YIARI Ajak Mahasiswa Aktif Konservasi Satwa Liar
PONTIANAK – Tim Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) aktif menyampaikan materi penyadartahuan mengenai konservasi satwa liar di beberapa Universitas di Indonesia. Jumat, 22 Mei 2015 lalu, tim YIARI mengisi kuliah umum di Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Tanjungpura (UNTAN) , Pontianak, Kalimantan Barat. Kuliah umum diisi dengan presentasi pengetahuan, informasi konservasi satwa liar dilindungi, yaitu kukang (Nycticebus) dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus).
Penasehat Program Konservasi YIARI Ciapus, Richard Moore mengatakan, kuliah umum yang diisi dengan pengenalan kukang dan upaya konservasinya itu bertujuan untuk mengarahkan mahasiswa jurusan Biologi dan Kehutanan menerapkan upaya konservasi dan animalwelfare (kesejahteraan satwa) dalam kebutuhan akademik, kegiatan dan pekerjaannya nanti.

“Kukang merupakan primata unik yang ada di Indonesia, tetapi saat ini kondisinya terancam punah karena perdagangan dan kurangnya data ekologi di alam. Peran mahasiswa Biologi dan Kehutanan penting untuk upaya konservasi dan penelitian mengenai kukang dan peran ekologisnya di alam,” kata dia.
Dalam pemaparannya, Richard memberikan informasi mengenai ekologi dan konservasi kukang kepada peserta kuliah umum di Fakultas Kehutanan UNTAN. Dia memperkenalkan jenis-jenis kukang yang ada di Indonesia dan status konservasi kukang. Disampaikan bahwa kukang merupakan satwa liar yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
“Kukang sumatra dan kukang kalimantan termasuk kategori vulnerable (rentan), sedangkan kukang jawa termasuk kategori critically endangered (kritis) dalam IUCN Red List. Kukang juga masuk dalam daftar Apendiks I CITES, artinya dilarang diperjualbelikan secara internasional,” ujar dia.
Selain itu, Richard juga menyampaikan beberapa ancaman yang dihadapi kukang saat ini. Mulai dari deforestasi atau penggundulan hutan yang menyebabkan berkurangnya luasan habitat kukang di alam, pemeliharaan kukang oleh individu dan kelompok hobiis, perburuan dan perdagangan serta kejahatan terhadap satwa liar. “Dalam perdagangan misalnya, gigi kukang yang dipelihara dicabut dan kukang diputar-putar agar menjadi jinak,” tambahnya.
Setelah materi mengenai ekologi kukang, drh. Wendi Prameswari selaku Koordinator Medis YIARI Ciapus, mengenalkan profil dan program 3R dan M YIARI untuk konservasi kukang. Mulai dari rescue (penyelamatan), dimana satwa diselamatkan dari perdagangan illegal melalui sitaan BKSDA atau serahan masyarakat, rehabilitation (rehabilitasi) untuk menumbuhkan kembali perilaku liar kukang hingga ke release (pelepasan) ke habitat liar dan proses monitoring (pemantauan satwa pasca rilis).

Selanjutnya, Analisis Sosial YIARI Hamda Khairuzani menjelaskan hasil analisis sosialnya mengenai efek pemeliharaan kukang terhadap kepunahan kukang. Dimana dalam pemaparannya, Hamda menitikberatkan pada rantai perdagangan kukang yang bersumber pada kepemilikan kukang yaitu pemelihara. Dimana persepsi pemelihara merasa dirinya adalah seorang penyelamat kukang dengan memeliharanya di rumah. Hal tersebut semakin meluas dengan terbentuknya komunitas. Sehingga konsep permintaan dan penawaran terhadap perdagangan kukang tetap terjaga.
Sementara Supervisor Slow Loris Conservation Program YIARI Ciapus Indah Winarti, Staf Program SLC YIARI Ciapus Rizky Amalia Aztianti dan Staf Human Orangutan Conflict YIARI Ketapang Muhadi di waktu yang sama menyampaikan kuliah umum di FMIPA UNTAN. Mereka memperkenalkan kegiatan YIARI di Ciapus dan Ketapang juga menyampaikan hasil penelitian tentang pelepasliaran kukang.
Kuliah umum yang dihadiri oleh 131 orang peserta di kedua fakultas tersebut berjalan dengan pro-aktif. Mahasiswa dan mahasiswi yang hadir aktif menyampaikan pertanyaan mengenai YIARI, kukang dan upaya konservasinya. Mereka tampak antusias dengan materi yang disampaikan oleh tim YIARI.
Richard berharap, dengan adanya kuliah umum tersebut mahasiswa bisa lebih aktif untuk konservasi satwa liar dan memiliki minat yang tinggi untuk melestarikan satwa-satwa dilindungi yang terancam punah, salah satunya kukang. “Ke depannya, diharapkan semakin banyak generasi baru aktif dalam upaya konservasi satwa liar bersama YIARI,” ujarnya.

Salah seorang mahasiswi Biologi UNTAN bernama Rizky mengaku tertarik dengan kegiatan monitoring (pemantauan) kukang. Setelah tahu bahwa pengamatan kukang itu dilakukan pada malam hingga pagi hari, dia merasa tertantang untuk ikut kegiatan monitoring tersebut. “Setelah tahu, saya jadi tertarik untuk ikut penelitian kukang,”ujar mahasiswi berjilbab itu.