Mengapa Banyak Kukang Korban Perburuan Tampak Baik-Baik Saja?
Di hutan pada malam hari, menemukan kukang sebenarnya tidak terlalu sulit. Ketika disorot senter, mata mereka memantulkan cahaya kuning keemasan yang terlihat jelas di antara daun dan dahan.
Namun pantulan kecil itu juga bisa membawa bahaya.
Bagi sebagian pemburu, cahaya dari mata kukang justru menjadi penanda yang memudahkan mereka membidik sasaran dengan senapan angin. Tanpa suara ledakan keras, peluru melesat menembus tubuh kecil primata nokturnal ini.
Yang mengejutkan, luka akibat tembakan tersebut tidak selalu terlihat.
Banyak kukang yang diselamatkan dan dibawa ke pusat rehabilitasi tampak masih mampu bergerak, memanjat, bahkan makan seperti biasa. Namun ketika dokter hewan melakukan pemeriksaan rontgen, gambaran yang muncul di layar sering kali berbeda: peluru masih bersarang di dalam tubuh mereka.
Temuan inilah yang diungkap dalam penelitian berjudul “Clinical Evaluation and Pathological Findings of Air Rifle Shot in Slow Lorises (Nycticebus spp.) at the Animal Rehabilitation Center of Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Bogor Regency.”
Penelitian yang dilakukan oleh Fadhilla dan tim dari Universitas Padjadjaran bersama YIARI ini mencoba melihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh kukang korban tembakan senapan angin.
Perburuan Kukang dengan Senapan Angin Masih Terjadi
Kasus kukang yang terkena tembakan ternyata bukan kejadian yang jarang. Hal ini terlihat dari data di Pusat Rehabilitasi Satwa Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Bogor.
Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis rekam medis kukang yang masuk ke pusat rehabilitasi selama 2015–2022. Dari data tersebut, tercatat:
- 492 rekam medis kukang
- 51 kasus yang berkaitan dengan luka akibat peluru atau tembakan
Angka ini menunjukkan bahwa perburuan dengan senapan angin masih menjadi ancaman nyata bagi kukang di alam liar.
Untuk melihat dampaknya lebih dekat, peneliti kemudian memilih 16 kukang jawa (Nycticebus javanicus) dengan data medis paling lengkap. Kukang-kukang ini berasal dari berbagai wilayah di Jawa Barat, seperti Bandung, Ciamis, Bogor, Majalengka, Cirebon, dan Kuningan.
Dari sinilah peneliti mulai menelusuri satu pertanyaan penting: apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh kukang setelah terkena tembakan?
Ketika Tubuh Kukang Diperiksa Lebih Dekat
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melakukan serangkaian pemeriksaan medis pada kukang yang menjadi bagian dari studi ini. Tujuannya adalah melihat apakah ada luka yang tidak terlihat dari luar.
Beberapa metode yang digunakan antara lain:
- pemeriksaan klinis, untuk menilai kondisi fisik kukang secara umum
- rontgen (radiografi), untuk mendeteksi peluru yang mungkin tertinggal di dalam tubuh
- pemeriksaan jaringan dan organ, untuk mengetahui kerusakan yang terjadi di bagian dalam tubuh
Pemeriksaan ini penting karena luka akibat tembakan tidak selalu tampak jelas di permukaan tubuh. Dari luar, beberapa kukang masih terlihat mampu bergerak atau memanjat seperti biasa.
Namun ketika hasil rontgen diperiksa, gambaran yang muncul sering kali berbeda dari yang terlihat.
Peluru dapat tetap tertanam di dalam tubuh, tersembunyi di antara jaringan otot, tulang, atau bahkan berada dekat dengan organ penting. Dalam beberapa kasus, tubuh kukang juga membentuk jaringan di sekitar peluru, sehingga benda asing tersebut tampak seperti “terbungkus” di dalam jaringan tubuh.
Ketika hasil rontgen dianalisis lebih lanjut, para peneliti menemukan gambaran yang cukup mengejutkan. Dari pemeriksaan terhadap 16 kukang dalam studi ini, terdapat total 29 peluru yang masih tertanam di dalam tubuh mereka.

Peluru-peluru tersebut tidak hanya berada di satu lokasi, tetapi tersebar di berbagai bagian tubuh, di antaranya:
- kepala – 8 peluru
- dada (toraks) – 6 peluru
- bahu – 4 peluru
- lengan depan – 3 peluru
- panggul (pelvis) – 3 peluru
- leher – 2 peluru
- kaki belakang – 2 peluru
- perut – 1 peluru
Temuan ini menyatakan, satu individu kukang bisa saja terkena lebih dari satu tembakan. Bahkan pada salah satu kasus, seekor kukang jawa jantan dewasa yang diselamatkan dari Cirebon ditemukan memiliki lima peluru sekaligus di dalam tubuhnya, yaitu di area kepala, leher, dan bahu.

Selain peluru yang tertanam, pemeriksaan medis juga menemukan berbagai kondisi luka lain yang cukup serius, seperti:
- gigi patah
- luka pada langit-langit mulut (palatum)
- pembengkakan kelenjar akibat infeksi benda asing
Dalam beberapa kasus, peluru yang tertinggal juga memicu terbentuknya jaringan di sekitarnya. Hal ini membuat peluru tampak seperti terbungkus oleh jaringan tubuh. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa luka akibat tembakan tidak selalu hanya berupa luka terbuka, tetapi juga dapat menimbulkan kerusakan yang tersembunyi di dalam tubuh kukang.
Mengapa Kepala Kukang Sering Menjadi Sasaran?
Dari hasil penelitian ini, peneliti juga menemukan pola menarik. Dari total peluru yang terdeteksi, bagian kepala menjadi lokasi yang paling sering terkena tembakan.
