Kenapa Interaksi Negatif Orangutan dan Warga Terus Terjadi? Ini Penyebab Sebenarnya
Di pinggir kebun nanas yang rapi dan berbuah lebat, seekor orangutan berdiri diam. Ia menatap lama ke arah buah-buah kuning di depannya. Dekat, sangat dekat. Tinggal melangkah sedikit saja, ia bisa makan.
Tapi ia tidak bergerak.
Bukan karena tidak mau. Tapi karena satu langkah kecil itu bisa berujung besar: diusir, diserang, bahkan dibunuh.
Situasi seperti ini bukan cerita fiksi. Ini nyata terjadi di Lanskap Sentap Kancang, Ketapang, Kalimantan Barat, dan diteliti dalam jurnal “Human-Orangutan Conflict in Sentap Kancang Landscape, Ketapang District” oleh Runtu, Rifanjani, dan Darwati pada tahun 2024.
Orangutan yang masuk ke kebun warga ternyata bukan sekadar “hama” yang merusak. Dalam banyak kasus, mereka justru sedang berusaha bertahan hidup… setelah kehilangan rumahnya sendiri.
Kenapa Orangutan Bisa Sampai ke Kebun Warga?
Untuk memahami interaksi negatif ini, peneliti tidak hanya melihat dari jauh. Dalam studi yang dilakukan Runtu, Rifanjani, dan Darwati (2024), tim turun langsung ke lapangan selama sekitar lima bulan. Mereka mewawancarai warga, mengamati kondisi kebun, dan mengumpulkan data dari lembaga seperti YIARI untuk melihat gambaran utuh di lapangan.
Lonjakan interaksi negatif antara manusia dan orangutan di Sentap Kancang sangat berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) besar di tahun 2015 dan 2019. Kebakaran ini menghanguskan sebagian besar habitat orangutan, tempat mereka hidup sekaligus mencari makan.
Ketika hutan hilang, yang ikut hilang bukan cuma pohon, tapi juga sumber makanan alami. Dalam kondisi seperti itu, orangutan tidak punya banyak pilihan selain keluar dari habitatnya.
Dan tepat di luar hutan, mereka menemukan kebun-kebun warga yang penuh dengan buah dan sayur, sumber makanan yang paling mudah dijangkau.
Hal yang sering tidak disadari, kawasan ini bukan wilayah kecil biasa. Di Lanskap Sentap Kancang dan sekitarnya, diperkirakan ada sekitar 900–1.250 orangutan. Jumlah ini menjadikannya salah satu populasi penting di Kalimantan Barat.
Situasinya makin rumit karena sebagian besar wilayah ini merupakan hutan produksi, bukan kawasan konservasi. Artinya, perlindungannya lebih lemah dan lebih rentan mengalami perubahan, baik karena pembukaan lahan maupun kebakaran.
Apa yang Terjadi Saat Orangutan Masuk Kebun?

Begitu orangutan mulai masuk ke kebun, yang terjadi di lapangan tidak selalu se-ekstrem yang sering dibayangkan. Tidak semua kunjungan berakhir dengan kerusakan besar.
Dalam banyak kasus, orangutan hanya mengambil apa yang paling mudah dijangkau, seperti:
- buah di bagian pinggir kebun
- sayur yang siap panen
- atau tanaman yang tidak terlalu terlindungi
Mereka datang, makan secukupnya, lalu pergi. Tapi di sinilah letak masalahnya.
Mayoritas warga di wilayah ini adalah petani dengan lahan yang relatif kecil, sekitar 0–2 hektare. Dengan skala seperti itu, hasil kebun bukan sekadar tambahan penghasilan, tapi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Jadi ketika sebagian hasil panen diambil, dampaknya tetap terasa. Bukan karena jumlahnya selalu besar, tapi karena setiap bagian dari kebun punya nilai penting bagi pemiliknya.
Selain itu, jenis tanaman yang sering diambil juga bukan sembarangan. Biasanya yang diincar adalah komoditas yang cepat dipanen, mudah dijual, dan jadi andalan penghasilan warga. Bagi orangutan, kebun itu adalah sumber makanan yang mudah dijangkau. Bagi warga, itu hasil kerja yang nilainya besar untuk kebutuhan sehari-hari.
Kenapa Interaksi Negatif Ini Bisa Terjadi (dan Terus Berulang)?
Di Sentap Kancang, pola yang sama terus muncul dari waktu ke waktu.
Salah satu penyebab utamanya ada pada posisi kebun warga yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Tanpa pembatas yang jelas, pertemuan antara manusia dan orangutan jadi sulit dihindari.
Di beberapa lokasi, tidak ada zona penyangga yang bisa “menahan” pergerakan satwa. Kondisi ini diperkuat oleh beberapa faktor:
- jarak kebun yang sangat dekat dengan area hutan
- tidak adanya pagar atau pembatas yang efektif
- tata ruang yang membuat kebun dan habitat saling bersinggungan
Karena faktor-faktor ini tidak banyak berubah, interaksi negatif pun ikut berulang. Setiap kali orangutan bergerak melintasi batas tersebut, potensi pertemuan dengan manusia selalu ada.
Ternyata, Interaksi Negatif Bukan Cuma Soal Kerugian
Menariknya, tidak semua warga memandang kehadiran orangutan dengan cara yang sama. Dari hasil wawancara peneliti, terlihat bahwa respons masyarakat terbentuk bukan hanya dari pengalaman langsung, tapi juga dari persepsi.
Secara umum, warga bisa dilihat dalam dua kelompok:
- mereka yang pernah mengalami kerugian dan merasa dirugikan
- mereka yang belum terdampak langsung, tapi merasa cemas
Kelompok pertama biasanya punya pengalaman konkret, melihat tanaman berkurang atau panen yang tidak sesuai harapan. Sementara kelompok kedua lebih dipengaruhi oleh rasa waspada, karena ada satwa liar berukuran besar yang muncul di sekitar aktivitas sehari-hari.
Keberadaan orangutan di dekat kebun atau rumah sudah cukup untuk memicu kekhawatiran.
Bukan hanya tentang apa yang benar-benar terjadi di kebun, tapi juga tentang bagaimana situasi itu dipersepsikan. Ketika pengalaman dan rasa takut bertemu, cara pandang terhadap orangutan bisa berubah.
Cara pandang yang awalnya biasa saja bisa berubah jadi lebih waspada, bahkan menolak kehadiran orangutan.
Bagaimana Warga Merespons Orangutan?

