Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Kebakaran Hutan dan Lahan Nyaris Terjadi di Dekat “Sekolah Hutan” di Ketapang

Kebakaran hutan dan lahan nyaris terjadi di dekat “sekolah hutan” untuk orangutan di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Selasa (20/2). Bermula dari seorang warga desa yang membakar lahan di luar area “sekolah hutan”, api kemudian menyambar rumpun bambu dan membesar tidak terkendali. Kebakaran ini hanya berjarak beberapa meter dari Pusat Rehabilitasi Orangutan IAR Indonesia, tidak jauh dari hutan yang digunakan untuk merehabilitasi orangutan. Beruntung staf IAR Indonesia cepat tanggap dan bersama-sama memadamkan api.
 DJI_0047 web
Sejak awal Februari ini sejumlah wilayah Kalimantan Barat telah mengalami kebakaran hutan dan lahan. Terpantau 52 titik panas di Kalimantan Barat Sepanjang 1-18 Februari 2018.  Kabupaten Ketapang sendiri termasuk daerah yang mengalami beberapa karhutla.  Salah satunya berada di dua titik di dalam hutan Desa Pematang Gadung, Selasa (20/2).
Kebakaran ini terpantau oleh warga sejak dua hari lalu. Saat ini dilaporkan area yang terbakar meluas meski tim pemadaman desa dibantu oleh IAR Indonesia sudah berusaha melakukan pemadaman. Meskipun luas area yang terbakar belum diketahui dengan pasti, bubungan asap tebal dan area yang terbakar cukup luas nampak dari foto udara.
DCIM100MEDIADJI_0032.JPG
Kebakaran Hutan di Desa Pematang Gadung, Ketapang, Kalbar
Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez menyatakan hal ini sangat mengecewakan. ”Kita kehilangan banyak orangutan dan  kerugian sumber daya alam lainnya tidak lagi terhitung dalam kebakaran hutan 2015 lalu. Kami tidak percaya kami harus melewati mimpi buruk seperti ini lagi. Bila kebakaran seperti tahun 2015 terjadi lagi, konsekuensinya akan sangat mengerikan.”
Ancaman kebakaran hutan dan lahan ini patut mendapat perhatian yang serius dari berbagai pihak. Pasalnya titik panas di Kalimantan Barat tercatat naik secara signifikan dalam minggu ini. Pantauan satelit Terra/Aqua (LAPAN) mencatat titik panas di Kalimantan Barat minggu ini mencapai 48 titik, naik hingga lebih dari 2 kali lipat dari minggu lalu yang mencatatkan angka 16 titik panas.
Data ini sekaligus mencatatkan Kalimantan Barat sebagai provinsi dengan titik panas terbanyak. Bahkan provinsi ini ditetapkan status darurat Karhutla. Kalimantan Barat juga merupakan peringkat ketiga daerah dengan kategori sangat mudah terbakar setelah Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.
“Kami sangat berharap pemerintah dan semua pemangku kepentingan menganggap serius permasalahan ini karena sebagian besar kebakaran ini dilakukan secara sengaja. Kami meminta hukuman yang lebih berat bagi para pelaku pembakaran hutan dan lahan,” pungkasnya.

[SIARAN PERS] Si Kukang Puntang dan Bidang Akhirnya Pulang

Ciamis – Angin segar berhembus ringan. Menggerakkan dedaunan ke segala arah tujuan. Angin sepoinya menyambut tim pengantar satwa yang baru tiba di lembah pegunungan. Di bawah langit kawasan Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal, para petugas dan relawan konservasi bersiap mengantar Puntang dan Bidang, si primata kukang, pulang ke ‘kampung halamannya’ di alam, Sabtu, 18 Februari 2017.

2017 02 18 3keberangkatan

Pelepasliaran kukang ke habitat ini diinisiasi oleh Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat pada Sabtu, 18 Februari 2017. Puntang dan Bidang bersama delapan kukang lain akhirnya bisa menikmati angin kebebasan di kawasan hutan pegunungan Priangan Timur di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Mereka sudah siap ‘dipulangkan’ kembali ke habitat asal.

“Jumlah kukang yang dilepas kali ini terdiri dari lima individu jantan dan lima individu betina. Berasal dari serahan masyarakat ke BKSDA dan serahan langsung ke Pusat Penyelamatan IAR Indonesia lewat kanal www.kukangku.org,” ujar Dokter Hewan IAR Indonesia, drh. Nur Purba Priambada yang akrab disapa Purbo.

Tim pengantar menempuh tiga jam perjalanan dari desa terdekatmenuju area habituasi kukang di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat.
Tim pengantar menempuh tiga jam perjalanan dari desa terdekatmenuju area habituasi kukang di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat. Foto: IAR Indonesia

Purbo menambahkan bahwa kesepuluh primata dilindungi itu telah selesai menjalani masa pemulihan kesehatan dan tahapan rehabilitasi hingga layak untuk dilepasliar. Membutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga satu tahun untuk memulihkan kondisi kukang serahan yang dititiprawatkan di Pusat Rehabilitasi IAR di kaki Gunung Salak Bogor.

“Kondisi awal kukang saat pertama kali datang sangat memprihatinkan, beberapa kurus dan mengalami luka seperti kukang bernama Puntang dan Bidang,” ujar Purbo.

Puntang adalah kukang betina serahan masyarakat pada 2016 lalu. Pelapornya mengontak kanal kampanye www.kukangku.org dan mengantarnya ke Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia. Tangan kanan Puntang waktu itu mengalami luka parah seperti terkena jerat. Tim medis terpaksa mengamputasi seluruh jarinya agar infeksi tidak menyebar. Beruntung kondisi Puntang saat itu masih liar dengan formasi gigi yang lengkap sehingga pemulihannya berangsur cepat hingga waktu pelepasliaran.

Puntang akhirnya kembali pulang ke rumah asalnya di alam.
Puntang akhirnya kembali pulang ke rumah asalnya di alam.

Sementara kukang jantan bernama Bidang merupakan serahan masyarakat lokal ke BKSDA Ciamis yang kemudian dititiprawatkan di IAR Indonesia. Kondisi awal Bidang saat itu lemah karena bagian dada, perut dan tangannya mengalami luka akibat sengatan listrik. Setelah menjalani perawatan secara optimal, akhirnya Bidang kembali sehat dan perilakunya normal hingga lolos untuk maju ke tahap pelepasliaran.

