Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Penerapan Aplikasi SMART Patrol Perkuat Pembelajaran Konservasi di SMK Kehutanan Bakti Rimba

Yayasan Inisiasi Alam dan Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan SMK Kehutanan Bakti Rimba bersinergi dalam kolaborasi edukatif dengan fokus pada implementasi aplikasi SMART Patrol. Kegiatan ini dilaksanakan pada 14 November 2025 di Hutan Penelitian Dramaga, Kota Bogor dengan tujuan untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai konservasi satwa liar dan pentingnya pemantauan kawasan hutan.

Sebelum melakukan praktik lapangan, siswa mengikuti sesi pengenalan materi di sekolah. Dalam sesi tersebut, tim YIARI memperkenalkan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) Patrol, yaitu aplikasi sistem patroli berbasis data dan teknologi  yang digunakan untuk mencatat, memantau, dan menganalisis aktivitas patroli konservasi.  Melalui pendampingan langsung, siswa belajar memahami alur pengumpulan data di lapangan, cara pencatatan temuan, hingga pelaporan menggunakan perangkat SMART. 

Pemberian arahan oleh Tim YIARI pada siswa-siswi sebelum melakukan kegiatan lapangan (Elvyra|YIARI)

Kegiatan praktik di Hutan Penelitian Dramaga berjalan lancar dan mendapat sambutan antusias dari para siswa. Para siswa didampingi tim YIARI yang membantu menjelaskan tata cara penggunaan SMART Patrol di lapangan. Mereka berkesempatan mencoba langsung penggunaan aplikasi SMART dalam simulasi patroli, sehingga memperoleh gambaran nyata tentang bagaimana teknologi digunakan untuk menjaga kawasan hutan dan satwa liar.

Kepala SMK Kehutanan Bakti Rimba, Ribai, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi ini. “Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berlangsung tiga kali pertemuan atau satu bulan saja, tetapi dapat diperpanjang minimal satu semester,” ujarnya saat ditemui pada Kamis, 13 November 2025. Menurutnya, program edukasi dari YIARI sangat melengkapi kompetensi siswa, sejalan dengan fokus sekolah pada rehabilitasi, pemetaan, dan inventarisasi hutan. “Dengan adanya program konservasi satwa liar ini, pengetahuan dan keterampilan anak-anak Bakti Rimba menjadi jauh lebih lengkap,” imbuhnya.

Siswa-siswi sedang mengambil data pengamatan menggunakan aplikasi SMART (Hulwia|YIARI)

Kolaborasi ini merupakan bagian dari program KOAKSI (Kolaborasi Edukasi Konservasi) yang telah berjalan sejak awal Oktober. Program ini menghadirkan berbagai materi dasar konservasi untuk menumbuhkan kesadaran keanekaragaman hayati sejak dini. Hingga saat ini, edukasi di SMK Kehutanan Bakti Rimba sudah berlangsung empat kali pertemuan.

Pendamping lapangan YIARI, Riki, sedang menjelaskan hasil pengamatan SMART (Hulwia|YIARI)

Melalui penerapan aplikasi SMART Patrol, siswa diharapkan dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan dunia kehutanan dan konservasi. Dukungan dan kesadaran yang tumbuh dari kegiatan ini menjadi pondasi penting dalam membentuk generasi muda yang peduli serta siap terlibat aktif dalam pelestarian hutan dan satwa liar.

Saat ini, SMART Patrol juga tengah dikembangkan menjadi standar yang digunakan di berbagai Taman Nasional di Indonesia, sehingga kemampuan mengoperasikannya menjadi nilai tambah bagi para siswa. Dengan membekali mereka keterampilan yang selaras dengan kebutuhan lapangan dan perkembangan teknologi konservasi, YIARI dan SMK Bakti Rimba berharap para lulusan semakin siap dan kompeten dalam dunia kerja modern serta mampu memberi dampak jangka panjang bagi masa depan konservasi Indonesia.

Eunike Hana Grasia

Voluntrip by KitaBisa Belajar Mengenal Kukang dan Macaca bersama YIARI

Konservasi satwa liar bukan cuma urusan para ahli biologi atau aktivis lingkungan. Di tengah ancaman perdagangan ilegal, rusaknya habitat, dan menurunnya populasi satwa liar, penting bagi siapa pun untuk belajar dan memahami bagaimana cara hidup berdampingan dengan alam.

Itulah yang coba kami lakukan lewat kegiatan “Edukasi Konservasi Kukang dan Monitoring Macaca”, hasil kolaborasi antara YIARI, Voluntrip by Kitabisa, dan IDX (Bursa Efek Indonesia). Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 11 Oktober 2025 ini mengajak para relawan dan karyawan dari berbagai latar belakang untuk turun langsung ke lapangan.

Di Pusat Rehabilitasi dan Curug Nangka, kita belajar tentang kukang dan macaca, dua primata yang punya peran penting bagi keseimbangan ekosistem, sekaligus menghadapi ancaman serius di alam. Seperti apa ya kegiatannya? Yuk, simak!

Belajar Konservasi, Langsung dari Ahlinya

Salah satu materi yang disampaikan tentang rehabilitasi satwa primata YIARI (Rendi Afandi|YIARI)

Pagi itu, 21 peserta dan panitia Voluntrip by Kitabisa berkumpul di Alun-Alun Kota Bogor sebelum berangkat bareng tim YIARI ke kantor YIARI di sekitar Curug Nangka. Begitu tiba, peserta disambut hangat oleh tim YIARI dan cuaca sejuk di daerah Tamansari, Bogor.

Acara dibuka oleh Pratiwi Nur Aizah sebagai MC, dilanjutkan safety briefing dari Rikardus selaku Asisten Manajer K3L, lalu sesi pengenalan YIARI oleh Yayuk Rahmawati selaku Supervisor Media dan Komunikasi yang menjelaskan berbagai program konservasi yang YIARI lakukan. Kemudian, drh. Cici Sri Ningsih membagikan cerita dan pengalaman dalam proses penyelamatan dan rehabilitasi kukang dan macaca, mulai dari penanganan medis hingga pelepasliaran ke habitat alami mereka.

Lewat sesi ini, peserta belajar bahwa kukang bukanlah hewan peliharaan lucu, melainkan satwa nokturnal berbisa yang memiliki peran penting dalam penyerbukan hutan. Sementara Macaca fascicularis atau monyet ekor panjang kini  mulai hidup berdampingan dengan manusia karena habitatnya yang bersinggungan dengan kita. Dari sini, muncul kesadaran baru: konservasi bukan cuma soal menyelamatkan satwa, tapi juga menjaga keseimbangan hidup di alam.

Dari Kelas ke Aksi Lapangan

Salah satu kelompok saat berkegiatan membuat enrichment hammock macaca (Rendi Afandi|YIARI)

Setelah teori, waktunya praktik! Para relawan diajak bikin enrichment, yaitu serangkaian aktivitas atau alat yang dirancang untuk menumbuhkan kembali naluri alami dan kemampuan bertahan hidup mereka. Dipandu beberapa perawat satwa yaitu Jakaria, Ruli, Yudi, dan tim YIARI lainnya yaitu Itang dan Julitasari peserta dibagi menjadi tiga kelompok.

Enrichment yang dibuat ialah box tidur untuk kukang serta hammock untuk macaca. Selain seru, kegiatan ini bikin peserta lebih paham bahwa kesejahteraan satwa bukan cuma soal makan dan tempat tinggal, tapi juga tentang kebutuhan mental dan perilaku alaminya.

Peserta kegiatan ini, Dio dan Ayi menyatakan pengalaman menyenangkannya ketika membuat enrichment. “Ini pengalaman pertama kami bikin hammock. Seneng banget! Jadi tahu ternyata bikin alat enrichment itu perlu tenaga dan kerja sama. Kami juga terinspirasi untuk buat alat yang sama untuk peliharaan di rumah,” ujar mereka.

Setelah makan siang bareng dengan konsep less plastic dan edukasi pemilahan sampah, mereka bersiap menuju Curug Nangka, kawasan di bawah pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Sebelumnya, mereka sudah diberikan briefing singkat tentang cara melakukan pengamatan mep di alam dan etika bijak berwisata oleh Itang selaku koordinator konservasi macaca memberikan.

