Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Pak Tono, Sang Local Hero Penjaga Habitat Satwa Laut di Pulau Cempedak
Tahukah kalian bahwa banyak sekali orang-orang hebat yang berjuang untuk kelestarian alam di tempat dia tinggal? Nah, salah satunya adalah Pak Hartono. Bisa dibilang, beliau ini adalah local hero bagi penggerak peduli lingkungan di tempatnya tinggal, yaitu di Pulau Cempedak. Di mana tuh? Kalian pasti kepo. Pulau Cempedak ini berjarak 53,9 km dari kota kecil Kendawangan yang terletak di bagian selatan Kalimantan Barat. Dengan perahu motor kecil, Pulau Cempedak bisa ditempuh dalam waktu 50 menit-1 jam. Penghuninya nggak banyak Sob, hanya 125 KK dengan total sekitar 300-an orang.
Pulau Cempedak ini salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Ketapang, Kalbar. Andalannya adalah keindahan alamnya yang ciamik banget nih. Pasirnya putih, air lautnya biru dan jernih, dan kerennya lagi, pulau ini sering dilintasi satwa-satwa laut seperti dugong, lumba-lumba, pesut, bahkan sampai paus. Banyak wisatawan ke Pulau Cempedak untuk berenang, menyelam, snorkling, dan memancing. Buat penggemar seafood, Pulau Cempedak surganya. Ikan-ikannya masih fresh, belum lagi bisa menyantap kepiting dan lobster yang seger dan yummy banget.
Keindahan alam laut ini nggak Cuma bisa ditemui di Pulau Cempedak. Ada juga pulau-pulau lainnya di sekitarnya. Pulau Sawi, Pulau Bawal dan beberapa lainnya. Semuanya indah-indah dan satwa-satwa laut yang jarang banget terlihat, seperti dugong dan kawan-kawannya itu, sering mampir di perairan situ. Ternyata ada penyebabnya kenapa mereka suka mampir. Di Pulau Cempedak dan sekitarnya, masih banyak ditemukan habitat lamun, ini tuh semacam rumput laut yang menjadi rumah ekosistem bagi banyak satwa laut. Sayangnya, kata Pak Tono, keberadaan lamun mulai menyusut nih Sob.
Nah, Pak Tono, yang tahun ini berusia 40 tahun, kemudian mengajak temen-temennya sesama nelayan untuk mulai menjaga alam laut nih. Kebetulan beliau ini juga Ketua RT, jadi sosok kepemimpinan beliau ngaruh banget untuk menggerakkan teman-temannya. Lantas, beliau juga dipercaya menjadi ketua Pokdarwis Cempedak Jaya Ketapang yang terbentuk pada tahun 2020. Pokdarwis adalah Kelompok Sadar Wisata, yaitu komunitas masyarakat yang bekerja untuk meningkatkan pariwisata di daerahnya. Di Pulau Cempedak, komunitas ini terdiri dari para nelayan yang menjalankan pemanduan wisata bagi para turis. Komunitas ini awal mulanya terbentuk atas inisiasi Yayasan WeBe Konservasi Ketapang, mitra dari YIARI, yang bertugas untuk memantau dugong dan habitat satwa-satwa laut yang dilindungi dan terancam punah, yang masih banyak ditemukan di sekitar perairan Pulau Cempedak dan sekitarnya. Sejak itu, Pokdarwis Cempedak Jaya hingga sekarang menjalankan kegiatan pengembangan ekowisata, yang mendorong pariwisata yang mendukung kelestarian habitat satwa laut dan ekosistemnya, dengan cara patroli pemantauan dan memandu turis dengan memberikan edukasi dan penyadartahuan pada masyarakat turis untuk turut mendukung habitat dan satwa laut.
Potret Pak Hartono di Pulau Cempedak (Rendi Afandi | YIARI)
Pasti kalian bertanya-tanya, apa yang mendorong Pak Tono ini segitu banget aktifnya berkegiatan menjaga alam. Pak Tono, yang memiliki 3 anak ini, sangat prihatin akan masa depan pulaunya. “Kondisi pasir di pulau Cempedak dan pulau-pulau sekitarnya mulai berkurang dibandingkan dulu saat saya kecil. Begitu pula dengan keberadaan lamun yang menjadi ekosistem bagi dugong dan satwa-satwa laut, yang mulai banyak berkurang. Tantangan lainnya adalah keberadaan sampah plastik. Kami belum menemukan solusi bagaimana mengurangi dan mengolah sampah-sampah plastik yang ada di pulau dan laut. Inilah yang menurut saya tantangan terbesar, yaitu mengubah kebiasaan masyarakat di pulau kami untuk meminimalisir penggunaan plastik,” ujarnya.
Untuk mendorong kepedulian masyarakat, Pak Tono juga prihatin dengan kondisi pendidikan di pulau itu. “Saya merasa bahwa tantangan terbesar di pulau ini adalah mendidik generasi muda untuk lebih sadar lingkungan. Kondisi pendidikan di sini juga sangat minim. Untuk menyekolahkan anak setelah lulus SD, kami harus mencari sekolah di pulau Kalimantan. Dengan ketiadaan sekolah setingkat SMP ke atas, kami harus mendidik anak-anak di sini untuk menjaga lingkungan yang makin menurun kualitasnya,” kata beliau.
Untuk itulah, ia melihat bahwa melalui Pokdarwis, ia berupaya menjadikan komunitas Pokdarwis ini bisa membantu perekonomian masyarakat, sehingga mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya dan juga makin tercerahkan akan pemahaman menjaga lingkungan. Nah, kegiatannya apa aja sih Pokdarwis ini. Menurut beliau, kegiatannya saat ini masih terbatas menjemput turis dari Pulau Kalimantan di Kendawangan, kemudian membawa mereka berkeliling pulau-pulau sambil menjelaskan kekayaan alam di Pulau Cempedak dan sekitarnya, kemudian memasakkan kuliner laut bagi mereka. Tangkapan laut terbesar yang populer buat turis adalah lobster, ikan, dan kepiting.
