Kenapa Banjir Bisa Terjadi? Ini 13 Penyebab Banjir dan Cara Mencegahnya
Setiap musim hujan tiba, kekhawatiran tentang banjir sering ikut datang. Hujan deras yang turun terus-menerus bisa membuat air meluap dan menggenangi jalan hingga permukiman.
Meski sering dianggap sebagai bencana alam, banjir tidak selalu terjadi karena faktor alam saja. Aktivitas manusia seperti membuang sampah ke sungai atau berkurangnya area resapan air juga bisa memperparah kondisi ini. Lalu, apa saja sebenarnya penyebab banjir dan bagaimana cara mencegahnya?
Yuk, kita bahas lebih lanjut!
Apa itu Banjir Menurut Para Ahli?
Secara umum, banjir adalah peristiwa meluapnya air hingga menggenangi daratan yang biasanya tidak tertutup air.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), banjir diartikan sebagai air yang berjumlah banyak dan deras sehingga meluap, terutama dari sungai, lalu menggenangi wilayah yang biasanya kering.
Untuk memahami banjir lebih jauh, beberapa ahli juga memberikan definisi yang menjelaskan fenomena ini dari sudut pandang yang berbeda. Berikut beberapa pengertian banjir menurut para ahli:
- Ligal (2008): Banjir merupakan peristiwa ketika daratan yang biasanya kering (bukan daerah rawa) menjadi tergenang air. Kondisi ini umumnya dipicu oleh curah hujan yang tinggi serta kondisi topografi wilayah yang berupa dataran rendah atau cekungan.
- Khotimah dkk. (2013): Banjir adalah aliran atau genangan air yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi hingga menyebabkan korban jiwa. Dalam istilah teknik, banjir terjadi ketika aliran air sungai melampaui kapasitas tampung sungai tersebut.
- Rahayu (2009): Banjir didefinisikan sebagai peristiwa tergenangnya suatu wilayah akibat meluapnya air yang melebihi kapasitas pembuangan air di suatu daerah, sehingga dapat menimbulkan kerugian fisik, sosial, maupun ekonomi.
Jenis-jenis Banjir

Banjir tidak hanya terjadi dalam satu bentuk saja. Fenomena ini memiliki beberapa jenis yang berbeda, tergantung pada sumber air dan karakteristik alirannya. Setiap jenis banjir juga memiliki tingkat risiko, kecepatan datang, serta dampak yang berbeda, sehingga upaya penanganannya pun perlu disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Secara umum, banjir dapat dibedakan berdasarkan sumber air dan jenis air yang menggenangi wilayah tersebut.
Berikut adalah jenis-jenis banjir:
Berdasarkan sumber air
Menurut Ristya (2012), banjir dibedakan menjadi dua jenis jika didasarkan pada sumber airnya, antara lain:
1. Banjir lokal
Banjir lokal terjadi akibat curah hujan yang tinggi di suatu wilayah, sementara sistem drainase yang tersedia tidak mampu menampung aliran air tersebut. Akibatnya, air hujan menggenangi area di sekitarnya.
Karena bersifat setempat, banjir lokal biasanya hanya terjadi di area yang menerima hujan lebat tersebut.
Beberapa faktor yang sering memicu banjir lokal antara lain:
- intensitas hujan yang sangat tinggi dalam waktu singkat
- kapasitas saluran drainase yang terbatas
- saluran air yang tersumbat oleh sampah atau sedimen
2. Banjir kiriman
Berbeda dengan banjir lokal, banjir kiriman terjadi ketika volume air sungai meningkat akibat aliran air dari wilayah hulu. Dengan kata lain, wilayah yang terkena banjir belum tentu mengalami hujan deras, tetapi tetap terdampak karena kiriman air dari daerah lain.
Akibatnya, debit sungai meningkat dan air meluap ke area permukiman di bagian hilir.
Beberapa kondisi yang dapat memperparah banjir kiriman antara lain:
- berkurangnya kawasan resapan air di daerah hulu
- meningkatnya pembangunan di wilayah tangkapan air
- perubahan penggunaan lahan yang membuat air lebih banyak mengalir di permukaan
Baca juga:
- Apa itu Konservasi? Definisi, Tujuan, Manfaat, dan Contohnya
- Panduan Lengkap Cara Mengatasi Limbah Secara Efektif
Berdasarkan jenis air
Jika dilihat dari jenis air atau material yang terbawa, banjir juga dapat dibedakan menjadi beberapa tipe berikut.
