Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Magang di YIARI, Mengintip Kegiatan Lala Melepasliarkan Kukang Ke Hutan

Dari Goresan Desain Menuju Jantung Konservasi

Diantara tumpukan tugas magang, Lala, siswi kelas 12 Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) SMK Negeri 1 Leuwiliang, menemukan panggilan tak terduga. Bukan pada kanvas digital, melainkan di hutan lebat Taman Nasional Ujung Kulon.

Sebagai bagian dari program magang di divisi edukasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Lala berkesempatan mendokumentasikan proses pelepasliaran delapan individu Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) yang telah direhabilitasi. Sebuah kolaborasi penting untuk menyeimbangkan ekosistem itu terjadi pada 14 Agustus 2025 berkat kolaborasi antara BBKSDA Jawa Barat, BTNUK, dan YIARI.

Sebelum kegiatan pelepasliaran dilakukan, hal penting yang harus dilakukan adalah proses pemeriksaan kesehatan setiap individu kukang bersama tim dokter hewan dan animal keeper yang telah merawat kukang selama proses rehabilitasi. Dari Banowati yang pernah diselamatkan di Yogyakarta hingga Agam yang selamat dari sengatan listrik, setiap kukang memiliki kisahnya. Namun, melihat kukang-kukang ini bergelantungan dengan lincah, siap kembali ke alam liar, adalah visual paling puitis yang pernah Lala lihat, jauh lebih hidup dari desain apa pun di layar digital.

Lala dan tim berfoto dengan pose salam kukang setelah berhasil melepasliarkan kukang di Taman Nasional Ujung Kulon. (Hulwia Malik|YIARI)

Berbagi Cerita & Menginspirasi Generasi Baru

Perjalanan Lala mengikuti proses pelepasliaran bukan ending dari cerita ini. Selama lima hari pasca pelepasliaran, Lala dan tim edukasi mengunjungi dua Sekolah Dasar dan satu Sekolah Menengah Atas di Kecamatan Sumur. Sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), habitat baru bagi delapan individu kukang. Di sana, Lala dan tim tidak hanya membagikan materi konservasi, tapi juga berbagi pengalaman pribadi tentang upaya konservasi kukang dan pentingnya kukang untuk ekosistem bagi kehidupan manusia.

Ini adalah momen pertama bagi Lala, bercerita tentang dunia konservasi yang ternyata sangat luas dan menarik, jauh dari bayangan membosankan sekedar duduk dan menatap layar kode warna. Lala menyadari bagaimana peran DKV bisa masuk ke dalam dunia konservasi; tidak hanya sekedar  membuat poster, mendesain website, namun memproduksi konten visual yang kuat bagi konservasi kukang yang juga dibutuhkan banyak pengalaman dan pengetahuan.

Melihat mata para siswa berbinar saat tim edukasi menunjukkan foto-foto kukang dan cerita di baliknya, itu adalah “bensin” emosional yang menyulut semangat Lala untuk terus belajar. Lala berharap dan bergumam dengan lirih, semoga di antara puluhan antusiasme siswa ini, akan ada satu, tiga, atau sepuluh orang yang terinspirasi untuk menjadi penjaga alam di masa depan. Menjadi garda dan benteng kokoh untuk kehidupan satwa liar dan habitatnya di mana pun mereka akan tumbuh kelak.

Bercerita dan menyemai inspirasi untuk merawat kukang di hutan, kunjungan edukasi ke Sekolah Dasar di Kecamatan Sumur (Hulwia Malik|YIARI)

Mendengarkan Hutan dan Hati Warga

Di malam hari, Lala juga berkesempatan untuk hadir dalam kegiatan ngaji rutin malam Kamis dengan warga setempat. Kesempatan ini dimanfaatkan betul untuk bertanya dan berdiskusi sepanjang malam. Bukan hanya tentang kukang, tetapi juga tentang kehidupan, tantangan, dan kearifan lokal di bibir hutan Ujung Kulon, rumah badak jawa, macan tutul, dan satwa liar kebanggan Indonesia. Lala belajar bahwa konservasi tidak bisa dilakukan sendiri, butuh dukungan penuh dari masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan.

Menggali informasi, mendengarkan cerita, dan memahami pandangan masyarakat tentang hutan lebatnya semak, hingga derasnya riak lautan Ujung Kulon. “Ini mengajarkan saya satu hal; untuk melindungi alam, kita harus terlebih dahulu memahami manusianya. Saya juga merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian kecil dari cerita pelepasliaran yang luar biasa ini. ”, ujar Lala sambil tersenyum.

Arah Baru Konservasi

Lala, siswi kelas 12 Jurusan Desain Komunikasi Visual SMK Negeri 1 Leuwiliang (Lala/Dokumentasi Pribadi)

Alih-alih menjadi sekadar penonton, Lala, seorang siswa SMK, mengambil peran aktif dalam upaya konservasi. Ia terjun langsung dan mengikuti setiap tahapan yang rumit dalam proses pelepasliaran satwa liar. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa konservasi bukanlah hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan urusan bersama.

Sebagaimana yang ditekankan oleh Kepala BTNUK, Ardi Andono, dan Kepala BBKSDA Jawa Barat, Agus Arianto, kunci keberhasilan konservasi adalah kolaborasi dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, organisasi seperti YIARI, hingga generasi muda seperti Lala, semua memiliki peran penting.

Pelepasliaran delapan individu kukang ini lebih dari sekadar sebuah acara. Ini adalah sebuah narasi besar yang penuh dengan harapan, kolaborasi, dan semangat untuk melestarikan kekayaan alam Indonesia.