Di luar kegiatan pariwisata, Pokdarwis ini melakukan patroli di laut dua hari sekali, dengan perahu berisikan 3 orang. Total anggota Pokdarwis ada 23 orang, yang aktif patroli ada 18 orang. Dalam melakukan patroli, mereka mendata apakah ada kemunculan dugong, pesut, lumba-lumba, atau paus dan juga mendata temuan kematian satwa-satwa laut yang langka itu. Kelompok ini juga menghimbau masyarakat untuk menjaga keberadaan dugong dan mengubah kebiasaan lama masyarakat yang dulu masih suka mengonsumsi dugong. Sebelum Pokdarwis terbentuk, masih sering terjadi kematian dugong, bisa 3-4 ekor kematian di setiap awal dan akhir tahun. Kemudian pada tahun 2019-2020, tercatat 1 kali kematian dugong, dan tahun 2020 hingga sekarang, tercatat 0 kematian.
Usaha keras Pak Tono ternyata berhasil mengantarkan beliau mendapatkan penghargaan, 1st Runner Up Local Heroes di International Ocean Award 2021. Kemudian Pokdarwis Cempedak Jaya berhasil masuk menjadi salah satu dari 23 finalis Ocean Award 2021. Ia berharap, dengan penghargaan ini, masyarakat makin termotivasi untuk menjaga alam di pulau, sehingga generasi muda masih bisa merasakan kembali bulan-bulan di mana para satwa laut itu hadir. Bulan-bulan seperti Agustus dan April, ketika musim berganti, sering kali mereka menemukan keberadaan dolphin, paus pemburu, pesut, yang melintasi perairan. Semoga anak cucu kita nanti masih bisa melihat keindahan ini ya Sob.
Dewi Ria Utari
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Mari Berkenalan dengan Logo Baru YIARI
Di usia kami yang menginjak 15 tahun tahun ini, Yayasan IAR Indonesia punya logo baru nih sobat #KonservasYIARI. Logo baru kami ini punya makna dan filosofi yang menggambarkan visi dan misi kami sebagai lembaga yang memiliki pendekatan holistik dalam menjalankan program-program konservasi dan penyelamatan satwa liar dilindungi. Nah, yuk merapat untuk mengenal lebih dalam logo baru kami ini.
Logo baru YIARI
Simbol tangan manusia dan satwa
Gambar tangan satwa di sebelah kiri dan tangan manusia di sebelah kanan dalam posisi sejajar menaungi pohon, menggambarkan bahwa manusia dan satwa berperan seimbang dan sama pentingnya dalam mengayomi dan merawat alam dan seisinya, sekaligus memperlihatkan visi dan misi YIARI untuk menjalankan tugasnya secara holistik. Keberadaan satwa disimbolkan dengan tangan yang berbulu untuk mewakili baik itu satwa liar maupun domestik yang menjadi perhatian YIARI. Posisi yang sama dengan tangan manusia memberi makna di mana kesehatan dari manusia juga tergantung dari kesehatan lingkungan, kesehatan satwa domestik maupun satwa liar. Di sinilah YIARI ikut serta dalam menjaga kesehatan ekosistem dan manusia.
Pohon
Keberadaan pohon sangat penting di planet ini. Berfungsi sebagai paru-paru dunia, pohon juga melambangkan habitat yang diperlukan bagi satwa-satwa untuk hidup. Fungsi penting pohon makin diperlukan dalam kaitannya memperlambat laju perubahan iklim. Untuk itulah, YIARI juga membuat program-program restorasi yang bertujuan untuk menyeimbangkan ekosistem, memulihkan habitat, dan berupaya menahan laju perubahan iklim. Pohon yang ditampilkan mengambil bentuk mangrove yang merupakan benteng pesisir pantai Indonesia. Makna pohon ini penting bagi Indonesia yang sebagian besar wilayahnya adalah laut dan pantai.
YIARI
Singkatan dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia. Tulisan YIARI berada di tengah sebagai bagian dari batang pohon, melambangkan harapan dan tujuan kerja kami untuk menjadi penopang bagi kehidupan dan kelestarian alam.
Akar
Keberadaan akar di logo ini mewakili tujuan YIARI untuk bisa berakar di masyarakat, bekerja bersama masyarakat, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Simbol akar inilah yang mewakili program-program YIARI di bidang pemberdayaan masyarakat dan pendidikan serta penyadartahuan.
Garis
Melambangkan semangat YIARI membawa visi dan misi yang holistik dalam melindungi satwa dan habitatnya, dengan melibatkan kolaborasi bersama masyarakat dan pemerintah, untuk menciptakan ekosistem yang harmonis, adil, dan bermartabat bagi satwa dan manusia.
Nah, itulah cerita tentang logo kami. Semoga visi dan misi kami yang tergambar dalam logo baru kami ini, bisa terus kami jalankan dengan tentunya dukungan dan kolaborasi dari para Sobat #KonservasYIARI!
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Ulang Tahun ke-15 YIARI: Terus Semangat Merawat Alam Demi Masa Depan Bumi
Ibarat remaja yang baru merasakan cinta, pasti menggebu-gebu kan? Itulah semangat yang kami rasakan di usia 15 tahun ini Sobat KonservasYIARI. Sebagai lembaga yang bergerak di bidang konservasi dan penyelamatan satwa yang berdiri pada 14 Februari 2008 dengan bermitra bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 15 tahun perjalanan kami di Indonesia, ternyata tidak pernah memupus semangat kami untuk terus menjalankan visi dan misi kami. Untuk menandai ulang tahun kami itulah, kami mengadakan perayaan di Learning Centre Sir Michael Uren, yang terletak di Sei Awan Kiri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat pada 14 Februari. Sejumlah kegiatan dilakukan dengan mengajak partisipasi masyarakat. Di antaranya lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak, lomba tari daerah kreasi dengan tema flora dan fauna, lomba sumpit untuk umum dan pelajar SD, lomba gasing, hingga lomba fotografi. Selain lomba, diadakan berbagai pertunjukan seni, dari musik hingga tari yang mengangkat budaya daerah. Berbagai pihak yang selama ini menjadi mitra YIARI, diundang untuk hadir, baik dari jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jajaran Pemprov Kalimantan Barat, Pemda Ketapang, DPRD, TNI AL, Kepolisian, lembaga-lembaga masyarakat dan adat, hingga beberapa pesohor seperti petinju nasional Daud Yordan.