1. Banjir air
Banjir air merupakan jenis banjir yang paling umum terjadi, terutama di wilayah perkotaan maupun daerah dataran rendah. Banjir ini biasanya disebabkan oleh luapan sungai, danau, atau saluran air yang tidak mampu menampung volume air hujan.
Ciri utama banjir air adalah genangan yang terbentuk secara bertahap setelah hujan turun terus-menerus dalam waktu lama.
2. Banjir bandang
Banjir bandang merupakan jenis banjir yang datangnya sangat cepat dan memiliki daya rusak tinggi.
Karena membawa banyak material berat, banjir bandang dapat merusak rumah, jembatan, hingga infrastruktur lainnya. Jenis banjir ini sering terjadi di wilayah dekat pegunungan atau daerah dengan lereng curam.
Air yang mengalir biasanya bercampur dengan berbagai material seperti:
- lumpur
- batu dan kerikil
- batang pohon
- puing-puing bangunan
3. Banjir rob
Banjir rob adalah banjir yang terjadi akibat air laut pasang yang meluap ke daratan. Fenomena ini biasanya terjadi di wilayah pesisir atau daerah yang berada lebih rendah dari permukaan laut.
Akibatnya, air laut menggenangi kawasan permukiman dan infrastruktur di sekitar pantai.
Beberapa faktor yang dapat memicu banjir rob antara lain:
- pasang air laut yang tinggi
- penurunan permukaan tanah di wilayah pesisir
- kenaikan permukaan laut
4. Banjir lahar dingin
Banjir lahar dingin merupakan banjir yang terjadi di kawasan sekitar gunung berapi.
Material tersebut biasanya terbawa oleh hujan deras yang mengalir menuruni lereng gunung. Karena membawa banyak material padat, banjir lahar dingin memiliki daya rusak yang sangat besar dan dapat merusak permukiman, lahan pertanian, serta infrastruktur di sekitarnya.
Aliran ini terbentuk dari campuran air dengan material vulkanik seperti:
- abu vulkanik
- pasir dan kerikil
- batu
- sisa material erupsi
13 Penyebab Utama Banjir

Banyak orang mengira banjir hanya terjadi karena hujan deras. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Banjir biasanya terjadi karena kombinasi berbagai faktor, mulai dari kondisi alam hingga aktivitas manusia yang mengganggu keseimbangan lingkungan.
Selain curah hujan yang tinggi, faktor seperti kondisi topografi, daya serap tanah, hingga pengelolaan lingkungan yang kurang baik juga bisa memperbesar risiko terjadinya banjir. Berikut beberapa penyebab utama banjir yang perlu diketahui:
1. Curah hujan tinggi
Hujan deras yang berlangsung dalam waktu lama dapat membuat tanah tidak mampu menyerap seluruh air yang turun. Ketika kapasitas penyerapan tanah sudah penuh, air akan mengalir di permukaan dan berpotensi menimbulkan genangan hingga banjir.
Curah hujan yang sangat tinggi juga dapat menyebabkan permukaan air di sungai kecil dan anak sungai naik dengan cepat, sehingga meningkatkan risiko banjir di wilayah sekitarnya.
2. Topografi wilayah yang rendah
Wilayah dengan topografi dataran rendah lebih rentan mengalami banjir. Kondisi medan yang relatif datar membuat air cenderung berkumpul dan mengalir lebih lambat dibandingkan di daerah yang lebih tinggi.
Selain itu, beberapa faktor lain juga dapat memperparah kondisi ini, seperti:
- muka air tanah yang tinggi
- jenis tanah tertentu yang sulit menyerap air
- lokasi yang dekat dengan sungai atau badan air lainnya
3. Pasang air laut (banjir rob)
Tidak semua banjir terjadi karena hujan. Di wilayah pesisir, banjir juga dapat dipicu oleh pasang air laut yang sering disebut sebagai banjir rob.
Saat air laut pasang, permukaan air dapat naik dan meluap ke daratan, terutama di kawasan yang berada dekat pantai atau memiliki ketinggian lebih rendah dari permukaan laut. Fenomena ini sering terjadi di berbagai kota pesisir.