“Semua kukang kini siap menikmati kebebasan di alam, semoga mereka bisa beradaptasi dengan baik layaknya kukang liar dan dapat mengkoreksi secara positif populasi kukang yang semakin berkurang,” harap Purbo.

Kepala Seksi KSDA Wilayah Tasikmalaya melepasliarkan Bidang kembali ke habitat di SM. Gunung Sawal
Kepala Seksi KSDA Wilayah VI Tasikmalaya melepasliarkan Bidang kembali ke habitat di SM. Gunung Sawal. Foto: IAR Indonesia

Kepala Bidang KSDA Ciamis, Himawan Sasongko menjelaskan bahwa pelepasliaran kukang jawa di kawasan SM Gunung Sawal merupakan salah satu upaya untuk mendukung berlangsungnya proses ekologis di dalam kawasan, serta untuk menjaga dan meningkatkan populasi jenis primata sebagai satwa endemik yang jumlahnya kian minim. Sejak tahun 2014 sebanyak sekitar 25 kukang hasil rehabilitasi IAR dan serahan warga ke BKSDA Ciamis sudah dilepasliar ke SM. Gunung Sawal.

“SM Gunung Sawal sendiri sudah diketahui merupakan salah satu habitat alami kukang jawa yang penting di wilayah Ciamis, selain juga merupakan kantong habitat macan tutul jawa. Dari hasil kajian tim IAR dan  Bidang KSDA, kawasan tersebut memiliki potensi cukup bagus dari segi segi ketersedian pakan, tempat berlindung dan air sebagai komponen penting suatu habitat,” ujarnya.

Kukang bersiap keluar dari kandang transportasi ke area habituasi alam di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat.
Kukang bersiap keluar dari kandang transportasi ke area habituasi alam di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat. Foto:IAR Indonesia

Himawan menambahkan bahwa keberadaan kukang di alam berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem yaitu menjaga keanekaragaman jenis tumbuhan asli wilayah tersebut. Keberadaan kukang di alam juga membantu proses pengendalian hama bagi wilayah budidaya dan sekitarnya.

“Kegiatan pelestarian kukang dan habitat SM. Gunung Sawal ini tidak lepas dari peran kader konservasi yang aktif menyampaikan pentingnya upaya konservasi satwa liar kepada masyarakat sehingga bisa memunculkan tanggung jawab dan kesadaran bahwa kelestarian satwa dicapai dengan membiarkan satwa berkembang alami di habitat dan bukan dengan memburunya,” kata Himawan.

Kukang berfungi sebagai penyeimbang ekosistem di alam. Namun keberadaanya kini makin terancam karena perburuan untuk perdagangan dan pemeliharaan.
Kukang berfungi sebagai penyeimbang ekosistem di alam. Namun keberadaanya kini makin terancam karena perburuan untuk perdagangan dan pemeliharaan.

Dia berharap, ke depannya SM Gunung Sawal dapat berperan dalam menunjang pendidikan konservasi baik tingkat dasar maupun lanjutan tentang pentingnya mempelajari proses ekologi dan manfaatnya. “Mempelajari ekologi dengan melihat langsung prosesnya di alam menjadi tantangan kami untuk mewujudkan setidaknya untuk wilayah Ciamis dan sekitarnya,” tambahnya.

Info : Jalan Curug Nangka, Kp. Sinarwangi RT004/005, Kel. Sukajadi, Kec. Tamansari-Ciapus 16610, Kab. Bogor, Jawa Barat, Indonesia  Tel./Fax: +62-(0)-251-8389232 Mobile : 0822-1894-2121 (Risanti-Media)
Email : informasi@internationalanimalrescue.org Website: www.yiari.or.id
Fanpage : IAR Indonesia dan Kukangku Instagram : @iar_indonesia – @Kukangku

 

 

 

[Siaran Pers] 27 Kukang Korban Perdagangan Online Masuk Pusat Rehabilitasi

Bogor – Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Primata International Animal Rescue (IAR) Indonesia di Bogor kembali menerima 27 individu kukang korban perdagangan online hasil sitaan penegak hukum dari wilayah Cirebon dan Majalengka, Jawa Barat. Dari ke-27 kukang tersebut 19 individu merupakan sitaan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Sub Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Jumat, 20 Januari 2017. Sementara 8 individu lainnya berasal dari sitaan Kepolisian Resort Majalengka pada Sabtu, 21 Januari 2017.

“Pasca penindakan, tim rescue IAR segera menjemput kukang dan membawa ke Pusat Rehabilitasi di kaki Gunung Salak, Bogor. Tanggal 24-25 Januari 2017 lalu seluruh kukang telah menjalani pemeriksaan fisik di klinik IAR Bogor,” ujar Animal Care Manager IAR Indonesia, drh. Wendi Prameswari, Sabtu, 2828 Januari 2017.

Kukang terlebih dahulu menjalani serangkaian pemeriksaan medis dan prosedur pemeriksaan penyakit sesuai prosedur karantina. Dari hasil pemeriksaan terhadap seluruh kukang, 17 individu kukang berjenis kelamin betina, 9 individu kukang berjenis kelamin jantan dan satu bayi yang lahir prematur belum teridentifikasi jenis kelaminnya.

Kukang korban perdagangan online menjalani pemeriksaan medis di klinik Pusat Rehabilitasi International Animal Rescue (IAR) Indonesia di Bogor
Kukang korban perdagangan online menjalani pemeriksaan medis di klinik Pusat Rehabilitasi International Animal Rescue (IAR) Indonesia di Bogor. Foto : IAR Indonesia.

“Kondisi awal kukang umumnya stres, dehidrasi dan malnutrisi karena penempatan yang sempit dan pakan tidak tidak sesuai dari pemburu-pedagang. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan juga peluru senapan angin bersarang dalam tubuh tiga individu kukang. Sementara satu kukang betina teridentifikasi bunting, dan dua kukang betina lainnya sedang menyusui,” ujar drh. Wendi.2017 01 27 foto pemeriksaan kukang cirebon majalengka rz (6)

Wendi mengatakan, saat ini kukang telah berada di kandang karantina untuk memulihkan kondisi dan peryebaran penyakit. Barulah kemudian masuk tahapan rehabilitasi dan segera dilepasliar. “Kondisi gigi kukang umumnya masih utuh dan baik sehingga mereka berpotensi untuk segera dikembalikan ke habitatnya. Pasca pemulihan dan observasi perilaku oleh tim perawat satwa, harapannya kukang bisa segera dilepasliarkan” ujarnya.

