingkungan dan keberlanjutan kini makin banyak mendapat perhatian, apalagi di tengah maraknya eksploitasi sumber daya alam (SDA) yang berdampak langsung pada ekosistem dan kehidupan masyarakat. Untuk ikut mendorong peran media dalam mengangkat isu-isu penting ini, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) mengadakan lokakarya penulisan di Hotel Neo, Pontianak, menjelang akhir tahun 2024.
Lokakarya ini dirancang untuk memperkuat kemampuan jurnalis dalam meliput topik lingkungan secara lebih mendalam dan bermakna. Peserta juga dibekali pemahaman soal pengelolaan serta konservasi SDA, ditambah pelatihan menulis agar hasil liputan mereka lebih tajam, informatif, dan punya dampak yang nyata bagi masyarakat.
“Mungkin teman-teman pernah lihat video orangutan yang bingung nyari tempat tinggal karena habitatnya sudah rusak—lahan mereka sudah jadi tanah kosong. Ini masih jadi isu penting yang perlu terus diangkat. Selain itu, ada juga topik One Health yang tidak kalah penting. Konsep ini menjelaskan bagaimana kesehatan satwa, alam, dan manusia saling berkaitan. Kalau satwanya nggak sehat, bisa jadi berpengaruh ke manusia juga,” jelas Hasna, Supervisor Media dan Komunikasi YIARI.
Pembukaan acara oleh Ketua JPK Aseanty Pahlevi (Fathia Rosatika | YIARI)
Lokakarya ini resmi dibuka oleh Sekretaris YIARI, Marius Marcellius, bersama Ketua Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK), Aseanty Pahlevi. Dalam sambutannya, keduanya menegaskan pentingnya peran jurnalis dalam menjaga perhatian publik terhadap isu-isu lingkungan. Mereka juga menyoroti bagaimana media bisa menjadi alat advokasi yang kuat untuk mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lebih bijak dan berkelanjutan.
Lokakarya Penulisan Bersama JPK: Meningkatkan Kapasitas Jurnalis dalam Peliputan SDA
Sebanyak 16 jurnalis dari Pontianak, Ketapang, dan Singkawang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Peserta berasal dari berbagai latar belakang media, baik cetak, online, maupun televisi. Menariknya, mayoritas peserta adalah jurnalis perempuan yang memang punya kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan.
Selama lokakarya berlangsung, para peserta mendapat banyak insight dari para pemateri yang berpengalaman di bidangnya, seperti Ganjar Krisdiyan (Assistant Manager Community Development YIARI), Sapariah Saturi (jurnalis Mongabay Indonesia), dan Aries Munandar (Redaktur Jubi sekaligus jurnalis lepas).
Mereka membahas berbagai strategi meliput isu lingkungan, perkembangan terbaru soal pengelolaan SDA, serta tantangan yang sering muncul saat menulis berita konservasi dan keberlanjutan. Selain itu, peserta juga diajak mendalami teknik menulis yang efektif dan cara menyusun narasi yang kuat dan berbasis data.
Di sesi berikutnya, pembahasan berlanjut ke topik etika jurnalisme lingkungan dan pemetaan isu, yang membantu jurnalis memahami prinsip-prinsip peliputan yang etis serta berbagai hambatan yang biasa mereka hadapi di lapangan.
Sesi 1: Mengupas Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Alam
Pemaparan materi oleh Ganjar Krisdiyan(Fathia Rosatika | YIARI)
Sesi pertama dalam lokakarya ini dibuka oleh Ganjar Krisdiyan, Assistant Manager Community Development YIARI. Dalam presentasinya, Ganjar mengajak peserta memahami lebih dalam soal tren pengelolaan sumber daya alam, konservasi, dan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Materi ini menjadi landasan awal untuk memperluas wawasan peserta mengenai isu-isu lingkungan yang semakin mendesak di Indonesia.
Ganjar menjelaskan secara komprehensif tentang apa yang dimaksud dengan hutan dan kawasan hutan, serta mengapa keanekaragaman hayati sangat krusial bagi keseimbangan ekosistem. Ia juga menyoroti tantangan nyata di lapangan, seperti alih fungsi lahan dan meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar—fenomena yang kian sering terjadi akibat perambahan hutan dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.
Tak hanya itu, Ganjar turut membahas berbagai regulasi terkait perlindungan satwa liar, serta menjelaskan tahapan dalam upaya konservasi seperti penyelamatan (rescue), rehabilitasi, hingga pelepasliaran satwa kembali ke habitat alaminya. Diskusi juga menyoroti pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan konservasi, baik lewat pendekatan berbasis komunitas maupun melalui kebijakan yang lebih berpihak pada lingkungan.
