Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Pengamanan Hutan bersama KPH Batutegi: Misi Menjaga Jantung Hutan Sumatera dari Perambahan

Hutan Lindung Batutegi yang berada di Lampung merupakan salah satu kawasan hutan paling vital di Pulau Sumatra. Kawasan ini menjadi habitat alami bagi beragam flora dan fauna, termasuk spesies endemik yang hanya ditemukan di Indonesia.

Namun, ancaman perambahan hutan yang semakin masif berpotensi merusak keseimbangan ekologis dan mengganggu keberlangsungan hidup spesies di dalamnya. Jika tidak segera ditangani, kerusakan ini dapat berdampak jangka panjang bagi kelestarian lingkungan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batutegi bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menerapkan pendekatan konservasi berbasis teknologi. Tim gabungan di lapangan terus melakukan pengamanan dan pengawasan terhadap potensi perusakan.

Seperti apa strategi dan penerapannya? Simak uraian berikut ini!

Mengenal Kesatuan Pengelolaan Hutan Batutegi 

Hutan Lindung Batutegi membentang seluas ±58.174 hektare di wilayah Provinsi Lampung, mencakup tiga kabupaten: Tanggamus, Lampung Barat, dan Lampung Tengah. Selain berfungsi sebagai daerah aliran sungai (DAS) prioritas, kawasan ini juga menyimpan kekayaan biodiversitas tinggi yang memiliki nilai ekologis dan konservasi luar biasa.

Sejak tahun 2008, YIARI telah aktif melakukan kegiatan konservasi di kawasan ini, dengan fokus awal pada perlindungan satwa liar serta rehabilitasi habitat. Patroli rutin dan pemantauan populasi satwa menjadi bagian dari upaya perlindungan tersebut.

Kolaborasi antara YIARI dan KPH Batutegi semakin diperkuat seiring meningkatnya ancaman perambahan hutan. Menyikapi hal ini, pada tahun 2025, YIARI kembali melanjutkan program pengamanan hutan bersama KPH Batutegi sebagai wujud komitmen jangka panjang dalam menjaga ekosistem hutan tetap lestari.

Dengan dukungan teknologi modern seperti sistem pemantauan berbasis GPS, drone pengawas, dan aplikasi pelaporan cepat, tim di lapangan mampu merespons potensi ancaman secara lebih efisien. Strategi ini tidak hanya menekan angka perambahan, tetapi juga memperkuat fungsi ekologis hutan sebagai penyangga kehidupan dan sumber daya hayati yang berkelanjutan.

Menelusuri Jejak Perambahan di Hutan Rindingan

Potongan sisa kayu penebangan liar di Hutan Lindung Batutegi (Tim RH | YIARI)

Memahami kondisi dan ancaman di lapangan merupakan langkah awal yang sangat krusial dalam upaya menjaga kelestarian hutan. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian utama adalah Blok Inti Rindingan, sebuah kawasan konservasi strategis di Hutan Lindung Batutegi.

Kawasan ini tidak hanya menjadi habitat penting bagi berbagai spesies langka, tetapi juga menyediakan jasa ekosistem yang vital bagi lingkungan sekitar.

Sayangnya, Blok Inti Rindingan menghadapi tekanan berat akibat aktivitas perambahan ilegal yang terus berlangsung. Pembukaan lahan tanpa izin, penebangan pohon secara liar, serta praktik perburuan satwa mengganggu keseimbangan alam dan mempercepat kerusakan ekosistem.

Jika dibiarkan, dampaknya dapat meluas: mulai dari terganggunya sumber air, menurunnya keanekaragaman hayati, hingga kerusakan sistem ekologis yang menopang kehidupan masyarakat lokal.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, KPH Batutegi bersama YIARI terus memperkuat upaya pengamanan hutan. Salah satu bentuk nyata dari komitmen ini diwujudkan melalui patroli gabungan yang dilakukan secara berkala.

Pada 22 Januari 2025, tim gabungan yang terdiri dari Polisi Kehutanan (Polhut) KPH Batutegi dan staf lapangan YIARI melakukan patroli intensif di Blok Inti Rindingan. 

Medan yang berat dan akses yang terbatas tidak menyurutkan semangat tim untuk menjangkau area-area rawan perambahan guna melakukan pendataan dan pengamatan langsung terhadap kondisi hutan.

Polhut KPH Batutegi dan Tim YIARI menemukan sebuah gubuk liar beratap warna biru di tengah area perambahan Hutan Lindung Batutegi (Tim RH | YIARI)

Hasil patroli menunjukkan, sebagian kawasan telah mengalami kerusakan akibat aktivitas ilegal. Tim menemukan sejumlah bukti seperti gubuk liar yang dibangun secara sembunyi-sembunyi, jejak kendaraan berat, sisa kayu tebangan, serta lahan yang mulai dibuka tanpa izin resmi.

Temuan ini mengonfirmasi praktik perambahan masih menjadi ancaman nyata dan mendesak untuk segera ditangani.

Oleh karena itu, pengawasan dan patroli tidak hanya penting sebagai tindakan pencegahan, tetapi juga sebagai bentuk penegakan hukum yang konsisten.

Langkah-langkah konkret dan berkelanjutan sangat diperlukan agar kelestarian Hutan Lindung Batutegi, khususnya Blok Inti Rindingan, dapat terus terjaga bagi generasi mendatang.

Teknologi dan Tindakan Cepat dalam Pengamanan Hutan

Untuk merespons temuan lapangan secara efektif, tim patroli melakukan pendataan terhadap area terdampak sekaligus segera mengambil tindakan pengamanan yang terukur. Berbekal dukungan teknologi pemantauan canggih, proses pengawasan kini dilakukan secara lebih sistematis, akurat, dan responsif.

Salah satu teknologi utama yang dimanfaatkan adalah Global Forest Watch (GFW)—sebuah platform berbasis citra satelit yang memungkinkan deteksi perubahan tutupan hutan secara real-time.

Dengan sistem ini, aktivitas perambahan dapat dipantau sejak dini, sehingga tim dapat langsung mengarahkan patroli ke titik-titik rawan.

Tampak atas area terdampak perambahan di Hutan Lindung Batutegi (Tim RH | YIARI)

Untuk menjangkau area yang sulit diakses, tim juga mengoperasikan drone yang memberikan gambaran visual menyeluruh tentang kondisi hutan dari udara.

Sementara itu, aplikasi SMART Patrol dimanfaatkan untuk mencatat dan menganalisis temuan di lapangan. Data yang dikumpulkan melalui aplikasi ini menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan, mulai dari penentuan pola patroli hingga perumusan strategi tindak lanjut.

Penggunaan teknologi tidak hanya mempercepat respons terhadap perambahan, tetapi juga memungkinkan evaluasi yang lebih komprehensif terhadap efektivitas pengamanan hutan. Pendekatan berbasis data ini diharapkan mampu menekan risiko kerusakan sekaligus mendukung perencanaan konservasi jangka panjang yang berkelanjutan dan adaptif.

Satu Tahap dalam Melindungi Habitat

Patroli gabungan yang dilaksanakan pada 22 Januari 2025 merupakan salah satu langkah penting dalam upaya berkelanjutan melindungi habitat Hutan Lindung Batutegi.

Kegiatan ini bukan hanya bertujuan untuk menghentikan praktik perambahan, tetapi juga menjadi bagian integral dari strategi besar dalam menjaga kelestarian ekosistem hutan.

Namun, perlindungan habitat tidak berhenti pada patroli dan penindakan semata. Setelah titik-titik perambahan berhasil diidentifikasi, tahap selanjutnya adalah pemulihan ekosistem yang terdampak. Proses rehabilitasi—seperti penanaman kembali pohon di lahan terbuka—menjadi komponen penting dalam memperbaiki struktur hutan dan memulihkan fungsi ekologisnya.

Lebih dari itu, keterlibatan masyarakat sekitar kawasan hutan menjadi kunci dalam menciptakan perlindungan yang berkelanjutan. Edukasi dan pemberdayaan komunitas lokal terus dilakukan agar mereka tidak hanya memahami pentingnya menjaga hutan, tetapi juga memiliki alternatif penghidupan yang tidak bergantung pada eksploitasi sumber daya hutan secara ilegal.

Menjaga Hutan, Menjaga Kehidupan

Melindungi Hutan Lindung Batutegi bukanlah upaya sesaat, melainkan komitmen jangka panjang demi memastikan keberlangsungan ekosistem dan kehidupan yang bergantung padanya. Upaya ini mencakup berbagai aspek—dari patroli rutin, penerapan teknologi pemantauan, hingga pemberdayaan komunitas lokal sebagai garda terdepan pelestarian.

KPH Batutegi, YIARI, serta para pemangku kepentingan lainnya terus memperkuat sinergi dan kolaborasi. Kolaborasi lintas sektor inilah yang menjadi fondasi kuat dalam menjaga kelestarian ekosistem secara menyeluruh.

Namun, menjaga hutan bukan hanya tugas mereka yang berada di garis depan. Ini adalah tanggung jawab bersama. Setiap individu memiliki peran, sekecil apa pun, untuk turut mendukung pelestarian hutan. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Menyebarkan informasi tentang pentingnya konservasi hutan kepada orang sekitar.
  • Mendukung penggunaan produk yang ramah lingkungan dan diproduksi secara berkelanjutan.
  • Mengurangi konsumsi kertas dengan memilih dokumen digital atau menggunakan kertas daur ulang.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon atau mendukung program reforestasi dan konservasi lokal.

Setiap langkah kecil memiliki arti besar bagi masa depan hutan kita. Jangan biarkan praktik perambahan terus merusak warisan alam yang begitu berharga. Kini saatnya kita bergerak bersama—menjaga hutan berarti menjaga kehidupan itu sendiri!

Featured image: Sebuah gubuk ilegal berwarna biru di tengah lokasi perambahan Hutan Lindung Batutegi

Editor: Hasna Latifatunnisa

Edukasi Hari Primata Lampung, Kenalkan Konservasi Sejak Dini!

Pada 9 Februari 2025, kegiatan edukasi dalam rangka peringatan Hari Primata Indonesia sukses diselenggarakan di Dusun Beringin 4, Lampung. Acara ini meliba tkan sebanyak 52 anak-anak dari keluarga petani, yang berasal dari jenjang pra-PAUD sampai SMP.

Kegiatan ini bukan sekadar perayaan simbolis, melainkan sebuah langkah nyata dalam menanamkan kesadaran lingkungan dan pentingnya konservasi sejak usia dini. Melalui serangkaian aktivitas seperti pengenalan jenis-jenis primata Indonesia, mewarnai, mendongeng, sampai permainan edukatif, anak-anak diajak untuk belajar sambil bermain, mengenal primata lebih dekat, serta memahami peran penting mereka dalam ekosistem.