Manager Program IAR Indonesia Robithotul Huda mengatakan bahwa saat ini satwa liar dilindungi di Indonesia khususnya kukang kian marak diperdagangkan secara illegal via media sosial facebook. Menurutnya, apabila tidak ada penanganan serius dari pihak yang berwenang terhadap pelaku kejahatan tersebut maka akan mengakibatkan hilang/punahnya kekayaan keanekaragaman hayati yang menjadi salah satu kebanggaan Bangsa Indonesia.

2017 01 27 foto pemeriksaan kukang cirebon majalengka rz (12)

“IAR Indonesia mendukung penuh upaya penegakan hukum terhadap kasus satwa dilindungi seperti yang telah dilakukan oleh Kepolisian Resort Cirebon Cq. Kepolisian Sektor Kapetakan dan Dirjen Gakkum Sub Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan Wilayah Jawa dan Bali Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada operasi penegakan hukum terhadap pelaku perdagangan satwa jenis kukang beberapa hari lalu,” katanya.

Huda berharap agar proses hukum pelanggaran terhadap satwa yang dilindungi ini dapat memberikan efek jera terhadap para pelaku dan pihak-pihak yang terlibat dalam mata rantai perdagangan. “Selain itu diharapkan kegiatan penegakan hukum dan penyebarluasan informasinya melalui media dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan dan pelestarian satwa dilindungi di Indonesia. Misalnya dengan tidak memperdagangkan, tidak membeli, dan tidak memelihara satwa liar dilindungi jenis apapun,” tambahnya.

Kukang korban perdagangan ditempatkan dalam kandang sempit dalam jumlah yang banyak. Data IAR Indonesia selama tahun 2016 sebanyak 550 kukang diperdagangan oleh 35 grup jual beli hewan di media sosial facebook.
Kukang korban perdagangan ditempatkan dalam kandang sempit dalam jumlah yang banyak. Data IAR Indonesia selama tahun 2016 sebanyak 550 kukang diperdagangan oleh 35 grup jual beli hewan di media sosial facebook. Foto : IAR Indonesia

Kepala Sub Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Wilayah Jawa dan Bali, Achmad Pribadi di Cirebon, Jumat, 20 Januari 2017 lalu menegaskan bahwa para penegak hukum di Indonesia akan serius dan cepat tanggap menangani kasus kejahatan terhadap satwa liar dilindungi. “Kami mengirimkan pesan kepada seluruh pedagang online satwa liar bahwa kita tidak main-main dengan penanganan kasus kejahatan terhadap satwa liar dilindungi, ” kata Achmad.

Sebelumnya, Dirjen Gakkum KLHK dan Polres Majalengka berhasil mengamankan 27 individu kukang  dari bandar/pedagang online berinisial AL dan AS di Cirebon dan Majalengka, Jawa Barat. Kedua pelaku telah melanggar UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman pidana maksimal lima tahun kurungan penjara dan denda Rp 100 juta karena memperjualbelikan primata dilindungi jenis kukang.

 

Senyum untuk Malabar, Tangis untuk Puntang

Pusat Rehabilitasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia atau International Animal Rescue (IAR) Indonesia bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat (BBKSDA) melepasliarkan individu kukang jawa (Nycticebus javanicus) berjenis kelamin betina bernama Malabar, Sabtu, 3 September 2016 di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat. “Pelepasan collar Malabar, sah!,” ujar drh. Nur Purba Priambada saat prosesi pelepasan alat  pelacak yang melingkar di leher Malabar.

Pelepasan collar merupakan tanda berakhirnya monitoring (pemantauan) oleh tim terhadap Malabar yang dilepasliar Januari lalu. Dari hasil pemantauan, perilaku Malabar di alam sangat  bagus. Malabar memanfaatkan pakan alami dan daerah jelajahnya stabil. Malabar juga terpantau melakukan aktivitas sosial dengan kukang liar hingga berhasil berkembang biak di alam.“Malabar kini 100 persen kembali menjadi kukang liar,” kata drh. Purbo, sapaan akrab Nur Purba.

drh Purbo memeriksa kondisi terakhir kukang jawa Malabar sebelum pelepasan radio collar (alat pelacak). Pelepasan collar merupakan tanda berakhirnya monitoring (pemantauan) oleh tim terhadap Malabar yang telah dilepasliar Januari lalu di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat.  Foto: Septianjar Muharam
Anggota tim medis Yayasan IAR Indonesia, drh. Purbo memeriksa kondisi terakhir kukang jawa Malabar sebelum pelepasan radio collar (alat pelacak). Pelepasan collar merupakan tanda berakhirnya monitoring (pemantauan) oleh tim terhadap Malabar yang telah dilepasliar Januari lalu di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis, Jawa Barat. Dari hasil pemantauan, Malabar  berhasil beradaptasi dan bertahan hidup di alam hingga berkembang biak dan melahirkan anak.
Foto: Septianjar Muharam

Berhasilnya Malabar bertahan hidup dan berkembang biak di alam merupakan indikator keberhasilan pelepasliaran kukang dan penambahan populasinya di habitat Gunung Sawal. Luas Suaka Margasatwa Gunung Sawal sekitar 5.400 hektare. Merupakan kawasan konservasi ideal untuk pelepasliaran primata dilindungi jenis kukang. Fungsi utama suaka margasatwa sebagai perlindungan dan pelestarian kelangsungan hidup satwa tertentu agar tidak punah. Juga sebagai penyangga kehidupan berupa sumber air untuk masyarakat.