Memantau Monyet Ekor Panjang di Habitatnya

Peserta melakukan pengamatan monyet ekor panjang di wilayah Curug Nangka (Rendi Afandi|YIARI)

Setibanya di Curug Nangka, secara berkelompok, para peserta melakukan pengamatan monyet ekor panjang di habitat aslinya. Dengan membawa handbook pengamatan, mereka menelusuri area hutan dan mengamati langsung perilaku macaca di habitat alaminya.

Dari aktivitas ini, peserta belajar mengamati perilaku sosial, interaksi kelompok, mencari makan, juga sifat alami monyet ekor panjang lainnya. Mereka juga belajar bijak berwisata, bagaimana berinteraksi di alam tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem. Hal ini diterapkan dengan cara menjaga jarak dan tidak memberi makan satwa liar.

Aisyah dan Rahma membagikan pengalaman barunya ketika belajar pengamatan perilaku satwa di habitat alami. “Seru banget! Ternyata perilaku kita sangat memengaruhi reaksi macaca. Kalau kita bawa sesuatu, mereka langsung memperhatikan. Jadi sekarang tahu, satwa liar nggak boleh dikasih makan,” ujar Aisyah.

Para peserta voluntrip membagikan pengalamannya saat melakukan pengamatan monyet ekor panjang (Rendi Afandi|YIARI)

Setelah melakukan pengamatan, setiap kelompok membagikan hasil pengamatannya dan berdiskusi dengan Elisabet dan Itang. Elisabet, Asisten Manajer Konservasi Macaca YIARI menjelaskan alasan mengapa pemberian makanan pada satwa liar dilarang. “Monyet ekor panjang di alam sebenarnya sudah bisa mencari makan sendiri. Tapi kalau terus diberi makan oleh manusia, mereka jadi tergantung dan bisa berubah perilakunya menjadi agresif,” terangnya.

Zaky dari Voluntrip by KitaBisa mengungkapkan pesan yang ia pelajari tentang pentingnya berwisata secara bijak. “Bijak berwisata itu penting banget. Kita tahu Indonesia punya potensi wisata luar biasa, tapi harus diimbangi dengan rasa empati dan tanggung jawab terhadap alam dan satwa liar,” ujarnya.

Menyebar Semangat Konservasi 

Lewat kegiatan ini, kami menunjukkan bahwa belajar konservasi bisa dilakukan siapa saja, dari mana saja. Kolaborasi antara YIARI, Voluntrip by Kitabisa, dan IDX ini membuktikan bahwa seluruh masyarakat bisa terlibat dengan konservasi.

Dari mengenal satwa liar seperti kukang dan macaca, membuat enrichment, hingga mengamati perilaku mereka langsung di habitatnya, semua peserta pulang dengan semangat baru untuk menjaga alam. Karena pada akhirnya, menyelamatkan satwa liar berarti menyelamatkan masa depan kita juga.

Salam konservasi!

Featured image: Rendi Afandi YIARI

Kisah Barda, Kukang Jawa Korban Tembakan Senapan Angin

Barda, seekor kukang jawa (Nycticebus javanicus), ditemukan dalam kondisi yang bikin hati miris.

Matanya ditembus peluru, membuat ia kehilangan penglihatan dan tak bisa lagi menikmati hutan tempatnya hidup.

Kejadian ini terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Sukabumi, Jawa Barat, sebuah bukti betapa perburuan masih jadi ancaman nyata bagi satwa liar.

Namun, cerita Barda tidak berhenti di sana. Di balik luka yang ia bawa, ada orang-orang yang berusaha memberinya kesempatan kedua untuk bertahan.

Barda, kukang jawa jantan yang akan menjadi saksi nyata kekejaman perburuan liar. (Rendi Afandi|YIARI)

Artikel ini akan mengajak kita mengenal lebih dekat perjalanan Barda, perawatan yang ia jalani di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), sekaligus membahas bagaimana kukang jawa (salah satu satwa endemik Jawa) terus berjuang melawan ancaman kepunahan.

Barda Harus Menjalani Operasi Pengangkatan Mata

Hasil pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan, peluru yang merenggut penglihatan Barda bersarang di dekat pelipis matanya. Kondisi ini membuat kedua matanya tak lagi memiliki refleks normal.

Menurut penjelasan drh. Indri Saptorini, dokter hewan YIARI, kerusakan paling parah terjadi pada bola mata kanan yang mengalami luka serius dan meradang.

Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata kedua matanya tidak memiliki refleks, dan ada kelukaan di bola mata kanan,” jelas drh. Indri.

Karena itu tim memutuskan untuk melakukan prosedur pengangkatan bola mata atau enukleasi.”

Dokter sedang melakukan prosedur operasi pengangkatan mata Barda. (Rendi Afandi|YIARI)

Prosedur enukleasi ini terpaksa dilakukan demi menyelamatkan nyawa Barda.

Luka pada mata kanannya dikhawatirkan bisa menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh, yang berpotensi memperburuk kondisinya. Operasi ini dilakukan dengan cara mengangkat seluruh organ mata yang rusak, termasuk saraf dan pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi normal.

Proses enukleasi pada kukang sama seperti pada hewan lain, yaitu mengangkat semua organ mata termasuk saraf dan pembuluh darah yang mengalami kerusakan,” tambah drh. Indri.

Selama operasi berlangsung, tim medis harus bekerja dengan sangat hati-hati. Area bola mata memiliki banyak pembuluh darah, sehingga sedikit kesalahan saja bisa menyebabkan pendarahan.

Baca juga: Apa itu Kukang? Ciri Khas, Perilaku, Habitat, Jenis, hingga Ancaman yang Dihadapi

Kini Barda Ditempatkan di Kandang Perawatan

Setelah menjalani operasi enukleasi, tim medis YIARI terus melakukan observasi terhadap kondisi Barda.

Dua minggu pertama menjadi masa kritis, karena perkembangan kesehatannya harus dipantau dari hari ke hari.

Kabar baiknya, kondisi Barda kini berangsur membaik. Ia ditempatkan di sebuah kandang kecil yang disebut kandang perawatan.

Di sinilah Barda mulai beradaptasi dengan hidup barunya. Meski tidak lagi bisa melihat, kukang jawa jantan ini sudah berani melakukan aktivitas ringan seperti makan dan minum sendiri, walau sesekali masih terlihat kesulitan.

Barda sedang terbaring lemas di ruang tindakan. (Rendi Afandi|YIARI)

Kandang perawatan dibuat khusus untuk satwa dengan kebutuhan berbeda. Lingkungannya lebih sederhana, sehingga Barda lebih mudah menemukan makanan dan beraktivitas tanpa harus bersaing dengan kukang lain.

Menurut drh. Indri Saptorini, hal ini penting agar Barda tetap bisa bertahan hidup.

Kalau ditempatkan di kandang biasa, dikhawatirkan ia kalah saing dengan kukang lain yang masih normal, terutama dalam mencari makan,” jelas drh. Indri.

Selain tempat tinggal yang lebih aman, Barda juga mendapat pengawasan medis setiap hari. Tim YIARI memantau kesembuhan lukanya, perilakunya, hingga pola makannya.

Setelah luka benar-benar pulih, tim akan menilai apakah hilangnya penglihatan membuat perilaku Barda berubah, misalnya menjadi lebih aktif di siang hari atau tidur lebih lama di malam hari.

Baca juga: Operasi Sistotomi Kukang: Pengangkatan Batu dari Kandung Kemih Shuri

Kukang Bukanlah Objek Perburuan

Barda hanyalah satu dari banyak satwa yang menjadi korban kekejaman perburuan liar di alam bebas. Peluru senapan angin yang bersarang di matanya menjadi bukti betapa bengisnya tangan manusia yang tega melukai satwa dilindungi.

Padahal, kukang bukanlah objek perburuan. Mereka adalah satwa liar yang memiliki peran penting di ekosistem dan seharusnya hidup bebas di habitat alaminya.

Seperti yang disampaikan drh. Indri Saptorini, peluru yang ditemukan di mata Barda jelas menunjukkan adanya pelaku yang sengaja melukai, bukan kejadian alami.

