Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Tim Edukasi YIARI Ajak Anak-Anak Berkreasi Mendaur Ulang Sampah Di Hari Peduli Sampah Nasional

Dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), tim edukasi YIARI di Lampung dan Kalimantan Barat lagi kompakan nih bikin kegiatan sama adik-adik mengenai sampah. Kegiatan yang punya tajuk “Daur Ulang Sebelum Dibuang” ini juga merupakan ajang kreativitas buat adik-adik berkreasi dengan sampah.

Kebetulan banget, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada HPSN 2024 ini mengangkat tema utama yaitu “Atasi Sampah Plastik Dengan Cara Produktif”. Tema ini dipilih sebagai bentuk dukungan dan dorongan terhadap partisipasi masyarakat dalam upaya pengolahan sampah melalui usaha produktif.

Meski lokasi kegiatannya beda-beda, tentunya tim edukasi punya misi khusus untuk menyisipkan pesan lingkungan selama berkegiatan. Setidaknya dari pesan yang tipis-tipis tersebut, adik-adik bakal lebih aware sama isu sampah. Kelak, kepedulian mereka semakin menyala sama lingkungan.

Aksi Bersih Sampah di Sekolah

Di tanggal 22-23 Februari, tim edukasi Ketapang YIARI berkolaborasi dengan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Dinas Perkim-LH) menginisiasi kegiatan di SDN 23 Matan Hilir Selatan. Kegiatan kolaborasi ini juga melibatkan kakak-kakak mahasiswa Politap Negeri Ketapang sebagai kakak pendamping.

Edukasi daur ulang sampah kepada siswa sekolah di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kalimantan Barat dibimbing oleh kakak-kakak dari Dinas Perkim-LH (Edukasi/Media | YIARI)

Menurut Kak Vio nih, selaku koordinator edukasi di Pematang Gadung. Adik-adik di sekolah masih terbiasa jajan dan membuang sampahnya sembarangan. Oleh karena itu, saat kegiatan berlangsung kak Vio menerapkan aturan khusus kepada siswa-siswa.

“Kita imbau adik-adik nih buat bawa bekal makan dan minum sendiri dari rumah, supaya mereka terbiasa mengurangi produksi sampah,” kata kak Vio menjelaskan aturan selama kegiatan berlangsung.

Di hari pertama, Dinas Perkim-LH memaparkan materi mengenai kreasi-kreasi daur ulang dari sampah plastik. Baru setelah itu, siswa diberi waktu untuk membuat kreasinya sendiri.

“Kita dorong siswa-siswa ini belajar mengolah sampahnya dengan kreativitas,” ucap Bang Yusuphan dari Dinas Perkim-LH selepas memberikan materi.

Bang Yusuphan berharap agar sampah plastik yang masih memiliki nilai guna tidak langsung dibuang begitu saja, tapi diolah kembali menjadi produk yang kreatif.

“Ga usah malu menggunakan barang daur ulang. Malu itu kalau buang sampah sembarangan,” kata kak Vio menimpali.

Pada hari kedua setelahnya, kegiatan dilanjutkan kembali dengan aksi bersih sampah di lingkungan sekitar sekolah. Tak disangka, ternyata sampah yang berhasil mereka kumpulkan mencapai 196 kg nih. Sebagai penutup kegiatan, adik-adik siswa SDN 23 Matan Hilir Selatan diajak melakukan penanaman pohon di halaman sekolahnya.

Bercerita tentang Miko si Mikroplastik

Lain halnya dengan tim edukasi Batutegi, Lampung yang melakukan kegiatan di 23 Februari 2024. Berkolaborasi dengan Taman Baca Jalosi Sanak Negeri, kegiatan HPSN diisi terlebih dulu dengan mendengarkan cerita tentang perjalanan Miko si Mikroplastik.

“Kisah Miko ini merupakan buku karya dari kak Elif,” tutur Hinggrit yang merupakan tim edukasi Batutegi. Kak Elif yang dimaksud adalah relawan YIARI yang juga aktif di komunitas lingkungan ASA Konservasi. 

Pada cerita si Miko, adik-adik dikenalkan dengan sampah plastik yang berasal dari pecahan-pecahan plastik yang hancur. Pecahan plastik ini berukuran sangat kecil sekali hingga tak lagi nampak dilihat oleh mata.

