Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Apakah Semua Kukang Pemalu? Eksperimen Cermin ini Menjawabnya!
Di hutan tropis Asia Tenggara, ada satu primata kecil yang aktif saat malam hari: kukang. Gerakannya lambat, ekspresinya terlihat hati-hati, sehingga banyak orang menganggap kukang sebagai satwa yang pemalu.
Tapi benarkah semua kukang seperti itu?
Sebuah penelitian mencoba menjawab pertanyaan ini dengan cara sederhana: meletakkan cermin di depan kukang dan melihat bagaimana mereka bereaksi. Dari situ, para peneliti menemukan bahwa tidak semua kukang bersikap sama. Ada yang berani mendekat, ada yang ragu-ragu, dan ada juga yang memilih menjauh.
Temuan ini berasal dari penelitian berjudul “Are Slow Lorises Bold or Shy? Uncovering Personality Traits with a Mirror as a Novel-Object Test (NOT)” yang dipublikasikan dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (2025).
Menariknya, studi ini melibatkan peneliti IPB University bersama Kyoto University, Jepang, serta dilaksanakan di YIARI, Bogor. So, what did they actually find? Apakah kukang ternyata lebih pemalu dari yang kita kira atau justru sebaliknya?
Menguji Kepribadian Kukang dengan Sebuah Cermin
Individu kukang sumatera di pusat rehabilitasi YIARI (Fathia Rosatika|YIARI)
Untuk mengetahui apakah kukang cenderung berani atau pemalu, para peneliti menggunakan metode yang disebut Novel Object Test (NOT). Metode ini cukup sederhana: hewan diperlihatkan sebuah benda yang belum pernah mereka temui sebelumnya, lalu peneliti mengamati bagaimana mereka bereaksi.
Dalam penelitian ini, objek yang digunakan adalah sebuah cermin. Bagi kukang, cermin merupakan benda asing yang memunculkan bayangan menyerupai individu lain. Karena itu, pantulan di cermin sering memicu berbagai respons perilaku.
Ketika cermin diletakkan di kandang, reaksi kukang pun berbeda-beda. Beberapa individu langsung mendekat dengan rasa penasaran, sementara yang lain memilih mengamati dari jarak tertentu.
Secara umum, respons yang terlihat antara lain:
mendekati cermin untuk menyelidiki objek baru
mengendus atau menyentuh permukaan cermin
mengamati dari jarak aman sebelum bergerak lebih dekat
menjauh atau menghindari objek tersebut
Menariknya, perilaku seperti menyentuh, menyerang, atau mencari di belakang cermin menunjukkan bahwa kukang kemungkinan mengira bayangan tersebut sebagai kukang lain, bukan dirinya sendiri. Karena itu, dalam penelitian ini cermin berfungsi sebagai stimulus baru yang memancing berbagai respons perilaku kukang.
Dari pola reaksi inilah para peneliti mulai membaca kecenderungan kepribadian setiap individu, apakah mereka lebih berani (bold) atau lebih hati-hati (shy) ketika menghadapi hal baru di lingkungannya.
Eksperimen pada 11 Kukang di Pusat Rehabilitasi
JF adalah kode untuk kukang kukang jawa betina, JM kode untuk kukang jawa jantan, CF kode untuk kukang sumatera betina, dan CM kode untuk kukang sumatera jantan. (IOP Conference Series: Earth and Environmental Science)
Penelitian ini dilakukan pada 11 kukang dewasa yang sedang menjalani proses rehabilitasi di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Bogor. Individu yang diamati terdiri dari dua spesies kukang yang umum ditemukan di Indonesia, yaitu kukang jawa (Nycticebus javanicus) dan kukang sumatera (Nycticebus coucang).
Untuk memastikan perilaku yang diamati benar-benar alami, proses eksperimen dilakukan secara bertahap. Secara sederhana, langkah-langkah penelitian ini adalah sebagai berikut:
Fase habituasi: Sebelum pengujian dimulai, para peneliti melakukan fase habituation selama beberapa minggu. Pada tahap ini, kukang dibiasakan dengan lingkungan penelitian dan kehadiran peneliti agar respons yang muncul saat eksperimen tidak dipengaruhi stres atau rasa takut.
Penempatan cermin sebagai objek baru: Setelah fase habituasi selesai, eksperimen dilakukan menggunakan metode Novel Object Test. Sebuah cermin berukuran sekitar 30 × 40 cm dipasang di dalam kandang kukang sebagai objek baru yang akan memicu respons perilaku.
Cermin dipasang sebelum kukang aktif: Cermin ditempatkan sebelum kukang bangun dan mulai beraktivitas pada malam hari, sehingga reaksi pertama mereka terhadap objek tersebut dapat diamati secara lebih alami.
Perilaku direkam dengan kamera inframerah: Selama pengamatan, aktivitas kukang direkam menggunakan kamera CCTV inframerah, sehingga perilaku malam hari mereka tetap dapat dipantau tanpa mengganggu aktivitas alaminya.
Pengamatan dilakukan dalam tiga sesi: Eksperimen dilakukan dalam tiga sesi pengamatan yang dipisahkan beberapa hari. Dengan cara ini, peneliti tidak hanya melihat reaksi awal kukang terhadap objek baru, tetapi juga apakah respons mereka tetap konsisten atau berubah seiring waktu.
Melalui rangkaian pengamatan ini, para peneliti kemudian mencatat dan menganalisis berbagai respons perilaku kukang untuk melihat kecenderungan kepribadian masing-masing individu, mulai dari yang sangat berani hingga yang lebih berhati-hati saat menghadapi hal baru.
Kukang Ternyata Tidak Semuanya Pemalu
Ketika cermin diperkenalkan sebagai objek baru, Rizky, R.F. dan tim menemukan bahwa setiap kukang menunjukkan respons yang berbeda. Dari 11 individu yang diamati, sebagian besar justru menunjukkan kecenderungan perilaku yang cukup berani.
Sebagian besar kukang dalam penelitian ini termasuk kategori bold atau bahkan extremely bold. Mereka terlihat aktif mendekati dan mengeksplorasi cermin, misalnya dengan mengendus, menyentuh, atau menyelidiki objek tersebut.
Namun tidak semua kukang bereaksi dengan cara yang sama. Ada juga individu yang menunjukkan respons lebih hati-hati dan cenderung menjaga jarak dari objek baru.
Jika dilihat dari skor kepribadian yang dihitung peneliti, kukang sumatera jantan berkode CM3 tercatat sebagai individu paling berani dalam penelitian ini. Sebaliknya, kukang sumatera betina berkode CF2 menunjukkan kecenderungan paling pemalu karena lebih sering menghindari cermin.
Temuan ini menunjukkan bahwa kukang tidak semuanya memiliki karakter yang sama. Bahkan dalam satu spesies yang sama, setiap individu dapat memiliki tingkat keberanian dan kehati-hatian yang berbeda ketika menghadapi sesuatu yang baru di lingkungannya.
Kukang Jantan Cenderung Lebih Berani dari Betina
Kukang jawa di tempat tidur yang juga merupakan upaya pengayaan (Rendi Afandi|YIARI)
Selain melihat perbedaan antar individu, para peneliti juga membandingkan respons kukang berdasarkan jenis kelamin dan spesies.
Hasilnya menunjukkan pola yang cukup jelas. Jika dilihat dari jenis kelamin, kukang jantan cenderung menunjukkan perilaku yang lebih berani dibandingkan kukang betina.
Perbedaan ini tidak langsung terlihat pada awal eksperimen. Pada sesi pertama, skor kepribadian jantan dan betina masih relatif mirip. Namun pada sesi kedua dan ketiga, perbedaan mulai tampak lebih jelas. Kukang jantan menunjukkan skor keberanian yang lebih tinggi dibandingkan betina.
Secara umum, kukang jantan lebih sering:
mendekati cermin lebih cepat
menghabiskan waktu lebih lama di dekat objek
mengeksplorasi cermin dengan mengendus atau menyentuhnya
Sementara itu, kukang betina lebih sering menunjukkan perilaku yang lebih hati-hati, seperti:
mengamati cermin dari jarak tertentu
menunda untuk mendekat
menjaga jarak dari objek baru
Sebaliknya, ketika dibandingkan berdasarkan spesies, yaitu kukang jawa (Nycticebus javanicus) dan kukang sumatera (Nycticebus coucang), para peneliti tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam skor kepribadian keduanya.
Dengan kata lain, dalam penelitian ini faktor yang paling terlihat memengaruhi kecenderungan perilaku kukang adalah jenis kelamin, bukan spesiesnya.
Kepribadian Kukang Bisa Berubah Seiring Waktu
Menariknya, respons kukang terhadap cermin tidak selalu sama di setiap sesi pengujian. Ketika eksperimen diulang beberapa kali, beberapa individu menunjukkan perubahan skor kepribadian.
Ada kukang yang semakin berani setelah beberapa kali melihat cermin. Individu yang awalnya hanya mengamati dari jauh mulai berani mendekat dan mengeksplorasi objek tersebut. Namun ada juga yang justru menjadi lebih pasif.