Harapannya, jangan pernah berburu dengan alasan apa pun, termasuk menggunakan senapan angin. Kukang bukan objek perburuan, mereka adalah satwa liar yang seharusnya hidup di alam,” tegas drh. Indri.

Menanamkan Cinta Satwa Sejak Dini: Perayaan Hari Anak Nasional Bersama YIARI

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelenggarakan serangkaian kegiatan edukatif dan menyenangkan yang berlangsung di tiga lokasi berbeda, yaitu Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Bogor, Jawa Barat; Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Ketapang, Kalimantan Barat; serta SDN 23 Matan Hilir Selatan di wilayah Sungai Besar, Ketapang, Kalimantan Barat.

Kegiatan ini menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan hidup sejak usia dini. Anak-anak sebagai generasi penerus perlu dibekali dengan pemahaman akan pentingnya menjaga alam dan makhluk hidup di dalamnya, salah satunya melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitat alaminya.

Membaca nyaring dan membuat poster

Kegiatan “Kenali Satwa, Sayangi Alam” yang diselenggarakan di TBM Lentera Pustaka, menjadi sarana untuk menumbuhkan literasi dan meningkatkan minat baca di bidang lingkungan. Selain difasilitasi oleh YIARI, kegiatan ini juga dibantu oleh 7 relawan TBM Lentera Pustaka dan 8 mahasiswa KKN IPB.

Kegiatan dikemas secara edukatif dan interaktif, dimulai dari sesi membaca nyaring buku cerita petualangan “Karmila & Gito bersama Owa Kelempiau” yang mengangkat kisah tentang melindungi satwa. Menariknya, setiap karakter yang ada dalam buku diperankan dan dibacakan oleh kakak-kakak YIARI. Keseruan membaca ini berhasil menarik perhatian anak-anak terhadap alur cerita dan pesan-pesan yang dibawakan.

Usai membaca nyaring, kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas prakarya. Mulai dari membuat poster habitat satwa, dan mewarnai untuk anak-anak prasekolah dan tingkat bawah. Dari aktivitas ini, anak-anak belajar mengenai perbedaan ruang habitat yang digunakan oleh satwa liar.

Kakak-kakak YIARI membaca nyaring dengan memerankan karakter pada buku cerita Petualangan Karmila dan Gito bersama Owa Kelempiau di TBM Lentera Pustaka, Bogor. (YIARI) 

Kegiatan ini memberikan pengalaman berkesan bagi anak-anak. Mereka tampak antusias mengikuti setiap sesi dan banyak yang baru mengenal satwa seperti kukang dan owa jawa. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian satwa dan habitatnya.

“Kegiatan-kegiatannya seru banget, asik,” kata Ade Amirah (15), salah satu peserta kegiatan.

“Dan juga nambahin pengetahuan aku, bagaimana bentuk rupa owa jawa, yang ternyata harus dilindungi dan tidak boleh diburu,” ungkapnya menambahkan.

Hak anak dan kesejahteraan satwa

Sementara itu, di Ketapang, Kalimantan Barat, perayaan Hari Anak Nasional juga berlangsung meriah di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. Anak-anak dari komunitas sekitar, seperti Zwageri Generation, berpartisipasi dalam berbagai aktivitas kreatif seperti mewarnai sketsa satwa, membuat bando berbentuk hewan, dan membuat video ucapan bertema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap pemenuhan hak anak. Sekaligus juga,  dikaitkan dengan tanggung jawab anak terhadap kesejahteraan satwa.

Peserta mewarnai di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. (YIARI)

Kegiatan serupa juga diselenggarakan di SDN 23 Matan Hilir Selatan. Dalam kolaborasi ini, anak-anak mengikuti lomba mewarnai dengan tema kesejahteraan satwa, mendengarkan materi edukatif, serta menonton film edukasi “Monpai Exploit” bersama. Dari hasil kegiatan ini,  anak-anak mulai memahami bahwa kesejahteraan bukan hanya hak manusia saja, tetapi juga hak satwa, baik peliharaan maupun satwa liar di hutan. Pemahaman ini tergambarkan dari karya mereka yang menunjukkan interaksi positif antara anak dan satwa, serta ucapan refleksi dalam video yang mereka buat.

Foto bersama dengan peserta di SDN 23 MHS Sungai Besar. (YIARI)

Kegiatan Hari Anak Nasional yang dilakukan YIARI menjadi bukti bahwa edukasi konservasi bisa dikenalkan sejak dini, dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitatnya, anak-anak tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tetapi juga nilai-nilai empati, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Nasya Karina Nur’aziza

Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang Pada 4 Pulau di Indonesia: Ancaman dan Harapan

 

Monyet ekor panjang dengan nama ilmiah Macaca fascicularis, termasuk salah satu primata yang tersebar luas di Indonesia. Bahkan, beberapa subspesiesnya hanya ditemukan di pulau-pulau kecil dan kini tengah menghadapi tekanan serius.

Untuk mengungkap kondisi terbaru spesies tersebut, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan bersama YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia)  menyelenggarakan Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang Pada Empat Pulau di Indonesia pada 18 Maret 2025.

Apa saja hasil penting dari seminar ini terkait konservasi monyet ekor panjang? Berikut rangkumannya.

Hasil dan Dampak Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada 4 Pulau di Indonesia

Latar Belakang dan Pelaksanaan Survei

Bertempat di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, seminar hybrid ini menghadirkan akademisi dan organisasi konservasi untuk membahas hasil survei cepat Monyet Ekor Panjang (MEP) yang dilakukan oleh YIARI bersama Ditjen. KSDAE Kemenhut, BKSDA Aceh, BKSDA Kalimantan Timur, dan BTN Karimunjawa.

Survei dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2023 di empat lokasi, yaitu Pulau Simeulue, Pulau Lasia, Taman Nasional Karimunjawa, dan Pulau Maratua. Keempat pulau tersebut diketahui merupakan habitat bagi subspesies monyet ekor panjang yang memiliki ciri morfologi khas serta sebaran geografis yang sangat terbatas.

Minimnya data ilmiah mengenai populasi dan distribusi mereka menjadikan wilayah-wilayah ini sebagai prioritas dalam konservasi primata di Indonesia. Selain itu, status taksonomi keempat subspesies tersebut belum didukung oleh data molekuler yang memadai. Karena itu, survei ini menjadi langkah penting untuk mendukung upaya konservasi yang lebih terarah dan berbasis bukti ilmiah.

Temuan Survei dan Dampaknya terhadap Strategi Konservasi

Bapak Silverius Oscar Unggul memberikan sambutan di atas mimbar (Hasna Latifatunnisa|YIARI)

 

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menekankan bahwa survei ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi populasi monyet ekor panjang di wilayah-wilayah yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.

Data yang dihasilkan menjadi referensi penting bagi pemerintah, akademisi, dan organisasi konservasi dalam menyusun strategi pelestarian jangka panjang.

Penelitian lanjutan, terutama dalam bidang studi genetik dan konservasi Macaca, sangat dibutuhkan untuk memperdalam pemahaman ilmiah sekaligus menyempurnakan pendekatan konservasi yang diterapkan.

Salah satu komponen penting dalam menjaga keberlangsungan hidup monyet ekor panjang di alam liar adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat guna menumbuhkan kesadaran kolektif.

Seminar ini diharapkan dapat membentuk komitmen bersama dalam memperkuat perlindungan monyet ekor panjang di habitat alaminya, serta menghasilkan rekomendasi konkret untuk meningkatkan efektivitas konservasi melalui sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan kalangan akademisi.

Hasil diskusi ini diharapkan menjadi landasan kebijakan konservasi yang lebih kokoh, berbasis data ilmiah, dan mampu mendorong upaya pelestarian ke depan.

Namun, strategi yang disusun tidak akan efektif tanpa pemahaman mendalam terhadap berbagai ancaman nyata yang dihadapi spesies ini di lapangan.

Ancaman Serius terhadap Monyet Ekor Panjang

Dalam kesempatan yang sama, Silverius juga menyoroti berbagai ancaman serius yang dihadapi monyet ekor panjang, terutama akibat praktik pemeliharaan ilegal dan meningkatnya konflik dengan manusia.