Ingin tahu bagaimana anak-anak di Dusun Beringin 4 belajar mencintai alam sambil bermain? Simak selengkapnya di artikel ini!

Apa Tujuan dan Output dari Kegiatan Perayaan Hari Primata Indonesia di Dusun Beringin 4?

Kegiatan edukasi dalam rangka Hari Primata Indonesia di Dusun Beringin 4 bukan hanya bertujuan untuk memperingati hari penting ini, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam upaya konservasi satwa liar.

Menurut Jurnal Primatologi Indonesia, Indonesia merupakan rumah bagi lebih dari 59 spesies primata dari 11 genus, yang tersebar di berbagai habitat mulai dari hutan hujan tropis hingga pegunungan.

Sayangnya, keberadaan mereka semakin terancam oleh perburuan, perdagangan ilegal, serta kerusakan hutan yang masif.

Melalui kegiatan ini, YIARI merancang pendekatan edukatif yang menyasar anak-anak dari keluarga petani sebagai langkah awal membangun kesadaran kolektif sejak dini. Adapun tujuan utamanya mencakup:

  • Memberikan pendampingan intensif kepada anak-anak petani dampingan dalam memahami pentingnya pelestarian satwa liar.
  • Meningkatkan pengetahuan anak-anak mengenai berbagai jenis primata di Indonesia dan fungsi ekologisnya.
  • Menanamkan nilai-nilai konservasi sejak usia dini, agar terbentuk kebiasaan menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
  • Melakukan survei dan pendataan persepsi anak-anak serta keluarga mereka untuk mendukung keberlanjutan program edukasi konservasi.

Rangkaian Kegiatan untuk Edukasi Konservasi Primata

Berikut rangkaian kegiatan ini:

1. Penyampaian Materi: Mengenal Primata dan Habitatnya

Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu mengenal primata dan habitatnya (Tim Edukasi | YIARI)

Sesi ini menjadi inti dari kegiatan edukasi konservasi. Anak-anak dikenalkan pada berbagai jenis primata yang hidup di Indonesia, seperti orangutan, lutung, dan tarsius. Mereka juga diajak memahami peran ekologis primata, misalnya sebagai penyebar biji tanaman yang membantu regenerasi hutan.

Materi disampaikan melalui media visual seperti gambar dan video edukatif agar lebih menarik dan mudah dicerna. Selain itu, anak-anak juga dikenalkan dengan berbagai ancaman nyata yang dihadapi primata, seperti deforestasi, perburuan liar, dan perdagangan satwa ilegal.

Melalui sesi ini, peserta memperoleh pengetahuan sekaligus diharapkan menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap satwa liar.

2. Mewarnai

Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu mewarnai (Tim Edukasi | YIARI)

Mewarnai menjadi salah satu kegiatan favorit yang menyenangkan sekaligus mendidik. Anak-anak diberikan sketsa bergambar primata khas Indonesia untuk diwarnai sesuai dengan imajinasi mereka.

Kegiatan ini mengasah kemampuan motorik dan kreativitas, serta menjadi sarana mengenal satwa lebih dekat melalui pendekatan visual dan artistik.

Dengan tema yang sesuai, mewarnai menjadi media pembelajaran yang efektif untuk memperkuat pemahaman anak tentang jenis dan ciri khas primata Indonesia.

3. Mendongeng

Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu mendongeng (Tim Edukasi | YIARI)

Dongeng adalah salah satu metode paling efektif dalam menyampaikan pesan kepada anak-anak. Dalam sesi ini, mereka diajak mendengarkan cerita yang mengangkat tema pentingnya menjaga hutan dan melindungi satwa liar.

Cerita disampaikan dengan alur yang menarik serta tokoh-tokoh hewan yang mudah dikenali dan disukai oleh anak-anak.

Melalui dongeng, anak-anak dihibur sekaligus belajar bahwa tindakan manusia dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup satwa di alam liar. Pesan moral yang disampaikan mampu membentuk kesadaran ekologis dan menanamkan nilai-nilai konservasi sejak usia dini.

4. Games Edukasi

Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu games edukasi (Tim Edukasi | YIARI)

Bagi anak-anak, belajar akan lebih menyenangkan jika dilakukan melalui permainan. Dalam sesi ini, tim YIARI mengajak anak-anak untuk mengikuti berbagai permainan edukatif setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan lainnya.

Permainan yang disajikan dirancang untuk melatih kerja sama tim, ketelitian, serta kemampuan berpikir kritis. Dengan metode belajar sambil bermain ini, anak-anak menjadi lebih mudah memahami isu-isu konservasi dan lebih sadar akan pentingnya menjaga primata serta lingkungan hidup mereka.

5. Membaca Buku

Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu membaca (Tim Edukasi | YIARI)

Selain mendengarkan dongeng, anak-anak juga diajak untuk membaca buku-buku bertema konservasi satwa liar. Buku-buku ini berisi cerita inspiratif serta informasi menarik mengenai primata dan ekosistem hutan tempat mereka hidup.

Kegiatan membaca ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai konservasi melalui literasi, serta meningkatkan minat baca anak-anak. Melalui cerita yang dikemas secara ringan dan edukatif, diharapkan anak-anak dapat memahami pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan menghargai kehidupan satwa liar di sekitarnya.

6. Survei Persepsi Anak-anak

Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu survei persepsi anak-anak (Tim Edukasi | YIARI)

Sebagai bagian dari evaluasi program dan upaya perbaikan berkelanjutan, tim YIARI juga melakukan survei terhadap anak-anak dan keluarga mereka. Survei ini bertujuan untuk menggali pemahaman, sikap, serta tingkat kesadaran mereka terhadap konservasi primata.

Hasil survei akan menjadi dasar dalam merancang program edukasi selanjutnya agar lebih relevan dan efektif. Dengan melibatkan partisipasi langsung dari peserta, pendekatan ini membantu memastikan kegiatan konservasi benar-benar berdampak dan diterima oleh masyarakat, terutama generasi muda.

Harapan dan Dampak Edukasi Konservasi Primata

Dengan adanya edukasi konservasi primata, terdapat beberapa harapan dan dampak edukasi yang bisa dicapai dalam jangka pendek maupun panjang, antara lain:

1. Peran Penting Primata dalam Ekosistem

Primata memegang peranan penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem hutan. Mereka berfungsi sebagai penyebar biji, pengendali populasi serangga, hingga indikator alami terhadap kesehatan lingkungan. Sayangnya, ancaman terhadap populasi primata terus meningkat akibat perburuan liar, perdagangan ilegal, serta kerusakan habitat.

Upaya konservasi primata tidak bisa hanya mengandalkan kalangan ilmuwan atau aktivis lingkungan semata. Keterlibatan masyarakat luas, termasuk anak-anak sebagai generasi penerus, menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan spesies ini di masa depan.

2. Edukasi Konservasi untuk Generasi Muda

Melalui kegiatan edukatif dalam rangka Hari Primata Indonesia, YIARI menanamkan nilai-nilai konservasi kepada anak-anak dengan pendekatan yang menyenangkan dan interaktif. Anak-anak dikenalkan pada keanekaragaman primata Indonesia serta diajak memahami bagaimana perilaku manusia dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup mereka.

Aktivitas seperti mendongeng, mewarnai, membaca buku, hingga bermain permainan edukatif menjadi media efektif dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi. Dengan metode ini, anak-anak diharapkan mengalami proses pembelajaran yang membekas secara emosional.

3. Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Dalam jangka pendek, kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anak-anak mengenai pentingnya pelestarian primata dan lingkungan hidup. Anak-anak mulai memahami bahwa tindakan sederhana, seperti tidak membeli atau memelihara satwa liar, dapat memberikan dampak besar terhadap kelestarian ekosistem.

Di masa depan, edukasi ini diharapkan dapat melahirkan generasi yang lebih sadar lingkungan dan berperan aktif dalam upaya pelestarian satwa liar. Anak-anak yang tumbuh dengan nilai-nilai konservasi berpotensi menjadi agen perubahan yang mendorong terciptanya masyarakat yang lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab.

4. Membangun Masa Depan yang Harmonis

Kegiatan edukasi seperti Hari Primata Lampung membuktikan proses pembelajaran yang dikemas secara menyenangkan mampu menumbuhkan rasa empati yang mendalam terhadap alam. Selain memahami pentingnya melindungi primata, anak-anak juga terdorong untuk terlibat langsung dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta, relawan, dan pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Semangat yang ditunjukkan anak-anak Dusun Beringin 4 menjadi bukti bahwa pendidikan dan konservasi dapat berjalan beriringan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Program seperti ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak wilayah, sehingga semakin banyak anak-anak Indonesia yang tumbuh dengan kesadaran akan pentingnya konservasi. Mari bersama-sama menjaga sahabat hutan kita—primata—demi masa depan bumi yang lestari, harmonis, dan berkelanjutan!

Petani Dampingan YIARI Studi Banding ke KPH Pesawaran: Menggali Ilmu Kelembagaan Usaha Kelompok Tani

Salah satu sektor ekonomi utama di Indonesia adalah pertanian.

Sektor ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, banyak kelompok tani yang masih menghadapi tantangan dalam mengelola usaha secara kontinu. Pemahaman tentang ilmu kelembagaan usaha kelompok tani menjadi kunci dalam membangun usaha tani yang lebih kuat dan mandiri.

Untuk mendukung hal ini, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengadakan studi banding bagi petani dampingan mereka ke Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pesawaran, Lampung.

Bagaimana pengalaman para petani dampingan YIARI dalam studi banding ini dan apa manfaatnya bagi pengelolaan usaha tani yang lebih berkelanjutan?

Simak selengkapnya dalam artikel berikut, ya!

Apa Itu Agroforesti?

Agroforestri adalah metode pengelolaan lahan yang mengintegrasikan budidaya tanaman kehutanan, pertanian, dan peternakan dalam satu sistem yang saling mendukung. Pendekatan ini ditujukan sebagai solusi atas permasalahan konversi lahan yang seringkali berdampak negatif terhadap lingkungan.

Konversi lahan yang tidak terencana dapat menimbulkan berbagai kerusakan ekologis, seperti banjir, kekeringan, erosi tanah, penurunan kesuburan lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, serta percepatan perubahan iklim.

Dengan menerapkan agroforestri, masyarakat dapat menjaga fungsi ekologis lahan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari hasil pertanian dan kehutanan.

Secara etimologis, istilah agroforestry berasal dari bahasa Inggris, yakni “agro” yang berarti pertanian dan “forestry” yang berarti kehutanan. Di Indonesia, konsep ini dikenal pula dengan sebutan wanatani—gabungan kata “wana” (hutan) dan “tani” (pertanian).