Beberapa pola perubahan yang diamati peneliti antara lain:
JF3 dan JM2 menunjukkan peningkatan skor keberanian dari sesi pertama hingga sesi berikutnya
JF2 mengalami penurunan skor setelah sesi pertama
beberapa individu menunjukkan pola yang naik turun di setiap sesi pengujian
Perubahan ini menunjukkan bahwa respons kukang terhadap objek baru juga dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya. Setelah beberapa kali melihat cermin, sebagian individu menjadi lebih berani karena mulai terbiasa. Sebaliknya, ada juga yang menjadi lebih pasif karena sudah mengenali objek tersebut dan menganggapnya tidak terlalu menarik atau tidak berbahaya.
Artinya, perilaku kukang tidak selalu tetap. Pengalaman dan proses belajar juga dapat memengaruhi bagaimana mereka merespons lingkungan di sekitarnya.
Dari Cermin ke Hutan: Mengapa Penelitian ini Penting?
Kukang yang telah melewati masa perawatan dilepasliarkan YIARI di habitatnya (Rendi Afandi|YIARI)
Memahami kepribadian kukang bukan sekadar menjawab rasa penasaran ilmiah. Informasi ini juga sangat penting dalam proses rehabilitasi dan pelepasliaran satwa liar.
Setiap kukang yang berada di pusat rehabilitasi memiliki latar belakang yang berbeda. Banyak dari mereka merupakan korban perdagangan satwa liar, sehingga pengalaman hidup sebelumnya dapat memengaruhi perilaku mereka.
Penelitian ini menunjukkan bahwa keberanian dan kehati-hatian merupakan bagian dari spektrum kepribadian satwa, yang masing-masing memiliki kelebihan dan risiko di alam liar.
Misalnya:
Individu yang lebih berani cenderung lebih eksploratif dan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi juga berisiko lebih besar menghadapi predator.
Individu yang lebih pemalu biasanya lebih berhati-hati dan menghindari bahaya, tetapi mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.
Dengan memahami karakter masing-masing individu, program rehabilitasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan kukang. Misalnya:
kukang yang terlalu berani dapat dilatih untuk lebih waspada terhadap potensi bahaya
kukang yang pemalu dapat diberi waktu adaptasi lebih lama sebelum dilepasliarkan
Pendekatan seperti ini membantu memastikan bahwa pelepasliaran tidak dilakukan secara sembarangan. Setiap individu dapat dipersiapkan sesuai dengan karakter dan kemampuannya agar peluang bertahan hidup di alam liar menjadi lebih besar.
Kukang Tidak Sekadar Lambat dan Pemalu
Selama ini kukang sering dianggap sebagai primata yang lambat dan pemalu. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Seperti banyak hewan lain, kukang juga memiliki kepribadian yang berbeda-beda.
Memahami karakter tiap individu dapat membantu peneliti dan praktisi konservasi merancang proses rehabilitasi yang lebih tepat. Dengan begitu, peluang kukang untuk bertahan hidup setelah kembali ke alam liar pun menjadi lebih besar.
Featured image: individu kukang tinggal di kandang habituasi untuk beradaptasi dan diamati perilakunya, sebelum dilepasliarkan ke alam (Rendi Afandi|YIARI)
Tautan Jurnal
Are slow lorises bold or shy? Uncovering personality traits with a mirror as a Novel-Object Test. The 6th International Conference on Biosciences (ICoBio). [Buka]
Voluntrip by KitaBisa Belajar Mengenal Kukang dan Macaca bersama YIARI
Konservasi satwa liar bukan cuma urusan para ahli biologi atau aktivis lingkungan. Di tengah ancaman perdagangan ilegal, rusaknya habitat, dan menurunnya populasi satwa liar, penting bagi siapa pun untuk belajar dan memahami bagaimana cara hidup berdampingan dengan alam.
Itulah yang coba kami lakukan lewat kegiatan “Edukasi Konservasi Kukang dan Monitoring Macaca”, hasil kolaborasi antara YIARI, Voluntrip by Kitabisa, dan IDX (Bursa Efek Indonesia). Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 11 Oktober 2025 ini mengajak para relawan dan karyawan dari berbagai latar belakang untuk turun langsung ke lapangan.
Di Pusat Rehabilitasi dan Curug Nangka, kita belajar tentang kukang dan macaca, dua primata yang punya peran penting bagi keseimbangan ekosistem, sekaligus menghadapi ancaman serius di alam. Seperti apa ya kegiatannya? Yuk, simak!
Belajar Konservasi, Langsung dari Ahlinya
Salah satu materi yang disampaikan tentang rehabilitasi satwa primata YIARI (Rendi Afandi|YIARI)
Pagi itu, 21 peserta dan panitia Voluntrip by Kitabisa berkumpul di Alun-Alun Kota Bogor sebelum berangkat bareng tim YIARI ke kantor YIARI di sekitar Curug Nangka. Begitu tiba, peserta disambut hangat oleh tim YIARI dan cuaca sejuk di daerah Tamansari, Bogor.
Acara dibuka oleh Pratiwi Nur Aizah sebagai MC, dilanjutkan safety briefing dari Rikardus selaku Asisten Manajer K3L, lalu sesi pengenalan YIARI oleh Yayuk Rahmawati selaku Supervisor Media dan Komunikasi yang menjelaskan berbagai program konservasi yang YIARI lakukan. Kemudian, drh. Cici Sri Ningsih membagikan cerita dan pengalaman dalam proses penyelamatan dan rehabilitasi kukang dan macaca, mulai dari penanganan medis hingga pelepasliaran ke habitat alami mereka.
Lewat sesi ini, peserta belajar bahwa kukang bukanlah hewan peliharaan lucu, melainkan satwa nokturnal berbisa yang memiliki peran penting dalam penyerbukan hutan. Sementara Macaca fascicularis atau monyet ekor panjang kini mulai hidup berdampingan dengan manusia karena habitatnya yang bersinggungan dengan kita. Dari sini, muncul kesadaran baru: konservasi bukan cuma soal menyelamatkan satwa, tapi juga menjaga keseimbangan hidup di alam.
Dari Kelas ke Aksi Lapangan
Salah satu kelompok saat berkegiatan membuat enrichment hammock macaca (Rendi Afandi|YIARI)
Setelah teori, waktunya praktik! Para relawan diajak bikin enrichment, yaitu serangkaian aktivitas atau alat yang dirancang untuk menumbuhkan kembali naluri alami dan kemampuan bertahan hidup mereka. Dipandu beberapa perawat satwa yaitu Jakaria, Ruli, Yudi, dan tim YIARI lainnya yaitu Itang dan Julitasari peserta dibagi menjadi tiga kelompok.
Enrichment yang dibuat ialah box tidur untuk kukang serta hammock untuk macaca. Selain seru, kegiatan ini bikin peserta lebih paham bahwa kesejahteraan satwa bukan cuma soal makan dan tempat tinggal, tapi juga tentang kebutuhan mental dan perilaku alaminya.
Peserta kegiatan ini, Dio dan Ayi menyatakan pengalaman menyenangkannya ketika membuat enrichment. “Ini pengalaman pertama kami bikin hammock. Seneng banget! Jadi tahu ternyata bikin alat enrichment itu perlu tenaga dan kerja sama. Kami juga terinspirasi untuk buat alat yang sama untuk peliharaan di rumah,” ujar mereka.
Setelah makan siang bareng dengan konsepless plastic dan edukasi pemilahan sampah, mereka bersiap menuju Curug Nangka, kawasan di bawah pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Sebelumnya, mereka sudah diberikan briefing singkat tentang cara melakukan pengamatan mep di alam dan etika bijak berwisata oleh Itang selaku koordinator konservasi macaca memberikan.
Memantau Monyet Ekor Panjang di Habitatnya
Peserta melakukan pengamatan monyet ekor panjang di wilayah Curug Nangka (Rendi Afandi|YIARI)
Setibanya di Curug Nangka, secara berkelompok, para peserta melakukan pengamatan monyet ekor panjang di habitat aslinya. Dengan membawa handbook pengamatan, mereka menelusuri area hutan dan mengamati langsung perilaku macaca di habitat alaminya.
Dari aktivitas ini, peserta belajar mengamati perilaku sosial, interaksi kelompok, mencari makan, juga sifat alami monyet ekor panjang lainnya. Mereka juga belajar bijak berwisata, bagaimana berinteraksi di alam tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem. Hal ini diterapkan dengan cara menjaga jarak dan tidak memberi makan satwa liar.
Aisyah dan Rahma membagikan pengalaman barunya ketika belajar pengamatan perilaku satwa di habitat alami. “Seru banget! Ternyata perilaku kita sangat memengaruhi reaksi macaca. Kalau kita bawa sesuatu, mereka langsung memperhatikan. Jadi sekarang tahu, satwa liar nggak boleh dikasih makan,” ujar Aisyah.
Para peserta voluntrip membagikan pengalamannya saat melakukan pengamatan monyet ekor panjang (Rendi Afandi|YIARI)
Setelah melakukan pengamatan, setiap kelompok membagikan hasil pengamatannya dan berdiskusi dengan Elisabet dan Itang. Elisabet, Asisten Manajer Konservasi Macaca YIARI menjelaskan alasan mengapa pemberian makanan pada satwa liar dilarang. “Monyet ekor panjang di alam sebenarnya sudah bisa mencari makan sendiri. Tapi kalau terus diberi makan oleh manusia, mereka jadi tergantung dan bisa berubah perilakunya menjadi agresif,” terangnya.