Saat benar-benar berhadapan dengan orangutan, pilihan warga ternyata tidak selalu ekstrem seperti yang sering dibayangkan.
Dari data penelitian, mayoritas warga justru memilih langkah yang relatif aman:
- 68% melapor ke pihak berwenang seperti BKSDA atau lembaga konservasi
- 16% mencoba mengusir sendiri, biasanya dengan membuat suara keras
- 16% memilih menghindar atau pergi dari lokasi
Angka ini menunjukkan satu hal penting: sebagian besar warga tidak langsung bereaksi dengan kekerasan. Mereka cenderung mencari cara yang lebih aman, baik untuk diri sendiri maupun untuk satwa tersebut.
Orangutan yang masuk ke kebun atau area permukiman berpotensi dianggap sebagai “hama”. Jika interaksi negatif terus berulang tanpa penanganan yang tepat, bukan tidak mungkin muncul tindakan yang membahayakan, baik bagi manusia maupun orangutan itu sendiri.
Lantas, Bagaimana Solusinya?

Orangutan punya wilayah jelajah yang luas dan ingatan terhadap sumber makanan. Artinya, ketika dipindahkan, mereka bisa kembali lagi ke lokasi sebelumnya, terutama jika di sana masih tersedia makanan. Jadi, memindahkan satwa bukan solusi jangka panjang.
Beberapa upaya yang sudah dilakukan antara lain:
- patroli rutin oleh tim gabungan (termasuk YIARI dan BKSDA)
- edukasi kepada warga agar tidak menyakiti satwa
- penggunaan alat sederhana seperti meriam rakitan untuk mengusir tanpa melukai

Selain itu, ada juga rekomendasi yang lebih jangka panjang, seperti:
- membuat tanaman penyangga yang bukan sumber pakan orangutan di antara hutan dan kebun
- membuka kemungkinan skema kompensasi atau ganti rugi bagi petani yang terdampak
Interaksi negatif seperti ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan melindungi satu pihak. Warga perlu merasa aman, tapi orangutan juga tetap harus dilindungi. Butuh pendekatan yang lebih seimbang, yang melihat manusia dan orangutan sebagai dua pihak yang sama-sama terdampak.
Interaksi yang Kita Ciptakan Sendiri
Interaksi negatif antara manusia dan orangutan di Sentap Kancang bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba, dan juga bukan masalah yang bisa selesai dengan satu langkah cepat.
Selama akar masalahnya belum dibenahi, situasi seperti ini akan terus muncul kembali.
Karena itu, tantangannya bukan lagi sekadar menjauhkan orangutan dari kebun warga, tapi mencari cara agar keduanya bisa tetap hidup berdampingan, tanpa harus saling mengorbankan.
Featured image: Orangutan kalimantan Rahman sedang berada di atas pohon, di Pusat Rehabilitasi YIARI (Muffidz Ma’sum|YIARI)
Tautan Jurnal
Human Orangutan Conflict in Sentap Kancang Landscape, Ketapang District. International Journal of Social Science Research and Review. [Buka]