Radio collar atau alat pelacak yang sebelumnya melingkar di leher Malabar. Pelepasan collar merupakan tanda berakhirnya monitoring (pemantauan) oleh tim terhadap Malabar yang dilepasliar Januari lalu. Dari hasil pemantauan, perilaku Malabar di alam sangat  bagus. Malabar memanfaatkan pakan alami dan daerah jelajahnya stabil. Malabar juga terpantau melakukan aktivitas sosial dengan kukang liar hingga berhasil berkembang biak di alam.
Radio collar atau alat pelacak yang sebelumnya melingkar di leher Malabar. Pelepasan collar merupakan tanda berakhirnya monitoring (pemantauan) oleh tim terhadap Malabar yang dilepasliar Januari lalu. Dari hasil pemantauan, perilaku Malabar di alam sangat bagus. Malabar memanfaatkan pakan alami dan daerah jelajahnya stabil.

Sejak tahun 2014 sebanyak 15 kukang hasil rehabilitasi Yayasan IAR Indonesia dilepasliar di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis. Warga desa sekitar mendukung pelepasliaran kukang di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal. Mereka turut serta menjaga habitat dan keberadaan kukang di alam.

Namun, keberhasilan Malabar menjadi kukang liar tidak sepenuhnya dirayakan. Di saat yang sama, tim Yayasan IAR Indonesia mendapat cerita pilu tentang Puntang. Puntang, kukang jawa betina serahan masyarakat di Bandung sampai di Pusat Rehabilitasi YIARI Bogor dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Tangan kanannya luka parah, dan sebagian pada ketiak bagian kiri. Mata kirinya kemungkinan katarak dan rentan kebutaan.

Kondisi Puntang setelah mendapat penanganan medis
Kondisi Puntang setelah mendapat penanganan medis

Tidak ada informasi jelas mengenai penyebab luka parah di tangan kanan maupun luka lainnya yang diderita Puntang. Penanganan medis terpaksa mengamputasi seluruh jari tangan kanan Puntang agar luka dan infeksi tidak semakin menyebar. Hilangnya fungsi jari pada Puntang jelas akan berpengaruh terhadap pergerakan lincah kukang di pepohonan. Yayasan IAR Indonesia bersama gerakan penyelamatan pelestarian @Kukangku, berupaya meningkatkan penyadartahuan terhadap kukang dengan mengajak publik berpartisipasi lewat kitabisa.com. Dukungan publik mengalir desar untuk kesembuhan Puntang supaya bisa kembali ke habitat alaminya. Kesadaran masyarakat mengenai upaya konservasi kukang pun cukup tinggi.

Dukungan itu tentunya menyemangati tim Yayasan IAR Indonesia untuk bekerja lebih baik lagi dibidang konservasi walaupun tantangan juga tetap tinggi. ”Kami tersenyum menyaksikan bagaimana kukang Malabar memanjat pohon sambil menggendong bayinya, tanda dia betul-betul bisa beradaptasi dengan baik di alam liar. Namun di saat yang sama kami bersedih merasakan penderitaan kukang Puntang yang harus diamputasi tangannya. Semoga dukungan publik terus hadir untuk upaya-upaya konservasi satwa liar,” ujar Ketua Yayasan IAR Indonesia, Tantyo Bangun.

puntang

Kukang (Nycticebus sp) terancam punah karena perburuan dan perdagangan untuk pemeliharaan. Perdagangan untuk pemeliharaan memegang peran besar dalam mendorong kepunahan kukang. Menurut data Yayasan IAR Indonesia, sekurangnya 200-250 individu kukang ditawarkan di tujuh pasar besar di empat kota besar Indonesia setiap tahun. Hasil pemantauan online tahun 2015 menunjukkan sebanyak 400 individu kukang dipelihara oleh pemilik media sosial. Dari penelusuran data, sebanyak 800-900 individu kukang diambil paksa dari habitatnya selama satu tahun.

YIARI berkembang sebagai organisasi yang fokus pada upaya 3R+M yaitu rescue (penyelamatan), rehabilitation (rehabilitasi), release (pelepasliaran) dan monitoring (pemantauan satwa pasca pelepasliaran).  Hingga tahun 2016, YIARI telah menyelamatkan lebih dari 500 individu kukang korban perdagangan dan pemeliharaan. Saat ini lebih dari 150 individu kukang sedang menjalani rehabilitasi Pusat Rehabilitasi YIARI di kaki Gunung Salak, Bogor. Namun, 80 persen di antaranya tidak bisa dikembalikan ke habitat alaminya karena kondisi yang buruk akibat pemotongan gigi oleh pedagang.

Dukung kesembuhan Puntang di : https://kitabisa.com/sembuhkanpuntang

Follow IG @kukangku @iar_indonesia untuk update informasi Puntang dan kunjungi website : https://staging.yiari.or.id/

Kontak : 0822-1894-2121 Risanti (Media YIARI)

Empat Kukang Jawa Hidup Bebas di Suaka Margasatwa Gunung Sawal

CIAMIS – Pusat penyelamatan dan rehabilitasi satwa Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan translokasi (pemindahan) empat individu kukang jawa (Nycticebus javanicus) dari Pusat Rehabilitasi YIARI di kaki Gunung Salak, Ciapus Bogor ke untuk dilepasliarkan di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal, Ciamis. Kukang merupakan hasil serahan sukarela dari masyarakat melalui Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan pengembalian langsung ke pusat rehabilitasi tahun 2015. Mereka terdiri dari tiga kukang betina dan satu jantan (Tara, Kuka, Misha dan Kuku).

Selama setahun empat primata nokturnal (aktif pada malam hari) itu sudah menjalani kukang menjalani serangkaian pemeriksaan medis, proses karantina, dan tahapan rehabilitasi seperti pengenalan pakan dan perilaku alami. Aktivitas, perilaku pakan, dan kebiasaan mereka juga diamati dan dicatat oleh perawat satwa untuk memastikan bahwa perilaku kukang sudah normal menjadi liar kembali.

“Hasil pemeriksaan medis akhir menunjukkan kondisi kesehatan kukang baik, tidak membawa penyakit, kondisi gigi dan tulang juga bagus. Perilakunya sudah liar sehingga bisa masuk tahapan selanjutnya untuk pulang ke habitat alami,” ujar Manager Animal Care YIARI drh. Wendi Prameswari.

Petugas YIARI menyiapkan kandang transportasi berisi kukang untuk dibawa ke kandang habituasi di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis.
Petugas YIARI menyiapkan kandang transportasi berisi kukang untuk dibawa ke kandang habituasi di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis.