Permintaan untuk menjadikan monyet sebagai hewan peliharaan eksotis terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Penangkapan dari alam liar tidak hanya membahayakan individu yang diambil tetapi juga induk dari bayi monyet ekor panjang yang dibunuh dengan tragis, selain itu juga merusak struktur sosial kelompoknya di habitat asli.

Penyiksaan terhadap monyet ekor panjang pun sering terjadi, membuat mereka hidup dalam kondisi yang tidak sesuai dengan standar kesejahteraan satwa. Padahal, setiap satwa berhak atas 5 Freedoms atau Lima Kebebasan yang harus dipenuhi untuk memastikan kualitas hidup satwa. Kebebasan tersebut mencakup: bebas dari lapar dan haus, ketidaknyamanan, sakit dan cedera, bebas berperilaku alami, serta bebas dari stres dan ketakutan.


Tanpa upaya perlindungan yang segera dan terkoordinasi, populasi monyet ekor panjang di pulau-pulau kecil terancam terus menurun dan menghadapi risiko kepunahan.

Menyadari urgensi ancaman tersebut, berbagai pihak kini mendorong penguatan upaya konservasi yang lebih terstruktur dan berbasis data.

Harapan dan Upaya Konservasi Berbasis Data

Narasumber dan MC duduk di atas panggung saat seminar tengah berlangsung (Hasna Latifatunnisa|YIARI)

 

Dalam konteks itulah, Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada Empat Pulau di Indonesia menjadi momentum penting dalam merumuskan langkah konservasi yang lebih ilmiah dan sistematis.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Nunu Anugrah S.Hut., M.Sc., menyampaikan bahwa prioritas kegiatan konservasi spesies ke depan akan difokuskan pada pendekatan Red List IUCN (Daftar Merah IUCN), sebuah instrumen penting untuk memantau perubahan status konservasi spesies dari waktu ke waktu.

Pendekatan ini dinilai krusial karena mampu membantu memahami dinamika populasi satwa secara ilmiah, dan menjadi dasar dalam merancang kebijakan konservasi yang lebih tepat sasaran dan berbasis sains.

Slide presentasi IUCN Red List yang ditampilkan pada layar proyektor (Hasna Latifatunnisa|YIARI)



Sebagai bagian dari penguatan kapasitas nasional, Kementerian Kehutanan bersama BRIN dan ID SSG IUCN tengah merumuskan pembentukan lembaga atau komite nasional yang akan berperan dalam melakukan asesmen mandiri terhadap status keterancaman spesies di Indonesia.

Harapannya, hasil dari Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada 4 Pulau di Indonesia dapat menjadi acuan strategis bagi investasi konservasi yang lebih terstruktur dan sistematis, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

YIARI juga aktif mengembangkan program konservasi monyet ekor panjang, dengan perhatian khusus pada isu zoonosis, kesejahteraan satwa, serta mitigasi konflik antara manusia dan satwa. 

Pendataan populasi monyet ekor panjang dan beruk di wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan juga terus dilakukan sebagai dasar penguatan strategi perlindungan.

Langkah-langkah ini menjadi bukti bahwa konservasi monyet ekor panjang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, berbasis ilmu pengetahuan, dan dilandasi komitmen jangka panjang.

Dukung Bersama Kelangsungan Hidup Monyet Ekor Panjang

Para peserta yang hadir langsung pada seminar hybrid hasil survei cepat monyet ekor panjang pada 4 pulau di Indonesia (Hasna Latifatunnisa|YIARI)

 

Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada 4 Pulau di Indonesia memberikan pemahaman lebih dalam tentang berbagai tantangan yang mengancam keberlangsungan hidup spesies ini.

Perlindungan mereka membutuhkan dukungan nyata dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga organisasi konservasi.

Berikut beberapa langkah yang dapat kita upayakan bersama:

1. Hindari Memelihara Satwa Liar

Monyet ekor panjang adalah satwa liar yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Memelihara mereka sebagai hewan peliharaan justru merusak struktur sosial kelompoknya dan mempercepat penurunan populasi di alam.

2. Meningkatkan Kesadaran Tentang Bahaya Eksploitasi Satwa

Salah satu tantangan utama dalam konservasi adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap dampak perdagangan satwa liar. Edukasi mengenai pentingnya melindungi satwa dapat mengurangi permintaan terhadap monyet ekor panjang sebagai hewan peliharaan.

3. Menyebarkan Informasi Tentang Pentingnya Konservasi

Semakin banyak orang mengetahui pentingnya melindungi spesies yang terancam punah, semakin besar pula dampaknya. Penyebaran informasi yang edukatif dan akurat dapat menumbuhkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam upaya pelestarian.

YIARI terus mengembangkan berbagai program konservasi monyet ekor panjang melalui riset, edukasi, dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Dukungan dari seluruh lapisan masyarakat sangat penting untuk menjaga keberadaan spesies ini di alam liar.

Yuk, ambil bagian dalam upaya pelestarian. Sebarkan informasi ini agar semakin banyak orang yang peduli dan turut menjaga monyet ekor panjang dari eksploitasi dan kepunahan.

Dari Kebun Warga ke Rimba: Perjalanan Orangutan Menuju Rumah Barunya

Beberapa waktu lalu, warga di Dusun Sumber Priangan, Kalimantan Barat, dikejutkan oleh kemunculan seekor orangutan di pekarangan rumah mereka.

Awalnya dikira hanya monyet biasa, tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata satwa dilindungi yang makin jarang terlihat. Kejadian ini bukan pertama kalinya—orangutan masuk ke area kebun dan permukiman karena hutan tempat tinggalnya makin sempit.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, tim dari BKSDA Kalimantan Barat, KPH Ketapang Selatan, dan YIARI pun bergerak cepat. Tujuannya sederhana: membantu orangutan ini kembali ke habitat yang lebih aman, jauh dari aktivitas manusia.

Di artikel ini, kita akan menyelami perjalanan penyelamatan orangutan tersebut—dari laporan warga, proses evakuasi, sampai momen pelepasliaran di Hutan Lindung Gunung Tarak. Sebuah cerita nyata tentang bagaimana manusia dan alam bisa saling menjaga, selama ada kemauan untuk bekerja bersama. Yuk, simak!

Dari Pekarangan Warga ke Alam Liar: Awal Mula Kisah

Orangutan kalimantan jantan yang ditranslokasi dari kebun warga dari Dusun Sumber Priangan, Kalimantan Barat, dimasukkan ke kandang translokasi setelah dibius (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Kemunculan orangutan di sekitar pemukiman Dusun Sumber Priangan terjadi lebih dari sekali. Ia terlihat berjalan di antara pepohonan, mendekati rumah warga, dan memakan buah-buahan di kebun seperti jambu, kelapa, hingga nanas.

Reaksi warga pun beragam—ada yang panik, ada pula yang merasa kasihan. “Awalnya kami kira hanya monyet biasa,” ujar salah satu warga. “Tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata orangutan. Kami takut, tapi juga kasihan. Mungkin dia tersesat atau habitatnya terganggu.”

Kejadian ini langsung menarik perhatian tim Orangutan Protection Unit (OPU) dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Setelah melakukan pemantauan, tim menemukan bahwa lokasi tersebut mengalami kerusakan habitat yang cukup parah akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan.

Fragmentasi lahan dan jaraknya yang dekat dengan jalan utama Ketapang–Pontianak juga membuat kehadiran orangutan menjadi sangat berisiko, baik bagi satwa maupun manusia.

Atas dasar itu, setelah koordinasi dengan BKSDA Kalimantan Barat dan KPH Ketapang Selatan, translokasi dianggap sebagai solusi terbaik. Bukan hanya untuk menyelamatkan orangutan, tapi juga untuk mencegah potensi konflik yang bisa membahayakan warga sekitar.

Proses Penyelamatan yang Penuh Perhitungan

Dokter hewan YIARI melakukan pemeriksaan awal setelah orangutan kalimantan dibius (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Tim gabungan dari YIARI, BKSDA Kalimantan Barat, dan KPH Ketapang Selatan bergerak sejak dini hari. Sekitar pukul 04.30 WIB, mereka tiba di lokasi untuk memulai proses evakuasi. Karena orangutan merupakan satwa liar yang kuat dan bisa berbahaya jika merasa terancam, proses penanganannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Tim dokter hewan dari YIARI menggunakan senjata bius untuk menenangkan orangutan sebelum dilakukan pemeriksaan medis. Dosis obat dihitung secara cermat, disesuaikan dengan ukuran dan perkiraan berat badan orangutan. Penembakan bius ini juga tidak bisa dilakukan sembarangan—hanya dilakukan oleh petugas yang memiliki izin resmi dan pelatihan khusus.