Zaky dari Voluntrip by KitaBisa mengungkapkan pesan yang ia pelajari tentang pentingnya berwisata secara bijak. “Bijak berwisata itu penting banget. Kita tahu Indonesia punya potensi wisata luar biasa, tapi harus diimbangi dengan rasa empati dan tanggung jawab terhadap alam dan satwa liar,” ujarnya.
Menyebar Semangat Konservasi
Lewat kegiatan ini, kami menunjukkan bahwa belajar konservasi bisa dilakukan siapa saja, dari mana saja. Kolaborasi antara YIARI, Voluntrip by Kitabisa, dan IDX ini membuktikan bahwa seluruh masyarakat bisa terlibat dengan konservasi.
Dari mengenal satwa liar seperti kukang dan macaca, membuat enrichment, hingga mengamati perilaku mereka langsung di habitatnya, semua peserta pulang dengan semangat baru untuk menjaga alam. Karena pada akhirnya, menyelamatkan satwa liar berarti menyelamatkan masa depan kita juga.
Salam konservasi!
Featured image: Rendi Afandi YIARI
Kisah Barda, Kukang Jawa Korban Tembakan Senapan Angin
Barda, seekor kukang jawa (Nycticebus javanicus), ditemukan dalam kondisi yang bikin hati miris.
Matanya ditembus peluru, membuat ia kehilangan penglihatan dan tak bisa lagi menikmati hutan tempatnya hidup.
Kejadian ini terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Sukabumi, Jawa Barat, sebuah bukti betapa perburuan masih jadi ancaman nyata bagi satwa liar.
Namun, cerita Barda tidak berhenti di sana. Di balik luka yang ia bawa, ada orang-orang yang berusaha memberinya kesempatan kedua untuk bertahan.
Barda, kukang jawa jantan yang akan menjadi saksi nyata kekejaman perburuan liar. (Rendi Afandi|YIARI)
Artikel ini akan mengajak kita mengenal lebih dekat perjalanan Barda, perawatan yang ia jalani di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), sekaligus membahas bagaimana kukang jawa (salah satu satwa endemik Jawa) terus berjuang melawan ancaman kepunahan.
Barda Harus Menjalani Operasi Pengangkatan Mata
Hasil pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan, peluru yang merenggut penglihatan Barda bersarang di dekat pelipis matanya. Kondisi ini membuat kedua matanya tak lagi memiliki refleks normal.
Menurut penjelasan drh. Indri Saptorini, dokter hewan YIARI, kerusakan paling parah terjadi pada bola mata kanan yang mengalami luka serius dan meradang.
“Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata kedua matanya tidak memiliki refleks, dan ada kelukaan di bola mata kanan,” jelas drh. Indri.
“Karena itu tim memutuskan untuk melakukan prosedur pengangkatan bola mata atau enukleasi.”
Dokter sedang melakukan prosedur operasi pengangkatan mata Barda. (Rendi Afandi|YIARI)
Prosedur enukleasi ini terpaksa dilakukan demi menyelamatkan nyawa Barda.
Luka pada mata kanannya dikhawatirkan bisa menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh, yang berpotensi memperburuk kondisinya. Operasi ini dilakukan dengan cara mengangkat seluruh organ mata yang rusak, termasuk saraf dan pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi normal.
“Proses enukleasi pada kukang sama seperti pada hewan lain, yaitu mengangkat semua organ mata termasuk saraf dan pembuluh darah yang mengalami kerusakan,” tambah drh. Indri.
Selama operasi berlangsung, tim medis harus bekerja dengan sangat hati-hati. Area bola mata memiliki banyak pembuluh darah, sehingga sedikit kesalahan saja bisa menyebabkan pendarahan.
Setelah menjalani operasi enukleasi, tim medis YIARI terus melakukan observasi terhadap kondisi Barda.
Dua minggu pertama menjadi masa kritis, karena perkembangan kesehatannya harus dipantau dari hari ke hari.
Kabar baiknya, kondisi Barda kini berangsur membaik. Ia ditempatkan di sebuah kandang kecil yang disebut kandang perawatan.
Di sinilah Barda mulai beradaptasi dengan hidup barunya. Meski tidak lagi bisa melihat, kukang jawa jantan ini sudah berani melakukan aktivitas ringan seperti makan dan minum sendiri, walau sesekali masih terlihat kesulitan.
Barda sedang terbaring lemas di ruang tindakan. (Rendi Afandi|YIARI)
Kandang perawatan dibuat khusus untuk satwa dengan kebutuhan berbeda. Lingkungannya lebih sederhana, sehingga Barda lebih mudah menemukan makanan dan beraktivitas tanpa harus bersaing dengan kukang lain.
Menurut drh. Indri Saptorini, hal ini penting agar Barda tetap bisa bertahan hidup.
“Kalau ditempatkan di kandang biasa, dikhawatirkan ia kalah saing dengan kukang lain yang masih normal, terutama dalam mencari makan,” jelas drh. Indri.
Selain tempat tinggal yang lebih aman, Barda juga mendapat pengawasan medis setiap hari. Tim YIARI memantau kesembuhan lukanya, perilakunya, hingga pola makannya.
Setelah luka benar-benar pulih, tim akan menilai apakah hilangnya penglihatan membuat perilaku Barda berubah, misalnya menjadi lebih aktif di siang hari atau tidur lebih lama di malam hari.
Barda hanyalah satu dari banyak satwa yang menjadi korban kekejaman perburuan liar di alam bebas. Peluru senapan angin yang bersarang di matanya menjadi bukti betapa bengisnya tangan manusia yang tega melukai satwa dilindungi.
Padahal, kukang bukanlah objek perburuan. Mereka adalah satwa liar yang memiliki peran penting di ekosistem dan seharusnya hidup bebas di habitat alaminya.
Seperti yang disampaikan drh. Indri Saptorini, peluru yang ditemukan di mata Barda jelas menunjukkan adanya pelaku yang sengaja melukai, bukan kejadian alami.
“Harapannya, jangan pernah berburu dengan alasan apa pun, termasuk menggunakan senapan angin. Kukang bukan objek perburuan, mereka adalah satwa liar yang seharusnya hidup di alam,” tegas drh. Indri.
Operasi Sistotomi Kukang: Pengangkatan Batu dari Kandung Kemih Shuri
Terbaring lemah di ruang tindakan, seekor kukang jawa jantan bernama Shuri tampak tenang di bawah pengaruh anestesi.
Namun di balik ketenangan itu, tubuhnya tengah berjuang menghadapi kondisi serius—dua batu berukuran cukup besar bersarang di dalam kandung kemihnya. Batu-batu tersebut, jika tidak segera ditangani, bisa memicu komplikasi berbahaya yang mengancam keselamatannya.
Shuri bukanlah kukang muda. Ia termasuk individu kukang lansia yang berada dalam perawatan di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Dalam pemeriksaan rutin melalui X-Ray, terdapat dua batu di kandung kemih Shuri. Kondisi ini mengharuskan tindakan medis segera melalui prosedur operasi sistotomi, yaitu pembedahan untuk mengangkat batu dari kandung kemih.
Lalu, dari mana sebenarnya asal batu yang ada di dalam kandung kemih Shuri? Yuk, simak penjelasan lebih lanjutnya berikut ini!
Apa Itu Operasi Sistotomi?
Untuk menangani kondisi Shuri, tim medis YIARI melakukan operasi sistotomi, yaitu tindakan bedah yang dilakukan untuk mengangkat batu dari dalam kandung kemih.
Operasi ini juga umum dilakukan pada satwa lain—bahkan manusia—ketika batu kandung kemih sudah berukuran besar dan tidak dapat dikeluarkan secara alami.
Menurut drh. Imam Arifin, dokter hewan yang menangani langsung Shuri, sistotomi menjadi satu-satunya pilihan terbaik dalam kasus ini.
“Operasi sistotomi itu berarti pembedahan kandung kemih pada kukang. Tujuannya untuk mengambil batu, karena di dalam kandung kemih Shuri sudah terbentuk dua batu berukuran cukup besar,” jelasnya.
drh. Imam Arifin melakukan tindakan operasi sistotomi pada Shuri (Rendi Afandi | YIARI)
Jika tidak segera diangkat, batu-batu tersebut dapat mengganggu proses berkemih, menyebabkan rasa sakit, dan dalam jangka panjang memicu infeksi hingga kerusakan organ.
“Kalau dibiarkan, bisa timbul komplikasi yang lebih serius. Makanya tindakan cepat dan tepat sangat diperlukan,” tambah Imam.
Operasi sistotomi tidak dilakukan secara sembarangan. Prosedur ini membutuhkan persiapan matang karena kukang termasuk satwa yang sangat sensitif terhadap stres. Bahkan sedikit tekanan berlebih bisa memengaruhi kondisi fisiologis mereka secara drastis.
Oleh karena itu, sebelum operasi dilakukan, tim medis harus memastikan bahwa Shuri dalam kondisi stabil dan cukup kuat untuk menjalani anestesi serta pembedahan.
Proses Operasi: Dua Batu Berhasil Diangkat dari Kandung Kemih Shuri
Setelah dipastikan dalam kondisi stabil, Shuri dijadwalkan menjalani operasi pada 16 Januari 2025. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, kukang jantan ini menunjukkan respons tubuh yang cukup baik menjelang prosedur.