Istilah ini mencerminkan harmonisasi antara kegiatan pertanian dan pelestarian hutan dalam satu kesatuan ekosistem yang berkelanjutan.

Pentingnya Studi Banding Agroforesti bagi Kelompok Tani Dampingan YIARI

Petani dampingan YIARI menggali ilmu kelembagaan usaha kelompok tani di KPH Pesawaran (Tim Comdev | YIARI)

Kegiatan studi banding yang dilaksanakan pada 17–19 Desember 2024 menjadi momen penting bagi delapan petani dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Makmur dan Wanatani Lestari.

Dalam kunjungan ini, mereka memperoleh kesempatan langsung untuk belajar dari praktik kelembagaan dan usaha tani yang diterapkan oleh kelompok tani di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pesawaran, Lampung.

Adapun tujuan utama kegiatan ini adalah:

1. Memperkuat pemahaman petani mengenai kelembagaan usaha tani berbasis pertanian berkelanjutan

Studi banding ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas petani dalam memahami struktur, peran, dan fungsi kelembagaan dalam konteks usaha tani. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai sistem kelembagaan, petani diharapkan mampu menjalankan kegiatan pertanian secara lebih terorganisir dan berkelanjutan, baik dari segi produksi, pemasaran, maupun pengelolaan sumber daya.

2. Belajar langsung dari kelembagaan kelompok tani yang telah terbukti solid dan bersifat kolektif

KPH Pesawaran dipilih sebagai lokasi pembelajaran karena kelompok tani di wilayah ini telah berhasil membentuk kelembagaan yang kuat dan mampu menjalankan usaha tani secara kolektif. Pengalaman langsung dari kelompok tani ini menjadi referensi konkret bagi petani dampingan YIARI untuk memahami bagaimana tata kelola yang baik dapat mendorong keberhasilan bersama.

3. Menggali penerapan sistem agroforestri yang terintegrasi dengan prinsip konservasi alam

Melalui studi banding ini, para petani mendapatkan wawasan mengenai bagaimana sistem agroforestri dapat diterapkan dalam skala kelompok. Model ini tidak hanya menggabungkan fungsi produksi pertanian dan kehutanan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan melalui perlindungan tanah, air, dan keanekaragaman hayati.

4. Meninjau dampak sistem agroforestri dalam meningkatkan produktivitas lahan

KPH Pesawaran menunjukkan bahwa pendekatan agroforestri dapat memberikan manfaat multidimensi: meningkatkan hasil pertanian, menjaga stabilitas lingkungan, serta menciptakan sumber penghasilan yang berkelanjutan. Hal ini penting untuk diterapkan oleh kelompok tani lainnya yang ingin memperkuat ketahanan ekonomi dan ekologis.

5. Mendalami aspek manajerial kelembagaan kelompok tani

Selain aspek teknis pertanian, peserta juga dibekali dengan pemahaman tentang tata kelola kelembagaan yang mencakup sistem kerja kolektif, manajemen pemasaran, serta pencatatan administratif yang transparan dan akuntabel. Hal ini menjadi fondasi penting bagi kelompok tani agar mampu berkembang secara profesional.

6. Mendorong kemandirian dan daya saing usaha tani

Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman dari studi banding, petani dampingan diharapkan mampu mengadopsi praktik kelembagaan yang terbukti berhasil. Langkah ini penting untuk meningkatkan efisiensi operasional kelompok, memperkuat solidaritas anggota, serta memperluas akses pasar dan peluang ekonomi secara mandiri.

Sinergi Berbagai Pihak untuk Peningkatan Kapasitas Petani

Keberhasilan studi banding ini tak lepas dari peran aktif berbagai pihak yang terlibat dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan. Kolaborasi lintas sektor antara lembaga pendamping, tenaga ahli, dan pelaku usaha tani menjadi kunci dalam memperkuat kapasitas kelompok tani.

Pihak-pihak yang berperan dalam kegiatan ini antara lain:

  • Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) sebagai inisiator dan penyelenggara, bertanggung jawab atas koordinasi dan fasilitasi kegiatan.
  • KPH Pesawaran sebagai mitra utama dan tuan rumah studi banding, berbagi pengalaman nyata dalam kelembagaan kelompok tani dan penerapan sistem agroforestri.
  • KPH Batutegi, yang mendampingi petani dampingan selama proses pembelajaran berlangsung.
  • Jurusan Kehutanan Universitas Negeri Lampung, yang turut berperan sebagai pendamping lapangan dan penghubung antara aspek akademik dan praktik lapangan.
  • Kelompok Tani di KPH Pesawaran, yang berperan sebagai narasumber utama, memberikan inspirasi serta berbagi praktik baik dalam pengelolaan usaha tani berbasis agroforestri.

Delapan peserta studi banding berasal dari dua Gapoktan aktif, yakni Sumber Makmur dan Wanatani Lestari, yang selama ini telah mengikuti program pemberdayaan petani yang diinisiasi oleh YIARI.

Melalui kegiatan ini, para petani diharapkan mampu mereplikasi praktik kelembagaan yang berhasil dan membangun sistem usaha tani yang lebih kuat, mandiri, dan berkelanjutan.

Rangkaian Kegiatan Studi Banding di KPH Pesawaran

Kegiatan menggali ilmu kelembagaan kelompok usaha tani di KPH Pesawaran (Tim Comdev | YIARI)

Selama studi banding, peserta mengikuti berbagai kegiatan mulai dari diskusi, kunjungan lapangan, hingga praktik pengolahan hasil pertanian. Berikut rangkaian kegiatan yang dilakukan delapan petani dampingan YIARI di KPH Pesawaran:

Hari Pertama: Pengenalan dan Kunjungan Lapangan

Kegiatan dimulai dengan sesi pengenalan tentang KPH Pesawaran, termasuk diskusi interaktif yang membahas tujuan serta manfaat kelembagaan kelompok tani dalam menunjang keberlanjutan usaha pertanian. Para peserta kemudian berdiskusi langsung dengan pengurus Gapoktan di KPH Pesawaran untuk memahami struktur organisasi, sistem pengelolaan usaha, serta dinamika kelompok tani yang telah berjalan.

Setelah istirahat dan shalat ashar, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke lahan pertanian milik petani lokal yang telah menerapkan pola agroforestri. Beberapa komoditas yang diamati antara lain pala, kemiri, kakao, dan kapulaga. Peserta juga mengikuti sesi khusus mengenai kombinasi agroforestri kompleks, yang menampilkan strategi diversifikasi tanaman untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.

Di malam hari, para peserta mengikuti kegiatan “Ngobrol Pintar (Ngopi) Petani”, yaitu forum santai yang membuka ruang dialog antarpetani. Dalam suasana informal ini, peserta dapat bertukar pengalaman, mengajukan pertanyaan, serta menggali wawasan lebih dalam mengenai praktik pertanian ramah lingkungan yang diterapkan di KPH Pesawaran.

Hari Kedua: Diskusi dan Pendalaman Materi

Fokus kegiatan pada hari kedua adalah pendalaman materi melalui diskusi intensif. Peserta mempelajari sejarah kelembagaan kelompok tani di KPH Pesawaran, khususnya mengenai transisi pengelolaan lahan dari sistem monokultur ke agroforestri. Mereka juga mendalami berbagai pola agroforestri, termasuk teknik pengelolaan lahan, pemanenan, dan pemasaran hasil.

Selanjutnya, peserta mempelajari strategi kelembagaan dalam mengelola produk hasil pertanian, seperti proses pengolahan, pengemasan, dan distribusi. Diskusi juga mencakup peran aktif KPH Pesawaran dalam membina petani melalui penguatan kelembagaan pemasaran dan pengembangan koperasi.

Sore harinya, peserta melakukan sesi refleksi untuk mengevaluasi pengetahuan dan wawasan yang telah diperoleh. Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk mengidentifikasi pelajaran penting yang bisa diterapkan di kelompok tani masing-masing. Di malam hari, sesi “Ngopi Petani” kembali diadakan sebagai forum lanjutan untuk memperdalam diskusi dan mempererat hubungan antarpeserta dan petani lokal.

Salah satu sesi menggali ilmu kelembagaan usaha kelompok tani dengan berdiskusi (Tim Comdev | YIARI)

Hari Ketiga: Praktik Pengolahan Produk dan Penutupan

Pada hari terakhir, peserta mengikuti sesi praktik langsung pengolahan hasil pertanian. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain:

  • Pengolahan kemiri menjadi minyak berkualitas tinggi, yang memiliki nilai ekonomi besar dalam industri pangan dan kosmetik.
  • Pengolahan pala menjadi produk turunan, seperti manisan atau bumbu siap pakai, untuk meningkatkan daya jual komoditas tersebut.
  • Pembuatan arang briket dari kulit kemiri, sebagai bentuk pemanfaatan limbah pertanian yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.

Setelah sesi praktik, peserta kembali melakukan refleksi akhir untuk menyusun rencana tindak lanjut yang realistis dan sesuai dengan kondisi kelompok tani mereka. Studi banding ini diakhiri dengan sesi penutupan resmi, di mana para peserta menyampaikan komitmen mereka dalam mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.

Harapan dan Rencana Tindak Lanjut

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan studi banding ini, para peserta diharapkan mampu mengadaptasi dan menerapkan pengetahuan mengenai kelembagaan usaha kelompok tani ke dalam konteks lokal di komunitas masing-masing.

Pembentukan kelembagaan yang lebih kuat menjadi prioritas utama, dengan mengadopsi model yang telah terbukti berhasil diterapkan di KPH Pesawaran. Melalui proses ini, kelompok tani diharapkan mampu membangun struktur organisasi yang solid, berorientasi pada kerja sama, dan mendukung pertumbuhan usaha secara kolektif.

Pengembangan usaha berbasis agroforestri juga menjadi fokus utama dalam rencana lanjutan peserta. Dengan pendekatan ini, mereka tidak hanya mengejar peningkatan produktivitas dan pendapatan, tetapi juga turut menjaga keseimbangan lingkungan melalui praktik pertanian yang berkelanjutan. Implementasi sistem agroforestri diyakini mampu menjawab tantangan pertanian modern yang membutuhkan integrasi antara aspek ekonomi dan ekologi.

Dalam hal pengolahan pascapanen, peserta berkomitmen untuk menerapkan berbagai teknik yang telah dipelajari selama studi banding. Di antaranya adalah penggunaan alat pengering (dryer) untuk menjaga kualitas hasil panen serta pengolahan komoditas menjadi produk bernilai tambah, seperti minyak kemiri, olahan pala, atau briket dari limbah pertanian.