Setelah orangutan terbius dan jatuh di atas jaring pengaman, tim medis segera memeriksa kondisinya. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa orangutan ini memiliki berat sekitar 60–65 kilogram dan terdapat luka lama di punggung tangan kirinya.

Luka tersebut sudah membentuk jaringan ikat, meski masih mengeluarkan sedikit nanah dan darah. Selain itu, beberapa gigi terlihat rusak atau hilang, kemungkinan karena faktor usia. Meski begitu, secara keseluruhan, kondisi orangutan cukup stabil dan memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali ke alam.

Perjalanan Menuju Rumah Baru: Hutan Lindung Gunung Tarak

Setelah memastikan kondisi fisiknya memungkinkan untuk dilepasliarkan, tim segera membawa orangutan menuju lokasi translokasi: kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak. Perjalanan darat ini memakan waktu sekitar tujuh jam, dan melibatkan bantuan masyarakat setempat, terutama saat membawa orangutan masuk lebih dalam ke dalam hutan.

Pemilihan lokasi tidak dilakukan sembarangan. Kawasan ini telah melalui survei kelayakan dan dinyatakan cocok sebagai habitat baru. Selain letaknya yang relatif jauh dari permukiman, hutan ini juga masih memiliki tutupan vegetasi yang baik serta sumber pakan alami yang cukup untuk mendukung kehidupan orangutan di alam liar.

Kandang transportasi dibawa menembus hutan untuk persiapan pemindahan orangutan kalimantan ini (Heribertus Suciadi | YIARI)

Sesampainya di lokasi, kandang dibuka perlahan. Orangutan itu sempat menoleh sejenak sebelum melangkah cepat ke dalam hutan, menjauh dari manusia. Ia memanjat pohon, bergerak lincah, dan menunjukkan perilaku alami yang menjadi tanda kesiapan untuk hidup bebas kembali. Momen ini menjadi titik akhir dari proses penyelamatan, sekaligus awal dari babak baru kehidupannya di rumah yang lebih aman.

Gunung Tarak: Surga Baru bagi Sang Penjelajah Hutan

Kandang transportasi dibawa menembus hutan untuk persiapan pemindahan orangutan kalimantan ini (Heribertus Suciadi | YIARI)

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menjaga kelangsungan hidup satwa liar. “Kami mengapresiasi keterlibatan aktif masyarakat yang membantu proses pelepasan hingga ke dalam kawasan hutan. Ini adalah langkah kecil yang membawa dampak besar bagi pelestarian hutan dan masa depan keanekaragaman hayati Indonesia,” ujarnya.

Kepala KPH Ketapang Selatan, Kuswadi, SP., juga menyampaikan terima kasih atas partisipasi semua pihak, khususnya masyarakat Dusun Sumber Priangan. Ia mengajak masyarakat di sekitar kawasan lindung untuk terus menjaga hutan sebagai sumber air, oksigen, dan rumah bagi satwa-satwa langka.

Senada dengan itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, S.Hut., M.Si., menekankan bahwa translokasi ini merupakan bagian dari komitmen untuk merespons cepat potensi konflik manusia dan satwa. “Kami mengajak semua pihak untuk terus menjaga habitat alami agar tidak ada lagi satwa yang kehilangan tempat hidupnya,” tegasnya.

Mengapa Kisah Ini Penting untuk Kita Semua?

Kisah orangutan yang tersesat di perkebunan lalu dikembalikan ke hutan ini bukan sekadar cerita penyelamatan satwa. Ini adalah cermin dari masalah yang lebih besar: semakin menyempitnya habitat alami akibat aktivitas manusia. Ketika hutan dikonversi menjadi lahan perkebunan atau pemukiman, satwa liar kehilangan ruang untuk hidup—dan konflik pun menjadi tak terhindarkan.

Namun di balik tantangan itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa solusi tetap ada. Selama ada kemauan untuk berkolaborasi, konflik bisa diubah menjadi peluang untuk belajar dan bertindak. Masyarakat yang peduli, pemerintah yang responsif, dan lembaga konservasi yang tangguh adalah kombinasi penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Perjalanan orangutan kembali ke Hutan Lindung Gunung Tarak adalah harapan. Harapan bahwa masih ada ruang bagi kehidupan liar untuk pulih. Dan bahwa kita semua punya peran dalam memastikan hutan tetap lestari—bukan hanya untuk orangutan, tapi juga untuk masa depan kita bersama.

Pengamanan Hutan bersama KPH Batutegi: Misi Menjaga Jantung Hutan Sumatera dari Perambahan

Hutan Lindung Batutegi yang berada di Lampung merupakan salah satu kawasan hutan paling vital di Pulau Sumatra. Kawasan ini menjadi habitat alami bagi beragam flora dan fauna, termasuk spesies endemik yang hanya ditemukan di Indonesia.

Namun, ancaman perambahan hutan yang semakin masif berpotensi merusak keseimbangan ekologis dan mengganggu keberlangsungan hidup spesies di dalamnya. Jika tidak segera ditangani, kerusakan ini dapat berdampak jangka panjang bagi kelestarian lingkungan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Batutegi bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menerapkan pendekatan konservasi berbasis teknologi. Tim gabungan di lapangan terus melakukan pengamanan dan pengawasan terhadap potensi perusakan.

Seperti apa strategi dan penerapannya? Simak uraian berikut ini!

Mengenal Kesatuan Pengelolaan Hutan Batutegi 

Hutan Lindung Batutegi membentang seluas ±58.174 hektare di wilayah Provinsi Lampung, mencakup tiga kabupaten: Tanggamus, Lampung Barat, dan Lampung Tengah. Selain berfungsi sebagai daerah aliran sungai (DAS) prioritas, kawasan ini juga menyimpan kekayaan biodiversitas tinggi yang memiliki nilai ekologis dan konservasi luar biasa.

Sejak tahun 2008, YIARI telah aktif melakukan kegiatan konservasi di kawasan ini, dengan fokus awal pada perlindungan satwa liar serta rehabilitasi habitat. Patroli rutin dan pemantauan populasi satwa menjadi bagian dari upaya perlindungan tersebut.

Kolaborasi antara YIARI dan KPH Batutegi semakin diperkuat seiring meningkatnya ancaman perambahan hutan. Menyikapi hal ini, pada tahun 2025, YIARI kembali melanjutkan program pengamanan hutan bersama KPH Batutegi sebagai wujud komitmen jangka panjang dalam menjaga ekosistem hutan tetap lestari.

Dengan dukungan teknologi modern seperti sistem pemantauan berbasis GPS, drone pengawas, dan aplikasi pelaporan cepat, tim di lapangan mampu merespons potensi ancaman secara lebih efisien. Strategi ini tidak hanya menekan angka perambahan, tetapi juga memperkuat fungsi ekologis hutan sebagai penyangga kehidupan dan sumber daya hayati yang berkelanjutan.

Menelusuri Jejak Perambahan di Hutan Rindingan

Potongan sisa kayu penebangan liar di Hutan Lindung Batutegi (Tim RH | YIARI)

Memahami kondisi dan ancaman di lapangan merupakan langkah awal yang sangat krusial dalam upaya menjaga kelestarian hutan. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian utama adalah Blok Inti Rindingan, sebuah kawasan konservasi strategis di Hutan Lindung Batutegi.

Kawasan ini tidak hanya menjadi habitat penting bagi berbagai spesies langka, tetapi juga menyediakan jasa ekosistem yang vital bagi lingkungan sekitar.

Sayangnya, Blok Inti Rindingan menghadapi tekanan berat akibat aktivitas perambahan ilegal yang terus berlangsung. Pembukaan lahan tanpa izin, penebangan pohon secara liar, serta praktik perburuan satwa mengganggu keseimbangan alam dan mempercepat kerusakan ekosistem.