Sesi 2: Eksploitasi SDA, Krisis Energi, dan Perspektif Gender dalam Jurnalisme Lingkungan
Usai sesi pertama, pelatihan berlanjut dengan pemaparan dari Sapariah Saturi, jurnalis senior dari Mongabay Indonesia. Dalam sesi ini, Sapariah mengangkat isu penting seputar industri ekstraktif, energi, dan dampaknya terhadap kelompok rentan—terutama perempuan dan komunitas adat.
Pemaparan materi oleh Sapariah Saturi(Fathia Rosatika | YIARI)
Sapariah mengajak peserta melihat lebih dekat dampak nyata industri energi fosil, khususnya batubara, terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Ia juga membahas urgensi transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan, seperti tenaga surya dan angin. Di sisi lain, ia menyoroti kebijakan energi pemerintah yang dinilai masih terlalu bergantung pada biomassa dan kurang berpihak pada energi ramah lingkungan.
Sapariah juga turut menekankan pentingnya sensitivitas gender dalam peliputan isu lingkungan. Menurutnya, perempuan sering kali menjadi kelompok yang paling terdampak oleh krisis lingkungan—mulai dari terbatasnya akses air bersih hingga meningkatnya beban domestik—namun suara mereka masih jarang muncul di media maupun dalam pengambilan kebijakan.
Melalui sesi ini, peserta diajak untuk lebih peka dalam menyoroti kerentanan sosial dalam krisis lingkungan dan bagaimana jurnalisme dapat menjadi alat untuk memperjuangkan keadilan ekologis dan kesetaraan.
Sesi 3: Tantangan dan Peluang Jurnalisme Lingkungan
Sesi selanjutnya dipandu oleh Aries Munandar, Redaktur Jubi sekaligus jurnalis lepas, yang membahas berbagai tantangan sekaligus peluang dalam meliput isu lingkungan, khususnya di wilayah Kalimantan Barat. Menurut Aries, kerusakan ekosistem tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan lingkungan semata, karena dampaknya sangat luas—mencakup aspek sosial, budaya, hingga ekonomi masyarakat setempat.
Dalam pemaparannya, Aries menjelaskan bagaimana deforestasi dan degradasi hutan berkontribusi pada terganggunya siklus karbon global dan meningkatnya risiko bencana seperti banjir. Ia juga menyoroti rumitnya kebijakan pengelolaan hutan yang kerap dipengaruhi oleh kepentingan politik dan ekonomi, menjadikan peliputan isu lingkungan sebagai tantangan yang tidak hanya teknis, tetapi juga struktural.
Isu lainnya yang tak kalah penting adalah hilangnya kosakata dan tradisi lokal seiring dengan kerusakan alam. Aries mengingatkan pelestarian budaya lokal dan konservasi satwa endemik perlu dipandang sebagai satu kesatuan dalam upaya menjaga lingkungan secara holistik.
Diskusi ini membuka wawasan peserta tentang pentingnya menggali isu-isu yang kerap luput dari sorotan media arus utama. Dengan sudut pandang yang lebih kritis dan mendalam, jurnalis bisa menghadirkan liputan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mendorong perubahan nyata di tingkat komunitas maupun kebijakan.
Diskusi dan Eksplorasi: Mengembangkan Liputan Lingkungan yang Berdampak
Sebagai bagian dari proses pembelajaran yang interaktif, para peserta juga mengikuti sesi eksplorasi ide liputan. Dalam sesi ini, mereka mendapat kesempatan untuk berkonsultasi langsung dengan mentor, mengembangkan gagasan liputan yang orisinal, inovatif, dan berpotensi memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Proses diskusi antar peserta dan mentor(Fathia Rosatika | YIARI)
Tak hanya mendengarkan materi, peserta juga terlibat aktif dalam diskusi kelompok kecil. Melalui diskusi ini, mereka memetakan berbagai tantangan dan peluang dalam peliputan isu lingkungan. Beberapa tantangan utama yang muncul di antaranya adalah keterbatasan akses terhadap data, tekanan dari berbagai pihak berkepentingan, hingga rendahnya minat media terhadap isu lingkungan karena dianggap kurang menjual secara komersial.