Langkah-langkah ini dirancang untuk memperluas potensi pasar dan meningkatkan pendapatan kelompok, sekaligus mengurangi limbah dan dampak negatif terhadap lingkungan.

Apresiasi kepada Semua Pihak yang Terlibat

Kesuksesan kegiatan studi banding ini tidak terlepas dari kontribusi dan sinergi berbagai pihak. Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada KPH Pesawaran yang telah membuka ruang pembelajaran bagi petani dampingan YIARI, serta berbagi praktik terbaik dalam pengelolaan kelembagaan dan penerapan agroforestri.

Dukungan dari KPH Batutegi sebagai pendamping serta kelompok tani setempat yang menjadi narasumber lapangan, telah menjadi fondasi penting dalam keberhasilan program ini.

Melalui kegiatan ini, petani dampingan YIARI memperoleh bekal pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan untuk memperkuat kelembagaan kelompok, memperluas jejaring kerja sama, dan meningkatkan efektivitas pengelolaan usaha tani.

Harapannya, dengan sistem yang lebih tertata dan pendekatan kolektif yang solid, kelompok tani dapat menghasilkan produk yang lebih bernilai, memperluas akses pasar, serta membangun usaha yang berdaya saing dan berkelanjutan. Ilmu yang diperoleh juga diharapkan dapat ditularkan ke anggota kelompok lainnya, sehingga manfaat studi banding ini dapat dirasakan secara luas di tingkat komunitas.

Sukses Beternak Ayam Kampung: Perjalanan Kelompok Wanita Tani di Lampung

Di tengah upaya meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat, pemanfaatan lahan pekarangan makin kreatif. Salah satu inovasi yang mulai diterapkan adalah pendampingan ternak ayam kampung—tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan gizi keluarga, tapi juga sebagai peluang usaha yang menjanjikan.

Memasuki awal 2025, Kelompok Wanita Tani (KWT) Gapoktan Wanatani Lestari, salah satu gapoktan binaan YIARI, membangun kandang ayam kampung dari bambu lokal. Program ini punya tiga tujuan utama: menyediakan sumber protein yang lebih mudah diakses, menambah penghasilan keluarga, dan menghasilkan pupuk organik untuk tanaman hortikultura.

Lalu, seperti apa pendampingan ini dijalankan? Yuk, simak lebih lanjut!

Membangun Kandang Ayam Kampung Secara Gotong Royong

Kandang ayam dari bambu lokal dalam program pendampingan ternak ayam kampung (Tim Comdev | YIARI)

Kelompok Wanita Tani Gapoktan Wanatani Lestari di KPH Batutegi, Lampung, memanfaatkan lahan pekarangan rumah dengan menerapkan sistem pertanian terpadu. Selain membudidayakan tanaman hortikultura, kelompok ini kini mengembangkan usaha peternakan ayam kampung sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha tani.

Perencanaan teknis program ini telah dimulai sejak akhir Desember 2024 dan mulai diterapkan pada minggu pertama Januari 2025. Langkah awal yang dilakukan adalah pembangunan kandang ayam, yang difasilitasi oleh Yayasan IAR Indonesia (YIARI) dengan dukungan aktif dari masyarakat tani setempat. Sebagai bentuk kemandirian, anggota kelompok tani secara swadaya mengumpulkan bambu lokal untuk digunakan sebagai material utama dinding dan lantai kandang.

Dengan semangat gotong royong, para suami anggota kelompok tani turut berpartisipasi dalam pembangunan kandang ayam kampung berukuran 11 x 2 meter. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal serta mendorong ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Pemasangan terpal dalam program pendampingan ternak ayam kampung (Tim Comdev | YIARI)

Proses pembangunan kandang ini melibatkan 15 orang, termasuk staf YIARI, mahasiswa magang, serta para ibu anggota KWT. Mereka bekerja sama untuk memastikan kandang yang dibangun memiliki struktur kokoh, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan pemeliharaan ayam.

Pembangunan dilakukan secara bertahap, dimulai dari pembuatan rangka, pemasangan dinding bambu, sampai penyelesaian lantai dan atap. Untuk meningkatkan perlindungan dari angin dan hujan, dinding kandang dilapisi terpal agar suhu di dalamnya tetap stabil. Dengan lingkungan yang lebih terjaga, ayam dapat tumbuh secara optimal dan sehat.

Langkah Awal Menuju Produksi Ayam Berkualitas

Setelah kandang selesai dibangun pada 22 Januari 2025, langkah berikutnya adalah menciptakan lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan ayam. Faktor-faktor utama yang diperhatikan meliputi ventilasi, penempatan pakan dan minum, pencahayaan, serta kebersihan kandang.

Ventilasi yang tepat menjadi prioritas utama untuk memastikan sirkulasi udara yang lancar, mengurangi kelembaban berlebih, serta mencegah penyebaran penyakit. Selain itu, penempatan tempat pakan dan minum dirancang secara strategis agar mudah diakses oleh ayam, meminimalkan risiko kontaminasi, dan mengurangi pemborosan pakan.

Untuk menjaga suhu kandang tetap hangat, terutama pada malam hari, dipasang lampu yang berfungsi sebagai sumber penerangan sekaligus penghangat. Pencahayaan yang cukup membantu ayam tetap aktif sekaligus mengurangi stres yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan kesehatannya. Dengan manajemen kandang yang optimal, diharapkan ayam dapat tumbuh sehat dan menghasilkan produksi berkualitas tinggi.

Kandang ayam dengan ventilasi baik, lampu, dan tempat makan minum bambu (Tim Comdev | YIARI)

Sebagai bagian dari pemanfaatan sumber daya lokal, wadah pakan ayam dibuat dari bambu. Penggunaan bambu tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga lebih ekonomis dan mudah diperoleh oleh kelompok tani. Dengan pendekatan ini, program budidaya ayam kampung juga mengurangi ketergantungan pada peralatan berbahan plastik atau logam yang lebih mahal.

Pada tahap awal, sebanyak 266 ekor ayam kampung berusia dua minggu yang telah divaksin mulai dimasukkan ke dalam kandang. Dalam empat minggu ke depan, kandang kedua direncanakan selesai dibangun untuk menampung tambahan 200 ekor ayam. Dengan sistem ini, kelompok tani bisa melakukan panen setiap bulan, dengan target bobot ayam mencapai 1 kg dalam waktu 2,5 bulan.

Ayam kampung diberi pakan berkualitas di kandang (Tim Comdev | YIARI)

Selain memastikan kondisi kandang yang mendukung, aspek nutrisi juga menjadi faktor utama dalam budidaya ayam kampung. Ayam memerlukan pakan berkualitas dengan komposisi seimbang yang mencakup protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral untuk menunjang pertumbuhan optimal serta menjaga daya tahan tubuhnya.

Selain itu, pengawasan kesehatan ayam secara berkala sangat penting untuk mencegah penyakit, meningkatkan tingkat keberhasilan budidaya, serta memastikan hasil ternak yang sehat dan berkualitas. Langkah ini mencakup vaksinasi, pemantauan gejala penyakit, serta penerapan kebersihan kandang yang ketat.

Beragam Potensi dan Manfaat dari Ayam Kampung

Selain memberikan manfaat ekonomi dari hasil penjualan, beternak ayam kampung juga membuka peluang bagi kelompok tani untuk menerapkan sistem pertanian terpadu.

Salah satu manfaat utama dari usaha ini adalah pemanfaatan kotoran ayam sebagai pupuk organik. Pupuk ini dapat meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman hortikultura yang dikelola oleh kelompok tani. Dengan adanya pupuk organik, biaya pembelian pupuk kimia dapat ditekan, menjadikan usaha pertanian lebih hemat dan ramah lingkungan. Selain itu, sistem pertanian terpadu menciptakan siklus produksi yang lebih efisien, di mana limbah ternak dimanfaatkan kembali untuk mendukung sektor pertanian.

Lebih dari sekadar keuntungan finansial, beternak ayam kampung juga membawa manfaat sosial bagi komunitas. Kegiatan ini memperkuat semangat gotong royong di antara anggota kelompok tani serta memberikan peluang bagi mereka untuk mengembangkan keterampilan baru dalam beternak dan mengelola usaha secara mandiri.

Penutup 

Pendampingan dalam budidaya ayam kampung ini menjadi bukti nyata pemberdayaan komunitas dapat berjalan selaras dengan keberlanjutan lingkungan. Dengan dukungan berbagai pihak serta semangat gotong royong, program ini diharapkan terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak komunitas untuk memanfaatkan lahan pekarangan secara produktif.

Ke depan, Kelompok Wanita Tani (KWT) Gapoktan Wanatani Lestari berencana meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar penjualan ayam kampung. Langkah ini akan membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi anggotanya, sekaligus berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan di daerah mereka.

Pendampingan seperti ini membuktikan inovasi di sektor pertanian mampu memberikan manfaat luas, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Mari bersama mendukung pertanian berkelanjutan dan memberdayakan lebih banyak komunitas untuk mandiri!

Pengalaman Herma dan Isna Magang Multidivisi: Belajar SMART Patrol sampai Membuat Pestisida Nabati

HERMA YULIANTIKA

Proses melepaskan plastik sambungan stek pucuk bibit alpukat bersama kelompok tani beringin 4 (Dok. pribadi)

Halo, Sobat #KonservasYIARI saya Herma Yuliantika kerap disapa dengan panggilan herma. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Sumatera, program studi S1 Rekayasa Kehutanan semester 6, Saya berasal dari Kotabumi Utara, Lampung Utara. Sebagai seorang mahasiswa Rekayasa Kehutanan, saya tertarik untuk mengikuti magang di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) untuk mengeksplorasi kegiatan di YIARI, kemudian saya juga pernah mengikuti kegiatan di YIARI sebagai volunteer penelitian kupu-kupu pada Agustus 2022.

Saya memiliki minat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pengendalian hama & penyakit atau pemeliharaan tanaman, salah satunya yaitu pestisida nabati. Salah satu divisi di YIARI yaitu Community Developmet (Comdev) memiliki program pendampingan dan monitoring terhadap Gapoktan, salah satunya yaitu pembuatan pestisida nabati yang diaplikasikan di persemaian. Hal tersebut membuat saya semakin tertarik magang di YIARI.

