Ancaman ‘Godzilla’ El Niño: Kebakaran Hutan di Indonesia Berisiko Picu Dampak Global terhadap Iklim dan Keanekaragaman Hayati
Ketapang, 22 April 2026 — Para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa Indonesia berpotensi menghadapi El Niño kuat pada 2026, bahkan dalam sejumlah pembahasan disebut sebagai variasi kuat atau “Godzilla” El Niño. Fenomena ini diperkirakan diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang dapat membuat musim kemarau menjadi lebih panjang, lebih kering, dan menyebabkan curah hujan menurun signifikan di banyak wilayah Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, awan dan hujan cenderung lebih terkonsentrasi di Samudra Pasifik, sementara banyak wilayah Indonesia menghadapi minim awan, panas yang meningkat, dan penurunan hujan. Potensi kedua fenomena ini disebutkan akan terjadi bersamaan mulai April 2026, dengan dampak yang perlu diantisipasi terutama meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan yang tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga global.
Kombinasi kedua fenomena ini menyebabkan awan hujan lebih banyak terkonsentrasi di Samudra Pasifik, sementara Indonesia mengalami kekeringan yang signifikan. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung sepanjang musim kemarau 2026, dari April hingga Oktober.
Di Ketapang, Kalimantan Barat, bahkan hujan dilaporkan sudah tidak turun sejak Februari 2026, sementara kebakaran hutan dan lahan dengan luasan cukup besar telah terjadi, termasuk hingga membakar area restorasi YIARI di Hutan Desa Pematang Gadung, Kalimantan Barat. Sebuah area yang sedang diupayakan untuk kembali menjadi hutan setelah habis terbakar pada 2015 dan 2017 silam. Kondisi ini menjadi alarm serius bahwa krisis iklim bukan hanya sekadar ancaman masa depan, tetapi sudah dirasakan langsung di lapangan hari ini.
Dr. Karmele Llano Sanchez, CEO YIARI, mengatakan bahwa bagi lanskap hutan tropis di Kalimantan, kombinasi El Niño, perubahan tata guna lahan, degradasi hutan, dan krisis iklim menciptakan campuran yang sangat berbahaya. “Hutan yang telah dibuka, dikonversi, atau terdampak aktivitas ekstraktif menjadi jauh lebih rentan terbakar. Risiko meningkat berkali lipat pada kawasan yang telah kehilangan tutupan alami dan pada bentang alam gambut yang mengering. Ketika api muncul di area seperti ini, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya vegetasi, tapi juga memperburuk pemanasan global dan berpotensi menciptakan krisis yang lebih ekstrim.”
Hal ini yang terjadi di bulan Februari dan Maret di Hutan Desa Pematang Gadung. Ketika kondisi sekitar kering dan banyak bahan bakar, banyak orang yang kemudian membakar lahan untuk keperluan pertanian dan perkebunan. Api ini yang kemudian menjalar dengan cepat dan meluas.
“Kami melihat tanda-tanda bahaya sudah terlihat jauh sebelum puncak musim kemarau datang dan ini sangat mengkhawatirkan. Kondisi sudah jauh lebih kering dari biasanya, padahal musim kemarau belum benar-benar mencapai puncaknya. Ketika hujan berhenti lebih lama, vegetasi mengering, sumber air menyusut, dan bentang alam yang telah terdegradasi menjadi sangat mudah terbakar, ” tambahnya lagi.