Meski demikian, sesi ini mendorong peserta untuk tetap mencari celah dan strategi dalam menyuarakan isu lingkungan secara kreatif dan relevan. Kolaborasi antarpeserta dan bimbingan dari para mentor membantu memperkuat ide-ide liputan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menggugah kesadaran publik.
Bersama, mari menulis untuk alam!
Scroll, Click, Act: Bersama Lawan Perdagangan Ilegal Kukang
Perdagangan ilegal satwa liar, terutama melalui media sosial, kian mengancam kelangsungan hidup beragam spesies satwa dilindungi, termasuk kukang. Menyadari pentingnya masalah ini, Global Health Agromaritime-One Health Collaborating Center (GHA-OHCC) IPB University bersama OHCC Universitas Udayana menggelar talkshow bertajuk “Scroll, Click, Act: Saving Slow Lorises from Online Trade & Hidden Health Risks”.
Kegiatan yang diadakan di Aula Transformasi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB ini bertujuan meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap ancaman perdagangan ilegal kukang, serta dampaknya terhadap ekosistem dan kesehatan manusia.
Kukang merupakan salah satu satwa dilindungi yang sering menjadi target perdagangan ilegal di Indonesia. Praktik ini tidak hanya mengancam kelangsungan populasinya di alam liar, tetapi juga berisiko memperluas penyebaran penyakit zoonosis—penyakit yang dapat menular dari satwa ke manusia.
Dari kiri, Moderator Acara (S2 Ilmu Biomedis Hewan SKHB IPB) drh. Sarasvathi Cecile, KKHSG Kemenhut drh. Dedi Candra, Koordinator GHA-OHCC IPB drh. Srihadi Agungpriyono, Manager Animal Management YIARI drh. Nur Purba Priambada dalam acara Talkshow Scroll, Click, Act: Saving Slow Lorises from Online Trade & Hidden Health Risks, Bogor, Sabtu, 15 Februari 2025 (Cahya Riza | YIARI)
Risiko ini semakin meningkat karena kukang yang diperdagangkan sering mengalami perlakuan yang tidak semestinya, seperti pencabutan gigi untuk menghindari gigitan. Tindakan kejam ini tidak hanya menyebabkan penderitaan bagi kukang, tetapi juga berpotensi memperbesar risiko infeksi dan penyebaran penyakit yang dapat berdampak pada manusia.
Koordinator Global Health Association – One Health Collaborating Center (GHA-OHCC) IPB, drh. Srihadi Agungpriyono, menegaskan bahwa pendekatan One Health menjadi strategi penting dalam menangani permasalahan ini.
“Pendekatan One Health telah lama diterapkan untuk menghubungkan kesehatan manusia dan satwa. Oleh karena itu, dalam upaya konservasi ini, kita membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, termasuk ahli kesehatan satwa, kesehatan manusia, lingkungan, serta aspek sosial dan ekonomi yang turut memengaruhi praktik perdagangan satwa liar,” terangnya.
Pendekatan One Health menekankan pentingnya keseimbangan antara kesehatan manusia, satwa, dan lingkungan untuk mencegah dampak negatif dari perdagangan satwa liar. Dengan kolaborasi lintas sektor dan peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan ancaman perdagangan ilegal kukang dapat diminimalisir, sehingga spesies ini dapat terus hidup di habitat alaminya tanpa tekanan dari aktivitas ilegal.
Dari kiri, Moderator Acara (S2 Ilmu Biomedis Hewan SKHB IPB) drh. Sarasvathi Cecile, KKHSG Kemenhut drh. Dedi Candra, Manager Animal Management YIARI drh. Nur Purba Priambada membahas tren perdagangan kukang dalam acara Talkshow Scroll, Click, Act: Saving Slow Lorises from Online Trade & Hidden Health Risks, Bogor, Sabtu, 15 Februari 2025(Cahya Riza | YIARI)
Dukungan Kebijakan Tekan Angka Perdagangan Kukang di Sosial Media
Selain aspek kesehatan dan ekologi, upaya pemberantasan perdagangan ilegal kukang memerlukan dukungan regulasi yang lebih ketat. Drh. Dedi Candra menyoroti adanya regulasi baru yang memperkuat perlindungan terhadap satwa liar di Indonesia.
“Kami optimis bahwa pada tahun 2025 ini, perdagangan ilegal kukang dapat ditekan lebih jauh. Salah satu langkahnya melalui pengesahan Undang-Undang No. 32 Tahun 2024, yang merupakan revisi dari Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Regulasi ini memperketat sanksi serta meningkatkan denda bagi pelaku perdagangan ilegal. Selain itu, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 17 Tahun 2024 semakin mengoptimalkan upaya penyelamatan satwa liar dilindungi, termasuk kukang,” jelas drh. Dedi dalam kesempatan talkshow ini.