Aktivitas saya selama magang lebih dominan mengikuti kegiatan COMDEV bersama bang Aji Mandala. Saya mengikuti kegiatan pendampingan dan monitoring peternakan dan persemaian di kelompok tani Sumber Makmur, di lokasi tersebut juga saya melakukan wawancara dengan mas wawan dan ibu sri mengenai pestisida nabati yang sudah mereka aplikasikan sebagai bahan pengetahuan saya dalam melakukan penelitian, hasil dari wawancara yang saya dapatkan bahwa kelompok tani yang dibina oleh YIARI cenderung memiliki kemajuan berpikir dalam pengelolaan pertanian yang ditandai dengan penggunaan pestisida nabati yang lebih dominan dibandingkan pestisida kimia.

Kemudian, saya juga mengikuti monitoring persemaian di kelompok tani beringin 4 dan balai rejo. Saat monitoring persemaian di beringin 4, saya bersama anggota kelompok tani mencoba membuat pestisida nabati sebagai bahan penelitian saya yang terbuat dari bahan brotowali dan sereh wangi yang diaplikan pada hama ulat dan penggerek buah kopi.

Hasil diskusi yang saya dapatkan dari kelompok tani beringin 4, penggerek buah kopi menjadi permasalahan yang cukup merugikan petani, oleh sebab itu saya memilih penggerek buah kopi sebagai bahan uji coba pestisida nabati. Hasil pengujian mortalitas yang dilakukan, pestisida nabati cenderung efektif pada hama ulat dan penggerek buah kopi di semua perlakuan hanya yang membedakan lamanya waktu kematian hama.

Herma bersama kelompok tani membuat pestisida nabati dari sereh wangi dan brotowali (Dok. pribadi)

Saya berkesempatan untuk belajar menggunakan aplikasi SMART oleh Mas Ari Sutopo, beliau mengajarkan penggunaan smart desktop dan mobile. Kemudian, saya juga berkesempatan mengikuti kegiatan edukasi oleh kak inggit dalam acara ulang tahun ke-8 Taman Baca Jalosi Sanak Negeri.

Saya juga belajar mengidentifikasi satwa dari hasil camera trap Batutegi yang didampingi oleh bang Aris, saat mengidentifikasi satwa tersebut saya cukup senang karena di hutan batutegi khususnya blok inti masih terdapat satwa yang sebelumnya belum pernah saya lihat secara langsung yaitu kuau, landak, kancil, musang leher kuning, linsang, babi, beruang, dan lain sebagainya.

Kegiatan akhir yang saya ikuti yaitu acara Hari Bebas Plastik Sedunia di gunung tanggamus bersama IAR-BOLANG LANSIA, dari acara tersebut saya jadi memiliki pengalaman mendaki di campground gunung tanggamus dan membuka pemikiran saya mengenai bahaya nya sampah plastik terhadap lingkungan.

Banyak pengalaman menarik selama magang di YIARI, baik di lapangan atau di kantor. Kegiatan COMDEV merupakan kegiatan yang paling berkesan untuk saya karena di COMDEV saya mendapatkan ilmu baru mengenai pengelolaan pertanian dan peternakan yang bijak, serta meningkatkan jiwa bersosialisasi bersama kelompok tani.  Hal menarik lainnya yaitu saya banyak bertemu orang-orang yang hebat di YIARI ataupun komunitas-komunitas lain yang menambah ilmu pengetahuan saya. 

ROISNA YURISBA

Proses pembuatan pestisida nabati dengan bahan disekitar lingkungan masyarakat (Dok. pribadi)

Hai teman-teman, nama saya Roisna Yurisba biasa dipanggil Isna. Saya adalah mahasiswa semester 6 Program Studi S1 Rekayasa Kehutanan dari Institut Teknologi Sumatera, saya berasal dari Tanggamus. Saya tertarik melakukan kegiatan magang di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dikarenakan Program Studi yang saya tempuh memiliki kegiatan yang sama dengan YIARI, sehingga saya dapat peluang untuk belajar, mengasah keterampilan, mengeksplorasi minat, berkontribusi dan dapat membuka pandangan tentang masa depan.

Saya mengenal YIARI saat Bapak Robithotul Huda, S.Si., M.Ling menghadiri acara Seminar Nasional Hasil Ekspedisi Observasi Lingkungan Kehutanan (ORANGUTAN) yang diadakan oleh Himpunan FORESTA serta rekomendasi teman yang pernah menjadi volunteer di naungan YIARI. 

Kegiatan yang telah saya lakukan selama sebulan magang di YIARI Indonesia antara lain mempelajari penggunaan dan mengolah data di SMART App yang berguna untuk mengumpulkan data yang terjadi di sekitar lingkungan didampingi oleh Bang Ari, berkesempatan dapat mengidentifikasi dan mengetahui persebaran satwa liar yang ada di kawasan Batutegi dari camera trap yang didampingi oleh Bang Aris dan melakukan kegiatan Community Development (Comdev) diantaranya menghadiri ulang tahun ke-8 Taman Baca Jalosi Sanak Negeri di Batutegi.

Di sana saya melihat bagaimana antusiasnya anak-anak dalam memeriahkan acara tersebut, saat itu saya bertanya kepada keluarga pemilik Taman Baca tersebut dan menyatakan bahwa anak-anak sangat senang membaca buku bahkan datang ke Taman Baca sebelum waktu yang ditentukan, mengikuti pemantauan dan evaluasi terhadap Gapoktan di Sumber Makmur, Beringin 4, dan Balai Rejo dimana saya mengetahui bagaimana cara melakukan persemaian yang baik terhadap jenis tanaman yang berbeda, pembuatan JAKABA (Jamur Keberuntungan Abadi).

Kemudian saya berkesempatan diajak oleh Kak Inggit untuk mengikuti edukasi Peringatan Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia yang diadakan di Gunung Tanggamus. Penelitian yang saya lakukan di YIARI adalah uji efektivitas insektisida nabati menggunakan bahan buah maja dengan campuran kunyit yang dilakukan di desa Beringin 4 bersama Gapoktan yang dibantu oleh Bang Aji. 

Pembuatan Pestisida Nabati Buah Maja dan Kunyit yang Dibantu Oleh Petani Gapoktan Beringin 4 (Dok. pribadi)

Menurut hasil wawancara bersama Gapoktan desa Beringin 4 menyatakan bahwa hama penggerek buah dapat menyebabkan kerusakan sebesar 20 % yang mengakibatkan buah kopi mengalami pembusukan. Sehingga dengan dibantu dalam pencarian buah maja dan kunyit di lahan petani diharapkan hasil Insektisida Nabati yang telah saya buat dapat mematikan hama tersebut dan menjadi solusi bagi petani kopi. Menurut saya hasil desa yang di bina oleh YIARI sangat berdampak positif bagi pola pikir warga yang dulunya bekerja sebagai pemburu sekarang fokus terhadap persemaian dan warga setempat sangat aktif mengikuti kegiatan dari YIARI seperti berkontribusi mengikuti sekolah lapang.

Selain ramah lingkungan, alasan warga memilih menggunakan pestisida nabati dibandingkan pestisida kimia adalah rendah residu terpaparnya pada hewan, penggunaan lebih aman, bermanfaat bagi kesehatan manusia, dan memanfaatkan keanekaragaman hayati setempat untuk dijadikan sebagai pestisida nabati sehingga saya mendapatkan pengalaman selama magang di YIARI seperti saya memperoleh banyak pengalaman baru, meningkatkan semangat yang tinggi terhadap pengetahuan baru, saya senang bertemu dengan warga yang dapat bertukar informasi terkait pertanian dan bagaimana mengelola tanaman yang baik serta para staf YIARI yang mau membagikan pengetahuannya kepada saya. 

Tim Edukasi YIARI Ajak Anak-Anak Berkreasi Mendaur Ulang Sampah Di Hari Peduli Sampah Nasional

Dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), tim edukasi YIARI di Lampung dan Kalimantan Barat lagi kompakan nih bikin kegiatan sama adik-adik mengenai sampah. Kegiatan yang punya tajuk “Daur Ulang Sebelum Dibuang” ini juga merupakan ajang kreativitas buat adik-adik berkreasi dengan sampah.

Kebetulan banget, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada HPSN 2024 ini mengangkat tema utama yaitu “Atasi Sampah Plastik Dengan Cara Produktif”. Tema ini dipilih sebagai bentuk dukungan dan dorongan terhadap partisipasi masyarakat dalam upaya pengolahan sampah melalui usaha produktif.

Meski lokasi kegiatannya beda-beda, tentunya tim edukasi punya misi khusus untuk menyisipkan pesan lingkungan selama berkegiatan. Setidaknya dari pesan yang tipis-tipis tersebut, adik-adik bakal lebih aware sama isu sampah. Kelak, kepedulian mereka semakin menyala sama lingkungan.

Aksi Bersih Sampah di Sekolah

Di tanggal 22-23 Februari, tim edukasi Ketapang YIARI berkolaborasi dengan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Dinas Perkim-LH) menginisiasi kegiatan di SDN 23 Matan Hilir Selatan. Kegiatan kolaborasi ini juga melibatkan kakak-kakak mahasiswa Politap Negeri Ketapang sebagai kakak pendamping.

Edukasi daur ulang sampah kepada siswa sekolah di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kalimantan Barat dibimbing oleh kakak-kakak dari Dinas Perkim-LH (Edukasi/Media | YIARI)

Menurut Kak Vio nih, selaku koordinator edukasi di Pematang Gadung. Adik-adik di sekolah masih terbiasa jajan dan membuang sampahnya sembarangan. Oleh karena itu, saat kegiatan berlangsung kak Vio menerapkan aturan khusus kepada siswa-siswa.

“Kita imbau adik-adik nih buat bawa bekal makan dan minum sendiri dari rumah, supaya mereka terbiasa mengurangi produksi sampah,” kata kak Vio menjelaskan aturan selama kegiatan berlangsung.

Di hari pertama, Dinas Perkim-LH memaparkan materi mengenai kreasi-kreasi daur ulang dari sampah plastik. Baru setelah itu, siswa diberi waktu untuk membuat kreasinya sendiri.

“Kita dorong siswa-siswa ini belajar mengolah sampahnya dengan kreativitas,” ucap Bang Yusuphan dari Dinas Perkim-LH selepas memberikan materi.

Bang Yusuphan berharap agar sampah plastik yang masih memiliki nilai guna tidak langsung dibuang begitu saja, tapi diolah kembali menjadi produk yang kreatif.

“Ga usah malu menggunakan barang daur ulang. Malu itu kalau buang sampah sembarangan,” kata kak Vio menimpali.

Pada hari kedua setelahnya, kegiatan dilanjutkan kembali dengan aksi bersih sampah di lingkungan sekitar sekolah. Tak disangka, ternyata sampah yang berhasil mereka kumpulkan mencapai 196 kg nih. Sebagai penutup kegiatan, adik-adik siswa SDN 23 Matan Hilir Selatan diajak melakukan penanaman pohon di halaman sekolahnya.