Respons cepat dan kolaboratif di lapangan menjadi faktor kunci dalam menahan laju kebakaran agar tidak meluas. Selama tujuh hari kejadian, upaya pemadaman dilakukan secara intensif oleh tim gabungan yang terdiri dari masyarakat setempat, pemerintah, dan YIARI, yang bekerja tanpa henti di kondisi panas dan cuaca ekstrem. Dengan luas area terdampak sekitar 45 hektare, kerja keras ini berhasil menahan api agar tidak menjalar ke kawasan hutan yang lebih luas dan bernilai konservasi tinggi. Masyarakat berperan sebagai garda terdepan dalam deteksi dini dan pemadaman awal, sementara dukungan pemerintah dalam koordinasi dan sumber daya, serta kesiapsiagaan tim YIARI di lapangan, memperkuat efektivitas respons secara keseluruhan. Tanpa sinergi multipihak ini, kebakaran berpotensi meluas secara eksponensial, mengancam lebih banyak habitat, meningkatkan emisi karbon, serta memperbesar dampak terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat.
Menurut Karmele, ancaman karhutla bukan hanya persoalan hilangnya pohon atau rusaknya lanskap. Dampaknya menjalar luas terhadap biodiversitas, iklim, dan kesehatan manusia. “Saat hutan terbakar, kita kehilangan habitat, dan sekaligus mendorong satwa liar semakin dekat ke ambang kepunahan. Orangutan, beruang madu, macan dahan, hingga banyak spesies lain yang bergantung pada hutan tropis akan kehilangan ruang hidup, sumber pakan, dan perlindungan. Pada saat yang sama, asap kebakaran mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok rentan yang harus menghirup udara berbahaya selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.”
Pengalaman masa lalu menunjukkan betapa besar risiko yang harus dihadapi jika ancaman ini tidak ditangani sejak dini. Peristiwa El Niño 2015–2016, yang dikenal sebagai salah satu yang terkuat, memicu lonjakan kebakaran hutan dalam skala besar di berbagai kawasan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, kebakaran pada periode tersebut menimbulkan krisis kabut asap yang berat dan menjadi bencana lingkungan sekaligus kesehatan masyarakat. Pada tahun 2015, YIARI bahkan harus menyelamatkan tidak kurang dari 44 orangutan akibat kebakaran hutan dan lahan besar yang terjadi saat itu.
Karmele menegaskan bahwa pencegahan adalah garis pertahanan paling penting. “Dalam kondisi ekstrim, tidak semua kebakaran bisa dicegah sepenuhnya. Tetapi dengan persiapan yang tepat, pemantauan dini, pelibatan masyarakat, peralatan yang memadai, dan respons cepat di titik-titik rawan, kita masih bisa memperlambat penyebaran api, melindungi area bernilai konservasi tinggi, dan mengurangi kerusakan yang lebih luas. Waktu menjadi faktor yang sangat penting. Setiap hari tanpa kesiapsiagaan adalah hari yang meningkatkan risiko.”
YIARI saat ini memperkuat berbagai langkah mitigasi di lapangan, termasuk peningkatan kesiapsiagaan kebakaran, patroli, pemantauan titik rawan, serta kerja bersama masyarakat sebagai garis pertahanan pertama di lanskap hutan. Inisiatif berbasis komunitas seperti The Power of Mama juga menjadi bagian penting dari upaya perlindungan alam, menunjukkan bahwa perempuan di tingkat tapak memiliki peran vital dalam menjaga wilayahnya dari ancaman kebakaran dan kerusakan lingkungan. Pendekatan ini bukan hanya penting untuk menyelamatkan satwa liar, tetapi juga untuk melindungi kesehatan, mata pencaharian, dan keselamatan masyarakat yang hidup berdampingan dengan bentang alam rentan api.
Dalam konteks krisis iklim global, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia harus dipahami bukan sebagai bencana musiman biasa. Setiap hektare hutan yang terbakar berarti hilangnya keanekaragaman hayati, meningkatnya emisi karbon, memburuknya kualitas udara, serta bertambah besarnya tekanan terhadap manusia dan satwa liar. Karena itu, ancaman El Niño 2026 harus direspons dengan serius melalui pencegahan yang cepat, penguatan kapasitas di tingkat lokal, perlindungan bentang alam penting, dan kolaborasi lintas pihak sebelum situasi berkembang menjadi bencana yang lebih besar.