Jika dibiarkan, dampaknya dapat meluas: mulai dari terganggunya sumber air, menurunnya keanekaragaman hayati, hingga kerusakan sistem ekologis yang menopang kehidupan masyarakat lokal.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, KPH Batutegi bersama YIARI terus memperkuat upaya pengamanan hutan. Salah satu bentuk nyata dari komitmen ini diwujudkan melalui patroli gabungan yang dilakukan secara berkala.

Pada 22 Januari 2025, tim gabungan yang terdiri dari Polisi Kehutanan (Polhut) KPH Batutegi dan staf lapangan YIARI melakukan patroli intensif di Blok Inti Rindingan. 

Medan yang berat dan akses yang terbatas tidak menyurutkan semangat tim untuk menjangkau area-area rawan perambahan guna melakukan pendataan dan pengamatan langsung terhadap kondisi hutan.

Polhut KPH Batutegi dan Tim YIARI menemukan sebuah gubuk liar beratap warna biru di tengah area perambahan Hutan Lindung Batutegi (Tim RH | YIARI)

Hasil patroli menunjukkan, sebagian kawasan telah mengalami kerusakan akibat aktivitas ilegal. Tim menemukan sejumlah bukti seperti gubuk liar yang dibangun secara sembunyi-sembunyi, jejak kendaraan berat, sisa kayu tebangan, serta lahan yang mulai dibuka tanpa izin resmi.

Temuan ini mengonfirmasi praktik perambahan masih menjadi ancaman nyata dan mendesak untuk segera ditangani.

Oleh karena itu, pengawasan dan patroli tidak hanya penting sebagai tindakan pencegahan, tetapi juga sebagai bentuk penegakan hukum yang konsisten.

Langkah-langkah konkret dan berkelanjutan sangat diperlukan agar kelestarian Hutan Lindung Batutegi, khususnya Blok Inti Rindingan, dapat terus terjaga bagi generasi mendatang.

Teknologi dan Tindakan Cepat dalam Pengamanan Hutan

Untuk merespons temuan lapangan secara efektif, tim patroli melakukan pendataan terhadap area terdampak sekaligus segera mengambil tindakan pengamanan yang terukur. Berbekal dukungan teknologi pemantauan canggih, proses pengawasan kini dilakukan secara lebih sistematis, akurat, dan responsif.

Salah satu teknologi utama yang dimanfaatkan adalah Global Forest Watch (GFW)—sebuah platform berbasis citra satelit yang memungkinkan deteksi perubahan tutupan hutan secara real-time.

Dengan sistem ini, aktivitas perambahan dapat dipantau sejak dini, sehingga tim dapat langsung mengarahkan patroli ke titik-titik rawan.

Tampak atas area terdampak perambahan di Hutan Lindung Batutegi (Tim RH | YIARI)

Untuk menjangkau area yang sulit diakses, tim juga mengoperasikan drone yang memberikan gambaran visual menyeluruh tentang kondisi hutan dari udara.

Sementara itu, aplikasi SMART Patrol dimanfaatkan untuk mencatat dan menganalisis temuan di lapangan. Data yang dikumpulkan melalui aplikasi ini menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan, mulai dari penentuan pola patroli hingga perumusan strategi tindak lanjut.

Penggunaan teknologi tidak hanya mempercepat respons terhadap perambahan, tetapi juga memungkinkan evaluasi yang lebih komprehensif terhadap efektivitas pengamanan hutan. Pendekatan berbasis data ini diharapkan mampu menekan risiko kerusakan sekaligus mendukung perencanaan konservasi jangka panjang yang berkelanjutan dan adaptif.

Satu Tahap dalam Melindungi Habitat

Patroli gabungan yang dilaksanakan pada 22 Januari 2025 merupakan salah satu langkah penting dalam upaya berkelanjutan melindungi habitat Hutan Lindung Batutegi.

Kegiatan ini bukan hanya bertujuan untuk menghentikan praktik perambahan, tetapi juga menjadi bagian integral dari strategi besar dalam menjaga kelestarian ekosistem hutan.

Namun, perlindungan habitat tidak berhenti pada patroli dan penindakan semata. Setelah titik-titik perambahan berhasil diidentifikasi, tahap selanjutnya adalah pemulihan ekosistem yang terdampak. Proses rehabilitasi—seperti penanaman kembali pohon di lahan terbuka—menjadi komponen penting dalam memperbaiki struktur hutan dan memulihkan fungsi ekologisnya.

Lebih dari itu, keterlibatan masyarakat sekitar kawasan hutan menjadi kunci dalam menciptakan perlindungan yang berkelanjutan. Edukasi dan pemberdayaan komunitas lokal terus dilakukan agar mereka tidak hanya memahami pentingnya menjaga hutan, tetapi juga memiliki alternatif penghidupan yang tidak bergantung pada eksploitasi sumber daya hutan secara ilegal.

Menjaga Hutan, Menjaga Kehidupan

Melindungi Hutan Lindung Batutegi bukanlah upaya sesaat, melainkan komitmen jangka panjang demi memastikan keberlangsungan ekosistem dan kehidupan yang bergantung padanya. Upaya ini mencakup berbagai aspek—dari patroli rutin, penerapan teknologi pemantauan, hingga pemberdayaan komunitas lokal sebagai garda terdepan pelestarian.

KPH Batutegi, YIARI, serta para pemangku kepentingan lainnya terus memperkuat sinergi dan kolaborasi. Kolaborasi lintas sektor inilah yang menjadi fondasi kuat dalam menjaga kelestarian ekosistem secara menyeluruh.

Namun, menjaga hutan bukan hanya tugas mereka yang berada di garis depan. Ini adalah tanggung jawab bersama. Setiap individu memiliki peran, sekecil apa pun, untuk turut mendukung pelestarian hutan. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Menyebarkan informasi tentang pentingnya konservasi hutan kepada orang sekitar.
  • Mendukung penggunaan produk yang ramah lingkungan dan diproduksi secara berkelanjutan.
  • Mengurangi konsumsi kertas dengan memilih dokumen digital atau menggunakan kertas daur ulang.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon atau mendukung program reforestasi dan konservasi lokal.

Setiap langkah kecil memiliki arti besar bagi masa depan hutan kita. Jangan biarkan praktik perambahan terus merusak warisan alam yang begitu berharga. Kini saatnya kita bergerak bersama—menjaga hutan berarti menjaga kehidupan itu sendiri!

Featured image: Sebuah gubuk ilegal berwarna biru di tengah lokasi perambahan Hutan Lindung Batutegi

Editor: Hasna Latifatunnisa

Operasi Sistotomi Kukang: Pengangkatan Batu dari Kandung Kemih Shuri

Terbaring lemah di ruang tindakan, seekor kukang jawa jantan bernama Shuri tampak tenang di bawah pengaruh anestesi.

Namun di balik ketenangan itu, tubuhnya tengah berjuang menghadapi kondisi serius—dua batu berukuran cukup besar bersarang di dalam kandung kemihnya. Batu-batu tersebut, jika tidak segera ditangani, bisa memicu komplikasi berbahaya yang mengancam keselamatannya.

Shuri bukanlah kukang muda. Ia termasuk individu kukang lansia yang berada dalam perawatan di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Dalam pemeriksaan rutin melalui X-Ray, terdapat dua batu di kandung kemih Shuri. Kondisi ini mengharuskan tindakan medis segera melalui prosedur operasi sistotomi, yaitu pembedahan untuk mengangkat batu dari kandung kemih.

Lalu, dari mana sebenarnya asal batu yang ada di dalam kandung kemih Shuri? Yuk, simak penjelasan lebih lanjutnya berikut ini!

Apa Itu Operasi Sistotomi?

Untuk menangani kondisi Shuri, tim medis YIARI melakukan operasi sistotomi, yaitu tindakan bedah yang dilakukan untuk mengangkat batu dari dalam kandung kemih.

Operasi ini juga umum dilakukan pada satwa lain—bahkan manusia—ketika batu kandung kemih sudah berukuran besar dan tidak dapat dikeluarkan secara alami.

Menurut drh. Imam Arifin, dokter hewan yang menangani langsung Shuri, sistotomi menjadi satu-satunya pilihan terbaik dalam kasus ini.