Bercerita tentang Miko si Mikroplastik

Lain halnya dengan tim edukasi Batutegi, Lampung yang melakukan kegiatan di 23 Februari 2024. Berkolaborasi dengan Taman Baca Jalosi Sanak Negeri, kegiatan HPSN diisi terlebih dulu dengan mendengarkan cerita tentang perjalanan Miko si Mikroplastik.

“Kisah Miko ini merupakan buku karya dari kak Elif,” tutur Hinggrit yang merupakan tim edukasi Batutegi. Kak Elif yang dimaksud adalah relawan YIARI yang juga aktif di komunitas lingkungan ASA Konservasi. 

Pada cerita si Miko, adik-adik dikenalkan dengan sampah plastik yang berasal dari pecahan-pecahan plastik yang hancur. Pecahan plastik ini berukuran sangat kecil sekali hingga tak lagi nampak dilihat oleh mata.

Plastik yang tak dapat terurai, hanya berubah wujud menjadi serpihan mikro. Serpihan plastik ini ternyata tetap menjadi masalah baru bagi lingkungan sekitar. Tanpa kita sadari, mikroplastik bisa masuk ke dalam tubuh manusia. Hal ini bisa terjadi jika lingkungan yang tercemar mikroplastik termakan oleh hewan yang kemudian dikonsumsi oleh manusia.

Lambat laun, keberadaan mikroplastik dalam tubuh manusia dapat menyebabkan sakit dan penyakit. Ini lah pentingnya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tidak hanya merusak lingkungan, tapi juga bisa membahayakan ekosistem alami.

“Melalui buku ini, adik-adik kita ajak mengenal jauh tentang sampah plastik yang tak kasat mata. Setidaknya mereka jadi tahu bahwa akibat membuang sampah sembarangan itu tidak hanya berakibat banjir saja. Ada hal lain yang justru tidak kita lihat dampak buruknya,” ucap kak Hinggrit menjelaskan.

Di akhir kegiatan, adik-adik kemudian diajak berkreasi mendaur ulang sisa sampah yang biasa ditemui sehari-hari. Baik itu sampah kering dari tumbuhan, juga sampah plastik bekas minuman.

Di Batutegi, adik-adik dari Taman Baca Jalosi Sanak Negeri membuat kerajinan gantungan kunci dari limbah organik (Edukasi/Media | YIARI)

Alumni Kahiu Academy Inisiatif Bersih Sampah di Desa

Tidak mau kalah, beberapa alumni Kahiu Academy batch 2 juga memiliki inisiatif serupa yang dilakukan di lingkungannya masing-masing. Sepulang dari Kahiu Academy, Ucil, Andika dan William yang berasal dari Desa Mawang Mentatai mengajak adik-adik SDN 26 Mentatai Beloyang kegiatan aksi bersih sampah di lingkungan sekolah.

“Saya senang bisa berbagi ke sekolah tempat saya belajar dulu,” kata Ucil yang dulu sempat menjadi siswa di SDN 26 Mentatai Beloyang. 

Ucil dan kawan-kawan senang bisa berbagi hal positif yang selama ini mereka dapatkan selama mengikuti Kahiu Academy. Selain mengajak kegiatan aksi bersih sampah, mereka bertiga juga mengajarkan materi tentang melindungi hutan dan satwa-satwa dari kerusakan.

Bergeser di desa sebelah, kegiatan serupa juga dilakukan oleh Aldi bersama tim edukasi Melawi di Desa Nusa Poring. Aldi mengajak adik-adik di dusunnya untuk melakukan aksi bersih sampah di lingkungan tempat tinggal mereka. Dari sampah yang terkumpul, mereka mengubahnya menjadi kreasi barang bekas.

Adik-adik dari Desa Nusa Poring di Kabupaten Melawi memamerkan hasil karya daur ulang mereka (Edukasi/Media | YIARI)

Jauh di seberang pulau, Sandi menginisiasi gerakan bersih pantai di Pulau Cempedak tempat ia tinggal. Komitmen ini sempat diutarakannya saat penutupan Kahiu Academy. Aksi bersih pantai ini menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap minggu bersama anak-anak sekitar.

“Sampah plastik bukan hanya bikin tak elok pemandangan, tapi juga merusak ekosistem,” kata Sandi.

Menurut Sandi, potensi alam Pulau Cempedak ini bisa rusak akibat sampah. Apalagi, Pulau Cempedak merupakan salah satu tempat konservasi mangrove dan Dugong. Sandi berharap, aksi kecilnya ini akan diikuti oleh masyarakat lainnya untuk bersama-sama merawat Pulau Cempedak.

6 Fakta Julang Emas, Indikator Hutan yang Sehat dan Terjaga

Sobat #KonservasYIARI tau gak Indonesia memiliki total spesies burung yang kaya banget, totalnya sebanyak 1826 spesies! Salah satunya adalah julang emas, yang sebarannya luas banget. Wilayah sebarannya meliputi Butan Selatan, India Timur, Cina Barat Daya, Asia Tenggara dan Semenanjung Malaysia. Di Indonesia sendiri, julang emas tersebar di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali, juga termasuk beberapa pulau lepas pantai.

Mereka umumnya hidup di hutan dataran rendah dan perbukitan sampai ketinggian 2.000 m. Namun jangan salah, Ia gak pernah asal pilih hutan untuk dijadikan habitatnya loh. Julang emas dianggap tidak toleran terhadap hilangnya habitat karena membutuhkan area hutan yang luas dan terjaga.

Selain fakta tersebut, masih ada beberapa fakta lain burung dengan nama ilmiah Rhyticeros undulatus ini, yuk simak Sob!

1. Satu Keluarga dengan Rangkong

Yoi Sob, Julang emas termasuk dalam famili Bucerotidae, seperti rangkong, enggang, julang, dan kangkareng. Semua jenis burung tersebut dalam bahasa inggris biasa disebut dengan Hornbill. Burung-burung pada famili ini dikenal memiliki 

Nama ilmiah ‘Buceros’ dalam bahasa Yunani memiliki arti tanduk sapi, yang merujuk pada bentuk paruhnya. Burung-burung pada famili ini memiliki paruh seperti tanduk sapi yang berwarna terang. 

2. Merupakan Satwa Dimorfik

Julang emas jantan (Bobby Muhidin | YIARI)
Julang emas betina (Bobby Muhidin | YIARI)

Julang emas merupakan satwa termasuk dimorfik, yaitu satwa yang dengan penampakan berbeda antara jantan dan betinanya. Perbedaan jenis kelamin dari burung ini dapat dilihat dari warna temboloknya, warna kepala, dan warna bulu pada tengkuk.

Tembolok (gular skin) adalah kantong leher burung yang bisa digunakan untuk menyimpan makanan. Warna tembolok julang emas jantan umumnya berwarna kuning terang dengan garis hitam, sedangkan tembolok betina berwarna biru. Warna kepala jantan julang emas krem dengan bulu kemerahan bergantung dari tengkuk, sedangkan kepala dan tengkuk betina berwarna hitam. 

3. Betina Menjaga dan Membesarkan Anak dari Lubang Sarang

Tau gak sih kalau burung-burung dari famili Bucerotidae ini memiliki sistem bertelur yang unik, Sob? Mereka membutuhkan lubang pohon alami sebagai tempat tinggal sementara individu betina, sekaligus untuk melindungi ia dan anaknya dari predator. Ia akan berada dalam sarang ini selama masa bertelur, hingga sang anak dinilai siap untuk belajar terbang.

Nah, lubang alami pada pohon tersebut kemudian ditutup menggunakan tanah, lumpur, kotoran dan sisa makanan, sampai  besar lubang tersebut hanya sebesar paruh mereka aja. Lubang tersebut akan digunakan sebagai jalur jantan menyuapi betina dengan makanan yang sudah ia kumpulkan dari hutan, juga sebagai pintu mengeluarkan kotoran atau fesesnya.

Dengan jumlah telur yang biasanya berjumlah 2 butir, biasanya hanya satu anak burung yang selamat sampai dewasa. Spesies ini menghabiskan waktu bersarang sekitar 111-137 hari, dengan masa persiapan dan bertelur 13-14 hari, lalu masa pengeraman telur 40 hari dan masa perawatan anak burung 90 hari. Jadi dalam waktu tersebut, sang ibu harus tetap berada dalam sarang tersebut, loh! Luar biasa ya perjuangan sang Ibu!

4. Setia! Sang Jantan akan Memberi Makan Betina Selama Masa Bertelur

Julang emas jantan sedang memberi pakan pada sang betina yang berada di dalam lubang sarang (Aris Subagio | YIARI)

Selain karena monogami, spesies ini juga dikenal setia karena selama masa bertelur, sang jantan lah yang memiliki tugas penting untuk mencari pakan. Gak cuma untuk dirinya sendiri loh, tapi juga untuk sang betina di sarang, sweet banget ya. Makanan utama burung ini adalah buah-buahan seperti buah ficus. Selain itu burung ini juga akan memakan satwa kecil seperti serangga, kadal, katak, dan beberapa satwa kecil lain untuk memenuhi kebutuhan proteinnya.

Julang emas jantan akan menyimpan pakan pada temboloknya, yang kemudian akan dikeluarkan satu per satu pakan dari dalam temboloknya ke ujung paruh. Ia kemudian memosisikan paruhnya untuk menyuapi sang betina.

Ketika sedang tidak dalam masa bertelur, julang emas akan terbang bersama pasangannya, atau dalam kelompok kecil. Mereka terbang dengan kepakan sayap yang berat dan suara keras. 

5. Rentan Punah

1826 spesies burung di Indonesia pada 2023, menunjukkan peningkatan 11 spesies dari tahun sebelumnya. Namun juga menunjukkan pengurangan tiga spesies juga, Sob😞. Ternyata masih ada ancaman terhadap kelestarian burung Indonesia ya.

Kini julang emas Memiliki Status Konservasi Vulnerable atau rentan punah.Hilangnya luasan hutan karena kebakaran hutan, maupun perambahan wilayah hutan menjadi ancaman hilangnya habitat julang emas ini. Ia juga terancam dari perburuan liar karena bentuk paruhnya yang unik. Sedangkan dari cerita diatas, coba bayangkan deh apa yang akan terjadi kalau sang jantan diburu. Otomatis dengan memburu satu julang jantan sama dengan membunuh seluruh keluarga julang, kan? 😭

YIARI rutin melakukan pendataan keanekaragaman hayati satwa dan tumbuhan di beberapa lokasi, salah satunya ialah Hutan Lindung Batutegi. Fungsi pendataan kehati ini adalah untuk melihat potensi kawasan dan kesesuaian kawasan tersebut untuk habitat atau kehidupan satwa liar. 