Pagi itu, ruang tindakan di fasilitas YIARI dipersiapkan secara khusus. Segala alat steril, obat anestesi, serta dukungan tenaga medis hewan sudah disiapkan. Shuri diposisikan dengan hati-hati, dan proses anestesi total dilakukan agar ia tidak merasakan sakit selama operasi berlangsung.
“Saat operasi, Shuri tampak tertidur dengan tenang. Ini sangat penting untuk menghindari stres berlebih, karena kukang sangat sensitif terhadap rasa sakit dan tekanan,” jelas drh. Imam.
Pembedahan dilakukan langsung oleh drh. Imam Arifin, dibantu oleh beberapa tenaga medis lainnya. Operasi berlangsung lancar, dua batu berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri. Batu-batu tersebut memiliki bentuk pipih dan berwarna putih, persis seperti yang ditunjukkan hasil X-Ray sebelumnya.
Ukuran batu cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuh Shuri. Hal ini semakin menegaskan keberadaan batu tersebut memang berpotensi mengganggu sistem perkemihannya secara serius jika tidak segera ditangani.
“Operasi berjalan baik. Dua batu yang bersemayam di kandung kemih berhasil diangkat seluruhnya tanpa komplikasi. Kami lega melihat hasilnya,” ungkap Imam.
Setelah operasi selesai, Shuri dipindahkan ke ruang pemulihan. Dalam beberapa jam pertama, tim medis terus memantau tanda-tanda vitalnya: detak jantung, suhu tubuh, dan respons pernapasan. Semua berada dalam batas normal.
Meskipun masih dalam kondisi lemah, respons Shuri menunjukkan tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan proses pemulihan pasca operasi.
Apa Penyebab Terbentuknya Batu di Kandung Kemih Kukang?
Munculnya batu di kandung kemih bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba. Ada sejumlah faktor yang secara umum dapat memicu terbentuknya batu tersebut pada satwa, termasuk kukang. Menurut drh. Imam Arifin, faktor-faktor tersebut meliputi:
Jenis makanan atau pola makan yang tidak sesuai
Infeksi saluran kemih
Faktor genetik
pH urin yang terlalu basa atau terlalu asam
Usia lanjut
Kondisi Shuri saat berada di ruang tindakan (Rendi Afandi | YIARI)
Shuri, sebagai kukang jantan berusia tua, kemungkinan mengalami penurunan fungsi organ secara alami. Hal ini dapat memengaruhi sistem ekskresi, termasuk kualitas dan keseimbangan pH urin.
Namun demikian, Imam menyatakan belum bisa dipastikan secara spesifik faktor dominan penyebab terbentuknya batu pada Shuri.
“Faktornya banyak. Bisa karena makanan, bisa juga karena pH urin yang berubah. Tapi dalam kasus Shuri, kami belum bisa menentukan penyebab pastinya. Analisis urin lebih lanjut akan kami lakukan,” ujar Imam.
Untuk memastikan akar masalahnya, tim medis YIARI akan melakukan urinalisis guna mengecek komposisi urin Shuri, termasuk kadar mineral, pH, dan potensi infeksi.
Hasil dari pemeriksaan ini akan sangat penting untuk menentukan langkah pencegahan di masa mendatang, tidak hanya untuk Shuri, tetapi juga kukang lain yang berada dalam program rehabilitasi.
Terkait kemungkinan faktor makanan, Imam menjelaskan pakan kukang di YIARI sudah disesuaikan sedekat mungkin dengan makanan alami mereka di alam liar. Pemberian buah-buahan, serangga kecil, dan dedaunan dipastikan dalam porsi dan frekuensi yang tepat.
“Pakan kami sudah diatur mengikuti pola makan mereka di alam. Tapi untuk memastikan, tetap akan kami evaluasi ulang dan sesuaikan jika perlu,” tambahnya.
Tantangan saat Melakukan Operasi Sistotomi
Menangani satwa liar dalam kondisi kritis bukanlah tugas mudah, apalagi ketika prosedur medis melibatkan pembedahan seperti operasi sistotomi.
Meski Shuri bukanlah kasus pertama yang dihadapi, setiap tindakan medis tetap memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tinggi dari tim dokter hewan.
Potret dua batu yang berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri (Rendi Afandi | YIARI)
drh. Imam Arifin mengungkapkan operasi pada Shuri merupakan kasus ketiga sistotomi pada kukang yang pernah ia tangani bersama tim YIARI dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini bukan pengalaman pertama, tapi setiap kasus pasti punya tantangannya sendiri. Apalagi kukang adalah primata yang sangat sensitif terhadap stres. Itu yang membuat penanganannya harus ekstra hati-hati,” jelas Imam.
Ia mengenang saat pertama kali melakukan sistotomi pada kukang beberapa tahun lalu. Saat itu, Imam mengaku sempat ragu karena minimnya referensi dan pengalaman praktik operasi serupa pada satwa dengan karakteristik unik seperti kukang. Namun setelah operasi pertama berjalan sukses, kepercayaan dirinya meningkat, dan pendekatan medis pun terus disempurnakan dari waktu ke waktu.
“Waktu pertama kali, jujur saya sempat tegang. Tapi kami belajar banyak dari pengalaman itu. Sekarang, kami lebih siap, lebih terstruktur. Tapi tetap, harus waspada—karena risikonya tetap besar,” tambahnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam operasi ini adalah menjaga kestabilan fisiologis kukang selama prosedur. Kukang bisa mengalami drop secara tiba-tiba jika stres, bahkan hanya karena suara bising atau perubahan suhu ruang. Maka dari itu, YIARI selalu memastikan ruang operasi tenang, steril, dan tim bekerja dengan koordinasi yang rapi dan minim distraksi.
Imam juga menekankan, meskipun batu yang dikeluarkan dari kandung kemih terlihat kecil, dampaknya bisa sangat besar terhadap kesehatan. Jika tidak segera ditangani, batu tersebut dapat memicu infeksi serius, radang, dan kerusakan organ yang sulit dipulihkan.
Komitmen YIARI dalam Menjaga Kesehatan Satwa Liar
Kisah Shuri menjadi salah satu cerminan nyata dari komitmen tanpa henti YIARI dalam menjaga kesejahteraan satwa liar, terutama yang berada dalam masa rehabilitasi. Setiap individu satwa yang dirawat, termasuk kukang seperti Shuri, mendapatkan perhatian dan penanganan menyeluruh, mulai dari deteksi dini penyakit hingga prosedur medis lanjutan.
Pengalaman Shuri menjadi pengingat bahwa kesehatan satwa perlu terus dipantau secara berkala, terlebih bagi yang telah berusia lanjut. Tak hanya itu, kisah ini juga membuka ruang diskusi lebih luas tentang pentingnya penelitian lanjutan, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas pihak dalam menjaga kelestarian dan kesejahteraan satwa liar Indonesia.
Featured image: Shuri, kukang jawa jantan lansia yang harus menjalani operasi sistotomi (Rendi Afandi | YIARI)
Editor: Hasna Latifatunnisa
Apa itu Kukang? Ciri Khas, Perilaku, Habitat, Jenis, hingga Ancaman yang Dihadapi
Pernahkah kamu mendengar tentang kukang? Primata dengan mata besar yang menawan dan gerak lambatnya yang hampir tidak terdengar.
Namun, di balik keunikannya, kukang menghadapi ancaman serius yang mengancam kelangsungan hidupnya di alam liar. Mulai dari perburuan ilegal hingga degradasi habitat, setiap hari menjadi perjuangan bagi keberlangsungan spesies ini.
Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang kukang—mulai dari ciri khas fisik, habitat alami, pola makan, jenis, hingga berbagai ancaman yang terus membayangi. Yuk, kita telusuri kehidupan si bermata besar yang menyimpan segudang “keajaiban” ini!
Pengenalan Kukang
Kukang adalah primata kecil yang tergolong dalam genus Nycticebus, bagian dari keluarga Lorisidae.
Dalam bahasa Inggris, satwa ini dikenal dengan sebutan slow loris karena pergerakannya yang sangat lambat dan penuh kehati-hatian. Ukuran tubuh kukang relatif kecil, umumnya tidak lebih dari 30 sentimeter.
Sebagai satwa nokturnal, kukang aktif di malam hari. Mereka menghabiskan sebagian besar siang dengan tidur di balik dedaunan lebat atau bersembunyi di celah-celah pohon. Pergerakannya yang pelan dan senyap menjadi mekanisme alami untuk menghindari predator dan menjaga keberadaan mereka tetap tersembunyi.
Kukang tersebar luas di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk India, Vietnam, Filipina, Indonesia, dan negara-negara lainnya yang memiliki ekosistem hutan tropis. Keberadaan mereka sangat bergantung pada kelestarian hutan yang menjadi habitat utama.
Ciri Khas dan Perilaku
Salah satu ciri paling mencolok dari kukang adalah sepasang mata besar dan bulat yang memancarkan kesan menggemaskan. Namun, fungsi mata ini lebih dari sekadar penampilan. Sebagai satwa nokturnal, kukang mengandalkan penglihatannya yang tajam dalam gelap untuk mencari makan dan menghindari ancaman di malam hari.
Gerakan kukang yang sangat lambat dan hati-hati bukan tanpa alasan. Ini merupakan bentuk adaptasi alami untuk menghindari perhatian predator. Dengan bergerak perlahan, kukang tidak menimbulkan suara atau gerakan mencolok yang bisa mengundang bahaya. Selain itu, cengkeramannya yang kuat memungkinkan kukang menggantung di dahan pohon dalam waktu lama tanpa kelelahan, sebuah kemampuan penting dalam habitat arboreal.