4. Tanah yang sulit menyerap air
Jenis tanah juga memengaruhi risiko banjir. Tanah berbatu atau tanah yang sangat padat memiliki kemampuan menyerap air yang rendah. Akibatnya, air hujan tidak dapat meresap dengan baik dan lebih banyak mengalir di permukaan tanah.
Tanah dengan pori-pori yang sedikit membuat air sulit masuk ke dalam tanah, sehingga meningkatkan potensi terjadinya genangan.
5. Angin topan atau badai
Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), angin topan atau badai dapat memicu banjir karena biasanya disertai dengan hujan lebat, angin kencang, serta gelombang laut yang tinggi.
Kombinasi kondisi tersebut dapat menyebabkan air laut naik ke daratan dan memperparah genangan air di wilayah pesisir.
6. Pembuangan sampah ke sungai

Kebiasaan membuang sampah ke sungai merupakan salah satu penyebab banjir yang sering terjadi di berbagai daerah. Sampah yang menumpuk dapat menyumbat aliran air sehingga menghambat proses pembuangan air.
Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, saluran air yang tersumbat tidak mampu menampung volume air. Akibatnya, air meluap ke daratan dan menggenangi kawasan permukiman.
7. Alih fungsi lahan (deforestasi)
Alih fungsi lahan, terutama deforestasi atau penebangan hutan, dapat meningkatkan risiko banjir. Vegetasi seperti pepohonan berperan penting dalam menyerap air hujan dan menahan aliran air di permukaan tanah.
Ketika hutan ditebang atau diubah menjadi area perkebunan, permukiman, atau kawasan industri, kemampuan tanah untuk menyerap air akan berkurang. Akibatnya, air hujan lebih cepat mengalir di permukaan dan berpotensi menyebabkan banjir di wilayah hilir.
8. Pembangunan di daerah resapan air
Pembangunan di kawasan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air, seperti hutan, rawa, atau lahan terbuka hijau, juga dapat meningkatkan risiko banjir.
Ketika area tersebut tertutup oleh beton, aspal, atau bangunan, air hujan tidak lagi dapat meresap ke dalam tanah dengan baik. Akibatnya, volume aliran air di permukaan (runoff) meningkat dan berpotensi menimbulkan genangan hingga banjir.
9. Sistem drainase yang buruk
Sistem drainase yang tidak berfungsi dengan baik juga menjadi salah satu penyebab utama banjir, terutama di wilayah perkotaan. Drainase yang buruk membuat air hujan tidak dapat mengalir dengan lancar menuju sungai atau saluran pembuangan.
Akibatnya, air hujan menumpuk di permukaan dan memicu genangan. Beberapa faktor yang sering menyebabkan masalah drainase antara lain:
- saluran air tersumbat oleh sampah atau sedimen
- kapasitas drainase yang tidak memadai
- perencanaan tata kota yang kurang memperhatikan aliran air
10. Pendangkalan sungai
Pendangkalan sungai terjadi ketika sedimen seperti lumpur, pasir, dan material lainnya menumpuk di dasar sungai. Endapan ini membuat kedalaman sungai berkurang sehingga kapasitas sungai untuk menampung air menjadi lebih kecil.
Saat hujan deras terjadi, sungai yang telah dangkal tidak mampu menampung volume air yang besar. Kondisi ini dapat menyebabkan air meluap ke daratan dan menimbulkan banjir di wilayah sekitar sungai.
Baca juga:
- Polusi Udara: Pengertian, Dampak, dan Cara Menguranginya
- 15 Tips mudah untuk Gaya Hidup Ramah Lingkungan
11. Kebocoran tanggul atau bendungan

Tanggul dan bendungan merupakan infrastruktur yang dibangun untuk mengendalikan aliran air dari sungai, waduk, atau danau. Struktur ini berfungsi menahan air agar tidak meluap ke wilayah permukiman.
Namun, jika tanggul atau bendungan mengalami kerusakan, kebocoran, atau bahkan jebol, air dapat mengalir keluar secara tiba-tiba dan menyebabkan banjir dalam waktu singkat. Peristiwa ini sering menimbulkan dampak yang besar karena volume air yang dilepaskan biasanya sangat banyak.
12. Kegiatan penambangan yang tidak terkontrol
Aktivitas penambangan yang tidak dikelola dengan baik dapat meningkatkan risiko banjir. Kegiatan ini sering kali mengubah struktur tanah dan menghilangkan vegetasi yang sebelumnya berfungsi menahan air.