Pendataan jenis burung di kawasan HL Batutegi sendiri telah dilakukan sejak tahun 2009, namun kegiatan ini belum dilaksanakan secara rutin. Survey keragaman satwa mulai dilakukan secara khusus dengan membuat jalur-jalur pengamatan di blok inti kawasan HL Batutegi pada akhir tahun 2016.

Berdasarkan kompilasi data yang telah dilakukan dari 2009 hingga 2021, jumlah jenis burung di kawasan HL Batutegi telah mencapai 245 jenis yang tergabung ke dalam 61 famili. Salah satu spesies yang ditemukan ialah burung langka dan terancam punah ini, julang emas.

6. Indikator Hutan yang Sehat dan Terjaga

Jadi tahu kan Sob, untuk bisa berkembangbiak, julang emas membutuhkan pohon yang besar dan tinggi dengan lubang alami. Pohon dengan karakteristik ini tentunya hanya bisa ditemukan pada area hutan yang luas dan terjaga dong? Karena itu, julang emas dianggap tidak toleran terhadap hilangnya habitat hutan.

Perkembangbiakan julang emas di wilayah HL Batutegi menunjukkan bahwa kondisi hutan di KPH Batutegi sehat, luas, aman, dan terjaga. Wilayah ini bisa menjadi habitat yang baik bagi sang julang emas tentunya karena peran KPH Batutegi, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, dan YIARI, yang senantiasa melakukan patroli hutan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam di dalamnya!

Faktanya, hutan juga membutuhkan spesies ini untuk dapat lestari, loh! Dengan daya jelajahnya yang luas, ia dapat membantu penyebaran berbagai benih tumbuhan. Regenerasi vegetasi hutan dapat terjadi secara alami melalui benih tumbuhan sisa makanan atau yang terkandung pada fesesnya.

Semoga kita semua makin sadar akan pentingnya peran julang emas untuk hutan. Satwa cantik dengan suara unik ini seharusnya tetap lestari bebas di hutan ‘kan, bukan di dalam kandang? 🐦🌳

 

Referensi:

  1. Burung.org 
  2. Rangkong.org
  3. Kemp AC, Boesman PFD. 2020. Wreathed Hornbill (Rhyticeros undulatus). In del Hoyo J; Elliott A; Sargatal J & Christie DA. (eds.). Handbook of the Birds of the World. Vol. Volume 6: Mousebirds to Hornbills. Barcelona: Lynx Edicions. ISBN 978-8487334306.
  4. Robithotul Huda. 2022. Burung Liar Kawasan Hutan KPH Batutegi, Lampung. Menyingkap Keragaman Burung di Hutan Lindung Batutegi.  YIARI (ID): Bogor.
  5. Featured image: Uci Sanusi | YIARI

 

Fathia Rosatika

Lomba Cepat Tepat “Hutan dan Kehidupan”: Bersama Young Forester Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan Generasi Muda

Dalam rangka memberi pendidikan dan penyadartahuan lingkungan kepada generasi muda, terutama generasi Z di Provinsi Lampung, Young Forester mengadakan kegiatan rangkaian Lomba Cepat Tepat (LCT) dan Workshop “Hutan dan Kehidupan”. Young forester adalah organisasi binaan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung yang terdiri dari rimbawan dan staf muda lembaga pemerintahan. Tahap penyisihan LCT dilakukan pada 11 Desember secara daring, dan babak final pada 14 Desember 2023 di Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Bandar Lampung. Kegiatan LCT ini didukung oleh berbagai pihak dan instansi di masyarakat, meliputi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP), Rainforest Alliance, Pertamina, dan Tanggamus Electric Power. Kompetisi ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa di tahun sebelumnya yaitu Lomba Cepat Tepat “Literasi Konservasi” di Kabupaten Tanggamus, Lampung. 

Mengingat kegiatan lomba cepat tepat yang sukses dan berdampak bagi para peserta yang diadakan pada tahun sebelumnya, pada tahun ini Dinas Kehutanan Provinsi Lampung mengajak Young Forester untuk melakukan suatu kegiatan positif dengan tetap mengutamakan unsur konservasi didalamnya, sehingga diadakannya kembali kegiatan Lomba Cepat Tepat pada tahun ini dengan isu dan keragaman hayati di seluruh hutan Provinsi Lampung. Dari 56 tim yang terdiri dari 3 orang per sekolah yang mendaftar di babak penyisihan online, sebanyak 30 tim lolos ke dalam babak perempat final.

Suasana saat pertandingan perempat final Lomba Cepat Tepat “Hutan dan Kehidupan” (Fattreza Ihsan | YIARI)

Di babak final, SMA Negeri 2 Kota Agung berhasil menyabet juara pertama. Disusul oleh SMA YP Unila yang meraih juara kedua dan SMA Negeri 1 Purbolinggo yang meraih juara ketiga. Salah seorang anggota tim yang mewakili juara pertama ini, Frenika Rorensia mengungkapkan kesannya mengenai bagaimana ia mendapatkan pengalaman dan ilmu baru yang ia tidak dapatkan di sekolah ketika mempersiapkan diri mengikuti lomba ini.

“Saya menjadi lebih paham mengenai isu perubahan iklim, karena kami mempelajari lagi mengenai perubahan iklim untuk mengikuti lomba ini. Ada beberapa hal yang tidak dipelajari di sekolah mengenai isu perubahan iklim, seperti materi mengenai SDGs (Sustainable Development Goals)”, ujar Franika.

Momen Pemberian Piala dan Piagam Penghargaan dari Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung,  Ir. Yanyan Ruchyansyah, M.Si., kepada para peserta dari SMA Negeri 2 Kota Agung (Fattreza Ihsan | YIARI)

Kesan dari peserta LCT ini juga sejalan dengan tujuan kegiatan yang disampaikan oleh Eko Prasetyo, S.Hut., Penyuluh Kehutanan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung selaku Ketua Pelaksana LCT ini, dimana kesadaran mengenai isu lingkungan harus segera disampaikan kepada para generasi muda. “Sebagai penyuluh kehutanan, dalam menghadapi generasi generasi muda, terutama anak sekolah, kita harus bisa menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga hutan itu penting bagi mereka, secara tidak langsung,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan sarana untuk mendekatkan pendidikan konservasi kepada masyarakat muda di Lampung.

Menurut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Ir. Yanyan Ruchyansyah, M.Si., momen kegiatan LCT ini juga menjadi strategi dalam mendorong pengembangan staf muda Dinas Kehutanan yang tergabung dalam organisasi Young Forester ini. “Tanpa adanya batasan fungsi, tanpa adanya batasan atasan-bawahan, saya harap kegiatan ini mampu mengeksplor potensi-potensi para staf muda kami. Karena merekalah yang nantinya akan memegang jabatan penting dalam pemerintahan sebagai ASN,” tegasnya.

Kegiatan LCT “Hutan dan Kehidupan” ini kemudian ditutup dengan workshop dari lembaga swadaya masyarakat yang beroperasi di Sumatera. Di antaranya ialah pemaparan dari YIARI, WCS-IP, Rainforest Alliance, serta komunitas Pramuka Saka Wanabakti. Masing-masing lembaga memberi penyuluhan dan penyadartahuan terkait bidang-bidang kerjanya bagi para siswa SMA/SMK yang hadir di acara ini.

Mengenal Program Holistik YIARI dalam Melindungi Kawasan Hutan Lindung Batutegi, Lampung

Melindungi kawasan hutan sebagai area habitat satwa liar sekaligus sumber masa depan ekosistem alam, merupakan salah satu fokus kegiatan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), lembaga yang berdiri di Indonesia sejak tahun 2008 dengan penyandang dana utama dari International Animal Rescue (IAR) yang berpusat di Inggris. Salah satu program YIARI adalah bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung untuk berkegiatan di Hutan Lindung (HL) Batutegi yang dikelola oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batutegi.

Di HL Batutegi inilah, YIARI telah berkegiatan sejak tahun 2008. Di tahun-tahun awal, kegiatan YIARI masih fokus pada kegiatan yang berhubungan dengan satwa dan habitatnya, di antaranya pada perlindungan dan patroli kawasan serta pelepasliaran satwa liar hasil rehabilitasi YIARI . Namun pada perkembangannya, kerja sama dengan KPH Batutegi mulai berkembang seiring melihat figur kawasan yang berdasarkan SK. 650/Menhut-II/2010, memiliki total luas kawasan sebesar 58.162 hektar, telah berubah menjadi lahan perkebunan dan tersisa ± 17,4 % dari total luas kawasan yang masih alami. 

Landscape Wilayah Hutan Lindung KPH Batutegi (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Upaya mempertahankan kawasan yang masih tersisa ini diperlukan melihat masih ditemukannya keragaman satwa di dalam HL Batutegi di antaranya harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), kucing emas (Catopuma temminckii), musang bulan (Paguma larvata), siamang (Symphalangus syndactylus), beruk (Macaca nemestrina), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), simpai (Presbytis melalophos), dan kukang sumatera (Nycticebus coucang). Karena itulah diperlukan pendekatan holistik untuk melindungi kawasan ini dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Mendukung perlindungan dan pengamanan habitat satwa liar kawasan hutan KPH Batutegi
  2. Mendukung upaya pendataan potensi keanekaragaman hayati kawasan hutan KPH Batutegi
  3. Mendukung program pendampingan masyarakat dalam pengelolaan wilayah HKm KPH Batutegi secara optimal sehingga  memberikan manfaat ekonomi maupun ekologis
  4. Mendukung upaya penyadartahuan masyarakat sekitar kawasan tentang fungsi dan manfaat hutan

Untuk itulah pada 15-17 September 2023, YIARI mengundang beberapa perwakilan media nasional yaitu Kompas Cetak/Kompas.id, Tempo.co, Mongabay Indonesia, Suara.com, Lampungpride.com, dan Lampung Post. Para wartawan ini juga berasal dari lembaga-lembaga jurnalisme terhormat di Indonesia, di antaranya Aliansi Jurnalisme Independen (AJI) dan SIEJ (Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia). 

Di hari pertama, yaitu 15 September, para media diajak untuk mengenal kegiatan pendampingan masyarakat bagi Gapoktan Sumber Makmur. Total anggota Gapoktan Sumber Makmur mencapai 840 petani dari 18 KTH (Kelompok Tani Hutan). Dari kantor program YIARI di Air Naningan, Batutegi, lokasi kegiatan Gapoktan Sumber Makmur ini ditempuh selama 3 jam melalui jalur darat, air, kemudian jalur darat lagi dengan medan yang cukup terjal.