Plastik yang tak dapat terurai, hanya berubah wujud menjadi serpihan mikro. Serpihan plastik ini ternyata tetap menjadi masalah baru bagi lingkungan sekitar. Tanpa kita sadari, mikroplastik bisa masuk ke dalam tubuh manusia. Hal ini bisa terjadi jika lingkungan yang tercemar mikroplastik termakan oleh hewan yang kemudian dikonsumsi oleh manusia.

Lambat laun, keberadaan mikroplastik dalam tubuh manusia dapat menyebabkan sakit dan penyakit. Ini lah pentingnya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tidak hanya merusak lingkungan, tapi juga bisa membahayakan ekosistem alami.

“Melalui buku ini, adik-adik kita ajak mengenal jauh tentang sampah plastik yang tak kasat mata. Setidaknya mereka jadi tahu bahwa akibat membuang sampah sembarangan itu tidak hanya berakibat banjir saja. Ada hal lain yang justru tidak kita lihat dampak buruknya,” ucap kak Hinggrit menjelaskan.

Di akhir kegiatan, adik-adik kemudian diajak berkreasi mendaur ulang sisa sampah yang biasa ditemui sehari-hari. Baik itu sampah kering dari tumbuhan, juga sampah plastik bekas minuman.

Di Batutegi, adik-adik dari Taman Baca Jalosi Sanak Negeri membuat kerajinan gantungan kunci dari limbah organik (Edukasi/Media | YIARI)

Alumni Kahiu Academy Inisiatif Bersih Sampah di Desa

Tidak mau kalah, beberapa alumni Kahiu Academy batch 2 juga memiliki inisiatif serupa yang dilakukan di lingkungannya masing-masing. Sepulang dari Kahiu Academy, Ucil, Andika dan William yang berasal dari Desa Mawang Mentatai mengajak adik-adik SDN 26 Mentatai Beloyang kegiatan aksi bersih sampah di lingkungan sekolah.

“Saya senang bisa berbagi ke sekolah tempat saya belajar dulu,” kata Ucil yang dulu sempat menjadi siswa di SDN 26 Mentatai Beloyang. 

Ucil dan kawan-kawan senang bisa berbagi hal positif yang selama ini mereka dapatkan selama mengikuti Kahiu Academy. Selain mengajak kegiatan aksi bersih sampah, mereka bertiga juga mengajarkan materi tentang melindungi hutan dan satwa-satwa dari kerusakan.

Bergeser di desa sebelah, kegiatan serupa juga dilakukan oleh Aldi bersama tim edukasi Melawi di Desa Nusa Poring. Aldi mengajak adik-adik di dusunnya untuk melakukan aksi bersih sampah di lingkungan tempat tinggal mereka. Dari sampah yang terkumpul, mereka mengubahnya menjadi kreasi barang bekas.

Adik-adik dari Desa Nusa Poring di Kabupaten Melawi memamerkan hasil karya daur ulang mereka (Edukasi/Media | YIARI)

Jauh di seberang pulau, Sandi menginisiasi gerakan bersih pantai di Pulau Cempedak tempat ia tinggal. Komitmen ini sempat diutarakannya saat penutupan Kahiu Academy. Aksi bersih pantai ini menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap minggu bersama anak-anak sekitar.

“Sampah plastik bukan hanya bikin tak elok pemandangan, tapi juga merusak ekosistem,” kata Sandi.

Menurut Sandi, potensi alam Pulau Cempedak ini bisa rusak akibat sampah. Apalagi, Pulau Cempedak merupakan salah satu tempat konservasi mangrove dan Dugong. Sandi berharap, aksi kecilnya ini akan diikuti oleh masyarakat lainnya untuk bersama-sama merawat Pulau Cempedak.

Perilaku Langka, Orangutan Kalimantan Makan Kukang

Halo Sobat #KonservasYIARI!

Orangutan merupakan satu-satunya kera besar yang berada di Asia lho! salah satunya di Indonesia. 

Namun orangutan banyak dikenal sebagai primata yang berasal dari Pulau Kalimantan atau Borneo saja. Padahal habitat orangutan di Indonesia berada di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan. 

Terdapat 3 spesies orangutan di Indonesia, yaitu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), orangutan sumatera (Pongo abelii), dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis). 

Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) (Rudiansyah | YIARI)
Orangutan sumatera (Pongo abelii) (andraescholz | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) (Farhan Adyn | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)

Ohiya Sobat! orangutan mempunyai aktivitas sehari-hari sama seperti kita. Menurut artikel yang dituliskan oleh Haddad et al. 2017 , aktivitas harian orangutan yang utama dipenuhi oleh kegiatan makan. 