Selesai menjalani masa rehabilitasi, primata yang sifatnya soliter itu kemudian dipindahkan ke kandang habituasi di kawasan SM Gunung Sawal untuk proses adaptasi. Bentuk kandang habituasi atau rumah sementara kukang adalah lahan terbuka dikelilingi fiber plastik. Di dalamnya tumbuh berbagai jenis pepohonan hijau untuk pakan dan tempat tidur kukang. Selama sekitar dua minggu kukang dibiarkan beradaptasi dengan habitat dan pakan alaminya. “Setelah menjalani rehabilitasi panjang akhirnya kukang serahan masyarakat itu mendapat kesempatan untuk pulang kembali ke rumah asalnya di alam,” tambah Wendi.

Senin malam, kukang dibawa menggunakan kendaraan dari Bogor menuju Ciamis dengan jarak tempuh sekitar tujuh jam perjalanan. Sampai di Ciamis, Selasa, 28 Juni 2016, satwa diterima langsung oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis, Himawan Sasongko. Selanjutnya tim YIARI bersama staf BKSDA, kader konservasi dan pegiat lingkungan Ciamis mengantar kukang ke kandang habituasi di kawasan SM Gunung Sawal. Dari titik kumpul di Desa Tanjungsari, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis tim menempuh jarak sekitar 4.5 KM. Mereka menghabiskan waktu sekitar dua jam perjalanan dengan menggunakan mobil pick-up sampai batas masuk hutan disambung dengan berjalan kaki menyusuri hutan menuju kandang habituasi kukang.

Petugas YIARI menyiapkan kandang transportasi berisi kukang untuk dibawa ke kandang habituasi di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis.
Petugas YIARI menyiapkan kandang transportasi berisi kukang untuk dibawa ke kandang habituasi di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis.

Koordinator Survey Release Monitoring (SRM) YIARI, Bobby Muhidin mengatakan setiap malam tim melakukan monitoring untuk mengetahui perkembangan perilaku kukang di dalam kandang habituasi. “Apabila menunjukkan perkembangan yang baik, mencari makan secara alami, beradaptasi dengan alam dan bisa survive, barulah kukang bisa benar-benar dilepas ke kawasan SM Gunung Sawal,” kata Bobby.

Selepas keluar dari kandang habituasi, kukang tetap dipantau oleh tim survey release monitoring. Untuk memudahkan pemantauan pasca lepasliar, kukang terlebih dahulu dipasang radio collar pada bagian leher. Radio collar berfungsi sebagai pengirim sinyal yang nantinya ditangkap oleh antenna dan menimbulkan bunyi di receiver (penerima sinyal). Bunyi yang keluar dari receiver itu membantu tim monitoring  untuk menemukan keberadaan kukang di alam. “Tim melakukan monitoring selama sekitar setahun untuk mengetahui perkembangan perilakunya di alam liar,” tambahnya.

Tim menempuh waktu dua jam perjalanan dengan berjalan kaki untuk sampai ke lokasi kandang habituasi kukang di kawasan Suaka Marsatwa Gunung Sawal.
Tim menempuh waktu dua jam perjalanan dengan berjalan kaki untuk sampai ke lokasi kandang habituasi kukang di kawasan Suaka Marsatwa Gunung Sawal.

Translokasi kukang di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal merupakan kerjasama YIARI dengan BBKSDA Jawa Barat untuk pelepasliaran dan menjaga populasi kukang jawa sebagai satwa endemik Indonesia yang kini jumlahnya semakin berkurang di alam. Suaka Margasatwa Gunung Sawal dipilih sebagai lokasi lepasliar karena statusnya sebagai kawasan konservasi sehingga bisa menjamin keselamatan kukang dari aktivitas manusia. Selain itu, hasil survei tim YIARI menunjukkan keanekaragaman dan ketersediaan pohon pakan kukang di wilayah itu cukup tinggi. Sejak tahun 2014 sebanyak 15 kukang hasil rehabilitasi YIARI yang sudah dilepasliar di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis.

Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis Himawan Sasongko mengatakan pelepasliaran kukang ke habitatnya diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi satwa dan ekosistem. Populasi kukang bisa terjaga dan memberi manfaat bagi ekosistem Gunung Sawal. “Sebagaimana diketahui bahwa kukang jawa merupakan satwa endemik pulau jawa yang berperan menjaga ekosistem hutan khususnya SM Gunung Sawal. Peran kukang di alam yaitu sebagai agen penyebaran biji dan penyerbukan tanaman berbunga yang artinya penyebaran populasi tumbuhan sangat dipengaruhi oleh keberadaan kukang di alam sebagai pengendali populasi serangga,” katanya.

Kuku, kukang jawa keluar dari kandang transport menuju pepohonan di kandang habituasi SM Gunung Sawal.
Kuku, kukang jawa keluar dari kandang transport menuju pepohonan di kandang habituasi SM Gunung Sawal.

Dengan demikian, tambahnya, kukang berperan dalam mengendalikan hama yang berpotensi menyerang tanaman produktif masyarakat atau tumbuhan hutan itu sendiri. Pada dasarnya, menjamin peran kukang kukang di habitat alaminya adalah salah satu cara menghindarkan masyarakat dari kehilangan sumber daya yang bermanfaat bagi manusia itu sendiri. “Cara terbaik yaitu menjaga populasi dan peran kukang jawa dengan menjaga keberadaannya di habitat alami yang masih baik. Karena di situlah makna pelestarian jenis yang sesungguhnya, bukan dengan memelihara atau memperdagangkan,” ujar Himawan.

Kukang (Nycticebus sp) atau yang dikenal dengan nama lokal malu-malu merupakan primata yang dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999.  Kukang juga dilindungi oleh peraturan internasional dalam Apendiks I oleh CITES (Convention International on Trade of Endangered Species) yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Ada tiga jenis kukang di Indonesia, kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang sumatera (Nycticebus coucang) dan kukang kalimantan (Nycticebus menagensis). Berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation of Nature) Redlist kukang jawa termasuk dalam kategori kritis atau terancam punah sedangkan kukang sumatera dan kalimantan termasuk dalam kategori rentan punah.