Sesampainya di lokasi, acara dibuka oleh Robithotul Huda selaku Senior Manager Program Resiliensi Habitat YIARI yang mengelola kegiatan di Batutegi. “Kami telah hadir mendampingi petani di kawasan Hutan Lindung Batutegi sejak tahun 2017. Melalui pendampingan, kami mengajarkan cara-cara efektif dalam menerapkan agroforestry. Hal ini dikarenakan banyak petani berpikir bahwa meningkatkan produksi pertanian mereka dengan cara membuka lahan seluas-luasnya. Padahal solusinya bukan itu.

Dengan batasan lahan yang bisa mereka olah menurut UU Perhutanan Sosial yaitu 2 hektar, jika digarap dengan benar dan efektif, hasilnya akan bagus. Untuk pola pendampingan yang kami terapkan adalah melihat terlebih dahulu situasi yang dihadapkan para petani, menanyakan apa harapan mereka, dan dari situ kami masuk pelan-pelan. Dengan cara ini, para petani juga tidak terus menerus tergantung dengan kami,” ujar Robithotul Huda.

Mengunjungi Salah Satu Gapoktan Dampingan YIARI, Gapoktan Sumber Makmur (Muffidz Ma’sum dan Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

Dayat, Ketua Gapoktan Sumber Makmur menyampaikan apresiasi atas kegiatan pendampingan yang telah mereka ikuti selama ini. “Dulu sebelum didampingi YIARI, kami berpikir hanya pada hasil kopi saja. Kini setelah melalui pendampingan, kami jadi mempelajari tanaman-tanaman produksi lainnya yang ternyata sama-sama bagus hasilnya, seperti tanaman kemiri, pala, dan pinang.

Kami berharap semoga seperti nama Gapoktan kami, yaitu Sumber Makmur, pendampingan yang telah kami jalani ini menjadi sumber kemakmuran bagi para anggota kami,” ujar Dayat. Dalam kunjungan ini, para anggota Gapoktan Sumber Makmur mengajak rombongan jurnalis untuk berkeliling melihat fasilitas yang ada sambil bercerita tentang kemampuan yang telah mereka kuasai.

Fasilitas yang ada di antaranya ialah persemaian dan kandang kambing. Bibit yang terdapat pada persemaian menyesuaikan komoditas pilihan petani, di antaranya pala, alpukat, dan pinang. Semai disimpan pada ecopolybag, kantung bibit dari bahan bambu sehingga ramah lingkungan yang juga merupakan hasil produksi mandiri gapoktan ini.

Untuk peternakan, para jurnalis diajak melihat kandang kambing yang ada dirancang khusus ini memiliki sistem yang membuat kandang cenderung lebih higienis dibandingkan kandang kambing biasanya. Lantai kandang dibuat berjarak sehingga kotoran kambing terkumpul otomatis pada bagian bawah kandang. Begitu juga urin kambing yang dialirkan otomatis melalui pipa. Kotoran dan urin ini pun kemudian akan diolah dengan campuran lainnya untuk menjadi pupuk.

Pembekalan yang diberikan oleh YIARI kepada para petani ini dijalankan dengan nama Sekolah Lapang, yang dimentori oleh Eko Sukamto, pakar pertanian organik nasional. Sekolah Lapang ini telah dijalankan selama tiga kali sejak September 2022. “Kami berharap para petani ini bisa menerapkan pertanian alami, di mana pemecahan semua masalah pertanian yang mereka alami itu sebenarnya sudah ada di alam. Misalnya tanaman apa yang bisa mengundang serangga atau binatang-binatang yang bisa membasmi hama pada tanaman kopi, hingga menerapkan satu siklus seperti memanfaatkan limbah kotoran ternak sebagai pupuk bagi tanaman mereka. Menerapkan siklus ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi masalah mereka seperti mahalnya harga pupuk,” ujar Eko Sukamto.

Pada sekolah lapang pertama, para petani ini mulai belajar metode-metode agroforestri yang mampu meningkatkan hasil tani seperti pembuatan pupuk kompos dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).  Kemudian mereka belajar mengembangbiakkan jamur Trichoderma pada sekolah lapang kedua. Trichoderma atau jamur hijau ialah jamur yang berfungsi sebagai fungisida (agen pembunuh jamur) sekaligus dapat bermanfaat sebagai pupuk organik.

Selanjutnya pada sekolah lapang yang ketiga, mereka akan belajar mengambil trichoderma dari alam sehingga bisa membuat indukan trichoderma secara mandiri. Ibu Sriatmiatun, satu satunya wanita peserta sekolah lapang, dengan semangat menjelaskan hasil dan proses pembuatan produk Gapoktan. Produk tersebut di antaranya pupuk kompos atau pupuk padat, POC (Pupuk Organik Cair), MOL (mikroorganisme lokal), pestisida nabati, serta pestisida nabati dua kaki yang dapat membunuh hama dan penyakit. 

Agenda selanjutnya pada 16 September ialah kunjungan ke Stasiun Riset Way Rilau yang merupakan pusat penelitian Hutan Lindung Batutegi. Dari Desa Sumber Makmur, stasiun riset ini dapat ditempuh selama sekitar 2-4 jam, bergantung pada kondisi lingkungan, juga kemampuan fisik masing-masing. Didampingi oleh Kepala UPTD KPH Batutegi, Qadri; Polhut Ahli Madya atau Bapak Kepala Unit Polhut, Ruslan; Apri Supriyanti selaku polisi hutan (polhut), serta tim Resiliensi Habitat lainnya, para jurnalis berdiskusi terkait program RH yang telah dilaksanakan di lokasi Way Rilau ini. Mereka juga melihat langsung praktik penggunaan kamera jebak, juga simulasi penemuan jerat jebakan yang kerap ditemukan ketika melaksanakan patroli hutan.

Melihat kegiatan YIARI di kunjungan ke Stasiun Riset Way Rilau (Muffidz Ma’sum dan Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

“Stasiun ini sebenarnya belum launching sepenuhnya, namun nantinya saat diluncurkan secara resmi, maka stasiun ini akan menjadi satu-satunya di Provinsi Lampung. Dengan adanya stasiun ini, kami berharap kegiatan patroli kawasan dan monitoring keanekaragaman hayati menjadi lebih lancar dan sukses dalam mempertahankan keberadaan spesies-spesies yang ada di hutan ini,” ujar Robithotul Huda. 

Sejalan dengan harapannya, Richard Stephen Moore, Advisor Bagi Program YIARI di Jawa Barat dan Provinsi Lampung, menyampaikan bahwa Stasiun Riset Way Rilau bisa menjadi salah satu tahapan untuk mengangkat Batutegi ke wilayah internasional. “Kami berharap stasiun ini bisa menjadi tempat bagi para peneliti dan periset untuk melakukan penelitian di kawasan ini, sehingga bisa memunculkan publikasi-publikasi penting tentang keanekaragamanhayati di Batutegi,” ujar Richard. 

Kepala UPTD KPH Batutegi, Qadri menyampaikan harapannya agar stasiun riset ini dapat membantu mengumpulkan data keanekaragaman hayati untuk kemudian menjadi acuan strategi pengelolaan wilayah KPH. “Semoga stasiun riset ini dapat menjadi sarana prasarana peneliti untuk menggali keanekaragaman hayati di wilayah ini. Kami sangat membutuhkan data keanekaragaman, terutama terkait hewan kunci yang ada di wilayah KPH Batutegi ini. Data tersebut dapat menjadi acuan bagi kami dalam rangka menjaga dan membuat strategi pengelolaan KPH ke depannya. ”

Qadri juga menyampaikan bahwa KPH Batutegi sangat terbantu dengan keadaan YIARI, “Dengan adanya YIARI dan kolaborasi dengan berbagai pihak, kami merasa terbantu sekali. Rasanya tidak mungkin kami mengerjakan sendiri pengawasan area seluas 58 ribu hektar dengan personil yang terbatas. Terutama dalam upaya pengamanan, patroli, juga pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan, rehabilitasi, juga penyadartahuan terhadap pemuda. Kami merasa beruntung bisa terbantu oleh YIARI, sehingga tahun ini KPH Batutegi mendapatkan predikat KPH efektif tingkat nasional. Salah satu perbedaan yang terlihat ialah perbedaan pola tanam yang diterapkan para petani. Para petani yang tergabung dalam Gapoktan awalnya hanya monokultur menanam kopi, kini perlahan mulai menerapkan pola agroforestri.”

Mengunjungi Taman Baca Jalosi Sanak Negeri dan Melihat Penampilan Tari (Muffidz Ma’sum dan Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

Agenda terakhir kegiatan Media Visit adalah kunjungan ke Taman Baca Jalosi Sanak Negeri yang didirikan oleh Tamar Widadi (32 tahun). Pada Juni 2015, Tamar mulai mengajak anak-anak membaca di rumahnya. Taman baca dampingan YIARI sejak tahun 2019. Kerja sama dan dampingan dari YIARI dimulai dengan edukasi konservasi yang disampaikan melalui permainan, juga lomba mewarnai. “Jalosi berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti lubang angin atau ventilasi, yang kecil namun bermanfaat; sanak memiliki arti anak-anak; negeri memiliki arti negeri kita ini, Indonesia. Jadi harapannya Jalosi Sanak Negeri dapat menjadi sesuatu yang kecil namun bermanfaat untuk anak-anak dalam negeri,” ujar Tamar Widadi. 

Anak-anak yang rutin hadir mengikuti kegiatan berjumlah sekitar 20 – 30 anak. Namun ada pula acara besar tertentu di mana anak-anak yang hadir bisa mencapai 50 bahkan 70 anak. Usia anak-anak yang mengikuti kegiatan di Taman Baca Jalosi bervariasi. Mayoritas anak-anak yang mengikuti kegiatan di taman baca ini berada pada tingkat pendidikan SD kelas 1 sampai kelas 6. Terdapat pula beberapa anak SMP, bahkan beberapa anak yang belum memasuki usia sekolah dengan tingkat TK dan PAUD yang sudah semangat mengikuti kegiatan. Siswa siswi tingkat SMA pun ikut dilibatkan, bukan sebagai peserta melainkan sebagai sukarelawan yang membantu Tamar mengajar anak-anak lainnya sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat berkelanjutan.

Kegiatan edukasi konservasi yang dilakukan pada Taman Baca Jalosi ini sangat beragam, kebanyakan disampaikan dengan pendekatan yang santai dengan prinsip belajar dan bermain. Di antaranya dongeng tentang satwa, mewarnai satwa liar seperti owa, nonton bersama film tentang satwa. Taman Baca Jalosi ini juga aktif berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lain untuk mengadakan kegiatan pada hari besar peringatan terkait satwa dan lingkungan.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.