Ibu Lina Kartasasmita, Menginspirasi Lewat Pendidikan
Siapa bilang pendidikan itu membosankan? Ibu Lina Kartasasmita membuktikan sebaliknya!
Sebagai seorang ibu, guru dan life coach, Ibu Lina telah menjelajahi dunia pendidikan dengan penuh dedikasi. Mulai dari mengajar akuntansi sampai menjadi guru bahasa dan life coach, Ibu Lina selalu berusaha membuat dampak positif bagi murid-muridnya dan masyarakat luas.
Yuk, kenali dan simak perjalanan inspiratif Ibu Lina!
Latar Belakang Kecintaannya pada Pendidikan
Terinspirasi dari keluarganya
Perempuan kelahiran tahun 1966 ini mendapatkan inspirasi pendidikan dari keluarganya sejak dini. Kakeknya adalah seorang guru bahasa Indonesia untuk orang-orang Belanda di zaman penjajahan, dan salah satu kakaknya juga mengikuti jejak tersebut dengan menjadi guru.
Namun, inspirasi terbesarnya adalah dari ayahnya, pendiri sekolah swasta Dhammasavana di Jakarta, yang menekankan pentingnya pendidikan.
Ayah Ibu Lina selalu berpesan, “Yang bisa mengubah hidup kamu adalah belajar. Hanya pendidikan yang bisa membawa kamu lebih maju.” selain menjadi doktrin keluarga, pesan ini juga menumbuhkan semangat belajar dalam diri Ibu Lina yang berkelanjutan hingga saat ini.
Ibu Lina yakin ilmu pengetahuan adalah kunci untuk mengubah hidup seseorang dan berbagi ilmu adalah cara untuk memperkuat komunitas. Pengajaran dari ibunya juga menegaskan hal ini, “Kalau orang sakit kita sembuhkan, hari itu saja ia sembuh dan bisa sakit lagi. Tapi kalau kamu mendidik seseorang, ilmunya akan digunakan seumur hidupnya untuk mencari nafkah dan mengajar anak-anaknya.”
Dalam sebuah wawancara daring, Ibu Lina juga menyampaikan, “Kalau saya kasih orang uang, mungkin habis dalam sekejap. Tapi kalau saya kasih dia ilmu, itu akan berkepanjangan dalam hidupnya. Ilmu yang dibagi tidak akan pernah habis.”
Terbiasa mengajar di sekolah sejak kecil
Ibu Lina telah mengenal dunia pendidikan sejak usia muda, meneladani semangat ayahnya. Semenjak duduk di bangku SMP dan SMA, ia telah aktif mengambil peran dalam dunia pendidikan, tidak hanya sebagai siswa tapi juga sebagai pengajar.
Ibu Lina sering kali dipercaya untuk menggantikan guru akuntansi di sekolah yang didirikan oleh ayahnya, serta menjaga kestabilan kelas saat guru berhalangan hadir.
Selain tugas-tugas resmi, Ibu Lina juga mencari cara untuk menambah uang jajannya dengan mengajarkan pelajaran kepada teman-temannya. Kecintaannya terhadap pengajaran ini ternyata menurun kepada anak-anaknya, yang juga mengikuti jejaknya dengan mengajari teman-teman mereka di sekolah.
Bagi Ibu Lina, mengajar adalah panggilan hati, terutama dalam mendidik generasi muda yang tanpa bimbingan yang tepat. Menurutnya, kunci dari pendidikan efektif terletak pada kecocokan antara guru dan murid; tanpa adanya kesesuaian tersebut, proses belajar mengajar tidak akan berlangsung dengan efektif.
Terinspirasi dari banyak tokoh inspiratif dunia
Inspirasi Ibu Lina juga didapatkan dari berbagai tokoh besar dunia yang memiliki visi perubahan positif.
Margaret Thatcher menginspirasinya dengan ketangguhan sebagai pemimpin perempuan, sementara Mahatma Gandhi mengajarkan pentingnya kesederhanaan dan keberanian dalam memperjuangkan keadilan.
Di sisi lain, Lee Kuan Yew memengaruhi pandangan Ibu Lina mengenai pentingnya pendidikan sebagai pilar kemajuan bangsa. Ia juga mengambil hikmah dari ajaran Lao Tzu tentang kedamaian batin dan hidup secara otentik.
Inspirasi dari tokoh-tokoh tersebut membentuk cara Ibu Lina dalam mengajar, melatih, dan berinteraksi dengan orang lain. Dengan mengikuti pemikiran dan tindakan mereka, ia berusaha menjadi pendidik dan pembimbing yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, baik di Indonesia maupun di komunitas internasional.
