Wayang Boneka Sebagai Sarana Pendidikan Konservasi
“Rrrrrr….” Keheningan hutan tiba-tiba pecah oleh suara gergaji mesin. Beberapa saat kemudian terdengar suara gaduh. Pohon-pohon besar tumbang. Bobi dan Bunga kalang kabut bergelantungan mencari tempat yang aman. Kisah ini merupakan salah satu adegan wayang boneka yang ditampilkan oleh sukarelawan Human Orangutan Conflict Response Team (HOC-RT) YIARI Ketapang di SMK Muara Pawan, Ketapang, Rabu (20/5). Alkisah, Bobi dan Bunga sepasang anak dan induk orangutan yang hidup dengan damai di suatu hutan. Tiba-tiba suatu hari ada penebangan liar, hutan habis dan makanan susah didapat. Bobi danBunga terus berpindah mencari hutan, namun yang ditemuinya justru hutan yang habis terbakar. Mereka terus berjalan sampai sampai di hutan yang telah berubah menjadi kebun sawit. Di sinilah mereka bertemu dengan staf YIARI yang akan meyelamtkan mereka dengan memindahkan mereka ke hutan lindung. Tidak hanya sekedar bercerita, tim YIARI juga menyelipkan pengetahuan mengenai orangutan memalui wayang boneka ini.
Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 150 siswa siswi dari berbagai jurusan ini merupakan program edukasi yang rencananya juga akan dilakukan di sekolah-sekolah di Ketapang. Selain wayang boneka, tim YIARI Ketapang juga memberikan presentasi serta post tes dan pre tes untuk mengetahui seberapa dalam pengetahuan siswa siswi mengenai orangutan. Wayang boneka dipilih karena dirasa akan lebih mengena ketika edukasi ditujukan kepada anak-anak. “Biar enggak bosan,” jawab Juanisa selaku koordinator HOCRT YIARIKetapang. “Selain itu, dengan boneka diharapkan anak-anak dapat memiliki gambaran mengenai wujud orangutan,” tambahnya. Rencananya, pertunjukan wayang boneka ini akan diadakan setiap bulan di desa-desa yang telah bermitra dengan tim HOC. Desa-desa ini telah disurvey dan diketahui bahwa di desa tersebut sering terjadi konflik antara orangutan dengan manusia. “Semoga dengan adanya pertunjukan seperti ini, edukasi untuk anak-anak akan lebih mengena,” pungkasnya.