Lantas apa saja sih pakan alami orangutan sebagai primata? Apakah orangutan juga pemakan daging seperti kita?

Menilik Perilaku Memakan Daging pada Orangutan Kalimantan

Orangutan dikelompokkan sebagai primata pemakan segala (omnivora), yang berarti mereka mengonsumsi baik tumbuhan maupun hewan. Meskipun orangutan termasuk hewan omnivora, 90% dari makanannya berupa buah-buahan (frugivorous) selain itu makanannya antara lain kulit pohon, dedaunan, bunga, beberapa jenis serangga, madu, dan jamur.

Orangutan memerlukan buah-buahan untuk memenuhi kadar air tubuhnya, seperti buah-buahan yang berdaging lembek, berbiji, termasuk buah berbiji tunggal dan buah beri seperti jenis Ficus sp (Rifanjani et al. 2022). Menurut Samudera et al. 2020, orangutan memenuhi kebutuhan nutrisi pelengkap lainnya dari makanan alternatif berupa biji dan daun muda yang kaya akan kandungan protein dan lemak.

Kukang kalimantan (Nycticebus borneanus) adalah salah satu satwa endemik Indonesia yang akhir-akhir ini mendapat perhatian karena teramati dimakan orangutan kalimantan (Tim Media | YIARI)

Namun Sobat ada yang berbeda dengan orangutan kalimantan dewasa jantan yang bernama Molong! 

Untuk pertama kalinya orangutan kalimantan terdokumentasikan memakan kukang. Perilaku memakan daging merupakan kejadian yang sangat langka dalam aktivitas orangutan liar. 

Perilaku langka tersebut dituliskan oleh Makur et al. (2021) dalam jurnal Primates yang berjudul “Slow Loris (Nycticebus bornenus) consumption by a wild Bornean orangutan (Pongo pygmaeus wrumbii)”

Menurut Makur et al. (2021), pemangsaan dan konsumsi kukang oleh orangutan kalimantan liar belum pernah terjadi. Namun berbeda dengan orangutan sumatera yang tercatat mengonsumsi kukang. 

Penelitian ini mengamati penangkapan dan konsumsi kukang (Nycticebus borneanus) oleh orangutan kalimantan, Molong di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan, yang terletak di wilayah Kapuas, Kalimantan Tengah.

Ini merupakan kasus pertama yang didokumentasikan tentang predasi dan konsumsi kukang oleh orangutan kalimantan dan dengan demikian memberikan titik data penting untuk memahami predasi primata pada spesies primata lainnya.

Orangutan terdokumentasi makan kukang (www.unas.ac.id)

Jika kita bandingkan dengan kera besar lainnya yaitu simpanse, simpanse berburu primata lainya, orangutan cenderung hanya bila bertemu. Dalam artikel yang dipublikasi oleh Kumparan, simpanse membutuhkan daging untuk memberikan nutrisi yang tidak bisa mereka dapatkan dari tumbuhan, seperti vitamin A dan B12, zinc, tembaga, dan zat besi. 

Memang Sobat belum ada tulisan mengenai alasan mengapa orangutan memiliki perilaku memakan daging atau primata. Namun hal ini dapat menjadi pembaharuan dalam ilmu pengetahuan khususnya perilaku orangutan kalimantan. 

Yang jelas kita harus sama-sama mendukung upaya pelestarian orangutan si kera besar Asia ini ya!

Elif Ivana Hendastari 

Referensi : 

  1. https://kumparan.com/kumparansains/simpanse-di-tanzania-ternyata-suka-makan-otak-monyet 
  2. Samudera V, Prayogo H, Widhanarto OG. 2020. Analisis kandungan air sumber pakan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) di stasiun riset cabang panti Taman Nasional Gunung Palung Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari. 8(4):705-013. 
  3. Haddad AA, Prayogo H, Anwari MS. 2017. Perilaku makan dan jenis pakan orangutan (Pongo pygmaeus) di Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari. 5(2):300-306. 
  4. Makur KP, Atmoko SSU, Setia TM, Noordwijk MA, Vogel ER. 2022. Slow Loris (Nycticebus bornenus) consumption by a wild Bornean orangutan (Pongo pygmaeus wrumbii). Primates. 63(1):25-31. 
  5. Rifanjani S, Saputra MM, Siahaan S. 2022. Preferensi pakan orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) di stasiun penelitian cabang panti Taman Nasional Gunung Palung Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari. 10(1):14-22. 
  6. https://www.unas.ac.id/berita/studi-terbaru-peneliti-temukan-orangutan-kalimantan-makan-kukang/