Ketika lapisan tanah terbuka dan vegetasi hilang, tanah menjadi lebih mudah mengalami erosi dan kehilangan kemampuan menyerap air. Akibatnya, air hujan lebih banyak mengalir di permukaan tanah dan dapat meningkatkan potensi banjir maupun longsor, terutama di wilayah perbukitan atau lereng.
13. Perubahan iklim
Perubahan iklim juga menjadi salah satu faktor yang dapat memperparah risiko banjir di berbagai wilayah. Kondisi ini memengaruhi pola cuaca global dan meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan dengan intensitas tinggi.
Beberapa dampak perubahan iklim yang berkaitan dengan banjir antara lain:
- peningkatan curah hujan ekstrem, karena atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air
- kenaikan permukaan air laut, yang membuat wilayah pesisir lebih rentan mengalami banjir rob
- perubahan pola cuaca, yang dapat menyebabkan hujan turun lebih intens dalam waktu singkat
Selain itu, peningkatan suhu global juga dapat memicu pencairan gletser dan ekspansi termal air laut, sehingga permukaan laut semakin meningkat. Kondisi ini membuat kawasan pesisir menjadi lebih rentan terhadap banjir di masa mendatang.
Dampak Banjir bagi Masyarakat
Banjir tidak hanya menyebabkan genangan air di permukiman, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai dampak yang merugikan bagi masyarakat maupun lingkungan. Berikut beberapa dampak banjir yang sering terjadi:
- Kerusakan rumah dan infrastruktur: Banjir dapat merusak rumah, jalan, jembatan, serta fasilitas umum lainnya. Genangan air yang tinggi bahkan dapat menghanyutkan bangunan atau merusak fondasi bangunan.
- Kerugian ekonomi: Aktivitas ekonomi masyarakat dapat terganggu akibat banjir. Banyak usaha terpaksa berhenti sementara, barang dagangan rusak, dan biaya perbaikan infrastruktur menjadi cukup besar.
- Gangguan kesehatan: Air banjir yang kotor dapat menjadi sumber berbagai penyakit, seperti diare, penyakit kulit, leptospirosis, dan infeksi saluran pernapasan.
- Kerusakan lahan pertanian: Banjir dapat merusak tanaman pertanian dan menyebabkan gagal panen. Hal ini tentu berdampak pada pendapatan petani serta ketersediaan bahan pangan.
- Aktivitas masyarakat terganggu: Jalan yang tergenang membuat mobilitas masyarakat menjadi sulit. Aktivitas sekolah, pekerjaan, hingga layanan publik sering kali ikut terhambat.
- Kerusakan lingkungan: Banjir dapat menyebabkan erosi tanah, pencemaran air, serta kerusakan ekosistem di sekitar sungai dan daerah terdampak.
- Risiko korban jiwa: Dalam kondisi tertentu, banjir juga dapat menimbulkan korban jiwa, terutama jika arus air sangat deras atau terjadi secara tiba-tiba seperti banjir bandang.
Pentingnya Mencegah Banjir Sejak Dini
Banjir merupakan bencana yang dapat terjadi karena berbagai faktor, baik dari kondisi alam maupun aktivitas manusia. Curah hujan yang tinggi, kondisi topografi wilayah, hingga perubahan penggunaan lahan dapat meningkatkan risiko terjadinya banjir di suatu daerah.
Karena itu, upaya pencegahan banjir tidak hanya bergantung pada faktor alam, tetapi juga pada kesadaran manusia dalam menjaga lingkungan.
Mulai dari tidak membuang sampah sembarangan, menjaga area resapan air, hingga memperbaiki sistem drainase dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko banjir di masa depan!
Referensi
- What Is Rob Flood? – Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI. [Buka]
- ‘Cold Lava’ Floods Philippines Village After Eruption – BBC News. [Buka]
- Heavy Rain – German Committee for Disaster Reduction (DKKV). [Buka]
- Hurricane – National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). [Buka]
- The Effect of Poor Drainage Systems – Express Drainage Solutions Limited. [Buka]
- Floods Have Both Positive and Negative Consequences – WaterConnect. [Buka]
- Featured image: Banjir menggenangi jalan yang dilalui oleh kendaraan/Sumber: Unsplash