Acara syukuran ulang tahun ini juga dihelat YIARI di lokasi program yang berada di Bogor, Jawa Barat. Untuk acara di Bogor, YIARI mengadakan jamuan makan siang bagi mitra dan karyawan yang berlangsung di Hotel Mirah Bogor, pada Jumat 17 Februari 2023. Selain acara ramah tamah ini, YIARI juga menyelenggarakan aneka lomba dan syukuran bersama warga di sekitar lokasi pusat rehabilitasi primata milik YIARI yang terletak di Sinarwangi, Curug Nangka, Bogor, Jawa Barat.
Suasana perhelatan perayaan Hari Ulang Tahun YIARI di Bogor, Jawa Barat (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)
“Kami sangat bersyukur acara ulang tahun ini berlangsung lancar dan meriah, dengan keterlibatan aktif dari masyarakat serta dukungan pemerintah baik pusat maupun daerah. Hal lain yang terutama membuat kami bahagia tentunya adalah keberadaan karyawan YIARI sendiri. Selama 15 tahun ini, kami didukung oleh semangat dan energi yang tulus dari para karyawan di lokasi-lokasi tempat kami bekerja baik itu di Kalimantan Barat, Bogor, dan Lampung. Tanpa dedikasi dan integritas mereka, tidak mungkin kami bisa berjalan hingga sejauh ini,” ujar Karmele Llano Sanchez, CEO YIARI.
Hal serupa disampaikan Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul yang mengungkapkan apresiasinya pada seluruh pihak yang terlibat pada perayaan ulang tahun ke-15 ini. “Bagi lembaga yang bergerak di bidang konservasi, dukungan pemerintah dan masyarakat adalah fondasi bagi program-program kerja yang kami lakukan. Untuk itulah kemitraan menjadi sangat penting di hari ini. Kolaborasi dan sinergi adalah kunci bagi kesuksesan pekerjaan menjaga alam yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Karena itulah, gerak langkah YIARI selama 15 tahun ini telah membawa program-program kami tidak lagi hanya bergerak dalam hal penyelamatan satwa liar dilindungi, namun menjangkau pendekatan yang lebih holistik melalui pemberdayaan masyarakat, edukasi, dan penyadartahuan,” ujar Silverius Oscar Unggul.
Pada perayaan HUT YIARi ke-15 ini di Pusat Rehabilitasi Orangutan kami di Ketapang, Kalimantan Barat, kami memberi apresiasi bagi para pemenang lomba dalam rangkaian perayaan HUT YIARI ini (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Perjalanan YIARI bermula saat Karmele Llano Sanchez dan Argitoe Ranting beserta kawan-kawan melakukan kegiatan pelepasliaran makaka dan beruk ke Batutegi, Lampung pada 2006 dengan dukungan dana dari International Animal Rescue (IAR). Keberhasilan kegiatan ini mendorong IAR memberi dukungan lebih lanjut kepada Karmele dan Argitoe dan tim pada saat itu, untuk membangun pusat rehabilitasi bagi kukang dan makaka di Ciapus, Bogor, Jawa Barat pada 2007. Setahun kemudian, lahir secara resmi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) yang didaftarkan di Kementerian Hukum dan Ham pada 14 Februari 2008. Pada waktu itu, YIARI yang menjadi bagian IAR di Indonesia, bergerak di bidang penyelamatan dan rehabilitasi satwa dengan tujuan untuk menyejahterakan satwa yang menjadi korban dari perdagangan satwa liar.
Perkembangan YIARI semakin bertumbuh saat Karmele bertemu dengan orangutan Jojo dalam sebuah kegiatan penyelamatan di Pontianak pada 2009. Di tahun ini juga, YIARI memulai program pemulihan orangutan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Atas dorongan dan dukungan sepenuhnya dari BKSDA Kalimantan Barat yang saat itu dipimpin oleh Edy Sutiyarto selaku Kepala Balai, yang melihat belum adanya pusat rehabilitasi orangutan di wilayah Kalbar, maka dibangunlah pusat rehabilitasi orangutan di Desa Sei Awan Kiri, Ketapang, pada 2012.
Sejak awal kami berdiri di tahun 2008, kami fokus dalam perlindungan satwa liar termasuk dalam upaya monitoring rutin pasca pelepasliaran (Tim Animal Management | Yayasan IAR Indonesia)
Perjalanan YIARI setelah itu berkembang ke arah holistik melihat bahwa isu-isu yang terkait satwa liar yang dilindungi tak hanya bisa diatasi dengan penyelamatan, rehablitasi dan pelepasliaran saja. Perlu adanya pendekatan holistik kepada masyarakat sehingga YIARI kini telah menjalankan kemitraan dengan berbagai pihak melalui program pemberdayaan masyarakat, edukasi, kampanye, penegakan hukum bagi kasus-kasus kejahatan terhadap satwa liar dilindungi, penanganan konflik antara manusia dan satwa, serta perlindungan dan restorasi habitat.
Di tahun 2023 ini, YIARI telah menempuh perjalanan 15 tahun di Indonesia, sebagai mitra bagi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan unsur-unsur Pemerintah Indonesia lainnya baik Pusat maupun Daerah, serta bermitra dengan masyarakat dan swasta, dengan mengemban VISI “Dunia tempat manusia dan satwa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat” dan MISI: “Membangun kesadaran dan kepedulian untuk melindungi satwa dan habitatnya”. Sehingga di ulang tahun ke-15 ini, YIARI menampilkan tagline YIARIBESTARI: Bersama Menjaga Alam Harmoni Demi Masa Depan Bumi.
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Ancaman Malaria Bagi Populasi Orangutan
Kita semua pastinya sudah tahu kan kalau orangutan itu kesamaan DNA-nya dengan manusia sampai 97 persen? Nah kesamaan ini jadi bikin orangutan banyak memiliki sifat-sifat seperti kita, Sobat IAR. Termasuk penyakit yang diderita manusia, bisa juga diderita oleh orangutan. Nah, ini yang sering luput dari perhatian masyarakat umum, bahkan di kalangan peneliti sekalipun. Karena itulah, Yayasan IAR Indonesia (YIARI) di sela-sela pekerjaan kami menyelamatkan dan merehabilitasi satwa, para dokter hewan kami juga menyempatkan diri melakukan penelitian yang diperlukan bagi komunitas ilmuwan untuk ke depannya bisa menggunakan hasil penelitian ini demi menyelamatkan satwa-satwa yang makin berkurang populasinya.