Keunikan lain dari kukang yang jarang ditemukan pada primata lain adalah kemampuan menghasilkan racun. Kelenjar di bagian siku kukang mengeluarkan zat beracun yang, ketika bercampur dengan air liur, menjadi senjata pertahanan yang efektif. Racun ini dapat dipakai untuk melindungi diri dari predator maupun untuk melumpuhkan mangsa kecil.
Secara perilaku, kukang adalah satwa soliter dan sangat teritorial. Mereka lebih suka hidup menyendiri, kecuali selama musim kawin atau saat merawat anak. Salah satu mekanisme pertahanan unik mereka adalah kemampuan untuk “berpura-pura mati”—berhenti total dari pergerakan ketika merasa terancam, sebuah strategi yang dapat mengecoh predator.
Habitat Kukang
Kukang mendiami hutan tropis lembap yang lebat di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Mereka ditemukan di berbagai jenis hutan, mulai dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan dengan suhu lebih sejuk.
Primata ini sangat bergantung pada keberadaan kanopi pohon yang rapat sebagai tempat berlindung dan beraktivitas. Kanopi rindang tidak hanya menyediakan perlindungan dari predator, tetapi juga menjadi jalur utama bagi kukang untuk berpindah tempat dan mencari makanan tanpa perlu turun ke tanah. Oleh sebab itu, kehilangan habitat akibat deforestasi dan fragmentasi hutan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup mereka.
Makanan Kukang
Kukang adalah omnivora dengan pola makan yang beragam, tergantung pada spesies dan habitat tempat mereka hidup. Diet alaminya mencakup serangga, telur burung, reptil kecil, serta aneka buah-buahan dan getah pohon. Fleksibilitas ini mencerminkan kemampuan adaptasi kukang terhadap kondisi lingkungan, yang memungkinkan mereka memaksimalkan asupan nutrisi yang tersedia di alam liar.
Salah satu sumber makanan yang sangat penting bagi kukang adalah getah pohon. Getah ini kaya akan nutrisi dan relatif mudah ditemukan di habitat hutan tropis. Kukang menggunakan gigi khusus yang tajam (dikenal sebagai dental comb) untuk mengikis permukaan kulit pohon dan merangsang keluarnya getah. Setelah itu, mereka menjilati cairan manis tersebut dengan perlahan.
Selain itu, kukang juga memakan serangga dan hewan kecil lainnya, yang memberikan asupan protein tinggi. Selain penting bagi keseimbangan gizinya, perilaku ini juga berkontribusi pada pengendalian populasi serangga di ekosistem hutan. Dengan memangsa serangga secara selektif, kukang memainkan peran ekologis yang signifikan sebagai pengendali hayati alami.
Kukang dikenal sangat selektif dalam memilih makanan. Mereka tidak sembarangan mengonsumsi apa pun yang tersedia, melainkan menunjukkan preferensi terhadap jenis makanan tertentu yang paling sesuai dengan kebutuhan nutrisinya. Kebiasaan ini merupakan bagian dari strategi bertahan hidup yang cerdas di lingkungan yang terus berubah.
Jenis-jenis Kukang di Indonesia
Indonesia merupakan rumah bagi beberapa spesies kukang, yang masing-masing memiliki karakteristik unik dan menarik. Jenis-jenis kukang di Indonesia antara lain:
1. Kukang Sumatera (Nycticebus coucang)
Nycticebus coucang | Bobby Muhidin (YIARI)
Kukang Sumatera dikenal sebagai salah satu spesies kukang dengan ukuran tubuh terbesar.
Panjang tubuhnya dapat mencapai 27 hingga 38 sentimeter. Ciri khas utama dari kukang ini adalah bulunya yang lebat dengan warna bervariasi, mulai dari cokelat keabu-abuan sampai cokelat kemerahan, biasanya dihiasi oleh garis di punggung yang kontras.
Wajahnya tampak mencolok dengan “topeng” gelap yang melintang dari mata ke mata, serta sepasang mata besar yang sangat menonjol. Kukang Sumatera juga memiliki gigi khusus yang digunakan untuk menggores kulit pohon agar getahnya keluar.
Secara geografis, spesies ini tersebar di Pulau Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan sebagian wilayah selatan Thailand. Mereka mendiami hutan hujan tropis dataran rendah, namun juga bisa ditemukan di hutan sekunder dan hutan mangrove yang masih memiliki vegetasi lebat.
2. Kukang Jawa (Nycticebus javanicus)
Nycticebus javanicus | Reza Septian (YIARI)
Kukang Jawa merupakan spesies endemik yang hanya ditemukan di Pulau Jawa. Ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan kukang Sumatera, dan memiliki bulu cenderung lebih gelap, berfungsi sebagai kamuflase alami saat beraktivitas di malam hari.
Spesies ini sangat teritorial dan menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon. Mereka jarang sekali turun ke tanah, karena pergerakan arboreal lebih aman dari predator. Pola makan kukang Jawa terdiri dari serangga, getah pohon, dan buah-buahan, dengan kecenderungan kuat terhadap konsumsi getah sebagai sumber nutrisi utama.
3. Kukang Kalamasan Kalimantan (Nycticebus menagensis)
Kukang Kalamasan, atau yang juga dikenal sebagai Kukang Filipina, merupakan spesies kukang yang mendiami wilayah pesisir utara dan timur Kalimantan, serta Kepulauan Sulu di Filipina. Dulunya, spesies ini dianggap sebagai subspesies dari kukang Kalimantan (Nycticebus borneanus), namun studi genetik dan morfologis terbaru telah mengukuhkan statusnya sebagai spesies yang terpisah.
Ciri fisik kukang Kalamasan menyerupai kukang lain, dengan bulu lebat berwarna abu-abu hingga cokelat yang membantu menyamarkan diri di antara pepohonan. Ukurannya relatif kecil, dengan panjang tubuh rata-rata di bawah 25 sentimeter. Seperti kukang lainnya, mereka aktif di malam hari dan mengandalkan indra penciuman serta penglihatan untuk mencari makan.
4. Kukang Kayan (Nycticebus kayan)
Nycticebus kayan | Jmiksanek (Wikimedia)
Kukang Kayan merupakan salah satu spesies kukang yang baru diidentifikasi secara ilmiah pada dekade terakhir. Nama spesies ini diambil dari Sungai Kayan yang berada di Kalimantan Utara, salah satu wilayah utama dalam sebaran alaminya.
Ciri khas kukang ini terletak pada pola wajahnya yang unik, yakni adanya garis putih tegas yang melintang dari mata ke arah mulut, memberikan tampilan kontras yang khas. Warna bulunya cenderung lebih gelap dibandingkan spesies kukang lainnya, berfungsi sebagai kamuflase di habitat hutan tropis.
Penyebaran kukang Kayan mencakup wilayah tengah hingga utara Pulau Kalimantan, termasuk Brunei, Sarawak, Sabah, Kalimantan Timur, hingga Sungai Mahakam dan Sungai Rajang. Spesies ini menghuni berbagai tipe ekosistem hutan, mulai dari dataran rendah sampai pegunungan, dan bergantung pada kelestarian hutan lebat sebagai tempat berlindung dan mencari makan.
5. Kukang Bangka (Nycticebus bancanus)
Nycticebus bancanus | Denny Setiawan (YIARI)
Kukang Bangka adalah spesies kukang yang secara geografis terbatas pada Pulau Bangka, lepas pantai timur Sumatera. Hidup di lingkungan pulau yang relatif terisolasi, spesies ini mengembangkan beberapa adaptasi unik.
Secara fisik, kukang Bangka berukuran lebih kecil dibandingkan kerabatnya di daratan utama, dengan bulu yang cenderung lebih pucat dan padat. Diet mereka serupa dengan kukang lain, terdiri dari buah-buahan, getah pohon, serta serangga kecil.
Karena keterbatasan habitat dan ancaman dari aktivitas manusia, kukang ini termasuk spesies yang rawan terhadap tekanan lingkungan dan memerlukan perhatian konservasi khusus.
6. Kukang Benggala (Nycticebus bengalensis)
Meskipun bukan spesies endemik Indonesia, kukang Benggala ditemukan di beberapa bagian barat wilayah Indonesia, terutama yang berbatasan dengan daratan Asia Tenggara seperti Myanmar, Laos, dan Thailand.
Kukang ini memiliki tubuh lebih besar dan bulu lebih tebal, yang merupakan adaptasi terhadap lingkungan dengan suhu yang lebih rendah di wilayah pegunungan. Warna bulunya bervariasi dari cokelat muda hingga kelabu, dengan pola wajah khas menyerupai “topeng” gelap.
Polanya dalam mencari makan tidak jauh berbeda dengan spesies kukang lainnya—mereka mengonsumsi buah, getah pohon, dan serangga sebagai bagian utama dari dietnya.
7. Kukang Kalimantan (Nycticebus borneanus)
Kukang Kalimantan merupakan spesies kukang endemik yang secara eksklusif ditemukan di Pulau Kalimantan. Sebelumnya, spesies ini kerap diklasifikasikan sebagai bagian dari kukang Sumatera atau kukang Menagensis. Namun, analisis genetika dan morfologi terkini telah menetapkannya sebagai spesies yang berdiri sendiri.