Tantangan yang Dihadapi Ibu Lina

Perjalanannya mengenyam pendidikan sampai menjadi pengajar tidak selalu mulus, banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Ibu Lina.
Menjadi kaum minoritas
Menghadapi statusnya sebagai minoritas ganda di Indonesia, Ibu Lina menjalani tantangan besar dalam mengejar pendidikan tinggi.
Pada waktu itu, masuk ke universitas negeri sangat sulit bagi beliau, sehingga beliau memilih untuk melanjutkan studi di jurusan akuntansi di sebuah universitas swasta.
Dalam menghadapi diskriminasi dan kesulitan lainnya, Ibu Lina tidak pernah menyerah. Dengan tekad kuat, ketekunan, dan dukungan tidak tergoyahkan dari keluarganya, beliau berhasil mengatasi tantangan tersebut.
Ibu Lina berbagi filosofinya dalam pendekatan pendidikan,
“While I do it, I do it my best. Saya lakukan yang terbaik dengan apa yang saya punya, yang saya bisa. Ketika bertemu murid baru, saya selalu bilang, ‘I’m not only your teacher, I can also be your friend. Doing something good is good karma. Kalau saya melakukan kebaikan untuk mereka, you don’t owe me, the universe owes me.’ Saya percaya, ketika saya melakukan kebaikan, menolong seseorang, bukan berarti orangnya harus membayar ke saya, tetapi saya menghutangi Tuhan. Tuhan yang akan membayar balik kebaikan itu kepada saya.”
Tinggal di negeri orang
Pada awal tahun 2000-an, ketika suaminya mendapat penugasan selama tiga tahun ke Amerika Serikat, Ibu Lina dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang berharga. Keputusan untuk meninggalkan Indonesia dan menetap di luar negeri tidaklah mudah, terutama mengingat anak-anaknya yang sedang dalam fase penting pertumbuhan.
Tinggal di Amerika membawa tantangan besar dalam adaptasi budaya dan bahasa untuk keluarga Ibu Lina.
Selain menghadapi kesulitan pribadi dan bertanggung jawab mengurus keluarga di negara yang asing, Ibu Lina juga dihadapkan pada tantangan profesional dalam menemukan peran yang sesuai dengan keahliannya. Namun, daripada menyerah, Ibu Lina melihat ini sebagai kesempatan untuk berkembang.
Di tengah tantangan tersebut, Ibu Lina mengambil inisiatif mengajar Bahasa Indonesia untuk ekspatriat. Selanjutnya, ia meningkatkan kualifikasi profesionalnya dengan mendapatkan sertifikat MBA dari sebuah universitas terkemuka dan mengikuti program executive coaching di University of Cambridge.
Melalui upaya dan ketekunan ini, Ibu Lina berhasil menyesuaikan diri dengan kehidupan baru di Amerika, sekaligus menambahkan dimensi baru pada kariernya.
Berhadapan dengan murid berkepala batu
Dalam perjalanan kariernya sebagai pendidik, Ibu Lina sering berhadapan dengan tantangan unik: murid yang memiliki keyakinan yang salah namun kuat.
Namun, dengan kesabaran dan pendekatan yang tepat, Ibu Lina berhasil memperbaiki kesalahpahaman mereka. Misalnya, ada kalanya seorang murid bersikeras bendera Indonesia berbentuk lingkaran, tetapi dengan sabar Ibu Lina mampu menyajikan bukti sejarah yang akurat untuk mengoreksi pandangan tersebut.
Selama bertahun-tahun, Ibu Lina telah mengajar ribuan siswa dari berbagai latar belakang, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Di antara murid-muridnya terdapat ekspatriat dari perusahaan besar seperti Chevron dan Kedutaan Besar Spanyol, serta remaja dan anak-anak dari desa-desa terpencil di Kalimantan yang belajar melalui Kahiu Academy.
Pengalaman ini memperluas wawasan Ibu Lina tentang keberagaman pelajar, serta memperkaya metode pengajarannya yang kini lebih inklusif dan efektif.
Berbagai Kontribusi Sosial Ibu Lina
Mendirikan komunitas membaca
Pada tahun 2018, Ibu Lina bersama dua teman dan kedua anaknya, mendirikan Lit & Coffee, sebuah klub buku yang berkomitmen untuk menggalakkan kegemaran membaca dan berdiskusi di kalangan generasi muda. Komunitas ini menyelenggarakan diskusi rutin mengenai berbagai genre buku, dan tidak lama kemudian, mereka juga memulai diskusi film.