Hal ini ternyata berkaitan dengan perilaku alami kukang di alam.
Saat beristirahat atau tidur di atas pohon, kukang biasanya menggulung tubuhnya seperti bola di atas dahan. Dalam posisi ini, bagian kepala sering menjadi bagian tubuh yang paling terlihat dari bawah.
Selain itu, kukang memiliki lapisan khusus pada matanya yang membantu mereka melihat dalam kondisi cahaya yang sangat minim. Ketika terkena cahaya senter pada malam hari, mata kukang akan memantulkan cahaya berwarna kuning keemasan.
Pantulan inilah yang sering membuat kukang mudah terlihat di tengah gelapnya hutan.
Bagi peneliti, kemampuan ini merupakan adaptasi alami yang membantu kukang beraktivitas di malam hari. Namun bagi pemburu, pantulan tersebut justru menjadi penanda yang memudahkan mereka menemukan kukang di antara dahan pohon.
Karena sumber pantulan berasal dari mata, arah tembakan sering kali langsung mengarah ke kepala. Akibatnya, luka pada bagian ini berisiko lebih serius karena berada dekat dengan organ penting seperti:
- otak
- mata
- saluran pernapasan
Dalam beberapa kasus, peluru yang menembus area wajah juga dapat menyebabkan luka pada langit-langit mulut dan memicu infeksi berat. Cedera seperti ini tentu memperburuk peluang kukang untuk bertahan hidup setelah terkena tembakan.
Tidak Semua Kukang Korban Tembakan Bisa Diselamatkan
Setelah peluru ditemukan melalui rontgen, langkah berikutnya adalah menentukan apakah peluru tersebut bisa dikeluarkan atau tidak. Keputusan ini tidak selalu mudah, karena posisi peluru di dalam tubuh kukang bisa sangat beragam.
Dalam praktiknya, dokter hewan biasanya mempertimbangkan beberapa hal sebelum melakukan operasi, seperti:
- lokasi peluru di dalam tubuh
- kedalaman peluru dari permukaan kulit
- risiko kerusakan organ vital jika peluru diangkat
Peluru yang berada tepat di bawah kulit atau di dalam jaringan otot biasanya masih memungkinkan untuk diangkat melalui operasi. Namun jika peluru tertanam terlalu dalam atau berada dekat organ penting, operasi justru bisa menimbulkan risiko yang lebih besar bagi kukang.
Karena itu, dalam beberapa kasus dokter memilih tidak mengangkat peluru dan hanya memberikan perawatan medis untuk mencegah infeksi serta membantu proses pemulihan.
Dari total 29 peluru yang ditemukan pada kukang-kukang yang diteliti, 16 peluru berhasil diangkat melalui operasi. Sisanya tetap berada di dalam tubuh karena posisinya terlalu berisiko untuk dikeluarkan.
Hasil akhirnya menyatakan, tidak semua kukang korban tembakan dapat bertahan hidup. Dari 16 individu yang diamati dalam penelitian ini:
- 12 kukang berhasil selamat setelah menjalani perawatan
- 4 kukang lainnya tidak tertolong karena luka yang terlalu parah
Apa Manfaat Penelitian Ini bagi Perlindungan Kukang?
Selain mengungkap kondisi luka pada kukang korban tembakan, penelitian ini juga memberikan informasi penting bagi penanganan medis di pusat rehabilitasi satwa.
Temuan tentang lokasi peluru, jenis cedera, serta kondisi jaringan tubuh membantu dokter hewan menentukan langkah pemeriksaan dan perawatan yang lebih tepat. Misalnya, kapan pemeriksaan rontgen perlu dilakukan dan dalam kondisi seperti apa peluru dapat diangkat melalui operasi atau sebaiknya dibiarkan karena terlalu berisiko.
Data dari kasus-kasus ini juga memberikan gambaran tentang pola perburuan yang terjadi di lapangan. Dengan mengetahui wilayah asal kukang yang tertembak, peneliti dan pengelola konservasi dapat lebih mudah mengidentifikasi area yang membutuhkan pengawasan dan perlindungan habitat yang lebih kuat.
Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya membantu memahami luka yang dialami kukang, tetapi juga memberikan dasar pengetahuan yang penting untuk meningkatkan upaya penyelamatan dan perlindungan satwa tersebut di masa depan.
Luka yang Tak Terlihat dari Perburuan Kukang
Penelitian yang dilakukan oleh Fadhilla dan tim menunjukkan bahwa dampak perburuan kukang sering kali lebih serius daripada yang terlihat. Luka akibat tembakan tidak selalu tampak jelas dari luar, tetapi dapat meninggalkan peluru dan kerusakan di dalam tubuh yang sulit diketahui tanpa pemeriksaan medis.
Temuan ini membantu membuka gambaran yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya dialami kukang korban tembakan. Melalui pemeriksaan seperti rontgen, luka-luka yang sebelumnya tersembunyi akhirnya bisa terdeteksi dan ditangani dengan lebih tepat.
Bagi kukang di alam liar, luka seperti ini mungkin tidak selalu terlihat. Namun penelitian ini mengingatkan bahwa di balik tubuh yang tampak baik-baik saja, bisa saja ada cedera serius yang terus mereka bawa.
Featured image: Mata kukang mematulkan cahaya berwarna kuning keemasan saat disorot senter di malam hari/Rendi Afandi YIARI
Tautan Jurnal
Clinical Evaluation and Pathological Findings of Air Rifle Shot in Slow Lorises (Nycticebus spp.) At The Animal Rehabilitation Center of Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Bogor Regency. Advances in Animal and Veterinary Sciences. [Buka]