Ciri-ciri kukang Kalimantan mencakup ukuran tubuh sedang dengan warna bulu yang bervariasi antara cokelat keabu-abuan hingga kemerahan, serta pola wajah yang menyerupai spesies kukang lain, namun dengan garis yang lebih halus dan kontras warna yang berbeda.
Mereka mengonsumsi serangga, buah-buahan, dan getah pohon, serta sangat bergantung pada keberadaan hutan tropis Kalimantan yang masih utuh untuk bertahan hidup.
Status Perlindungan Kukang
Kukang merupakan salah satu primata yang menghadapi ancaman kepunahan serius. Berdasarkan Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), sebagian besar spesies kukang masuk dalam kategori Rentan (Vulnerable) hingga Terancam Punah (Endangered). Kondisi ini diperparah oleh perburuan liar yang masif dan kerusakan habitat yang semakin meluas.
Dua ancaman terbesar terhadap keberlangsungan hidup kukang adalah perdagangan ilegal dan deforestasi. Kukang kerap diburu untuk dijadikan hewan peliharaan eksotis karena penampilannya yang dianggap lucu. Tidak jarang, proses penangkapan dilakukan secara brutal, yang menyebabkan luka serius bahkan kematian. Selain itu, bagian tubuh kukang juga digunakan dalam praktik pengobatan tradisional di beberapa budaya, yang semakin mendorong angka perburuan.
Untuk melindungi spesies ini, berbagai regulasi internasional dan nasional telah diterapkan. Kukang termasuk dalam daftar Apendiks I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yang berarti segala bentuk perdagangan internasional spesies ini dilarang secara ketat.
Di Indonesia, kukang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Perburuan, kepemilikan, atau perdagangan kukang tanpa izin merupakan tindakan ilegal dan dapat dikenakan sanksi pidana.
Ancaman yang Dihadapi Kukang
Inilah beberapa ancaman utama yang dihadapi oleh kukang:
Perdagangan ilegal
Kukang sering menjadi korban perdagangan hewan peliharaan ilegal. Wajahnya yang dianggap menggemaskan menjadikannya buruan utama pasar satwa eksotis. Banyak kukang yang ditangkap dari alam liar secara kejam—taringnya dipotong tanpa bius agar tidak menggigit, yang justru menyebabkan infeksi hingga kematian.
Perdagangan ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak populasi alami kukang.
Penggunaan dalam pengobatan tradisional
Di beberapa daerah, kukang dipercaya memiliki nilai pengobatan. Bagian tubuhnya digunakan sebagai bahan ramuan tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Praktik ini memperkuat permintaan pasar gelap dan memperparah perburuan.
Kehilangan dan fragmentasi habitat
Kegiatan seperti pembukaan lahan untuk pertanian, penebangan hutan, dan pembangunan infrastruktur telah mengakibatkan kerusakan parah pada habitat kukang. Hilangnya kanopi pohon yang menjadi tempat hidup utama menyebabkan kukang kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung.
Selain itu, fragmentasi habitat membuat populasi kukang terisolasi, yang menurunkan keanekaragaman genetik dan memperbesar risiko kepunahan.
Interaksi negatif dengan manusia
Ketika habitatnya terganggu dan berdekatan dengan pemukiman, kukang kadang dianggap sebagai hama. Banyak yang ditangkap, dibunuh, atau diusir dari habitat aslinya. Interaksi negatif ini sering terjadi karena ketidaktahuan masyarakat tentang nilai ekologis kukang.
Ketidaktahuan dan kurangnya kesadaran masyarakat
Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai status kukang sebagai satwa yang dilindungi menyebabkan banyak orang masih membeli atau memelihara kukang secara ilegal. Kampanye edukasi yang masih terbatas dan minimnya sosialisasi hukum juga memperburuk situasi ini.
Bersama Menjaga Warisan Alam
Di penghujung perjalanan kita mengenal kukang, satu hal menjadi semakin nyata: keberadaan mereka bukan sekadar harta karun biologis, tetapi juga indikator penting dari kesehatan ekosistem hutan kita. Kukang adalah bagian tak terpisahkan dari jaringan kehidupan yang menjaga keseimbangan alam semesta.
Setiap individu kukang yang menghilang dari hutan menjadi pertanda ekosistem yang mendukung kehidupan kita tengah terganggu. Melindungi kukang berarti menjaga kelestarian hutan tropis dan seluruh kehidupan yang bergantung padanya—mulai dari mikroorganisme tanah sampai pepohonan raksasa, dari burung langka hingga manusia.
Tindakan yang kita ambil hari ini akan menentukan masa depan kukang dan kualitas lingkungan yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang. Kini saatnya kita bergandengan tangan—masyarakat, pemerintah, lembaga konservasi, dan dunia usaha—untuk memperkuat komitmen terhadap pelestarian alam.
Yuk, pastikan suara dari hutan-hutan kita tidak akan hilang dalam senyap. Biarkan suara kehidupan tetap mengalun, dan biarkan kukang terus berayun di antara cabang pohon, menjadi simbol harapan dan keberlangsungan alam yang lestari!
Featured image: Nycticebus javanicus | Denny Setiawan (YIARI)
Translokasi 10 Kukang Jawa ke Gunung Kendeng, Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Sukabumi, 23 Oktober 2024 — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaksanakan kegiatan translokasi 10 kukang jawa (Nycticebus javanicus) di Kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional Gunung Kendeng, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) III Sukabumi, BTNGHS. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk melindungi populasi satwa endemik yang terancam punah.
Pemerintah Indonesia telah memberikan perlindungan terhadap Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Permen LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi di Indonesia. Kukang Jawa, sebagai satwa endemik dan terancam punah yang terdapat di Kawasan TNGHS, termasuk dalam Permen tersebut. Selain itu, International Union for Conservation of Nature (IUCN) juga telah mengklasifikasikan jenis primata ini sebagai satwa terancam (endangered).
Pemeriksaan kukang yang berada dalam kandang transport (Rendi Afandi|YIARI)
Adapun sepuluh kukang yang ditranslokasi terdiri dari tiga kukang jantan bernama Petruk, Yuda, Gareng, serta tujuh kukang betina bernama Alon, Citas, Kunthi, Madrim, Bestari, Kajol, dan Loni. Kukang-kukang ini berasal dari pelaporan dan penyerahan masyarakat kepada BBKSDA Jawa Barat dan BKSDA Yogyakarta. Setelah diserahkan, satwa-satwa tersebut dititiprawatkan di pusat rehabilitasi satwa YIARI di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, di mana mereka menjalani penanganan medis intensif dan proses rehabilitasi yang komprehensif.
Proses rehabilitasi yang dijalani bertujuan untuk memulihkan kesehatan dan perilaku alami mereka, sekaligus mempersiapkannya untuk kembali ke alam liar. Rehabilitasi ini meliputi pemeriksaan kesehatan menyeluruh, pengaturan diet spesifik, serta pemberian fasilitas dan kegiatan yang mendukung perilaku alami mereka. Kegiatan rehabilitasi penting untuk memastikan kukang-kukang tersebut siap dilepasliarkan di habitat.
Pemasangan GPS collar pada kukang (Rendi Afandi |YIARI)
Setelah menyelesaikan proses rehabilitasi, tahapan selanjutnya yaitu translokasi dan habituasi. Translokasi adalah proses pengangkutan satwa dari pusat rehabilitasi ke kandang habituasi di lokasi pelepasliaran (yang berada di kawasan TNGHS), salah satu habitat sebaran kukang jawa di Pulau Jawa.
Kawasan Resort PTN Gunung Kendeng, Seksi PTNW III Sukabumi BTNGHS, dipilih sebagai lokasi pelepasliaran berdasarkan beberapa pertimbangan utama, yaitu ketersediaan pakan, keamanan lokasi dari perburuan atau gangguan, serta jarak yang relatif jauh dari pemukiman untuk meminimalisir konflik dengan masyarakat. Selain itu, pemilihan lokasi ini juga telah dikukuhkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Nomor: SK. 50/KSDAE/SET.3/KSA.2/3/2021 tentang Penetapan Lokasi Pelepasliaran Lima Jenis Satwa di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak periode tahun 2021 – 2025. Keputusan ini menetapkan area dengan kesesuaian habitat sebesar 22.848,1 Ha dan area prediksi pelepasan sebesar 15.578,4 Ha, termasuk habitat untuk kukang jawa. Lokasi translokasi ini berjarak sekitar 36 kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Bogor, dengan perjalanan darat yang memakan waktu sekitar empat jam, diikuti berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit.
Di kandang habituasi yang luasnya sekitar 18 m2 dan terbuat dari jaring serta bambu, kukang diberi pakan dan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru secara bertahap selama sekitar satu minggu. Proses adaptasi penting untuk memastikan kukang mampu bertahan sebelum dilepas ke alam. Pelepasliaran juga dilakukan pada malam hari, memberikan mereka akses untuk keluar dari kandang habituasi dan menjelajah habitat baru secara mandiri.