Sejak awal, Lit & Coffee menawarkan suasana yang inklusif dengan tidak menerapkan sistem keanggotaan, sehingga semua diskusi terbuka untuk umum dan mengundang siapa saja yang berminat.
Kegiatan diskusi ini awalnya dilakukan secara tatap muka. Namun, dengan keinginan peserta untuk meningkatkan frekuensi pertemuan, kegiatan mulai beralih ke platform seperti Zoom. Keputusan ini memungkinkan fleksibilitas lokasi dan waktu, yang berdampak pada peningkatan antusiasme dan jumlah partisipan.
Diskusi daring pun telah menarik minat peserta dari berbagai daerah di Indonesia seperti Batam dan Banda Aceh, serta beberapa partisipan dari luar negeri.
Membimbing kemampuan softskill siswa Kahiu Academy

Kontribusi Ibu Lina lainnya adalah keterlibatannya dengan Kahiu Academy, sebuah program beasiswa pendidikan keterampilan gagasan YIARI sejak 2022.
Dalam sesi pelatihannya, Ibu Lina mengajarkan teknik dasar pengelolaan uang dan menekankan pentingnya literasi keuangan bagi pemuda, membantu mereka memahami cara mengelola keuangan dengan bijak.
Kahiu Academy berkomitmen untuk membekali siswanya dengan berbagai keterampilan esensial yang dibutuhkan untuk sukses di masa depan. Program ini mencakup pembelajaran akademis, kepemimpinan, dan keuangan. Sebelum mengajar di Kahiu Academy, Ibu Lina juga telah memberikan pelatihan public speaking dan pengelolaan keuangan kepada staf YIARI.
Perannya sebagai pendidik dan life coach memberikan kepuasan tersendiri ketika melihat murid-muridnya berhasil dan berkembang. Ibu Lina percaya pendidikan holistik yang mencakup pembelajaran akademis, keterampilan hidup, dan literasi keuangan adalah kunci untuk membenahi hidup seseorang.
Ia juga melengkapi diri dengan pengetahuan literasi keuangan. Baginya, membenahi hidup orang itu tidak hanya pada perasaan, pikiran, dan mindset-nya, tapi juga bagaimana mengelola keuangan.
Bertekad untuk Terus Mengemban dan Berbagi ilmu
Ibu Lina punya impian besar: ia ingin terus menjadi sumber inspirasi dan manfaat dengan membagikan ilmunya dan menyediakan pendidikan berkualitas yang mudah diakses oleh semua anak di Indonesia.
Dalam upaya untuk memperluas jangkauannya, Ibu Lina berencana untuk menulis buku tentang parenting dan pendidikan, serta ingin meningkatkan jumlah kelas online yang diselenggarakannya untuk menjangkau lebih banyak murid.
Ibu Lina percaya belajar adalah kunci untuk tetap awet muda dan semangat. “Saya percaya anti penuaan itu bukan krim. Anti penuaan itu belajar. Selama kita belajar, kita tetap awet muda. Karena kita selalu memiliki tujuan baru yang ingin dicapai esok hari. Selalu ada sesuatu yang ingin kita kejar dalam hidup,” ujarnya dengan penuh semangat.
Sebagai seorang pendidik dan life coach, Ibu Lina Kartasasmita telah memberikan dampak yang signifikan dan positif bagi banyak orang. Kisah hidupnya mengajarkan kita tentang pentingnya pendidikan, kesabaran, dan semangat untuk terus belajar serta berbagi.
Melalui dedikasinya, Ibu Lina menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan dapat mengubah hidup seseorang dan bagaimana berbagi ilmu pengetahuan dapat memberdayakan komunitas.
Ingin belajar lebih banyak dari Ibu Lina? Sobat #KonservasYIARI bisa menghubungi beliau melalui Linked in atau Instagram beliau ya! 😄
***
Tentang Kahiu Academy
Kahiu Academy merupakan sebuah program beasiswa gagasan YIARI sejak 2022. Program berupa pendidikan keterampilan bagi remaja putus sekolah hingga lulusan SMA dari desa-desa dampingan YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat. Tujuan utama Kahiu Academy ialah memberikan pendidikan berkualitas anak-anak desa yang berbatasan dengan hutan untuk mendapatkan keterampilan yang bermanfaat, menghindari pekerjaan ilegal, dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