Di pengujung akhir tahun ini, kabar membanggakan datang dari tim animal management kami, yang baru saja merilis jurnal ilmiah mereka dengan judul “Plasmodium pitheci malaria in Bornean orang-utans at a rehabilitation centre in West Kalimantan, Indonesia.” Jurnal ini dipublikasikan di situs ilmiah Malaria Journal pada 3 Oktober 2022 dan bisa diakses di sini.
Penelitian dan penulisan jurnal ini dilakukan satu tim yang terdiri dari sebagian besar dokter hewan di Indonesia dan internasional. Mereka adalah Karmele Llano Sanchez, Alex D. Greenwood, Aileen Nielsen, R. Taufiq P. Nugraha, Wendi Prameswari, Andini Nurillah, Fitria Agustina, Indra Exploitasia, Gail Campbell-Smith, Anik Budhi Dharmayanthi, Rahadian Pratama, dan J. Kevin Baird.
Tim medis kami memeriksa kesehatan Kumbang, memastikannya bebas dari segala penyakit termasuk malaria (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Nah, mungkin Sobat YIARI bertanya-tanya, kenapa sih kami melakukan penelitian ini. Jadi tuh, kami sering mendapati kasus-kasus gejala mirip kalau manusia kena malaria, pada orangutan yang ada di rehabilitasi kami yang ada di Ketapang, Kalimantan Barat. Terus, dokter hewan kami mencari-cari apakah sebelumnya sudah pernah ada penelitian di bidang ini, supaya bisa jadi acuan kami dalam menangani gejala-gejala seperti demam, lemes, nggak mau makan, dan sampai nggak responsif gitu Sob. Ternyata jarang banget tuh laporan soal ini. Lalu, kami pun tergerak untuk melakukan penelitian untuk mengidentifikasi spesies Plasmodium yang menginfeksi orangutan di bawah perawatan kami, menentukan frekuensi dan karakter penyakit malaria di antara yang terinfeksi, dan menetapkan kriteria untuk diagnosis dan pengobatan yang berhasil.
Untuk meneliti ancaman malaria pada orangutan ini, tim kami mengambil sampel darah seluruh orangutan yang ada di pusat rehabilitasi kami dari tahun 2017 hingga 2021. Didapati 89 dari 131 orangutan yang diambil sampel darahnya, dinyatakan positif malaria yang disebabkan oleh parasit Plasmodium pitheci. Selama periode tersebut, 14 kasus (mempengaruhi 13 orangutan) berkembang menjadi malaria klinis (0,027 serangan/orangutan-tahun). Tiga kasus lain ditemukan terjadi dari 2010-2016. Individu yang sakit memiliki gejala demam, anemia, trombositopenia, dan leukopenia.
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Plasmodium pitheci sangat sering menginfeksi orangutan pusat rehabilitasi kami. Pada sekitar 14% orangutan yang terinfeksi, penyakit malaria terjadi dan berkisar dari sedang hingga parah di alam. Infeksi atas malaria inilah yang mendorong kami untuk mengajak semua pihak menyadari bahwa malaria turut menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup spesies yang terancam punah ini.
Rahayu, salah satu orangutan kalimantan yang merupakan penyintas malaria yang sembuh di pusat rehabilitasi kami (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Dokter Karmele Llano Sanchez menyatakan bahwa sejauh penelitian ini dilakukan, tidak ada bukti bahwa parasit yang menjangkiti orangutan ini bisa berpindah ke manusia atau demikian juga sebaliknya, malaria yang dialami manusia akan menular ke orangutan. “Penelitian ini pada dasarnya sebuah awalan bagi para saintis untuk meneliti malaria lebih dalam lagi,” ujar Dokter Karmele.
Kondisi alam saat ini seperti perubahan iklim, berkurangnya keanekaragaman hayati dan kerusakan alam lainnya, sebenarnya menjadi salah satu pendorong banyaknya kasus-kasus kesehatan yang dialami satwa liar, di mana salah satunya epidemiologi penyakit seperti malaria. Bahkan perilaku nyamuk yang menularkan parasit malaria pun, adalah salah satu contoh bagaimana mereka merespon perubahan ini sehingga memberikan dampak bagi kesehatan satwa seperti orangutan. Di sinilah menurut Dokter Karmele, dokter hewan dan para saintis, memiliki tanggung jawab untuk mulai melakukan lebih banyak penelitian tentang patogen dan penyakit satwa liar yang akan mempengaruhi pekerjaan konservasi di masa depan.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Yayasan IAR Indonesia Sambut Ketua Baru, Silverius Oscar Unggul
Di usia ke-14 di tahun 2022 ini, Yayasan IAR Indonesia (YIARI) menyambut kehadiran Silverius Oscar Unggul, sebagai Ketua YIARI yang baru. Beliau adalah figur senior dan berpengalaman di bidang konservasi dan lingkungan hidup. Lahir di Kendari, 20 Juni 1971, Bang Onte, sapaan akrab beliau, saat ini aktif menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KADIN (Kamar Dagang Indonesia) bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sebagai aktivis lingkungan hidup, Bang Onte dikenal luas sebagai tokoh yang telah berhasil meningkatkan manajemen sumber daya alam di tataran ekonomi regional Indonesia. Keterlibatannya dalam perlindungan alam telah ia rintis sejak ia menjadi mahasiswa pertanian di Universitas Haluoleo Kendari, dengan mendirikan sebuah NGO bernama Yascita untuk mengungkapkan kasus-kasus pembalakan liar di Indonesia. Karena tidak ada media yang menyampaikan temuan-temuan hal ini karena dinilai terlalu kontroversial, Onte kemudian mendirikan stasiun radio bernama Radio SwaraAlam pada 1999. Pada tahun 2003, ia mendirikan stasiun televisi Kendari TV yang memberikan kesempatan bagi komunitas-komunitas lokal untuk mengisi sebagian besar program acara yang ditampilkan.
Pada tahun 2002, alumni Queensland University untuk bidang Conflict and Community Aspect on Mining ini mendirikan Network for the Forest (JAUH), sebuah NGO yang bertujuan untuk melindungi hutan hujan Indonesia dengan cara membantu para pelaku pembalakan liar di desa-desa di sekitar hutan untuk bertransformasi menerapkan pengelolaan hutan secara berkelanjutan melalui menerapkan sistem sertifikasi Forest Stewardship Council (FSC), yang sangat memperhatikan keberlanjutan sosial, ekonomi, dan ekologi. Perabotan dan produk kayu yang disertai label FSC, akan dijual di outlet-outlet retail premium. Inilah yang memberikan penghasilan ekonomi bagi masyarakat-masyarakat di desa-desa sekitar hutan, sebagai pilihan yang lebih menarik bagi mereka ketimbang melakukan penebangan hutan secara ilegal.
