Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Memperingati Hari Primata Indonesia, ITERA dan YIARI Bahas Tantangan Konservasi Macaca di Indonesia

Dalam rangka memperingati Hari Primata Indonesia, Program Studi Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera (ITERA) bersama Himpunan Mahasiswa Rekayasa Kehutanan (FORESTA) bekerja sama dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelenggarakan kuliah umum bertema “Situasi Konservasi Macaca di Indonesia” pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB ini menghadirkan dua narasumber dari YIARI, yaitu Elisabet R.R.B. Hutabarat (Asisten Manajer Konservasi Macaca) dan Ismail Agung Rusmadipraja (Senior Manajer Edukasi dan Penyadartahuan). Kuliah umum diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk ITERA, Universitas Lampung, dan UIN Raden Intan Lampung.

Elisabet R.R.B. Hutabarat, Asisten Manajer Konservasi Macaca, memaparkan presentasi tentang Konservasi Macaca dan Peluang Riset di Indonesia (ITERA)

Dalam pemaparannya, Elisabet menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 11 anggota genus Macaca, dengan Macaca fascicularis sebagai spesies dengan sebaran terluas. Ia juga menyoroti spesies endemik seperti yaki (Macaca nigra), boti (Macaca ochreata), serta beruk Mentawai (Macaca pagensis) yang berperan penting sebagai penyebar biji di ekosistem hutan.

“Konservasi Macaca menghadapi berbagai tantangan, mulai dari deforestasi, perburuan liar, hingga konflik dengan manusia. Oleh karena itu, diperlukan penguatan riset yang mencakup aspek biologi maupun sosial, serta penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal,” jelas Elisabet.

Ismail Agung Rusmadipraja, Senior Manajer Edukasi dan Penyadartahuan, memaparkan tentang Problematika Monyet Ekor Panjang & Beruk di Media Sosial (ITERA)

Sementara itu, Ismail Agung Rusmadipraja membahas fenomena eksploitasi primata di ruang digital. Ia memaparkan bahwa konten kekerasan terhadap monyet masih ditemukan di berbagai platform ilegal, serta perdagangan satwa melalui media sosial kerap melibatkan perburuan induk di alam. Fenomena ini diperparah oleh tren pemeliharaan satwa liar yang tidak memperhatikan aspek kesejahteraan satwa.

Kuliah umum ini bertujuan meningkatkan pemahaman civitas akademika mengenai situasi konservasi Macaca di Indonesia sekaligus mendorong keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan penelitian, magang, dan kolaborasi konservasi bersama YIARI. Selain sesi pemaparan, kegiatan juga diisi dengan presentasi poster penelitian mahasiswa Rekayasa Kehutanan ITERA terkait primata.

Peserta dan narasumber YIARI dalam peringatan Hari Primata Indonesia membahas konservasi Macaca di Indonesia (ITERA)

Melalui kolaborasi antara lembaga pendidikan dan organisasi konservasi, diharapkan upaya perlindungan primata Indonesia dapat diperkuat melalui riset, edukasi, dan keterlibatan generasi muda.

Kontributor: Jhon Jackfri, FORESTA ITERA