Keseruan 3 R di Hari Bumi

Udah pada tau kan ya kalau Hari Bumi diperingati setiap tanggal 22 April? Nah, untuk memperingati Hari Bumi tahun ini, kami bikin dua acara yang dilakukan secara serentak nih di Kalimantan Barat. Satu rangkaian kegiatan di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Kecamatan Muara Pawan, satu lagi di Desa Batu Lapis Kecamatan Hulu Sungai. Dua-duanya di Kabupaten Ketapang. Buat kalian yang nanya kenapa kok nggak dijadiin satu acara aja toh sama-sama di Ketapang, jadi Kabupaten Ketapang ini luas banget gengs, jarak tempuh dari pusat pembelajaran kami sampai ke Desa Batu Lapis ini bisa memakan waktu lebih dari tujuh jam. Makanya kita bikin acaranya terpisah aja biar semua dapat keseruannya tanpa mesti repot-repot perjalanan jauh.

Nah, berhubung Hari Bumi tahun ini adalah “Invest in Our Planet” di mana kita semua mesti sadar dan beralih ke gaya hidup yang berkelanjutan, kami ngadain acara ini dengan mengedepankan konsep 3R. Udah pada paham pastinya kan soal 3R? Ya betul, Reduce, Reuse, Recycle. Di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren, konsep 3R dalam kegiatan ini diwujudkan dengan mengurangi (reduce) penggunaan plastik sekali pakai dengan mengarahkan peserta dan pengunjung untuk membawa tempat makan dan botol minum sendiri. Mendaur ulang sampah plastik (recycle) dengan membuat bungkus kerajinan dari bungkus kemasan bekerjasama dengan Bagian Pengelolaan Sampah dan Limbah Berbahaya Dinas Perkim-LH untuk kemudian dipamerkan. Terakhir, kami mewujudkan konsep penggunaan kembali (reuse) barang bekas dengan menampilkan perkusi yang menggunakan barang bekas sebagai instrumen musiknya.

Ada lomba membaca puisi, lho, di peringatan Hari Bumi Yayasan IAR Indonesia 2022 (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Pertunjukan perkusi ini dibawakan oleh anak-anak dari Zwagery Generation, komunitas konservasi di Ketapang yang bergerak dalam menyelamatkan satwa liar dan habitatnya melalui perspektif edukasi penyadartahuan dan budaya lokal dengan alat musik sederhana dari botol kaca, jerigen bekas, kaleng bekas, dan botol bekas minuman ringan. Selain perkusi, ada juga pembacaan puisi berjudul “Campur Tangan Manusia dan Lentera Mata” masih oleh anak-anak dari Zwagery Generation. Meskipun alatnya sederhana, musiknya merdu dan asyik lho, apalagi yang dibawakan tuh lagunya Gombloh yang judulnya “Lestari Alamku.” Jadi makin syahdu kaaan. Untuk penutupnya, ada penampilan teater dari Sanggar Mustike Tanah Kayong, yang merupakan pemenang lomba teater Pekan Peduli Orangutan yang diselenggarakan pada November 2021 lalu. Buat kalian yang penasaran Apa itu Sanggar Mustike Tanah Kayong, jadi itu tuh komunitas seni yang berasal dari Ketapang, tepatnya Desa Kuala Satong di Kecamatan Matan Hilir Utara. Di acara Hari Bumi ini, mereka membawakan dua lakon, “Ujang Kenceng dan Ujang Lelengop menangkap orangután” serta “Sekolah untuk Bumi”. Gak cuma taterer, mereka juga menampilkan pembacaan puisi dan syair gulung. Mereka ini masih berusia 12-15 tahun lho. Keren kan?

Oh iya, acara ini dibuka oleh direktur program kami, Karmele Llano Sanchez setelah sebelumnya ada sambutan-sambutan dari Dinas Pendidikan dan Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim-LH) Kabupaten Ketapang. Karena acara ini diselenggarakan pada bulan puasa, kami juga ngadain buka puasa bersama. Tambah seru lagi karena ada ceramah konservasi mengenai eco-ramadan bersama Ustadz M. Nashir Syam, M.Pd.I, Sekretaris MUI Kabupaten Ketapang yang menjelaskan mengenai bagaimana mengurangi sampah plastik di bulan ramadan.