Bang Onte sedang memberikan presentasi di Learning Centre Sir Michael Uren, Ketapang (Heribertus Suciadi| Yayasan IAR Indonesia)
Onte yang meraih gelar Master di bidang Corporate Social Responsibility dari Universitas Trisakti ini ikut menjadi pendiri Perkumpulan Telapak (setelah pembubaran Yayasan Telapak) pada tahun 2002, Onte selalu menjadi bagian Perkumpulan Telapak untuk bertransisi dari NGO yang bergantung 100 persen pada Grant menjadi NGO yang mandiri melalui usaha-usaha sosial (Social Enterpreneurship) bersama petani, nelayan, dan masyarakat adat. Karena peran-peran tersebut Onte dianugerahi berbagai penghargaan Internasional seperti : Ashoka Fellow (2006), Conde Nast Traveler Environmet Award (2008), Ernest & Young And Schwab Foundation Social Enterpreneur Of The Year (2008), Young Global Leaders (YGL) World Economic Forum (2009), dan Skoll Foundation Awardee of Social Enterpreneurship (2010).
Pengalaman membangun model ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dan jaringan internasional yang luas, menjadi beberapa alasan mengapa Onte dipilih menjadi Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia yang kebetulan juga sedang bertransformasi dengan spirit inklusif dan kolaboratif di bawah kepemimpinan ketua Umum KADIN yang baru, Bapak Arsjad Rasjid. Dengan sederetan pengalaman dan prestasi inilah, YIARI antusias menyambut kehadiran beliau sebagai Ketua YIARI yang baru dan sangat optimis di bawah kepemimpinan beliau, YIARI mampu bergerak lebih dinamis dalam menjalankan visi dan misi holistik di bidang konservasi satwa dan lingkungan hidup. “YIARI selama ini telah dikenal luas sebagai Yayasan yang secara konsisten dan berhasil dalam mendukung pemerintah dalam melestarikan alam dan seluruh kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki negara Indonesia. Untuk itulah saya bangga dan bersemangat menjadi bagian dari perjalanan YIARI menempuh masa depan. Saya percaya, sinergi positif akan bisa semakin ditumbuhkan dengan membangun kolaborasi yang berkelanjutan antara masyarakat, pemerintah, civil society dan dunia usaha,” ujar Bang Onte.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Tiga Ibu Keren Penggerak Kegiatan Konservasi
Buat kalian yang lagi perlu banget motivasi biar makin semangat ngejalanin hidup, perlu banget nih baca kisah tiga ibu keren dari Kalimantan Barat yang berhasil bikin masyarakat di desa tempat mereka tinggal, untuk ngejaga lingkungan dan bikin kegiatan-kegiatan pertanian lokal yang bisa nambah-nambah pendapatan keluarga. Ciamik kan?
Nah, kisah pertama ini datang dari Bu Nuraini yang biasa dipanggil Bu Siti oleh warga di desanya. Oya, beliau ini tinggal di Desa Pematang Gadung, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Nah di Pega (ini panggilan keren Pematang Gadung, friend), cukup banyak warga yang kerjanya nambang emas secara ilegal. Tapi Bu Siti nggak ikut-ikutan, dia berusaha mengarahkan keluarga, terutama anak-anaknya untuk mencari nafkah yang nggak merusak alam. Hasilnya keren banget nih friend, salah satu putranya, menjadi salah satu teknisi mesin di salah satu perusahaan besar di Ketapang. So, nggak heran kalau Bu Siti dan keluarganya ini jadi panutan di desanya.
Ibu Siti, salah satu tokoh perempuan di Desa Pematang Gadung (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Jadi wajar banget kan kalau kemudian kami menunjuk beliau jadi Fasilitator Desa untuk Desa Pematang Gadung dan Desa Sungai Besar di program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan Yayasan IAR Indonesia. Beliau menyambut baik dan senang banget dengan tugasnya ini. Sejak tahun lalu, Bu Siti aktif ngajak ibu-ibu di desanya untuk melakukan patroli pengawasan api di lahan-lahan yang rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar hutan yang ada di desa Pematang Gadung. Ada cerita keren nih friend, jadi pernah nih Bu Siti menegur seorang Babinsa yang bertugas di desa mereka karena tidak pernah ikut dalam kegiatan patroli dan penyuluhan ke warga setempat terkait karhutla. Teguran Bu Siti ini ampuh banget bikin petugas tadi akhirnya aktif bersama Bu Siti dan kelompok perempuannya untuk melakukan penyuluhan non-formal dan patroli secara rutin ke kawasan-kawasan yang rawan.
Selain Bu Siti, ada juga nih ibu keren lainnya, yaitu Bu Mai, sapaan akrab buat Bu Maimun. Beliau ini tinggal di Desa Sukamaju, di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Lahir pada 20 Oktober 1970, Bu Mai adalah orangtua tunggal yang berhasil membesarkan dua anaknya hingga lulus dari perguruan tinggi. Keren banget kan! Meski kebayang beratnya jadi orangtua tunggal, Bu Mai ternyata tetap bisa aktif untuk memperhatikan desanya. Beliau aktif menjadi motor penggerak berbagai program baik di level desa, maupun kecamatan. Terhitung sejak 1997 hingga sekarang, beliau sudah aktif menjadi kader posyandu balita dan lansia, di PKK Kecamatan Muara Pawan, ketua HWK (Himpunan Wanita Karya Kecamatan Muara Pawan) dan salah satu tokoh penggerak PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) tahun 2010 hingga 2014.