“Operasi sistotomi itu berarti pembedahan kandung kemih pada kukang. Tujuannya untuk mengambil batu, karena di dalam kandung kemih Shuri sudah terbentuk dua batu berukuran cukup besar,” jelasnya.

drh. Imam Arifin melakukan tindakan operasi sistotomi pada Shuri (Rendi Afandi | YIARI)

Jika tidak segera diangkat, batu-batu tersebut dapat mengganggu proses berkemih, menyebabkan rasa sakit, dan dalam jangka panjang memicu infeksi hingga kerusakan organ.

“Kalau dibiarkan, bisa timbul komplikasi yang lebih serius. Makanya tindakan cepat dan tepat sangat diperlukan,” tambah Imam.

Operasi sistotomi tidak dilakukan secara sembarangan. Prosedur ini membutuhkan persiapan matang karena kukang termasuk satwa yang sangat sensitif terhadap stres. Bahkan sedikit tekanan berlebih bisa memengaruhi kondisi fisiologis mereka secara drastis.

Oleh karena itu, sebelum operasi dilakukan, tim medis harus memastikan bahwa Shuri dalam kondisi stabil dan cukup kuat untuk menjalani anestesi serta pembedahan.

Proses Operasi: Dua Batu Berhasil Diangkat dari Kandung Kemih Shuri

Setelah dipastikan dalam kondisi stabil, Shuri dijadwalkan menjalani operasi pada 16 Januari 2025. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, kukang jantan ini menunjukkan respons tubuh yang cukup baik menjelang prosedur.

Pagi itu, ruang tindakan di fasilitas YIARI dipersiapkan secara khusus. Segala alat steril, obat anestesi, serta dukungan tenaga medis hewan sudah disiapkan. Shuri diposisikan dengan hati-hati, dan proses anestesi total dilakukan agar ia tidak merasakan sakit selama operasi berlangsung.

“Saat operasi, Shuri tampak tertidur dengan tenang. Ini sangat penting untuk menghindari stres berlebih, karena kukang sangat sensitif terhadap rasa sakit dan tekanan,” jelas drh. Imam.

Pembedahan dilakukan langsung oleh drh. Imam Arifin, dibantu oleh beberapa tenaga medis lainnya. Operasi berlangsung lancar, dua batu berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri. Batu-batu tersebut memiliki bentuk pipih dan berwarna putih, persis seperti yang ditunjukkan hasil X-Ray sebelumnya.

Ukuran batu cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuh Shuri. Hal ini semakin menegaskan keberadaan batu tersebut memang berpotensi mengganggu sistem perkemihannya secara serius jika tidak segera ditangani.

Operasi berjalan baik. Dua batu yang bersemayam di kandung kemih berhasil diangkat seluruhnya tanpa komplikasi. Kami lega melihat hasilnya,” ungkap Imam.

Setelah operasi selesai, Shuri dipindahkan ke ruang pemulihan. Dalam beberapa jam pertama, tim medis terus memantau tanda-tanda vitalnya: detak jantung, suhu tubuh, dan respons pernapasan. Semua berada dalam batas normal.

Meskipun masih dalam kondisi lemah, respons Shuri menunjukkan tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan proses pemulihan pasca operasi.

Apa Penyebab Terbentuknya Batu di Kandung Kemih Kukang?

Munculnya batu di kandung kemih bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba. Ada sejumlah faktor yang secara umum dapat memicu terbentuknya batu tersebut pada satwa, termasuk kukang. Menurut drh. Imam Arifin, faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Jenis makanan atau pola makan yang tidak sesuai
  • Infeksi saluran kemih
  • Faktor genetik
  • pH urin yang terlalu basa atau terlalu asam
  • Usia lanjut
Kondisi Shuri saat berada di ruang tindakan (Rendi Afandi | YIARI)

Shuri, sebagai kukang jantan berusia tua, kemungkinan mengalami penurunan fungsi organ secara alami. Hal ini dapat memengaruhi sistem ekskresi, termasuk kualitas dan keseimbangan pH urin.

Namun demikian, Imam menyatakan belum bisa dipastikan secara spesifik faktor dominan penyebab terbentuknya batu pada Shuri.

“Faktornya banyak. Bisa karena makanan, bisa juga karena pH urin yang berubah. Tapi dalam kasus Shuri, kami belum bisa menentukan penyebab pastinya. Analisis urin lebih lanjut akan kami lakukan,” ujar Imam.

Untuk memastikan akar masalahnya, tim medis YIARI akan melakukan urinalisis guna mengecek komposisi urin Shuri, termasuk kadar mineral, pH, dan potensi infeksi.

Hasil dari pemeriksaan ini akan sangat penting untuk menentukan langkah pencegahan di masa mendatang, tidak hanya untuk Shuri, tetapi juga kukang lain yang berada dalam program rehabilitasi.

Terkait kemungkinan faktor makanan, Imam menjelaskan pakan kukang di YIARI sudah disesuaikan sedekat mungkin dengan makanan alami mereka di alam liar. Pemberian buah-buahan, serangga kecil, dan dedaunan dipastikan dalam porsi dan frekuensi yang tepat.

“Pakan kami sudah diatur mengikuti pola makan mereka di alam. Tapi untuk memastikan, tetap akan kami evaluasi ulang dan sesuaikan jika perlu,” tambahnya.

Tantangan saat Melakukan Operasi Sistotomi

Menangani satwa liar dalam kondisi kritis bukanlah tugas mudah, apalagi ketika prosedur medis melibatkan pembedahan seperti operasi sistotomi.

Meski Shuri bukanlah kasus pertama yang dihadapi, setiap tindakan medis tetap memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tinggi dari tim dokter hewan.

Potret dua batu yang berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri (Rendi Afandi | YIARI)

drh. Imam Arifin mengungkapkan operasi pada Shuri merupakan kasus ketiga sistotomi pada kukang yang pernah ia tangani bersama tim YIARI dalam beberapa tahun terakhir.

Ini bukan pengalaman pertama, tapi setiap kasus pasti punya tantangannya sendiri. Apalagi kukang adalah primata yang sangat sensitif terhadap stres. Itu yang membuat penanganannya harus ekstra hati-hati,” jelas Imam.

Ia mengenang saat pertama kali melakukan sistotomi pada kukang beberapa tahun lalu. Saat itu, Imam mengaku sempat ragu karena minimnya referensi dan pengalaman praktik operasi serupa pada satwa dengan karakteristik unik seperti kukang. Namun setelah operasi pertama berjalan sukses, kepercayaan dirinya meningkat, dan pendekatan medis pun terus disempurnakan dari waktu ke waktu.

Waktu pertama kali, jujur saya sempat tegang. Tapi kami belajar banyak dari pengalaman itu. Sekarang, kami lebih siap, lebih terstruktur. Tapi tetap, harus waspada—karena risikonya tetap besar,” tambahnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam operasi ini adalah menjaga kestabilan fisiologis kukang selama prosedur. Kukang bisa mengalami drop secara tiba-tiba jika stres, bahkan hanya karena suara bising atau perubahan suhu ruang. Maka dari itu, YIARI selalu memastikan ruang operasi tenang, steril, dan tim bekerja dengan koordinasi yang rapi dan minim distraksi.

Imam juga menekankan, meskipun batu yang dikeluarkan dari kandung kemih terlihat kecil, dampaknya bisa sangat besar terhadap kesehatan. Jika tidak segera ditangani, batu tersebut dapat memicu infeksi serius, radang, dan kerusakan organ yang sulit dipulihkan.

Komitmen YIARI dalam Menjaga Kesehatan Satwa Liar

Kisah Shuri menjadi salah satu cerminan nyata dari komitmen tanpa henti YIARI dalam menjaga kesejahteraan satwa liar, terutama yang berada dalam masa rehabilitasi. Setiap individu satwa yang dirawat, termasuk kukang seperti Shuri, mendapatkan perhatian dan penanganan menyeluruh, mulai dari deteksi dini penyakit hingga prosedur medis lanjutan.