Direktur Program kami, Dr. Karmele Llano Sanchez sedang memberikan sambutan di hari ke-dua peringatan Hari Bumi 2022 (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Kalau acara di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren ini hanya satu hari dan menampilkan banyak pertunjukan, sedangkan di Desa Batu Lapis kami ngadain acaranya dua hari dan diisi berbagi lomba dan aksi.

Hari pertama, kami ngadain lomba membuat tempat sampah dari bahan bekas dan lomba kebersihan lingkungan. Pesertanya lumayan banyak loh, total ada 59 orang peserta yang berpartisipasi dalam lomba ini. Lombanya ini berkelompok ya gaes, datu kelompok berisi 2-3 orang yang terdiri dari anak dan orangtua. Anak-anak dan orangtua peserta lomba terlihat sangat antusias mengikuti lomba ini. Usaha dan kreativitas mereka dalam mengikuti lomba patut diacungi jempol. Dari hasil lomba ini, para peserta bisa bikian 45 tempat sampah baru dari barang bekas! Pemenang dipilih berdasarkan kerapian, keindahan, dan kreativitas. Ada lima kelompok yang terpilih menjadi pemenang dan mendapatkan hadih berupa perlengkapan sekolah dan alat tulis serta T-shirt dan tumbler. Para peserta lomba ini juga berharap, ke depannya lomba-lomba semacam ini diadakan lagi supaya mereka bisa terus belajar dan semangat sehingga bisa menjadi kebiasaan baik bagi lingkungan mereka.

Setelah lomba, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian materi pendidikan lingkungan hidup bersama anak-anak Desa Batu Lapis. Kegiatan ini difasilitasi oleh tim edukasi kami dan diikuti oleh 50 anak. Salah satu materi yang diberikan adalah membuat kerajinan tangan dari barang bekas. Kerajinan tangan yang dibuat berupa tempat pensil dari botol plastik dan kardus bekas. Meskipun dari barang bekas, hasil kerajinannya ucul-ucul loh.

Para anak-anak penari tradisional turut memeriahkan acara ini (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Hari kedua juga tidak kalah seru gaes, pagi-pagi kami udah menanam pohon dan keliling membersihkan sampah di sekitar pemukiman Desa Batu Lapis. Hasilnya terkumpul 158,7 kilogram sampah. Sampah didominasi dari plastik, terutama bungkusan sisa snack dan kantong plastik.

Malamnya kami ngadain pemutaran film buat warga desa. Film yang kami suguhkan adalah film dokumenter tentang orangutan dan inovasi pengolahan sampah plastik yang dijadikan tempat tanaman organik. Selain nonton film, kami juga mengadakan kuis buat para penonton yang berisi pertanyaan seputar satwa liar, sampah, dan film yang ditonton. Mereka juga antusias banget lho menjawab kuis-kuis ini sampai sepuluh paket hadiah yang kami sediakan berhasil mereka bawa pulang. Harapan kami sih, dengan adanya kegiatan ini, kepedulian masyarakatnya terhadap permasalahan sampah meningkat. Kami sengaja melibatkan anak-anak dan orangtuanya dalam berbagi kegiatan yang kami selenggarakan supaya semua generasi berperan aktif dalam mengatasi permasalahan sampah plastik. Di Batu Lapis aja semua udah peduli sama sampah plastik. Kamu kapan?

Setahun Pandemi, Kasus Perburuan dan Pemeliharaan Satwa Liar Ilegal Masih Terjadi

Hampir setahun sejak pandemi Covid 19 melanda Indonesia, kasus pemeliharaan illegal satwa liar dilindungi masih juga terjadi. Perbuatan yang tidak hanya melanggar hukum namun juga berisiko meningkatkan penularan penyakit dari hewan ke manusia dan sebaliknya ini masih ada di Kabupaten Ketapang. Padahal kontak langsung dengan satwa liar dapat menularkan berbagai penyakit serius yang dapat membahayakan manusia. Tidak hanya bagi pemelihara, namun masyarakat di sekitarnya juga turut menanggung resiko ini.

Hal ini didukung oleh penenelitian tim internasional yang dipimpin oleh Organisasi Keseharan Dunia/World Health Organizatioj (WHO) yang menyatakan virus corona berasal dari hewan sebelum menyebar ke manusia. Dikutip dari CNBC, Dr. Peter Ben Embarek, spesialis keamanan pangan dan penyakit hewan WHO sekaligus kepala tim peneliti mengatakan jalur untuk Covid adalah persilangan dari spesies pengantara ke manusia.