Dengan adanya peraturan yang lebih tegas, diharapkan perdagangan kukang secara daring dapat berkurang secara signifikan, sekaligus memberikan efek jera bagi para pelaku perdagangan ilegal.
Kukang jawa (Nycticebus javanicus) yang direhabilitasi di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI)
Komitmen Multipihak dalam Konservasi Kukang
Kukang di Indonesia saat ini berstatus Terancam Punah (Endangered) hingga Kritis (Critically Endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Kondisi ini menjadikan kukang sebagai salah satu fokus utama dalam berbagai upaya konservasi di Indonesia.
Salah satu lembaga yang berperan aktif dalam pelestarian kukang adalah Pusat Rehabilitasi Satwa Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Dalam kesempatan ini, drh. Nur Purba Priambada menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam upaya konservasi kukang.
“Dalam 17 tahun perjalanan kami, YIARI berkomitmen untuk memastikan kesejahteraan kukang, tidak hanya melalui rehabilitasi individu, tetapi juga dengan pendekatan holistik yang melibatkan ekosistem secara menyeluruh. Kami bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menciptakan harmoni antara habitat, satwa, dan manusia,” tuturnya.
Dengan semakin kuatnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan lembaga konservasi, upaya pelestarian kukang diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, juga menjadi kunci utama dalam mencegah maraknya perdagangan ilegal dan melindungi spesies yang semakin rentan punah ini.
“Penyelamatan kukang bukan hanya tugas para konservasionis, melainkan tanggung jawab bersama.”
Pernyataan ini menjadi pesan kuat dalam talkshow yang membahas ancaman perdagangan ilegal satwa liar. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan dukungan kebijakan yang lebih kuat, ada harapan besar bahwa kukang dan satwa liar lainnya dapat terus hidup di habitat aslinya tanpa ancaman perburuan dan perdagangan ilegal.
Setiap individu dapat berkontribusi dalam upaya konservasi dengan:
Tidak membeli atau mendukung perdagangan satwa liar
Menyebarkan informasi tentang pentingnya pelestarian kukang
Melaporkan aktivitas perdagangan ilegal kepada pihak berwenang
Dengan langkah-langkah konkret ini, kita dapat turut berperan dalam menyelamatkan kukang dan menjaga kelestarian ekosistemnya untuk masa depan!
Translokasi 10 Kukang Jawa ke Gunung Kendeng, Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Sukabumi, 23 Oktober 2024 — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaksanakan kegiatan translokasi 10 kukang jawa (Nycticebus javanicus) di Kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional Gunung Kendeng, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) III Sukabumi, BTNGHS. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk melindungi populasi satwa endemik yang terancam punah.
Pemerintah Indonesia telah memberikan perlindungan terhadap Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Permen LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi di Indonesia. Kukang Jawa, sebagai satwa endemik dan terancam punah yang terdapat di Kawasan TNGHS, termasuk dalam Permen tersebut. Selain itu, International Union for Conservation of Nature (IUCN) juga telah mengklasifikasikan jenis primata ini sebagai satwa terancam (endangered).
Pemeriksaan kukang yang berada dalam kandang transport (Rendi Afandi|YIARI)
Adapun sepuluh kukang yang ditranslokasi terdiri dari tiga kukang jantan bernama Petruk, Yuda, Gareng, serta tujuh kukang betina bernama Alon, Citas, Kunthi, Madrim, Bestari, Kajol, dan Loni. Kukang-kukang ini berasal dari pelaporan dan penyerahan masyarakat kepada BBKSDA Jawa Barat dan BKSDA Yogyakarta. Setelah diserahkan, satwa-satwa tersebut dititiprawatkan di pusat rehabilitasi satwa YIARI di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, di mana mereka menjalani penanganan medis intensif dan proses rehabilitasi yang komprehensif.
Proses rehabilitasi yang dijalani bertujuan untuk memulihkan kesehatan dan perilaku alami mereka, sekaligus mempersiapkannya untuk kembali ke alam liar. Rehabilitasi ini meliputi pemeriksaan kesehatan menyeluruh, pengaturan diet spesifik, serta pemberian fasilitas dan kegiatan yang mendukung perilaku alami mereka. Kegiatan rehabilitasi penting untuk memastikan kukang-kukang tersebut siap dilepasliarkan di habitat.