Pengalaman Shuri menjadi pengingat bahwa kesehatan satwa perlu terus dipantau secara berkala, terlebih bagi yang telah berusia lanjut. Tak hanya itu, kisah ini juga membuka ruang diskusi lebih luas tentang pentingnya penelitian lanjutan, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas pihak dalam menjaga kelestarian dan kesejahteraan satwa liar Indonesia.

Featured image: Shuri, kukang jawa jantan lansia yang harus menjalani operasi sistotomi (Rendi Afandi | YIARI)

Editor: Hasna Latifatunnisa

Keberhasilan Rescue Dugong di Perairan Pulau Cempedak, Ini Kisahnya!

Seekor dugong betina yang diberi nama “Fitri” berhasil diselamatkan setelah secara tidak sengaja terjerat jaring nelayan di perairan Pulau Cempedak, Kecamatan Kendawangan Kiri, Kabupaten Ketapang, pada Jumat, 31 Januari 2025.

Penyelamatan ini dilakukan berkat laporan cepat dari seorang nelayan bernama Supardi, yang langsung menginformasikan kejadian tersebut kepada pihak terkait. Respons sigap dari tim gabungan pun memungkinkan proses evakuasi dan penyelamatan berjalan lancar.

Seperti apa kisah penyelamatan mamalia laut ini? Simak cerita lengkapnya berikut!

Nelayan dan Respons Cepat Tim Gabungan

Nelayan dan tim gabungan sedang melakukan diskusi terkait rescue dugong (Yayasan WeBe)

Dugong merupakan salah satu mamalia laut yang dilindungi karena populasinya terus menurun. Ancaman terhadap spesies ini berasal dari berbagai faktor, seperti perburuan liar, kerusakan habitat, dan aktivitas manusia lainnya di laut.

Oleh karena itu, penyelamatan dugong “Fitri” menjadi momen penting dalam mendukung upaya konservasi satwa laut di Indonesia.

Supardi, nelayan yang pertama kali menemukan dugong terjerat jaringnya, segera melaporkan temuan tersebut kepada pihak berwenang dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Laporan ini kemudian ditindaklanjuti oleh tim gabungan yang terdiri atas Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan WeBe Ketapang, Lanal Kendawangan, serta Pokdarwis Cempedak Jaya.

Setibanya di lokasi, tim langsung melakukan proses evakuasi dengan pendekatan yang mengutamakan keselamatan satwa. Dugong yang terjebak jaring berisiko mengalami stres berat (shock) atau luka serius jika tidak segera ditangani secara hati-hati.

Setelah berhasil dibebaskan, “Fitri” kemudian dipindahkan ke area yang lebih aman untuk menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tenaga ahli. Proses ini penting guna memastikan kondisi fisiknya sebelum diputuskan apakah dugong tersebut layak untuk dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya.

Pemeriksaan Kesehatan “Fitri”: Dugong yang Kembali Diselamatkan

Proses rescue dugong dilakukan oleh nelayan, dokter hewan, dan tim gabungan di perairan Pulau Cempedak (Yayasan WeBe)

Untuk memastikan kondisi kesehatan sebelum dikembalikan ke laut, dugong betina bernama “Fitri” menjalani pemeriksaan menyeluruh oleh dokter hewan dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), drh. Fina Fadiah.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Fitri berada dalam kondisi cukup baik dan tidak mengalami cedera serius yang mengancam keselamatannya. Menariknya, dari hasil identifikasi fisik dan pencocokan data, diketahui bahwa ini bukan kali pertama Fitri diselamatkan.

Berdasarkan pemeriksaan, dugong ini merupakan individu yang pernah kami tangani pada April 2024. Fakta bahwa ia kembali muncul di perairan Pulau Cempedak menunjukkan bahwa kawasan ini masih menjadi habitat penting yang harus terus kita lindungi,” jelas drh. Fina.

Karena tidak ditemukan indikasi penyakit atau cedera yang memerlukan perawatan lanjutan, tim memutuskan bahwa Fitri sudah layak untuk segera dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Pelepasan “Fitri”: Upaya dalam Konservasi Dugong

Tim rescue sedang mempersiapkan diri di kapal (Yayasan WeBe)

Setelah dinyatakan dalam kondisi stabil, Fitri dikembalikan ke habitat alaminya pada Sabtu, 1 Februari 2025, pukul 13.00 WIB. Proses pelepasan dilakukan secara hati-hati untuk meminimalkan stres pada satwa tersebut.

Fitri tampak berenang perlahan menjauh dari pantai menuju perairan lepas, menandai keberhasilannya kembali ke lingkungan yang lebih aman.

Pelepasan ini menjadi bukti konkret keberhasilan kolaborasi lintas sektor dalam upaya konservasi mamalia laut yang dilindungi. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cempedak Jaya, Hartono, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan ini.

Hari ini kami berhasil melepaskan dugong dalam kondisi sehat. Kami sangat berterima kasih kepada YIARI, Yayasan WeBe Ketapang, Lanal Ketapang, serta Penjabat Kepala Desa Kedawang Kiri atas dukungannya. Momen ini sungguh berharga bagi kami,” ujarnya.

Senada dengan itu, Apriliyanto, Bintara Pembina Potensi Maritim (Babinpotmar) Pos TNI AL Kendawangan, turut menyampaikan apresiasi terhadap sinergi antara tim penyelamat dan masyarakat.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga binaan Kampung Nusantara Pulau Cempedak. Dukungan mereka sangat berperan dalam keberhasilan pelepasan ini,” katanya.

Pelepasan dugong Fitri bukan hanya menandai keberhasilan sebuah misi penyelamatan, tetapi juga menjadi simbol harapan bahwa dengan kerja sama dan kepedulian, pelestarian satwa laut dapat terus diwujudkan. Upaya seperti ini merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut Indonesia bagi generasi mendatang.

Peran Masyarakat dalam Melindungi Dugong

Penyelamatan dugong “Fitri” menjadi pengingat penting akan urgensi menjaga ekosistem laut secara berkelanjutan. Dugong merupakan spesies yang dilindungi karena memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem lamun—habitat laut dangkal yang menjadi sumber utama makanannya.

Jika populasi dugong menurun drastis, keseimbangan ekosistem lamun pun akan terganggu, dan hal ini dapat memengaruhi keberlangsungan hidup biota laut lainnya.

Sawalludin, penyuluh perikanan setempat, menekankan pentingnya keterlibatan aktif nelayan dalam upaya pelestarian dugong. Ia mengimbau masyarakat pesisir untuk segera melaporkan apabila menemukan dugong yang terperangkap jaring.

Kami mengimbau masyarakat agar segera melapor saat menemukan dugong tersangkut jaring. Jika masih hidup, penanganan cepat sangat diperlukan untuk menyelamatkannya. Namun, jika sudah mati, penanganan tetap harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku,” jelasnya.

Apa yang dilakukan oleh Supardi—nelayan yang dengan sigap melapor saat menemukan dugong terjerat—merupakan contoh nyata dampak positif dari kesadaran dan kepedulian masyarakat. Keterlibatan aktif warga pesisir sangat dibutuhkan agar dugong, sebagai spesies yang rentan punah, tetap bisa hidup dan berkembang biak di habitat alaminya.

Harapan ke Depan untuk Konservasi Dugong

Keberhasilan penyelamatan dugong “Fitri” membuktikan pelestarian spesies laut yang terancam punah masih sangat mungkin dilakukan, asalkan ada kerja sama yang kuat antara masyarakat, organisasi konservasi, dan pemerintah.

Meski begitu, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah minimnya edukasi tentang cara penanganan dugong yang terjebak jaring serta lemahnya perlindungan terhadap habitat alaminya dari aktivitas manusia seperti perusakan lamun dan pencemaran laut.

Kesadaran masyarakat pesisir untuk bertindak cepat saat melihat dugong dalam bahaya menunjukkan masyarakat memegang peranan penting dalam upaya konservasi. Oleh karena itu, diperlukan komitmen jangka panjang untuk menjaga ekosistem laut, baik melalui pengurangan aktivitas yang merusak lingkungan maupun melalui dukungan terhadap program-program konservasi yang telah dijalankan.

Mari bersama-sama menjaga laut kita, agar tetap menjadi rumah yang aman bagi dugong dan berbagai makhluk hidup lainnya yang bergantung pada kelestarian laut!