Berkaitan dengan hal di atas, Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama dengan IAR Indonesia kembali menyelamatkan satu individu bayi orangutan peliharaan dari Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang, Jumat (12/2).

Bomban diperiksa oleh dokter hewan IAR Indonesia

Bomban yang baru saja diselamatkan segera diperiksa oleh dokter hewan kami

Penyelamatan bayi orangutan ini berasal dari laporan warga bahwa ada bayi orangutan yang dipelihara oleh salah satu peladang di Sungai Sebomban. Menindaklanjuti laporan ini, tim edukasi IAR Indonesia yang kebetulan sedang berada di Desa Batu Lapis melakukan verifikasi. Ketika diverifikasi, tim tidak bertemu dengan pemelihara orangutan ini, namun berhasil menemukan bayi orangutan yang dititipkan ke sesama peladang. Mengetahui bahwa pemeliharaan orangutan dilarang undang-undang, orangutan ini langsung diserahkan kepada tim IAR Indonesia. Tim kemudian menitipkan orangutan ini kepada seorang warga di Desa Batu Lapis sambil menunggu kedatangan tim dari BKSDA Kalbar dan IAR Indonesia.

Berdasarkan hasil verifikasi di lapangan, bayi orangutan yang kemudian diberi nama Bomban ini sudah dipelihara selama 3 bulan di dalam hutan. Selama dipelihara Bomban diletakkan di dalam kandang kayu ukuran sekitar 50x40cm dan diberi makan nasi, biskuit, timun dan minum air beras yang diberi gula, dan susu kental manis.

Dari hasil pemeriksaan sementara oleh dokter hewan IAR Indonesia di lapangan, kondisi kesehatan orangutan yang diperkirakan berusia 1 tahun ini terlihat cukup baik. Namun, melihat riwayat Bomban yang tidak makan sesuai kebutuhan nutrisinya selama dipelihara, Bomban harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisinya.

Bomban meminum air

Bomban perlu untuk diperiksa keadaan gizi dalam tubuhnya

Saat ini Bomban sudah berada di kandang karantina di Pusat Penyelamatan dan Konservasi orangutan IAR Indonesia di Desa Sungai Awan, Kabupaten Ketapang untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Karantina ini akan dilakukan selama 8 minggu. Pemeriksaan lebih mendalam juga akan dilakukan beberapa kali selama masa karantina untuk memastikan Bomban tidak membawa penyakit yang bisa menular ke manusia ataupun orangutan lain di pusat rehabilitasi.

Selama masa perawatan Bomban merespon pakan dengan baik, tidak ada banyak keluhan dan sering beberapa kali nampak bermain sendiri di kandang. Hasil pemeriksaan tahap pertama menunjukan Bomban dalam kondisi sehat. Namun dari hasil pemerikaan dengan sinar x, tim medis menemukan dua butir peluru senapan angin yang bersarang di kaki kanan Bomban. Melihat tidak adanya luka terbuka di kaki kanannya, diperkirakan Bomban ditembak beberapa minggu yang lalu. Ini menguatkan indikasi bahwa induknya dibunuh oleh pemburu untuk diambil bayinya.

Bomban Closeup

Bomban yang masih bayi perlu perawatan intensif

Pemburuan dan pemeliharaan satwa liar seperti ini memang seharusnya tidak lagi terjadi. Selain mengancam kelestarian satwa liar, perilaku tidak bertanggungjawab seperti ini juga beresiko membahayakan manusia dengan penyakit yang mungkin dibawa oleh satwa liar. Sebelumnya, Pada bulan Maret 2020, BKSDA Kalbar bersama IAR Indonesia telah menyelamatkan bayi orangutan dari wilayah ini.

Melihat resikonya yang cukup tinggi, Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez berharap, ini adalah kali terakhir adanya kasus pemeliharaan orangutan. “Pemeliharaan orangutan ini berasal dari perburuan orangutan. Biasanya induk orangutan dibunuh untuk untuk diambil anaknya. Dengan populasi orangutan liar yang semakin berkurang, kita tidak bisa diam sembari menyaksikan populasi orangután punah di depan mata kita. Kami mengajak semua lapisan masyarakat untuk turut serta berpartisipasi dalam sosialisasi dan penyadartahuan agar perburuan orangutan segera dihentikan: #stopmembunuhkami,” tegasnya.