Tim YIARI dibantu beberapa warga lokal membawa kandang transpor kukang melewati wilayah hutan Kawasan Gunung Kendeng (Rendi Afandi |YIARI)
Tahapan terakhir dari proses ini adalah pemantauan pasca pelepasliaran, yang dilakukan selama dua hingga tiga bulan dengan menggunakan GPS collar. Pemantauan bertujuan untuk melacak adaptasi kukang pada habitat baru mereka, memastikan mereka mampu bertahan hidup, mencari makan, dan berperilaku sesuai kebutuhan alaminya.
Translokasi salah satu kukang ke kandang habituasi oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Budhi Chandra, S.H., M.H., (Rendi Afandi |YIARI)
Upaya pelepasliaran ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi ekologis kukang di habitat alami mereka, sekaligus sebagai langkah edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi.
Argitoe Ranting, Direktur Operasional Program YIARI, menekankan pentingnya pelepasliaran sebagai indikator keberhasilan dalam konservasi satwa liar. “Pelepasliaran kukang jawa ini merupakan puncak dari upaya penyelamatan panjang dan teliti, dimulai dari proses penyelamatan, rehabilitasi, hingga akhirnya pelepasliaran ke habitat alami mereka. Kami berharap kegiatan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan satwa yang dilepasliarkan, serta menyediakan data untuk studi lanjutan tentang konservasi kukang jawa.”
Seremoni pelepasliaran yang dihadiri oleh BTNGHS, BBKSDA Jabar, YIARI, Camat Kabandungan, Kepala Kepolisian Sektor Klapanunggal, serta Komandan Rayon Militer Klapanunggal (Rendi Afandi |YIARI)
Budhi Chandra, S.H., M.H., selaku Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, memberi tanggapan terkait kegiatan ini. “Pelepasliaran kukang jawa ini bukan hanya langkah penting dalam konservasi satwa yang terancam punah, tetapi juga merupakan wujud nyata komitmen kami dalam melestarikan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan satwa liar dan lingkungan kita.”
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Agus Arianto, S.Hut., turut menyampaikan apresiasi kepada YIARI yang telah mendukung program pemerintah dalam pelestarian satwa liar dilindungi. “Kami menghimbau segenap lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keberlangsungan kelestarian satwa liar dilindungi kukang jawa di habitatnya, karena kelestarian dapat terwujud dari kepedulian dan komitmen bersama. Mencintai satwa liar tidak berarti harus dilakukan dengan cara memelihara, sejatinya dengan membiarkannya hidup di alam liar, di habitatnya merupakan bentuk mencintai satwa liar sesungguhnya.”
Hari Kukang Internasional: Membangkitkan Kesadaran Anak Sekolah tentang Satwa Malam
Di tanggal 13 September, tepat dalam perayaan Hari Kukang Internasional, YIARI mendatangi sekolah untuk memberikan edukasi pengenalan dan konservasi kukang pada generasi muda.
Edukasi diberikan terutama pada mereka yang tinggal di sekitaran habitat satwa malam ini.
Suara ramai obrolan anak-anak terdengar jelas dari dalam kelas saat tim Edukasi dan Penyadartahuan YIARI datang ke Sekolah Dasar (SD) Malasari 01 di Desa Wisata Malasari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Ketika tim masuk, terdengar sorak ramai murid gabungan kelas 5 dan 6 SD menyambut kami semua. Antusias dan rasa penasaran terlihat jelas dari mimik muka anak-anak ini melihat kedatangan kami.
Kebetulan, Desa Malasari berada dekat dengan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), di mana habitat kukang dan satwa liar lainnya berada.
Pemaparan materi tentang primata kepada siswa-siswi di SDN Malasari 01 (M. Kafka A. Caisarian | YIARI)
Tim menyambut anak-anak di dalam kelas sambil kemudian memberikan materi edukasi.
Tatapan mereka fokus pada layar proyektor, memandangi tulisan dan video tentang pengenalan kukang. Terdengar “ooh dan “ahh” dari mulut-mulut kecil mereka. Anak-anak pun dengan semangat menjawab berbagai pertanyaan dari pemateri terkait kukang.
Untuk meningkatkan rasa antusias mereka, tim juga memberikan hadiah bagi murid yang dapat menjawab pertanyaan atau mengajukan pertanyaan.
Boneka dan poster edukasi diberikan pada murid-murid yang berani mengacungkan tangan. Setelah edukasi materi selesai, tim membagikan lembaran kertas mewarnai bergambar kukang pada murid. Dengan cekatan, tangan-tangan mereka mulai mewarnai menggunakan pensil warna dan crayon.
Kegiatan fun games mewarnai gambar primata kukang dalam rangka peringatan hari kukang sedunia (M. Kafka A. Caisarian | YIARI)
Pak Wahyu, Kepala sekolah SD Malasari 01, sangat senang dengan adanya kegiatan edukasi tentang satwa liar di sekolahnya.
“Kegiatan edukasi satwa liar ini baru pertama kali di SD Malasari. Saya menilai edukasi ini penting, apalagi kami kan tinggal di sekitar hutan dimana satwa liar masih banyak tinggal,” ujarnya.
Penyerahan media edukasi kepada pihak sekolah SDN Malasari 01 (M. Kafka A. Caisarian | YIARI)
Beliau juga mengatakan, keberlanjutan edukasi perlu dilakukan pada masyarakat karena masih banyak orang yang belum mengetahui informasi tentang satwa liar.
“Bagaimana mau melindungi, kalau orang-orang saja tidak tahu apa itu satwa liar, apalagi kukang yang tinggal malam hari,” tambah Pak Wahyu.
Pak Wahyu berharap, kegiatan edukasi seperti ini dapat terus dilakukan di sekolah-sekolah, khususnya di SD Malasari.
“Saya harap kegiatan ini tidak hanya dilakukan sekali, bagusnya bisa ada tiap bulan agar anak-anak tidak lupa dan bisa terus mengaplikasikannya di kegiatan sehari-hari,” tuturnya.
Kegiatan pun diakhiri dengan foto bersama di depan sekolah. Senyum mereka terkembang saat meneriakan semangat perlindungan kukang, “STOP Kekang Kukang!” di depan kamera.
Langkah-langkah para generasi muda ini kembali ke rumah, membawa semangat dan ilmu yang mereka dapatkan di sekolah.
Translokasi dan Pelepasliaran Kukang, Monyet Ekor Panjang, serta Beruk di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Siaran Pers
Lampung, 27 Juli 2024 – Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bersama-sama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, dan mitra kerja Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaksanakan program translokasi dan pelepasliaran satwa. Acara ini diadakan di Kawasan Hutan Resort Balik Bukit, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Satwa yang dilepasliarkan adalah empat individu kukang sumatera (Nycticebus coucang), empat individu beruk (Macaca nemestrina), dan dua puluh individu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif berkelanjutan untuk mendukung keanekaragaman hayati dan konservasi satwa liar di Indonesia.
Proses translokasi salah satu satwa ke kandang habituasi (Rendi Afandi | YIARI)
Sebelum dilepasliarkan, satwa-satwa telah menjalani proses rehabilitasi intensif di pusat rehabilitasi YIARI yang memiliki perjanjian kerjasama dengan BBKSDA Jawa Barat. Mereka dipersiapkan kembali ke alam setelah beberapa di antaranya diserahkan oleh masyarakat Jawa Barat, disita dari aktivitas perdagangan ilegal oleh Pihak Kepolisian (Polda Metro Jaya), atau ditemukan terlibat dalam konflik di sekitar area rehabilitasi. Proses rehabilitasi meliputi penilaian mendalam terhadap kesehatan fisik dan perilaku, memastikan mereka siap beradaptasi dengan lingkungan aslinya.
Pentingnya translokasi dan pelepasliaran terletak pada perannya dalam memulihkan populasi satwa di habitat asli mereka, mengurangi konflik antara manusia dan satwa, serta mendukung pemulihan ekosistem yang terganggu. Selain membantu memastikan kelangsungan hidup satwa-satwa di alam liar, kegiatan ini juga menegaskan komitmen bersama dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia untuk generasi mendatang.
Perjalanan menuju kandang habituasi di dalam kawasan hutan TNBBS (Fattreza Ihsan | YIARI)
Resort Balik Bukit di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena menyediakan ekosistem yang ideal untuk keberlangsungan hidup berbagai satwa. Area ini menawarkan berbagai tipe habitat, mulai dari hutan sekunder hingga tepi hutan dan perkebunan, yang semuanya mendukung kehidupan kukang, monyet ekor panjang, dan beruk. Faktor penting lain dalam pemilihan lokasi adalah ketersediaan pakan alami yang melimpah, seperti tumbuhan, serangga, reptil, dan burung kecil. Selain itu, tingkat kesadaran dan dukungan dari masyarakat setempat juga membantu meminimalkan potensi ancaman dan gangguan terhadap satwa-satwa yang dilepasliarkan.
Kegiatan seremoni translokasi yang merupakan kolaborasi multipihak (Fattreza Ihsan | YIARI)
Rangkaian kegiatan pelepasliaran turut mengundang masyarakat setempat di Kecamatan Balik Bukit untuk berpartisipasi dalam acara pembukaan rangkaian pelepasliaran satwa. Pada acara pembukaan, masyarakat setempat diimbau untuk lebih peduli terhadap kelangsungan hidup satwa liar di alam. Harapannya, masyarakat juga dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga keutuhan wilayah konservasi TNBBS.
