Magang dan Penelitian Rasa Petualangan Anita di KPH Batutegi Bersama YIARI
Halo, Sobat #KonservasiYIARI!
Perkenalkan, saya Anita Fransiska Sihotang, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Di semester akhir perkuliahan, saya mendapat kesempatan untuk menjalani magang sekaligus penelitian di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Buat saya, kesempatan ini benar-benar berharga, apalagi karena selama ini saya memang tertarik dengan kegiatan lapangan dan dunia konservasi.
Selama magang di YIARI, saya terlibat dalam berbagai kegiatan dari beberapa divisi. Mulai dari belajar menggunakan aplikasi SMART untuk pencatatan data lapangan, ikut kegiatan Perlindungan dan Pengamanan Habitat, sampai kegiatan Community Development (Comdev). Dari sini saya makin paham kalau konservasi itu luas banget, nggak cuma soal hutan dan satwa, tapi juga tentang manusia yang hidup berdampingan dengan alam.

Kegiatan lapangan yang saya ikuti cukup beragam. Di Stasiun Riset Way Rilau, saya ikut berbagai aktivitas lapangan yang menuntut ketelitian dan kesabaran. Di sini juga saya pertama kali benar-benar merasakan suasana hutan yang “hidup”. Saya menemukan dan mendengarkan langsung beberapa suara satwa, yang bikin saya sadar kalau hutan itu sebenarnya ramai, cuma kita saja yang sering nggak peka. Momen-momen kecil seperti ini justru jadi pengalaman berkesan, karena terasa sangat dekat dengan alam.
Saya juga ikut monitoring Ficus di Mitra Jaya, menyusuri hutan untuk mengecek titik-titik pohon Ficus yang sudah terdata. Walaupun capek jalan kaki dan medan nggak selalu bersahabat, kegiatan ini bikin saya makin paham betapa pentingnya satu jenis pohon bagi keseimbangan ekosistem. Sambil jalan, kadang disuguhi pemandangan hutan yang bagus, kadang juga diuji sama jalur yang bikin napas ngos-ngosan.
Selain kegiatan di hutan, saya juga ikut kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Salah satunya di Taman Baca Jalosi Sanak Negeri, tempat saya belajar kalau konservasi juga bisa dilakukan dengan cara yang santai dan menyenangkan. Bermain, membaca, dan ngobrol bersama anak-anak jadi pengalaman yang bikin hati hangat. Nggak kalah seru, saya juga ikut pendampingan kelompok tani (gapoktan), yang membuka pandangan saya bahwa konservasi akan lebih kuat kalau berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

Pengalaman yang cukup berkesan bagi saya adalah saat pendampingan anak-anak gapoktan di Beringin 4. Di sinilah saya pertama kalinya berdongeng di depan anak-anak. Awalnya sempat grogi dan bingung harus mulai dari mana, tapi melihat antusiasme mereka, rasa canggung itu perlahan hilang. Dari pengalaman sederhana ini, saya belajar bahwa menyampaikan pesan tentang alam dan kepedulian bisa dilakukan dengan cara yang ringan, dekat, dan menyenangkan.
Saya juga berkesempatan ikut kegiatan di Resort Batulima, seperti pengecekan kamera trap dan analisis vegetasi (anveg). Kondisi lapangannya cukup menantang: medan curam, udara dingin, dan akses ke lokasi harus naik motor lewat jalan tanah. Beberapa kali kami berkeliling lokasi di tengah hujan deras, yang bikin perjalanan jadi licin dan deg-degan. Tapi justru di situ serunya. Walaupun basah dan capek, suasana hutan dan spot-spot alam yang bagus bikin pengalaman ini terasa lengkap dan memacu adrenalin.

Selama magang, saya tidak hanya mendapatkan ilmu dan pengalaman lapangan, tetapi juga bertemu dengan orang-orang baik yang selalu membantu dan menciptakan suasana kerja yang seru. Capek pasti ada, tapi selalu terbayar dengan kebersamaan, tawa, dan cerita-cerita kecil yang nggak akan saya temukan di bangku kuliah.

Magang dan penelitian di YIARI menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Dari hutan, masyarakat, hingga anak-anak, semuanya memberi pelajaran berbeda tentang arti konservasi. Semoga pengalaman ini bisa menjadi bekal untuk langkah saya ke depan, dan semoga semangat menjaga alam ini bisa terus tumbuh.
Terima kasih YIARI atas kesempatan dan cerita yang luar biasa.
Sampai jumpa di petualangan berikutnya.
Salam Lestari! 🌿
Artikel ini ditulis oleh Anita Fransiska Sihotang, mahasiswi Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.