Lengkapnya profil Bu Mai di berbagai organisasi inilah yang jadi alasan kuat buat kami untuk menunjuk beliau sebagai fasilitator desa dan sosok yang bisa mewakili Yayasan IAR Indonesia dalam menjalankan program Pemberdayaan Masyarakat di Desa Sukamaju. Dengan visi ingin melibatkan perempuan dalam upaya mencegah karhutla yang menjadi permasalahan utama di Desa Sukamaju, beliau mendorong kelompok tani perempuan bernama “Srikandi Berjaya”. Perempuan-perempuan ini aktif menerapkan dan memberikan contoh bagaimana bertani dengan cara tidak membakar lahan, kepada masyarakat sekitar. Saat ini, kelompok Karang Taruna juga ikut berpartisipasi dalam mencegah karhutla dan juga menjaga lahan gambut dengan pengolahan lahan yang menggunakan bahan-bahan organik.
Ibu Mai telah membangun masyarakat di Desa Sukamaju untuk lebih peduli terhadap lingkungan lewat aktivismenya di organisasi desa (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Kemudian ada satu lagi nih ibu keren yang telah kami libatkan jadi penggerak kegiatan konservasi di desanya, yaitu Bu Halimah yang berusia 43 tahun, tinggal di Dusun Sekujang, Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Beliau orangtua tunggal yang membesarkan tiga anaknya sendirian dan merawat ibunya yang sudah berusia 70 tahun. Untuk mencari nafkah, beliau berladang dan berjualan sayur. Berat banget sebenarnya beban hidup Bu Halimah, terutama karena tiga anaknya semua masih bersekolah. Yang terbesar masih duduk di kelas dua SMA, dan dua anak lainnya di bangku SD. Jadilah anak sulungnya ini sekolah sambil bekerja untuk membantu biaya sekolah, dan anak kedua Bu Halimah juga membantu bekerja menyadap karet kalau sedang libur sekolah.
Meski berat, tapi Bu Halimah masih tetap bisa menyediakan waktu untuk aktif di program tani yang kami adakan untuk membantu warga di Nusa Poring. Untuk itulah, rekan-rekan Bu Halimah menunjuk beliau jadi ketua kelompok tani Lacok Kerojo yang artinya rajin bekerja. Di kelompok ini, Bu Halimah ngajak warga di dusunnya untuk melakukan budidaya sayuran lokal di lahan demplot mereka masing-masing, mencari sayur di hutan, dan kemudian menjual sayur ke Serawai. Kegiatan ini tidak hanya mendorong pelestarian jenis tanaman-tanaman sayur lokal, tapi juga memberikan kesempatan bagi para perempuan untuk mandiri dan mampu mencari tambahan nafkah bagi kebutuhan keluarganya.
Bu Halimah aktif di program tani yang kami adakan untuk membantu warga di Nusa Poring(Rudiansyah | IAR Indonesia)
So, keren-keren kan tiga ibu ini? Dengan segala kondisi mereka yang tak mudah dan senyaman kita-kita yang hidup di perkotaan, mereka tak pantang menyerah. Malah menginspirasi dan mendorong warga di desanya untuk ikut terlibat menjaga dan melestarikan lingkungannya.
Yuk, Ngerayain Hari Migrasi Burung dengan Baca Dua Buku Ini
Sob, tahu nggak kalau setiap tanggal 14 Mei, seluruh dunia merayakan hari migrasi burung. Nah pasti di antara kalian ada yang penasaran nih, kenapa sih migrasi burung tuh perlu dirayain. Ternyata penting banget, Sob. Migrasi burung itu ngasih keuntungan ekosistem dan berkontribusi penting buat kualitas hidup dan ekonomi kita. Sebagian keuntungannya itu dari mengontrol hama, penyerbukan tanaman, sampai jadi indicator penting buat kesehatan planet bumi ini. Karena penting itulah, tiap tahun, selalu ada tema yang dirayakan saat peringatan migrasi burung ini. Tahun ini, temanya Polusi Cahaya. Jadi nih, sinar atau cahaya artifisial itu makin banyak bertambah secara global setidaknya dua persen setiap tahun dan hal ini berpengaruh ke burung-burung. Polusi cahaya ini jadi ancaman saat burung-burung bermigrasi, bikin mereka disorientasi waktu terbang di malam hari, bikin mereka nabrak gedung-gedung, ngganggu jam internal mereka, bahkan sampai mempengaruhi kemampuan mereka melakukan migrasi jarak jauh.
Gajahan timur (Numenius madagascariensis), salah satu burung yang bermigrasi ke Indonesia (Erik Sulidra | IAR Indonesia)
Peran penting migrasi burung ini juga kami pandang berharga nih. Dan ini salah satunya kami tandai dengan menerbitkan dua buku fotografi yang menampilkan migrasi dan kekayaan keanekaragaman burung yang ada di sejumlah wilayah Indonesia. Penasaran dengan dua buku ini? Yang pertama, buku berjudul “Another Life” karya Erik Sulidra yang diterbitkan pada 2019 yang memperlihatkan satwa-satwa terutama burung yang tinggal atau singgah di Ketapang, Kalimantan Barat. Kemudian satunya lagi, buku “Burung Liar Kawasan Hutan KPH Batu Tegi Lampung: Menyingkap Keragaman Jenis Burung di Hutan Lindung Batu Tegi” yang diterbitkan bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, UPTD KPH Batu Tegi dan bersama kami, Yayasan IAR Indonesia. Nah, buku ini ditulis oleh Manajer Resiliensi Habitat Yayasan IAR Indonesia, Robithotul Huda.
Buat yang penasaran dengan ide awal mulanya buku ini diterbitkan, sini kita simak cerita dari masing-masing penulis. Baik Erik dan Huda, ternyata sama-sama kepikiran bikin buku ini pada 2015, Sob. Kalau Huda, idenya muncul karena ingin merekam potensi biodiversitas satwa di Batu Tegi hasil monitoring teman-teman staf di lapangan. “Terutama jenis-jenis burung, karena memang belum ada yang membuat. Ditambah lagi dengan hobi saya dan teman-teman di bidang fotografi hidupan liar,” ujar Huda.
Peluncuran buku Burung Liar Kawasan Hutan Lindung Batutegi karya Huda bersama Dishut Provinsi Lampung(Denny Setiawan | IAR Indonesia)
Nah kalau Erik, pas 2015 lagi dikompori tuh sama temannya buat bikin buku karena ternyata dia sudah punya banyak foto-foto tentang satwa liar terutama burung, sejak dia mulai menekuni hobi fotografi pada 2011. “Setelah itu saya mencari beberapa referensi di buku yang khusus menceritakan biodiversitas di Tanah Kayong dan foto-fotonya, ternyata sangat minim. Saya jadi semakin tertantang dan bersemangat untuk membuat buku, hitung-hitung sebagai sumbangan karya dokumentasi satwa di Tanah Kayong,” kata Erik.