Kuka, kukang jawa memanjat pohon tepus yang tumbuh di habituasi SM Gunung Sawal, Ciamis
Kuka, kukang jawa memanjat pohon tepus yang tumbuh di habituasi SM Gunung Sawal, Ciamis

Kukang terancam punah karena perburuan dan perdagangan untuk pemeliharaan. Perdagangan untuk pemeliharaan memegang peran besar dalam mendorong kepunahan kukang. Menurut data YIARI, sekurangnya 200-250 individu kukang ditawarkan di tujuh pasar besar di empat kota besar Indonesia setiap tahun. Sementara hasil pemantauan online tahun 2015 menunjukkan sebanyak 400 individu kukang dipelihara oleh pemilik media sosial.

Berdasarkan hasil penelusuran tersebut sebanyak 30 persen individu kukang mati di siklus perdagangan.  Dengan demikian jumlah kukang diburu 30 persen lebih banyak dari jumlah kukang di tangan pemelihara. Artinya ada sekitar 800-900 individu kukang yang sudah diambil dari habitat selama  satu tahun, dengan nilai perputaran uang di pasar sebesar 250 – 300 juta rupiah.

Pengiriman dari pemburu ke pedagang menyebabkan kukang mengalami stress. Di perdagangan, gigi taring kukang dipotong dan itu bisa menyebabkan infeksi pada mulut sehingga nafsu makan berkurang. Hal tersebut membuat kukang lemas, sakit dan berujung kematian. Dengan begitu jumlah kukang yang mati akibat pemeliharaan kian bertambah dan populasi kukang di alam semakin berkurang.

 

Kampanye Konservasi Kukang di Pekan Raya Ciamis 2016

Edukasi Penyadartahuan tentang konservasi kukang kepada pengunjung Pameran Pekan Raya Ciamis

Para siswi SMP Negeri 5 Ciamis memperhatikan anggota tim edukator YIARI menjelaskan mengenai tantangan penderitaan kukang di tangan perdagangan dan pemeliharaan pada gelaran Pameran Pekan Raya Ciamis,  Kamis, 02 Juni 2016.
Para siswi SMP Negeri 5 Ciamis memperhatikan anggota tim edukator menjelaskan mengenai tantangan penderitaan kukang di tangan perdagangan dan pemeliharaan pada gelaran Pameran Pekan Raya Ciamis, Kamis, 02 Juni 2016. Kukang (Nycticebus sp) merupakan salah satu primata Indonesia yang jumlahnya kian berkurang di alam karena perburuan dan perdagangan untuk dijadikan peliharaan.
Kader Konservasi BKSDA Wilayah II Ciamisdan tim edukator YIARI menyampaikan informasi mengenai kukan dan tantangan konservasinya kepada pengunjung Pameran Pekan Raya Ciamis, Rabu,01 Juni 2016.
Kader Konservasi BKSDA Wilayah III Ciamis dan tim edukator YIARI menyampaikan informasi mengenai kukang dan tantangan konservasinya kepada pengunjung Pameran Pekan Raya Ciamis, Rabu,01 Juni 2016. Kukang merupakan salah satu primata Indonesia yang jumlahnya kian berkurang di alam karena maraknya perburuan  dan perdagangan untuk pemeliharaan.
Tim edukator dari kader konservasi BKSDA Ciamis mengenalkan ragam flora dan fauna yang hidup di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis. Pengenalan tersebut merupakan salah satu upaya edukasi mengenai keanekaragaman hayati kepada masyarakat dalam program menuju Ciamis sebagai kabupaten konservasi.
Tim edukator dari kader konservasi BKSDA Ciamis mengenalkan ragam flora dan fauna yang hidup di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis. Pengenalan tersebut merupakan salah satu upaya edukasi mengenai keanekaragaman hayati kepada masyarakat dalam program menuju Ciamis sebagai kabupaten konservasi.
Suasana Pameran Pekan Raya Ciamis 2016
Suasana Pameran Pekan Raya Ciamis 2016

Foto pengunjung sebagai aksi kampanye konservasi kukang

foto kampanye (1)

Foto bersama pengurus OSIS SMP Negeri 4 Ciamis sebagai aksi kampanye mendukung upaya konservasi kukang.
Foto bersama pengurus OSIS SMP Negeri 4 Ciamis sebagai aksi kampanye mendukung upaya konservasi kukang di gelaran Pameran Pekan Raya Ciamis 2016.
Aksi kampanye siswi SMP Negeri 5 Ciamis mendukung upaya konservasi kukang.
Aksi kampanye siswi SMP Negeri 5 Ciamis mendukung upaya konservasi kukang.

foto kampanye (4)

foto kampanye (5)

 

 

 

 

 

 

 

 

Kampanye ‘Stop Memberi Makan Monyet’ di kawasan Muara Angke

Jakarta – Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Satwa Yayasan Inisiasi Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melalui Program Mitigasi Konflik Monyet Ekor Panjang (MEP) menggelar kegiatan edukasi dan penyadartahuan berupa kampanye ‘Stop Memberi Makan Monyet’ di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016.

Staf Edukasi dan Penyadartahuan YIARI Ismail Agung, mengatakan kegiatan kampanye di laksanakan di beberapa titik lokasi yang berpotensi konflik pemberian makan monyet di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara. Beberapa lokasi kampanye yaitu, Layar Club House Perumahan Mediteranian Boullevard, sepanjang jalan akses keluar Perumahan Mediteranian Boullevard, dan kawasan Suaka Margasatwa Angke Kapuk.

“Berdasarkan informasi dari pihak manajemen perumahan yang berdampingan dengan kawasan Hutan Mangrove Muara Angke ada beberapa laporan warga yang menyebutkan bahwa MEP masuk ke dalam rumah atau merusak fasilitas umum,” ujar Agung yang juga berperan sebagai Koordinator Kampanye ‘Stop Memberi Makan Monyet’ itu.

Menurut dia, ada pemicu yang membuat monyet ekor panjang masuk ke dalam kawasan perumahan. Perilaku monyet masuk kawasan warga ditenggarai oleh aktivitas interaksi pemberian makan oleh masyarakat. “MEP yang terbiasa diberi makan memicu mereka keluar dari habitat dan mencari makanan di area perumahan, misalnya mencari makan di tempat sampah atau merebut makanan,” katanya.