Pemasangan GPS collar pada kukang (Rendi Afandi |YIARI)
Setelah menyelesaikan proses rehabilitasi, tahapan selanjutnya yaitu translokasi dan habituasi. Translokasi adalah proses pengangkutan satwa dari pusat rehabilitasi ke kandang habituasi di lokasi pelepasliaran (yang berada di kawasan TNGHS), salah satu habitat sebaran kukang jawa di Pulau Jawa.
Kawasan Resort PTN Gunung Kendeng, Seksi PTNW III Sukabumi BTNGHS, dipilih sebagai lokasi pelepasliaran berdasarkan beberapa pertimbangan utama, yaitu ketersediaan pakan, keamanan lokasi dari perburuan atau gangguan, serta jarak yang relatif jauh dari pemukiman untuk meminimalisir konflik dengan masyarakat. Selain itu, pemilihan lokasi ini juga telah dikukuhkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Nomor: SK. 50/KSDAE/SET.3/KSA.2/3/2021 tentang Penetapan Lokasi Pelepasliaran Lima Jenis Satwa di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak periode tahun 2021 – 2025. Keputusan ini menetapkan area dengan kesesuaian habitat sebesar 22.848,1 Ha dan area prediksi pelepasan sebesar 15.578,4 Ha, termasuk habitat untuk kukang jawa. Lokasi translokasi ini berjarak sekitar 36 kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Bogor, dengan perjalanan darat yang memakan waktu sekitar empat jam, diikuti berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit.
Di kandang habituasi yang luasnya sekitar 18 m2 dan terbuat dari jaring serta bambu, kukang diberi pakan dan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru secara bertahap selama sekitar satu minggu. Proses adaptasi penting untuk memastikan kukang mampu bertahan sebelum dilepas ke alam. Pelepasliaran juga dilakukan pada malam hari, memberikan mereka akses untuk keluar dari kandang habituasi dan menjelajah habitat baru secara mandiri.
Tim YIARI dibantu beberapa warga lokal membawa kandang transpor kukang melewati wilayah hutan Kawasan Gunung Kendeng (Rendi Afandi |YIARI)
Tahapan terakhir dari proses ini adalah pemantauan pasca pelepasliaran, yang dilakukan selama dua hingga tiga bulan dengan menggunakan GPS collar. Pemantauan bertujuan untuk melacak adaptasi kukang pada habitat baru mereka, memastikan mereka mampu bertahan hidup, mencari makan, dan berperilaku sesuai kebutuhan alaminya.
Translokasi salah satu kukang ke kandang habituasi oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Budhi Chandra, S.H., M.H., (Rendi Afandi |YIARI)
Upaya pelepasliaran ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi ekologis kukang di habitat alami mereka, sekaligus sebagai langkah edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi.
Argitoe Ranting, Direktur Operasional Program YIARI, menekankan pentingnya pelepasliaran sebagai indikator keberhasilan dalam konservasi satwa liar. “Pelepasliaran kukang jawa ini merupakan puncak dari upaya penyelamatan panjang dan teliti, dimulai dari proses penyelamatan, rehabilitasi, hingga akhirnya pelepasliaran ke habitat alami mereka. Kami berharap kegiatan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan satwa yang dilepasliarkan, serta menyediakan data untuk studi lanjutan tentang konservasi kukang jawa.”
Seremoni pelepasliaran yang dihadiri oleh BTNGHS, BBKSDA Jabar, YIARI, Camat Kabandungan, Kepala Kepolisian Sektor Klapanunggal, serta Komandan Rayon Militer Klapanunggal (Rendi Afandi |YIARI)
Budhi Chandra, S.H., M.H., selaku Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, memberi tanggapan terkait kegiatan ini. “Pelepasliaran kukang jawa ini bukan hanya langkah penting dalam konservasi satwa yang terancam punah, tetapi juga merupakan wujud nyata komitmen kami dalam melestarikan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan satwa liar dan lingkungan kita.”
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Agus Arianto, S.Hut., turut menyampaikan apresiasi kepada YIARI yang telah mendukung program pemerintah dalam pelestarian satwa liar dilindungi. “Kami menghimbau segenap lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keberlangsungan kelestarian satwa liar dilindungi kukang jawa di habitatnya, karena kelestarian dapat terwujud dari kepedulian dan komitmen bersama. Mencintai satwa liar tidak berarti harus dilakukan dengan cara memelihara, sejatinya dengan membiarkannya hidup di alam liar, di habitatnya merupakan bentuk mencintai satwa liar sesungguhnya.”