Proses penulisan kedua buku ini seru banget lho. Erik Sulidra, cerita nih kalau motret satwa liar itu memang nggak gampang. “Satwa liar itu instingnya kuat. Jadi kita harus pintar-pintar mengatur strategi di lapangan. Dan tidak setiap saat ketika kita pergi berburu foto itu bisa mendapatkan gambar, apalagi yang bagus. Jadi kadang saya dan teman-teman harus merayap di lumpur untuk bisa mendekati burung. Waktu itu saya ingat benar waktu motret burung migrasi di tepian pantai. Untuk mendekati burung-burung yang bertengger di beting-beting lumpur. Itu burungnya lagi makan dan kami mikir gimana caranya mendekati dengan lensa yang terbatas panjangnya. Akhirnya kami merayap dengan posisi tengkurap kayak latihan militer lah, dan prosesnya bisa 2-3 jam itu. Merayap, udah pasti tuh bahu pegel, sama nahan kamera supaya tidak terkena air asin,” kata Erik.
Kebayang kan ribetnya? Nah kata Erik, ini baru burung di pantai. Belum lagi kalau burung di hutan. Erik sharing nih kalau motret burung di hutan itu tantangannya banyak ranting dan daun yang menghalangi pandangan. Apalagi kalau burungnya cepet pindah-pindahnya. “Belum lagi jenis-jenis burung yang suka bertengger di puncak kanopi hutan. Lebih sulit lagi nampaknya, hanya dapat suaranya, jadi kami harus cari angle yang pas untuk bisa lihat burung yang ada di puncak pohon,” lanjut Erik.
Dari semua jenis burung yang pernah difotonya, Erik paling kesulitan saat harus memotret Enggang Gading. Kata dia, selain karena susah sekali ketemunya, habitatnya pun di hutan-hutan primer yang kondisinya masih bagus. Kemudian juga jenis burung yang pergerakannya di lantai hutan. “Kayak jenis-jenis ruai, jenis-jenis paok, ayam hutan, biasanya mereka sangat sensitif terhadap gerakan langkah kaki kita. Jadi belum nyampe kita ketemu burungnya, mereka udah tau dan kabur duluan,” tutur Erik.
Tampaknya sulit banget ya Sob? Well, Erik ngasih tips nih. Dia bilang, teknik terbaik untuk memotret satwa liar itu, tentukan spot pemotretan yang pas dengan obyeknya, kemudian bikin tempat persembunyian di spot itu, dan sebisa mungkin berkamuflase biar satwa-satwa liar itu nggak tahu kalau mereka mau dipotret.
Erik dan tim mengarungi sungai untuk memotret burung(Petrus Kanisius | IAR Indonesia)
Kalau tantangan yang dihadapi Robithotul Huda hampir mirip. Tapi agak sedikit kompleks nih. Mulai dari proses pendataan, pendokumentasian, hingga menyusunnya menjadi tulisan yang padu. “Dalam proses pendataan misalnya, terdapat beberapa burung yang ternyata hilir mudik di sekitar kawasan Batutegi alias keluar-masuk kawasan, yang menyebabkan sulitnya menentukan burung apa saja yang pasti akan dimasukkan ke buku. Rangkong misalnya, dulu ia masih ditemukan di tahun 2009 berdasarkan pengamatan rekan-rekan Yayasan IAR Indonesia dan Ecopass, namun ketika saya dan tim melakukan monitoring saat ini, sudah tidak ada rangkong di daerah KPH Batutegi,” ujar Huda.
Dari segi pendokumentasian, Huda dan timnya cukup kesulitan ketika mengabadikan jenis burung yang pemalu seperti burung-burung semak dan territorial. Contohnya burung puyuh gonggong sumatra, salah satu burung endemik di Pulau Sumatra yang terkenal sulit untuk ditangkap kamera. Untuk penulisan, Huda menemukan tantangan dari segi penamaan spesies atau taksonomi burung liar di Batutegi. “Seperti yang kita ketahui, taksonomi burung itu sangat dinamis atau mudah berubah-ubah, sehingga cukup menyulitkan untuk mengklasifikasikan burung-burung yang sudah kami temukan dan dokumentasikan,” ujar Huda. “Untungnya, dalam pengelompokan ini, saya dibantu oleh seorang ornitologis yang sudah lama berkecimpung di dunia perburungan Indonesia yaitu James A. Eaton, penulis buku ‘Birds of the Indonesian Archipelago: Greater Sundas and Wallacea’,” tambah Huda.
Setelah kedua buku ini berhasil diterbitkan oleh Yayasan IAR Indonesia, kedua penulis ini punya harapan khusus nih, Sob. Erik berharap bukunya bisa tersebar luas biar orang-orang bisa lebih tahu keanekaragaman hayati di Tanah Kayong. “Syukur-syukur buku ini bisa jadi panduan lapangan bagi kawan-kawan lain yang sedang studi, atau melakukan pengamatan satwa di Tanah Kayong khususnya,” ujar Erik.
Sedangkan Huda, berharap buku ini bisa dibaca untuk para pelajar dan didistribusikan ke sekolah-sekolah. “Supaya murid-murid khususnya dan masyarakat tahu bahwa banyak burung-burung unik dan indah yang terdapat di sekitar mereka dan akhirnya mereka tergerak untuk melindungi burung-burung tersebut. Mengingat fungsi hutan lindung di daerah Batu Tegi mulai berubah karena lahan di daerah ini diolah oleh masyarakat menjadi berbagai macam peruntukan, perlu adanya pengingat bahwa masih ada keanekaragaman hayati di Batu Tegi yang perlu dijaga oleh masyarakat di sekitarnya,” ujar Huda.
Ria Utari/Heribertus Suciadi/Fattreza Ihsan
Our Wonder Women di Kehidupan Satwa
Nggak cuma Amazon yang punya Princess Diana, kami pun di Yayasan IAR Indonesia punya banyak Princess Diana a.k.a Wonder Woman yang selama ini berperan penting dalam merawat dan melatih satwa-satwa yang tengah dititipkan di pusat rehabilitasi kami di Bogor dan Ketapang, supaya di kemudian hari bisa kembali pulang ke habitatnya. Nah, mumpung kita abis merayakan Hari Kartini di 21 April lalu, kami mau ngenalin nih para wonder woman kami yang keren-keren.