Potensi konflik pemberian makan juga terjadi di sepanjang jalan akses keluar Perumahan Mediteranian Boullevard, di mana setiap sore monyet-monyet bergerombol keluar dari kawasan hutan dan bergerombol duduk di area taman atau duduk di pagar pembatas. Sementara pengendara yang melintas juga sengaja berhenti untuk memberi makan atau hanya ingin melihat dari dekat.

“Kasus yang sama juga terjadi di Suaka Margasatwa Mangrove Angke Kapuk,  di beberapa titik muncul potensi konflik pemberian makan, bahkan monyet turun dari pohon dan menghampiri para pengunjung,” katanya.

Menurut hasil kajian yang dilakukan oleh YIARI terhadap vegetasi potensi habitat, tidak ditemukan gangguan terhadap kondisi hutan Mangrove yang mendorong MEP untuk keluar dari habitatnya. Daya dukung hutan sebagai sumber pakan dan habitat monyet masih mencukupi. “Yang perlu dilakukan yaitu berhenti memberi makan monyet. Sebab jika pemberian makan terus dilakukan akan berdampak buruk bagi satwa juga manusia. Monyet akan berperilaku agresif, menganggu warga dan akhirnya akan tergantung pada manusia,” kata lelaki berkacamata itu.

Foto kegiatan kampanye “Stop Memberi Makan” di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara :

Kampanye di Layar Club House Mediteranian Boullevard

Tim YIARI mempersiapkan material publikasi untuk kegiatan kampanye "Stop Memberi Makan" di Layar Club House, Mediteranian Boulevard, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016.
Tim YIARI mempersiapkan material publikasi untuk kegiatan kampanye “Stop Memberi Makan” di Layar Club House, Mediteranian Boulevard, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016.
Koordinator Mitigasi Konflik Monyet Ekor Panjang Merryana memberikan edukasi kepada anak-anak di area Layar Club House, Mediteranian Boulevard, Sabtu. 19 Maret 2016. Dia menceritakan mengenai perilaku monyet ekor panjang  apabila terus-menerus diberi makan oleh manusia.
Koordinator Mitigasi Konflik Monyet Ekor Panjang Merryana memberikan edukasi kepada anak-anak di area Layar Club House, Mediteranian Boulevard, Sabtu. 19 Maret 2016. Dia menceritakan mengenai perilaku monyet ekor panjang apabila terus-menerus diberi makan oleh manusia.

 

 

Tim YIARI foto bersama warga Komplek Perumahan Mediterania Boulevard sebagai wujud dukungan untuk tidak memberi makan monyet ekor panjang yang masuk kawasan perumahan.
Tim YIARI foto bersama warga Komplek Perumahan Mediterania Boulevard sebagai wujud dukungan untuk tidak memberi makan monyet ekor panjang, Sabtu, 19 Maret 2016.
Warga Perumahan Boulevard Mediterania Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara menunjukkan material kampanye 'Stop Memberi Makan Monyet". Kampanye bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai dampak perubahan perilaku MEP akibat aktivitas pemberian makan. Selain itu juga sebagai upaya pencegahan konflik manusia-MEP.
Warga Perumahan Boulevard Mediterania Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara menunjukkan material kampanye ‘Stop Memberi Makan Monyet”. Kampanye bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai dampak perubahan perilaku monyet ekor panjang akibat aktivitas pemberian makan, juga upaya pencegahan konflik antara manusia dan monyet ekor panjang.

Pemasangan Spanduk

Tim kampanye YIARI memasang spanduk bertuliskan 'Stop Memberi Makan Monyet' di pagar jalan depan SD BPK Penabur di area Perumahan Mediteranian Boulllevard, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016. Lokasi tersebut merupakan jalan yang berdekatan dengan Hutan Lindung Angke Kapuk, di mana pada waktu tertentu gerombolan monyet keluar pagar dan masuk kawasan perumahan. Di lokasi tersebut juga beberapa warga yang melintas memberi makan monyet tersebut.
Tim kampanye YIARI memasang spanduk bertuliskan ‘Stop Memberi Makan Monyet’ di pagar jalan depan SD BPK Penabur di area Perumahan Mediteranian Boulllevard, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016. Lokasi tersebut merupakan akses jalan Perumahan Mediteranian Boullevard, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara yang berbatasan dengan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara.
Seorang pengendara motor memperhatikan spanduk bertulisan 'Stop Memberi Makan Monyet' yang dipasang di pagar pembatas antara kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk dengan Perumahan Mediteranian Boullevard Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016.  Menurut laporan warga, lokasi tersebut merupakan titik potensi konflik pemberian makan monyet ekor panjang. 
Seorang pengendara motor memperhatikan spanduk bertulisan ‘Stop Memberi Makan Monyet’ yang dipasang di pagar pembatas antara kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk dengan Perumahan Mediteranian Boullevard Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016.  Menurut laporan warga, lokasi tersebut merupakan titik potensi konflik pemberian makan monyet ekor panjang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Edukasi dan Penyadartahuan kepada Pengunjung di SM angke Kapuk

Staf Edukasi YIARI memberikan penyadartahuan kepada pengunjung di Suaka Margasatwa Angke Kapuk mengenai dampak pemberian makan monyet ekor panjang manusia terhadap perilaku monyet dan kenyamanan pengunjung.
Staf Edukasi YIARI memberikan penyadartahuan kepada pengunjung di Suaka Margasatwa Angke Kapuk, Sabtu, 19 Maret 2016 mengenai dampak pemberian makan terhadap monyet ekor panjang oleh manusia.