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) nirlaba, yang berkaitan dalam upaya konservasi primata Indonesia melalui penyelamatan, perlindungan, rehabilitasi (perbaikan dan peningkatan kesejahteraan satwa), reintroduksi/pelepasliaran satwa liar tersebut ke habitat alaminya, hingga pemantauan pasca lepas liar. YIARI memiliki fasilitas Pusat Rehabilitasi Satwa Ciapus yang juga berfungsi sebagai kantor dari YIARI, di Jl. Curug Nangka. Kp. Sinarwangi RT004/RW005, Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari – Ciapus, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dan Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan di Sei Awan, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. YIARI juga didukung oleh International Animal Rescue (IAR) dan bekerjasama dengan berbagai instansi pemerintahan, organisasi, instansi pendidikan, hingga sektor privat. Melalui kerjasama dengan berbagai pihak, kami berkomitmen memberikan perlindungan terhadap primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa, dan manusia.
BBKSDA Bersama YIARI Melepasliarkan 6 Satwa Dilindungi Kukang Jawa di Gunung Papandayan
Garut, 7 Mei 2024 – Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) berhasil melepasliarkan enam kukang jawa (Nycticebus javanicus) dikawasan CA/TWA Gunung Papandayan. Enam kukang jawa yang dilepasliarkan terdiri dari tiga individu kukang jantan bernama Apem, Nasrul, Tero, serta tiga kukang betina bernama Cibun, Sambal, dan Jahe. Kukang yang merupakan satwa dilindungi ini merupakan serahan masyarakat di berbagai daerah kepada BKSDA Jawa Barat. Satwa endemik Pulau Jawa ini dinyatakan dapat kembali bebas ke habitatnya setelah menjalankan proses rehabilitasi di pusat rehabilitasi YIARI yang berlokasi di Ciapus, Jawa Barat.
Lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan sebaran habitat alami kukang jawa (Nycticebus javanicus). Salah satu habitat potensialnya berada di kawasan konservasi Gunung Papandayan Blok Hutan Kawah. Kawasan GP Resort Papandayan blok hutan kawah ini secara administratif berada di desa Karya Mekar, kecamatan Pasir Wangi, kabupaten Garut. Lokasi ini juga berada di dalam Wilayah Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Star Energy Geothermal Darajat.
Penentuan lokasi pelepasliaran ini juga mempertimbangkan ketersediaan pakan, keamanan dari perburuan atau gangguan, juga mempertimbangkan keberadaan populasi satwa yang sudah ada untuk menghindari potensi konflik teritorial. Lokasi pelepasliaran juga harus relatif jauh dari pemukiman untuk meminimalisir konflik baru dengan manusia.
Kegiatan pelepasliaran ini merupakan kabar yang menggembirakan karena salah satu dari kukang ini merupakan korban perdagangan satwa liar. Kukang bernama Apem ini datang ke pusat rehabilitasi dengan kondisi gigi yang mengalami infeksi. drh. Indri Saptorini, salah satu dokter hewan YIARI yang menangani Apem mengungkapkan bahwa gigi merupakan organ yang esensial untuk kukang. “Selain sebagai alat untuk mencari makan, gigi kukang juga berfungsi sebagai alat pertahanan diri.” Infeksi gigi yang cukup parah membuat tim animal management YIARI khawatir Apem tidak mungkin bisa dilepaskan ke alam lagi.
Tim pelepasliaran yang terdiri dari Staf BBKSDA Jawa Barat, YIARI, dan masyarakat lokal menembus hutan Gunung Papandayan untuk mencapai kandang translokasi (Rendi Afandi | YIARI)
Pemeriksaan lanjutan Apem menunjukkan infeksi tersebut hanya menyerang beberapa gigi, sehingga masih ada harapan gigi yang tersisa dapat berfungsi dengan baik. Harapan ini pun ternyata terwujud. Tim manajemen satwa yang terdiri dari dokter hewan dan perawat satwa melihat perilaku mencari makan (foraging) dan makan Apem sangat baik, layaknya kukang di alam liar. Kabar baiknya, berdasarkan hasil evaluasi Apem kemudian dinyatakan bisa kembali ke habitatnya di alam!
Kabar ajaib ini juga datang dari Nasrul, kukang jantan serahan masyarakat ke BKSDA Bandung. Ketika sampai ke pusat rehabilitasi, sudah terdapat luka pada matanya. Luka ini menimbulkan infeksi, sehingga dokter hewan harus menanganinya dengan operasi pengambilan mata. Meski kini hanya hidup dengan satu buah bola mata, Nasrul tetap dinyatakan mampu bertahan di alam.
Perjalanan keenam ekor kukang ini dimulai dari kandang rehab ke kandang transport untuk membawa kukang secara aman dan nyaman dalam perjalanan. Sebelum menempuh perjalanan pandang ini tim animal management memastikan mereka tercukupi kebutuhan nutrisinya. Tim pelepasliaran menggunakan empat kandang transport yang masing-masing berisi satu ataupun dua ekor kukang.
Titik pelepasliaran yang berada di Kecamatan Pasirwangi, Garut ini berjarak sekitar 278 kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Bogor. Perjalanan ditempuh melalui jalur darat menggunakan mobil dengan waktu tempuh sekitar 8 jam, lalu dilanjutkan berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit.
Apem, salah satu kukang jawa yang telah direhabilitasi, ditranslokasi ke kandang habituasi oleh Andi Witria Rudianto, Kepala Bidang KSDA Wilayah III BBKSDA Jawa Barat (Rendi Afandi | YIARI)
Sesampainya di lokasi, mereka akan dipindahkan ke kandang habituasi yang telah dibangun dahulu, sebelum nantinya dilepasliarkan ke alam bebas. Kandang habituasi ini berupa area seluas 18 meter persegi yang diberi pagar dari jaring dan bambu ini berfungsi sebagai sarana adaptasi bagi kukang di lokasi baru. Kukang yang dilepasliarkan akan menjalani proses habituasi selama ± (kurang lebih) 1 minggu. Pada tahapan ini, satwa masih diberikan pakan agar kebutuhan pakan satwa tercukupi, sebelum dilepasliarkan ke luar kandang habituasi. Selama masa habituasi, tim Survey, Release, dan Monitoring YIARI akan mengamati perilaku serta kesehatan seluruh kukang tersebut. Jika dinilai baik dalam beradaptasi di lingkungan barunya, kukang-kukang ini akan dilepasliarkan dari kandang habituasi ke alam bebas.
Pemerintah Indonesia sudah menetapkan kukang jawa ke dalam satwa yang dilindungi melalui Undang – Undang no. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi dan diperbaharui dengan PermenLHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tahun 2018. International Union for Conservation of Nature (IUCN) juga mendaftarkan jenis primata ini sebagai satwa terancam (Endangered). Kukang jawa juga termasuk ke dalam apendiks I menurut Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) yang artinya dilarang diperjualbelikan.
Upaya konservasi kukang telah banyak dilakukan, diantaranya pelepasliaran dan peningkatan kesadaran masyarakat, sehingga menunjukkan populasi kukang di alam semakin membaik. Jumlah kukang yang dititiprawatkan di pusat rehabilitasi kami pun menunjukkan jumlah yang paling kecil selama 5 – 10 tahun terakhir. Untuk mempertahankan ini, perlu adanya upaya monitoring perdagangan kukang terus menerus untuk memastikan upaya-upaya konservasi yang dilakukan telah berhasil.
Nasrul adalah salah satu kukang yang mendapat perhatian khusus selama rehabilitasi, hal ini karena ia mengalami kebutaan pada mata kanannya. Untungnya hasil pengamatan menunjukkan ia layak untuk dilepasliarkan (Rendi Afandi | YIARI)
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Plt. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Bapak Irawan Asaad, Ph.D menyampaikan apresiasinya dalam upaya penyelamatan satwa liar. “Kami menyampaikan apresiasi kepada YIARI yang telah sekian lama bersama Balai Besar KSDA Jawa Barat melakukan upaya-upaya penyelamatan terhadap satwa liar dilindungi, khususnya Kukang Jawa. Hingga saat ini, Balai Besar KSDA Jawa Barat mencatat upaya penyelamatan dan pelepasliaran satwa liar dilindungi Kukang Jawa di wilayah kerja Balai Besar KSDA Jawa Barat, merupakan satwa liar terbanyak dibandingkan satwa liar lainnya. Hal ini menandakan peredaran ilegal satwa liar kukang di tengah masyarakat dapat dikatakan masih banyak. Penting untuk diperhatikan bersama, bahwa satwa liar kukang merupakan satwa liar yang lebih baik hidup di alamnya, karena satwa liar tersebut bukan satwa peliharaan, bahkan tidak benar secara hukum untuk diperjualbelikan dengan cara-cara bertentangan dengan peraturan perundangan. Pesan kami kepada masyarakat, jangan memelihara kukang dan jangan memperjual belikan kukang, biarkan satwa liar kukang jawa tetap hidup di habitatnya.”
Direktur Utama YIARI, Karmele Llano Sanchez menyatakan apresiasinya atas kerjasama multipihak untuk konservasi satwa liar, “Kami mengapresiasi dukungan masyarakat dan pihak pemerintah, dalam hal ini BBKSDA Jawa Barat pada kegiatan pelepasliaran ini. Kesadaran dan upaya multipihak dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu terciptanya ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia. Untuk itu, terus jaga dan tingkatkan kolaborasi dan sinergi untuk menjaga satwa liar dan habitatnya.”