Yang pertama tentu saja jajaran dokter hewan perempuan kami. Buat temen-temen yang ngikutin banget perjalanan kami, tentunya kenal dong ya dengan pendiri Yayasan IAR Indonesia, yaitu dokter Karmele Llano Sanchez. Dokter hewan kesayangan kami ini sibuk banget gaes. Maklum, selain mikirin kesehatan para satwa, sebagai direktur program, Dokter Karmele mesti ngerjain banyak hal, dari mikirin program and kegiatan yang bermanfaat buat masyarakat dan tentu saja lingkungan, sampai menjalin kerja sama dengan mitra-mitra pemerintahan maupun swasta. Kemudian ada satu lagi nih dokter hewan senior kami, yaitu drh. Wendi Prameswari, Animal Management Manager yang bertugas di Bogor. Dok Wendi ini gabung ke kami dari tahun 2011, gaes. Nah, waktu perayaan Hari Kartini, kami ngadain IG Live tuh bersama dua dokter hewan senior kami ini, di situ keduanya cerita banyak hal tentang suka duka, tantangan, dan kebahagiaan dalam menjalankan profesinya dan tentu saja sebagai perempuan yang ternyata ngasih banyak advantage dalam tugas mereka merawat satwa liar. Oiya, cuplikan ceritanya bisa dilihat di sini.
Selain kedua dokter senior ini, kami masih punya banyak wonder woman yang tugasnya berdekatan dengan satwa liar. Di Bogor, ada drh. Indri Saptorini dan di Ketapang ada drh. Siti Hajariah, drh. Inggil R Dewanti, drh. Fina Fadiah, dan drh. Andini. Nggak cuma dokter hewan yang tugasnya penting dalam merawat satwa liar. Ada juga babysitter dan paramedis yang kerjanya berat juga gaes. Di Ketapang, kami ada Ibu Siska Mislia, 45 tahun dan sudah bergabung dengan kami dari tahun 2014 sebagai perawat orangutan. Kemudian ada Kak Fitria Agustina, 28 tahun, yang bertugas sebagai paramedis. Kalau di Bogor, ada juga Teteh Julitasari yang menjadi perawat kukang terlama. Dia gabung dengan kami dari tahun 2018 dan sekarang sudah jadi koordinator pengelola satwa terutama khusus untuk kukang dan monyet.
drh. Indri sedang mengambil sampel darah dari monyet ekor panjang kandidat pelepasliaran (Reza Septian | IAR Indonesia)
Tugas-tugas para wonder woman ini nggak bisa dipandang enteng gaes. Nih ya, kami coba ceritain singkat-singkat aja, karena sebenarnya kalau mau diceritain semua, bakalan jadi novel. Pertama tugas perawat satwa nih atau sering disebut animal keeper atau babysitter untuk orangutan yang masih bayik-bayik. Teh Julitasari cerita nih, tugas dia waktu jadi keeper dan satu-satunya keeper perempuan nih, dari bersihin kandang sampai ngasih makan kukang dan monyet. Tugas ini hampir sama dengan Bu Siska. Dari ngasih makan dan minum orangutan, dia juga harus memantau aktivitas mereka dari pagi sampai sore. “Jadi babysitter tidak mudah. Saya harus membuat mereka punya sifat alami seperti di alam bebas. Namun terkadang ada orangutan yang selalu ingin dekat dan sulit untuk jauh dari saya. Sering kali saya harus menghindar dan terpaksa mengusir orangutan ini supaya menjauhi saya dan mau naik ke atas pohon,” cerita Bu Siska nih gaes.
Lain lagi dengan cerita paramedis. Kak Fitri cerita nih kalau dia tuh ngeri-ngeri sedap saat harus menangani orangutan yang agresif. “Mesti pintar-pintar menghindar sambil tetap melakukan tugas sebagai tim medis. Solusinya ketika harus mengambil darah, menimbang, atau memeriksa kesehatan orangutan yang agresif, biasanya didampingi rekan kerja lainnya,” ujar Kak Fitri. Tapi meski serem-serem gimana, Kak Fitri enjoy aja dengan pekerjaannya. Dia merasa banyak hal-hal baru yang didapatinya setelah bekerja, yang jauh beda dengan kuliahnya dulu.
Kak Fitri juga sedang membantu mengambil sampel darah dari orangutan (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Kalau drh. Andini, menarik nih pendapatnya soal tantangan kerjaannya gaes. Dokter usia 27 tahun ini justru menilai tantangannya itu ada di manusianya nih. “Memang bekerja dengan satwa liar yang dilindungi tidak bisa dibilang mudah, banyak kendala dalam menghadapai satwa liar, tetapi menurut saya tantangan terberat justru mengedukasi masyarakat bahwa satwa liar adalah hewan liar yang hakikatnya harus berada di alam dan merdeka di hutannya,” katanya. Bener banget nggak sih.
Soal medan pekerjaan yang harus nuntut dokter-dokter hewan perempuan ini masuk keluar hutan, ini memang jadi tantangan berat buat mereka. “Sering kali medan yang harus dilalui di lapangan cukup sulit, misalnya harus berjalan atau bahkan berlarian di tengah rawa gambut yang cukup dalam. Untuk berjalan saja sudah susah. Di sini perlunya kami memaksa diri untuk punya tenaga dan daya tahan yang ekstra,” kata drh. Fina Fadiah. Kebayang tuh, kalau nggak wonder woman, pasti udah pada nyerah tuh.
Orangutan juga perlu diperiksa kesehatannya, oleh karena itu drh. Fina membantu mengeceknya (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Dengan berbagai situasi dan kondisi menantang itulah, kami sendiri salut banget sama para wonder woman yang bertahan hingga sekarang seperti misalnya Teh Julita yang seorang ibu tunggal, dulunya bekerja sebagai penjaga mainan anak-anak di minimarket, kemudian sekarang ahlinya dalam mendata perilaku satwa. Perjalanan para perempuan hebat ini tentunya sangat menginspirasi apalagi saat mendengar para Kartini ini cerita bahwa kebahagiaan dan kebanggaan mereka saat merawat satwa liar itu ketika satwa-satwa ini bisa kembali ke alam liar.