Pemasangan Spanduk 

Tim YIARI memasang spanduk di area taman sepanjang akses jalan keluar Perumahan Mediteranian Boullevard Pantai Indah Kapuk , Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016. Lokasi tersebut merupakan titik potensi konflik pemberian makan monyet ekor panjang oleh pengendara yang melintas.
Tim YIARI memasang spanduk di area taman sepanjang akses jalan keluar Perumahan Mediteranian Boullevard Pantai Indah Kapuk , Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016. Lokasi tersebut merupakan titik potensi konflik pemberian makan monyet ekor panjang.
di area taman sepanjang akses jalan keluar Perumahan Mediteranian Boullevard Pantai Indah Kapuk , Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016. Lokasi tersebut merupakan titik potensi konflik pemberian makan monyet ekor panjang oleh pengendara yang melintas.
Jalan akses keluar Perumahan Mediteranian Boullevard Pantai Indah Kapuk , Jakarta Utara merupakan  titik potensi konflik pemberian makan monyet ekor panjang oleh pengendara yang melintas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Edukasi terhadap pengendara

Tim Edukasi YIARI memberikan penyadartahuan mengenai dampak pemberian makan terhadap monyet ekor panjang.
Tim Edukasi YIARI memberikan penyadartahuan kepada pengendara yang melintas di akses jalan keluar Perumahan Mediteranian Boullevard, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016. Para pengendara diberikan informasi mengenai dampak buruk  pemberian makan terhadap monyet ekor panjang bagi satwa juga manusia.Aksi kampanye tim YIARI di jalan akses keluar Perumahan Mediteranian Boullevard, Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016.
Aksi kampanye tim YIARI di jalan akses keluar Perumahan Mediteranian Boullevard, Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016.
Aksi kampanye tim YIARI di jalan akses keluar Perumahan Mediteranian Boullevard, Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara, Sabtu, 19 Maret 2016.

 

Pelatihan Identifikasi Pohon di Kawasan Kalimati TNGHS

Tim Survey Release Monitoring YIARI menyusuri jalan setapak menuju hutan kawasan hutan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak untuk pelatihan identifikasi jenis pohon.
Tim Survey Release Monitoring YIARI menyusuri jalan setapak menuju hutan kawasan hutan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS), Kamis, 14 Januari 2016 untuk pelatihan identifikasi jenis pohon. Pelatihan tersebut bertujuan untuk peningkatan kapasitas anggota tim dalam mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan di hutan, juga untuk menunjang program pelepas liaran dan monitoring satwa YIARI.

 

Tim mengamati salah satu pohon di plot 3 Kalimati Taman Nasiona Gunung Halimun-Salak
Tim mengamati salah satu pohon saat perjalanan menuju plot 3 Kalimati TNGHS, Kamis, 14 Januari 2016. Sepanjang perjalanan menuju lokasi pengamatan, tim aktif bertanya dan mengamati

 

Anggota tim mengamati buah dan bunga pada pohon yang tinggi.
Anggota tim mengamati buah dan bentuk daun pada pepohonan yang tinggi. Buah dan daun tersebut merupakan salah satu bagian tumbuhan yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui nama serta familiy suatu jenis pohon.

 

Anggota tim SRM menulis hasil pengamatan pepohonan yang ada di plot 3 Kalimati TNGHS
Anggota tim SRM menulis hasil identifikasi bagian-bagian pohon yang tumbuh di plot 3 Kalimati TNGHS pada lembaran pengamatan.

 

Tim  melakukan evaluasi hasil pengamatan pohon.
Tim melakukan evaluasi hasil kegiatan identifikasi pohon di plot 3 Kalimati, TNGHS, Kamis, 14 Januari 2016. Pelatihan identifikasi pohon tersebut merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas anggota SRM untuk menunjang program pelepas liaran dan monitoring satwa.

YIARI dan BBKSDA Jawa Barat Lepasliar Dua Individu Kukang Jawa

Seorang dokter dari lembaga International Animal Rescue (IAR) dibantu petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah III Ciamis memeriksa kesehatan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) sebelum dilepas liarkan ke tempat habituasi Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Blok Cibakokak, Ciamis, Jawa Barat, Kamis (1/10). Dua ekor Kukang bernama Mama dan Dede merupakan dua individu yang telah melewati masa rehabilitas di YIAR Ciapus, Bogor, hasil operasi BKSDA Jawa Barat di Tasikmalaya pada 2013. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/kye/15
Seorang dokter dari lembaga International Animal Rescue (IAR) dibantu petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah III Ciamis memeriksa kesehatan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) sebelum dilepas liarkan ke tempat habituasi Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Blok Cibakokak, Ciamis, Jawa Barat, Kamis (1/10). Dua ekor Kukang bernama Mama dan Dede merupakan dua individu yang telah melewati masa rehabilitas di YIAR Ciapus, Bogor, hasil operasi BKSDA Jawa Barat di Tasikmalaya pada 2013. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/kye/15

 

Seorang dokter dari lembaga International Animal Rescue (IAR) dibantu petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah III Ciamis memeriksa kesehatan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) sebelum dilepas liarkan ke tempat habituasi Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Blok Cibakokak, Ciamis, Jawa Barat, Kamis (1/10). Dua ekor Kukang bernama Mama dan Dede merupakan dua individu yang telah melewati masa rehabilitas di YIAR Ciapus, Bogor, hasil operasi BKSDA Jawa Barat di Tasikmalaya pada 2013. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/kye/15
Seorang dokter dari lembaga International Animal Rescue (IAR) dibantu petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah III Ciamis memeriksa kesehatan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) sebelum dilepas liarkan ke tempat habituasi Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Blok Cibakokak, Ciamis, Jawa Barat, Kamis (1/10). Dua ekor Kukang bernama Mama dan Dede merupakan dua individu yang telah melewati masa rehabilitas di YIAR Ciapus, Bogor, hasil operasi BKSDA Jawa Barat di Tasikmalaya pada 2013. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/kye/15

 

Petugas mempersiapkan areal tempat pelepas lliaran Kukang Jawa (Nycticebus Javanicus) di tempat habituasi Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Blok Cibakokak, Ciamis, Jawa Barat, Kamis (1/10). Dua ekor Kukang bernama Mama dan Dede merupakan dua individu yang telah melewati masa rehabilitas di YIAR Ciapus, Bogor, hasil operasi BKSDA Jawa Barat di Tasikmalaya pada 2013. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/kye/15
Petugas mempersiapkan areal tempat pelepas liaran Kukang Jawa (Nycticebus Javanicus) di tempat habituasi Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Blok Cibakokak, Ciamis, Jawa Barat, Kamis (1/10). Dua ekor Kukang bernama Mama dan Dede merupakan dua individu yang telah melewati masa rehabilitasi di YIAR Ciapus, Bogor, hasil operasi BKSDA Jawa Barat di Tasikmalaya pada 2013. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/kye/15

Sumber : www.antarafoto.com